
Si kembar tertidur pulas di mobil ketika ayah dan ibu mereka telah melakukan perjalanan pulang. Turut serta pula Jordan di dalam mobil tersebut.
Arka sengaja memberinya tumpangan sebab mereka pulang ke jalur yang searah. Setibanya di apartemen, Jordan ada sempat menawari Arka dan Amanda untuk mampir.
"Lain kali aja, Jo. Takut ganggu istirahat kalian." ujar Amanda.
"Iya, lain kali nanti kita mampir kesini." ucap Arka.
Jordan pun berterima kasih dan berpamitan. Sesaat kemudian ia segera berjalan masuk ke pintu lobi. Si kembar mendadak terbangun dan celingukan melihat sekitar.
"Onna?" Azka berujar seraya mengerutkan dahi.
"Onna." Afka menimpali sambil menilik ke sekitar. Seakan-akan ia daj saudara kembarnya mengingat tempat itu.
"Iya ini rumahnya dedek Ona." ujar Amanda.
"Koq bisa inget gitu ya?" tanya Arka seraya tertawa dan menghidupkan kembali mesin mobil.
"Onna."
Azka menunjuk keluar, sementara kembarannya ikut-ikutan.
"Kita mau pulang, nak." tukas Arka.
"Iya, nanti lain kali kita main ke rumah adek Ona ya." Amanda menimpali.
Sementara mobil mulai merayap.
"Lagian juga kalau main, kalian pasti gangguin dia."
Amanda kembali berkata sambil tertawa. Arka pun jadi ingat peristiwa saat kedua anaknya hendak memukul Joanna dan ia pun ikut tertawa.
"Iya, kasihan tau dedek Ona digangguin." ujar Arka.
"Ona, pupuk?" tanya Afka.
"Nggak boleh dedeknya di puk." ucap Amanda.
"Eheee."
Si kembar tertawa.
"Pupuk."
"Eheee."
Arka dan Amanda tersenyum.
"Nggak boleh pupuk adek Ona, itu saudaranya kalian."
Amanda berujar dengan kepala setengah menoleh ke belakang.
"Eheee."
Lagi-lagi kedua anak itu tertawa. Tak lama mobil mereka berhenti di bahu jalan, karena keduanya mendadak menangis.
Ternyata popok mereka penuh dan baik Arka maupun Amanda akhirnya mengganti popok mereka terlebih dahulu. Sebelum akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
Melintas di sebuah jalan protokol, mobil yang dikemudikan Arka tersebut pun melambat. Sebab mereka kini terjebak kemacetan lalu lintas yang cukup panjang. Tak begitu stuck, semua masih bisa bergerak namun sangat lamban.
Si kembar sudah tampak memegang botol susu masing-masing dan berceloteh ala mereka. Terdengar seperti mengobrol, dan hal itu kadang membuat Arka serta Amanda tertawa.
Kedua pasangan itu sendiri kini tampak mengisi kemacetan dengan makan dan minum. Beberapa saat sebelumnya mereka ada mampir di sebuah resto cepat saji dan membeli minuman serta cemilan disana.
"Besok nge-gym yuk Man, mau nggak?" tanya Arka.
__ADS_1
"Besok?"
"Iya."
"Mmm, boleh." jawab Amanda.
"Jam berapa?" Perempuan itu balik bertanya.
"Pulang kerja, jalan langsung aja kita." jawab Arka.
"Oh ya udah." Amanda menyetujui.
Mereka lanjut makan dengan mobil yang terus merayap perlahan. Hingga tak lama kemudian, mata Arka menangkap pemandangan di depan sebuah tempat yang ada di sisi kanan jalan. Ia kaget dan langsung memberitahu Amanda.
"Man, Man, Vera Man." ujarnya kemudian.
Amanda sontak mengikuti arah pandangan mata Arka. Dan benar saja, ditempat tersebut ia melihat Vera yang tengah bersama dengan Steve.
Sampai saat ini baik Arka maupun Amanda belum mengetahui siapa nama pria itu dan apa hubungannya dengan Vera. Yang jelas mereka terlihat begitu akrab satu sama lain. Sama seperti sebelum-sebelumnya.
Kemacetan kemudian berakhir, semua mobil kembali berjalan dengan lancar. Akhirnya mereka menjauh meninggalkan tempat itu dan Vera menghilang dari pandangan mata Amanda.
