Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Minta Gendong


__ADS_3

Siang itu Min Ji jadi senyum-senyum sendiri dan salah tingkah. Pasalnya ia benar-benar bertemu dengan Nino untuk makan siang bersama.


Meski ini bukan pertama kalinya ia berduaan dengan Nino. Namun kali ini dirinyalah yang meminta duluan pada laki-laki itu. Sehingga ia menjadi agak sedikit malu serta canggung. Sementara Nino terlihat santai dan memakan makanannya.


"Kamu kenapa?"


Nino bertanya ketika Min Ji kedapatan tengah memperhatikan dirinya. Min Ji pun mendadak salah tingkah dan berpura-pura kembali menyendok makanan.


"Nggak koq, nggak apa-apa." jawab Min Ji.


Nino tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada makanan seperti semula. Beberapa saat kemudian Min Ji kembali kedapatan melakukan hal serupa.


Kali ini ia tidak bisa menghindar lagi. Sebab Nino benar-benar menatap mata gadis itu, sehingga ia terlihat membeku.


Nino kemudian menilik ke arah piring Min Ji. Dimana makanan yang ia harusnya makan, terlihat masih utuh.


Nino mengambil sendok dari tangan Min Ji kemudian menyuapi gadis itu. Awalnya Min Ji tertegun dan menatap Nino, namun kemudian ia pun menerimanya dengan senyuman.


Pada saat yang bersamaan, Nadine menyaksikan semua itu dari muka pintu resto. Beberapa saat lalu ia datang ke kantor Nino dan resepsionis mengatakan jika Nino tengah makan siang di sebelah.


Maka Nadine pun menyusul dan hatinya kini benar-benar hancur. Bahkan ia putus asa lalu kembali berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan gontai.


***


"Abubububu."


"Eheee."


Satya dan Deni menggendong si kembar dan mencoba berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa-bahasa yang aneh. Hari ini kantor tak begitu sibuk.


Amanda membawa kedua anaknya ke kantor. Tetapi ada mbak Anita yang juga ikut. Guna berjaga-jaga disaat Amanda sedang tak bisa memperhatikan mereka.


"Otan."


"Eheee."


"Dedong."


Afka meminta gendong pada Intan dan Intan pun mengambil anak itu dari tangan Deni. Sementara Azka masih bercanda dengan Satya. Sejak tadi seisi kantor ganti-gantian menggendong mereka saking gemasnya.


"Dek, jangan nakal ya. Amanda yang melintas dan hendak kembali ke ruangannya, berkata pada kedua anak itu.


"Dadak." jawab mereka serentak sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Good, anak mama pinter." ucap Amanda.


Wanita itu kembali masuk ke ruangan dan melanjutkan pekerjaan. Saat jam istirahat tiba, Arka menelpon. Kebetulan dia juga sama-sama tengah break.


"Halo, Man."


"Iya, Ka. Hey, kamu lagi apa?" tanya Amanda.


"Baru selesai take adegan dan lagi break, kangen sama kamu." jawab Arka.


Pada saat yang bersamaan, Elina melintas di dekat Arka dan mendengar itu semua.


"Degh."


Batin gadis itu pun bergemuruh. Perkataan Arka barusan membuatnya begitu terganggu dan merasa cemburu.

__ADS_1


"Sama, aku juga kangen sama kamu." ucap Amanda.


"Sabar ya, bentar lagi aku pulang." tukas Arka.


"Iya, Ka. Pokoknya lakukan yang terbaik untuk pekerjaan kamu." ujar Amanda.


"Makasih ya, Man."


"Sama-sama."


"Anak-anak tadi pagi nggak nakal?" tanya Arka lagi.


"Nggak, mereka ada disini. Aku bawa mereka."


"Oh gitu, sekarang mana?" tanya Arka.


"Tuh di depan, lagi sama Intan, Satya sama Deni dan karyawan lain." jawab Amanda.


"Nggak nangis?" tanya Arka.


"Mana nangis, yang ada kesenangan banyak yang gendong."


Arka tertawa kecil.


"Kalau sama kita kan, kita batasi gendong mereka." ujar Arka.


