
"Amanda, gimana soal kerjasama yang aku bilang tempo hari?"
Gareth bertanya pada Amanda melalui pesan singkat di WhatsApp. Disaat wanita itu tengah berbelanja keperluan si kembar, dan bermaksud mengirimkannya ke kediaman ibu Arka.
"Mmm, aku pikirin dulu ya Gar." balas Amanda diikuti emoticon nyengir.
"Jangan lama-lama mikirnya." ucap Gareth.
"Ntar aku keburu kerjasama dengan orang lain loh." balas pria itu.
"Ya kalau gitu bukan rejeki aku berarti." jawab Amanda.
"Kadang rejeki harus di cari kan." ujar Gareth lagi.
"Iya, tapi jangan ngoyo juga." Lagi-lagi Amanda membalas.
"Ini usaha loh, bukan ngoyo." ujar Gareth.
"Hehehe, iya-iya." tulis Amanda.
"Ini kamu lagi dirumah?" tanya Gareth.
"Nggak, lagi beli keperluan anak-anak." jawab Amanda.
"Oh."
Gareth menjawab singkat. Amanda pikir pria itu bingung untuk bereaksi bagaimana, sebab ia belum memiliki istri dan anak.
Amanda pun tak membalas lagi pesan Gareth, namun tiba-tiba pria itu kembali mengirim pesan padanya.
"Kopi?" tanya nya kemudian.
"Kopi mulu, asam lambung." balas Amanda.
"Wkwkwkwk, kamu lucu kalau lagi marah."
"Degh."
Tiba-tiba Amanda teringat pada Arka. Suaminya itu sering sekali berkata jika Amanda lucu saat marah.
"Ka."
Amanda mengetik di handphone-nya.
"Man."
Arka pun entah mengapa teringat pada sang istri, meski saat ini ia tengah berdua di kafe bersama Elina.
"Send."
Pesan mereka sama-sama terkirim dan sampai di waktu yang nyaris bersamaan.
Amanda bergetar hatinya ketika membaca pesan singkat itu. Begitupula dengan Arka.
"I love you."
Keduanya mengirim kata yang sama. Dan lagi-lagi pesan itu diterima di waktu yang tak jauh berbeda pula. Kini Amanda tersenyum, begitupula dengan Arka.
__ADS_1
"Gimana Amanda?" tanya Gareth pada Amanda. Pria itu kembali mengirim pesan di atas pesan yang barusan Arka kirim.
"Sekalian aku mau kasih sampel produk." ujar Gareth lagi.
Amanda yang tengah berbahagia lantaran menerima pesan dari suaminya tersebut pun, akhirnya mengiyakan. Sebab ia sedang tak ingin mengecewakan siapa-siapa saat ini.
"Oke deh." ujarnya kemudian.
"Aku yang tentukan tempat ya." ucap Gareth.
"Iya, tapi jangan terlalu jauh. Kasihan supir ku nyetir kesana." tukas Amanda.
"Kan yang nyetir supir ini, lagian jangan jadi supir kalau nggak mau nyetir jauh."
Amanda diam memperhatikan balasan pesan tersebut. Entah mengapa ia merasa risih pada Gareth, yang menurutnya agak sedikit merendahkan pekerjaan seseorang. Lebih tepatnya sesuka hati, mentang-mentang orang tersebut bekerja dengan kita.
"Aku nggak bisa kayak gitu ke orang yang bekerja sama aku. Aku juga harus memikirkan kondisi mereka." ucap Amanda.
"Oh oke, nanti cari yang dekat aja." ujar Gareth.
"Oke." balas Amanda lagi.
***
Rio pulang pada keesokan harinya, dan ia janji bertemu dengan Arka. Arka yang tidak banyak memiliki sahabat itupun menyambangi kosan Rio.
Ia membawakan temanya itu nasi Padang berikut es teh manis dan air mineral dingin. Tentu saja Rio sangat bahagia jiwa dan raga. Apalagi sejak di jalan tadi ia memang tak mampir ke rest area manapun untuk makan.
"Tau aja lu gue lagi laper."
"Bangsat lo."
Rio menggerutu sambil membuka salah satu nasi Padang yang dibawa Arka.
"Ini sama kan, Ka?" tanya nya kemudian.
"Sama aja." jawab Arka.
