Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Firman Yang Marah


__ADS_3

"Aw."


Rio mengeluh di belakang Arka. Ketika mereka sudah berada di setengah perjalanan. Refleks Arka pun menoleh, sebab ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.


Meski sering menyebalkan dan membuat kesal jiwa dan raga. Tetapi Rio adalah sahabat yang sangat disayangi oleh Arka dan begitupun sebaliknya. Mereka tak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk kepada masing-masing dari mereka.


"Kenapa, Bambang?" tanya Arka pada Rio.


"Kesandung batu gede, nggak keliatan soalnya." ucap Rio.


Mereka memang menggunakan senter di kepala maupun ditangan. Tetapi memang suasana sedang berkabut tebal.


"Kalau nggak pada istirahat dulu deh." ucap Arka.


"Nanti kita lanjut lagi." ujarnya kemudian.


Akhirnya team pun memutuskan untuk kembali beristirahat. Kebetulan perbekalan mereka masih tersisa, meski hanya sedikit. Selang beberapa saat mereka bertemu pendaki lain yang juga sama-sama turun.


Kemudian perjalanan pun kembali dilanjutkan. Sementara Amanda, Nino, dan juga Ansel telah sampai di Surabaya.


Mereka bertemu dengan sutradara dan asisten sutradara, serta beberapa kru dalam film yang Arka dan Rio mainkan perannya.


Saat itu mereka semua langsung bergerak melakukan pencarian atas dua orang tersebut. Dengan melacak CCTV bagian luar apartemen. Mereka ingin tahu, Arka dan Rio terakhir terlihat menggunakan mobil apa.


Dan ternyata mereka menaiki sebuah mobil minibus hitam. Dengan plat nomor yang tertangkap kamera. Segera saja mereka menghubungi pihak terkait dan mencari keberadaan mobil tersebut sekaligus pemiliknya.


Ternyata itu adalah sebuah mobil sewaan dan sampai saat ini pihak penyewa mengatakan, jika mobil tersebut belum kembali. Sebab telah disewa untuk sekitar tiga hari lamanya.


"Duh, kemana sih mereka?"


Amanda benar-benar khawatir kali ini. Sebagai seorang wanita mandiri, tentu ia tak begitu takut jika harus menjadi janda lantaran terjadi sesuatu terhadap Arka. Ia bisa mencari uang sendiri dan anak-anak tak mungkin kelaparan.


Tapi sebagai seorang istri yang mencintai suaminya. Tentu ia tak ingin sampai terjadi hal buruk menimpa Arka. Terlebih mereka memiliki anak yang juga dekat dengan ayah mereka tersebut.


"Tenang dulu, Man. Berpikir positif aja."


Ansel mencoba menghibur Amanda. Namun semakin ia berusaha keras untuk itu, semakin besar pula kekhawatirannya tumbuh.


***


Berbeda dengan Amanda yang tengah sibuk memikirkan sang suami. Gareth baru saja terbangun dari tidurnya secara mendadak.


Entah mengapa hari ini ia merasa lelah sekali, sehingga ia tertidur di jam yang bahkan masih awal. Gareth tersenyum dan mengingat mimpi singkatnya yang menyenangkan.


Ia lalu mengambil handphone dan membuka galeri foto. Kemudian melihat gambar Amanda yang ia ambil secara candid pada sebuah kesempatan.


Lagi-lagi ia tersenyum, sebab tadi ia bermimpi menikah lalu bercinta dengan wanita itu. Tak lama kemudian Amanda pun mengandung anak mereka.


"Ah."


Betapa senangnya jika semua itu menjadi nyata, pikir Gareth. Ia benar-benar telah tenggelam ke dalam perasaannya sendiri. Dan menurutnya itu menyenangkan.

__ADS_1


Ia kini membayangkan Amanda tidur di sampingnya, dengan perut membesar berisi buah cinta mereka.


Gareth bahkan sudah tak peduli status Amanda kini yang merupakan istri orang. Pesona wanita itu seakan bisa membuat pria seperti dirinya lupa diri.


***


"Arka kemana ya?. Koq nggak bisa dihubungi."


Elina mencoba menelpon Arka. Setelah hampir dua hari ini WhatsApp yang ia kirim tak jua dibalas oleh pemuda itu.


Dan ternyata setelah diperiksa, jangankan dibalas, centang dua pun tidak. Itu artinya pesan tersebut belum masuk ke handphone sang pujaan hati.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area."


Lagi-lagi kata tersebut yang terdengar ditelinga, meski telah berulangkali ia mencoba menghubungi.