"Iya, sementara disini mereka merasa


apa-apa di turuti. Kayak lagi sama nenek kakek dan grandpa." tukas Amanda.


Lagi-lagi Arka tertawa. Mereka melanjutkan obrolan, sementara Elina masih saja terpaku menatap Arka. Hingga mengundang perhatian Rio yang tak sengaja melintas.


Sontak Elina langsung gelagapan dan jadi salah tingkah.


"Eh, ngajak koq." ujarnya lalu berusaha bersikap seperti biasa.


"Gue mau ke toilet." tukasnya lagi, kemudian mengambil langkah


"Toilet kan di sana!"


Rio menunjuk arah berlawanan dari apa yang Elina telah ambil.


"Eh, iya. Gue lupa."


Elina buru-buru menuju ke tempat itu. Sementara Rio terlihat semakin curiga atas sikap gadis itu.


***


Nadine menangis dalam perjalanan pulang, sambil menelpon Intan, yang saat ini masih menggendong Afka.


"Lo kenapa lagi, Nad?" tanya Intan pada Nadine.


"Pak Zio, Tan. Gue mergokin dia sama cewek Korea itu lagi." jawab Nadine dengan suara terisak.


Intan mendadak jadi iba hatinya, namun ia juga bingung harus memberi tanggapan yang bagaimana.


Status Nino bukan lagi pacar Nadine dan pria itu tidak berselingkuh. Ia berhak untuk pergi dan dekat dengan siapa saja yang ia mau saat ini.


"Emangnya lo liat dia dimana?" tanya Intan.

__ADS_1


"Di kantornya dia. Tadi gue kesana, karena pengen banget ketemu. Eh taunya dia lagi suap-suapan sama di cewek itu, sakit banget hati gue."


Nadine menyeka air matanya dengan tangan. Saat ini ia tengah berada di dalam sebuah taksi.


"Lo yang sabar ya, Nad. Ntar gue coba bilang ke Ansel deh." ujar Intan.


"Iya, gue cuma sedih aja. Makanya nelpon elo, Tan. Kayak sesak aja dada gue." ujar Nadine lagi.


"Iya, gue ngerti koq. Gue cuma bisa bilang, lo yang sabar. Semoga ada jalan keluar dari semu ini." ujar Intan.


"Iya."


"Eheee."


Azka yang berada dalam gendongan Intan tertawa. Sementara Nadine terus berbicara.


"Otan, mam." pinta Azka.


Intan membuka dan memberikan biskuit pada anak itu, sambil meladeni dan menanggapi Nadine.


"Iya pokoknya lo sabar."


"Otan."


"Iya sayang."


"Mum."


Intan memberikan minum pada Azka, dan kembali menanggapi Nadine.


"Otan, dedong."


Amanda keluar dari ruangannya dan melihat semua itu. Dek, kamu nggak boleh caper kalau tante Intan lagi nelpon. Sini sama mama!."


"Eheee."


Azka tertawa, kemudian menyambut tangan sang ibu. Intan terus menelpon, sementara Azka telah berpindah kepada sang ibu. Amanda hendak membawa anak itu ke dalam, namun ia melihat salah seorang karyawan laki-laki melintas.


"Om, dedong."


Karyawan itu menyambutnya dan kini ia kembali berpindah.


"Udah jangan lama-lama, om nya mau makan siang itu."


"Dadak."


Amanda lalu mengambil Azka dengan sedikit paksa sehingga ia mengamuk. Tak lama mereka masuk ke ruangan, di sana Azka diberi makan siang bersama kembarannya.


"Nih anak, sama semua aja minta gendong. Kamu kalau kayak gitu, orang gampang tau dek menculik kamu." ujar Amanda.


"Eheee."


Azka tertawa diikuti kembarannya.


"Anita kalau mau makan, makan aja di kantin bawah. Biar anak-anak sama saya." ujar Amanda.


"Iya bu, sebentar lagi." jawab Anita.


Amanda terus memberi nasehat pada si kembar, meski anak itu belum bisa mengerti apa yang di ucapkan oleh sang ibu.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Anita pun pamit untuk menuju ke kantin. Guna mendapatkan makan siang.


__ADS_2