Ia agak terdiam sejenak dan teringat akan Amman. Tetapi ia juga tak bisa untuk menyalahkan siapa-siapa saat ini.
***
Di lain pihak.
"Udah bicara sama perempuan itu?"
Paman Gareth bertanya pada sang keponakan sambil mendekat dan tersenyum. Saat ini Gareth tengah berada di ruang kerjanya yang ada di rumah. Sementara sang paman muncul di depan pintu dan bergerak masuk.
Gareth tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Namun ia tak memberikan jawaban apa-apa.
"Oke." jawabnya kemudian.
"Oh ya, mengenai pertanyaan kamu kemarin. Om rasa tidak masalah kalau kita membuka cabang di daerah itu."
Topik beralih pada pekerjaan. Kemarin Gareth ada meminta saran dari pamannya tersebut. Mengenai bagaimana jika perusahannya membuka cabang di sebuah daerah yang cukup jauh.
"Menurut om, kita bisa merai profit di tempat itu?" tanya Gareth lagi.
"Ya, om percaya sama kamu Gar. Nggak ada salahnya kita mencoba. Lagipula sumberdaya di daerah tersebut terbilang cukup potensial."
Gareth mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kopi?"
Sang paman mencetuskan ide. Gareth membalasnya dengan senyum tipis tanda menyetujui.
Tak lama mereka pun beranjak dari tempat tersebut dan terlihat minum kopi di meja makan.
***
Arka, Amanda, dan si kembar tiba dirumah.
"Jangan bobok dulu, dek. Kita mau mandi." ucap Amanda.
"Didi?" Arka melontarkan celoteh bernada pertanyaan.
"Iya, kita mau didi dulu." ucap Amanda lagi.
"Papapa?" Kali ini Afka yang terdengar seperti bertanya.
"Iya, papa juga ikut. Nanti kita mandi sama-sama." ucap Arka.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam unit, kemudian membereskan segala sesuatu dan pergi mandi. Mereka berempat berendam di bathtub. Dengan posisi Amanda dan Arka berseberangan sambil memangku si kembar.
"Man, tolong sampo itu dong." Arka meminta sampo anak yang ada di dekat Amanda.
"Eheee."
"Man, Man."
Azka dan Afka mengikuti ayah mereka. Sontak Amanda dan Arka pun saling bersitatap sambil menahan senyum.
"Kayaknya kita udah harus ganti panggilan deh Ka, kalau di depan mereka." ucap Amanda.
"Ka."
"Ka."
Kedua anak itu menyebut nama Arka, kemudian mereka sama-sama tertawa.
"Eheee."
"Tuh kan." ujar Amanda lagi.
Ia dan Arka masih sama-sama tersenyum.
"Kayaknya iya." jawab Arka.
"Mama tolong dong, sampo nya."
Pria itu kembali berkata pada sang istri, sambil melirik si kembar.
"Mama."
"Mama."
Mereka menuruti Arka, Amanda lalu menyerahkan sampo tersebut dan Arka pun menerimanya.
"Mama."
"Mama."
Keduanya kembali berujar, sementara Arka dan Amanda merasa hal tersebut cukup berhasil. Sampai kemudian,
"Manda." Azka menunjuk Amanda.
"Kaka." Afka gantian menunjuk sang ayah.
Sontak saja pasangan suami istri tersebut kembali kaget dan saling bersitatap, seraya melebarkan bibir sambil menghela nafas.
"Harus agak kerja keras, udah lengket soalnya." ujar Arka.
"Eheee."
"Eheee."
Kedua anak itu kembali tertawa-tawa. Usai mandi mereka di gulung handuk dan dipakaikan wewangian serta baju. Tak lama ayah dan ibu mereka pun telah mengenakan pakaian tidur masing-masing.
"Yuk kita bobok yuk!" ajak Amanda pada keduanya.
"Mama ngantuk." lanjutnya lagi.
"Papapa?" tanya Afka.
"Iya, papa ikut bobok. Papa juga udah ngantuk banget." Arka menimpali.
Maka mereka pun naik ke tempat tidur yang ada di kamar utama. Posisi si kembar ada di tengah dan tak lama kemudian mereka berempat tampak sudah terlelap.
__ADS_1