"Ayo makan!" desak Rio.
"Iya bentar dulu, ngabisin rokok." ujar Arka.
Pria yang duduk di pintu kosan itu segera menghisap ujung terakhir rokoknya dan mematikan puntung di atas sebuah asbak.
Kemudian ia beranjak dan bergerak ke arah meja makan mini Rio. Ia duduk dihadapan sahabatnya itu dan membuka bungkus nasi Padang lainnya.
"Kemaren gimana, Ka?. Ngapain aja di management?" tanya Rio sambil menyuap makanan dengan mulut besar.
"Hap."
"Kemaren ngomongin honor sama tanda tangan kontrak." jawab Arka.
"Yah, gue belum dong." ujar Ellio.
"Yaelah tinggal ke manajemen aja, sejak kapan lo suka mempersulit hidup?" tanya Arka.
"Iya sih, hehe." Rio nyengir.
__ADS_1
Merek lanjut makan. Rio kemudian menanyakan apa saja kegiatan Arka kemarin selain itu. Arka menjawab jika ia bertemu Elina dan pergi bersama.
"Lo pergi berdua doang sama dia?" tanya Rio.
"Ya kalau ada lo, pasti bertiga. Nggak mungkin lo gue tinggal." jawab Arka.
"Bukan masalah itu, Ka. Lo itu aktor yang lagi naik daun. Publik tau lo punya istri, dan lo jalan berdua dengan rekan sesama artis. Lo nggak mikir handphone-handphone hamba FYP tiktok lebih ganas daripada kamera awak media infotainment?"
Arka diam. Ia yang terbiasa hidup menjadi artis yang tak begitu tenar tersebut, memang kerap kali lupa jika ia telah cukup dikenal masyarakat saat ini.
"Hidup kita udah nggak sama dengan dua atau tiga tahun lalu. Lo harus hati-hati, apalagi di tempat umum." ujar Rio lagi.
"Gue percaya kalau lo nggak ada apa-apa sama dia. Tapi asumsi publik kan nggak bisa kita halau. Netizen jaman sekarang lo tau sendiri mulutnya. Kayak nggak di didik orang tua, rata-rata."
Arka menghela nafas panjang.
"Iya deh, gue nggak akan gitu lagi. Mulai hari ini gue akan lebih hati-hati." ujar Arka.
"Lo tuh pinter, Ka. Tapi sayang suka lupa diri, jadinya kadang lo keliatan bego."
"Bangsat." Arka berkata sambil tertawa.
Rio pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Suka, nggak mikir panjang." tukas Rio lagi.
"Iye bawel, mulai hari ini gue akan lebih pinter lagi. Lebih pinter dari menteri pendidikan." ujar Arka.
***
Flashback ke hari kemarin.
Amanda menemui Gareth dan mereka ngopi bersama. Jika sudah dewasa memang tak banyak pilihan, ketika hendak menemui teman, rekan bisnis, ataupun pacar.
Pasti ujungnya pergi ngopi atau makan. Karena tak mungkin juga janjian di time zone atau di taman bermain.
Tak mungkin mereka membicarakan perihal bisnis sambil bermain tembak-tembakan. Atau sambil naik ayunan dan perosotan di taman. Alhasil tempat hangout-nya seperti itu lagi dan itu lagi.
"Kamu mau pesan apa Amanda?" tanya Gareth pada wanita itu.
"Es kopi Vietnam." jawab Amanda.
Pelayan mencatat hal tersebut, sebelumnya Gareth sudah mengatakan apa yang menjadi pesanannya. Pelayan tersebut kembali ke belakang, sementara Amanda kini berkutat dengan handphonenya.
"Ngurusin apa sih?. Kayaknya serius banget."
Gareth kepo pada Amanda.
"Ngecek ojek online yang tadi, udah sampai belum nganter barang untuk anak-anak." ucap Amanda.
"Loh, emangnya anak-anak kamu dimana?" tanya Gareth lagi.
"Di rumah mertua, lagi nginep disana." jawab Amanda.
"Oh."
Gareth kembali memberi jawaban singkat. Sama seperti saat tadi Amanda membahas anak-anaknya di WhatsApp. Tapi kali ini Amanda dapat menangkap ekspresi wajah pria itu yang seolah tak begitu senang.
__ADS_1