"Ri, Arka mana?"


Elina beralih pada Rio. Namun chat yang ia kirim kepada sahabat Arka itu pun sama tak terkirim.


Hanya ada centang satu yang terlihat di sudut kanan pesan. Elina lalu coba menghubungi nomor Rio dan hasilnya pun sama. Pemuda itu juga tak dapat dihubungi.


"Pada kemana sih mereka?. Kan gue bete di rumah mulu, pengen jalan." ujarnya kemudian.


Ia lalu meletakkan handphone, namun lagi-lagi ia melihatnya. Tetapi sampai beberapa saat berlalu, ia tetap tak mendapatkan balasan.


***


Saat itu handphone semua orang telah mati, daya pada power bank pun telah habis. Masing-masing dari mereka kelelahan dan memutuskan untuk tidur dulu di shelter tersebut, hingga pagi menjelang.


Pagi hari mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang. Di mobil Arka mencharge handphone, sebab semalam ia langsung ketiduran saking lelahnya.


Kini ia mengisi daya pada perangkat tersebut dan bermaksud langsung menghubungi sang istri.


"Dert."


"Dert."


"Ting."


"Ting."


"Ting."


Begitu banyak pesan masuk ke aplikasi WhatsApp miliknya. Dan yang terakhir ia baca adalah.


"Ka, kalau sampai nggak ada kabar juga. Aku terpaksa meminta bantuan kepolisian untuk mencari kalian."


Arka menganga dalam keterkejutan. Kemudian ia mencoba menghubungi Amanda namun tak bisa. Sebab perempuan itu kini sedang berada di panggilan lain.


"Astaga, Ri. Ini gara-gara lo nih." ujar Arka pada Rio.

__ADS_1


"Kenapa, Amanda ya?" tanya nya kemudian.


"Ya iya, menurut lo siapa lagi coba. Lo harus tanggung jawab pokoknya." ujar Arka lagi.


"Iya, ntar gue yang bilang." tukas Rio.


Mobil terus melaju dan Arka terus saja menghubungi sang istri. Ia tak tau jika saat ini Amanda juga melibatkan Nino serta Ansel. Harusnya Arka bisa menghubungi ke nomor dua saudaranya itu. Ketika akhirnya Amanda bisa dihubungi, Arka langsung berbicara ada wanita itu.


"Hallo, Man." ujarnya.


"Kamu dari mana aja, Arka?" Suara Amanda terdengar marah di seberang.


"Aku dari diajak naik gunung sama Rio, Man." jawab Arka.


"Gunung janda mana yang udah kamu naikin, hah?"


"Bu, bukan itu. Ini naik gunung beneran. Gunung secara harfiah, gunung Lawu." ujar Arka lagi.


"Hah, gunung Lawu?"


Amanda kaget, begitupula dengan Nino dan Ansel yang mendengar hal tersebut. Meski mereka masih sedikit bingung, apa hubungan gunung tersebut dengan Arka. Sebab panggilan tak menggunakan mode loud speaker.


"Kamu naik gunung Lawu?" tanya Amanda masih tak percaya.


Nino dan Ansel saling bertatapan.


"Iya, gara-gara Rio pokoknya. Dan aku bener-bener nggak ngeh, lupa ngabarin juga. Karena udah terjebak depan mata." jawab Arka.


"Ini beneran, Ka?" Amanda tak percaya.


"Beneran, Amanda. Sumpah aku nggak ada bohong sama sekali. Ini kamu dimana?. Nanti pas sampe aku ceritain full deh." ujar Arka.


"Aku ada di Surabaya. Sama Nino dan Ansel juga."


"Hah?. Serius?" Arka kaget.


"Kamu di Surabaya?" tanya nya lagi.


Sementara Rio turut kaget mendengar hal tersebut.


"Aku sama Nino dan Ansel habis melaporkan kehilangan kamu dan Rio ke kepolisian setempat. Ini juga ada sutradara kamu sama astrada-nya." ujar Amanda


"Astaga, Man. Ini serius?" Lagi-lagi Arka bertanya.


"Serius, ngapain aku bohong?"


"Lagian kamu sama Rio nggak bisa dihubungi. Kita semua jadi khawatir tau nggak."


Arka terdiam sekaligus merasa tak enak hati. Ia benar-benar tak menyangka kejadiannya akan heboh seperti ini.


"Ya udah tunggu dulu, ini aku lagi di jalan pulang." ujarnya.

__ADS_1


"Oke." jawab Amanda.


__ADS_2