Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Berkunjung Lagi


__ADS_3

"Papa kamu baik-baik aja kan, Man?"


Arka bertanya pada Amanda, usai ia berinteraksi dengan si kembar. Kedua anak itu kini sudah merayap entah kemana.


"Baik." jawab Amanda.


"Dia tuh pengen banget ketemu Amara, ketemu Azka, Afka, Rasya, sama Rania." lanjutnya lagi.


"Tapi gimana, kan rumah sakit. Lagipula status papa kan tahanan. Emang boleh ngajak anak kecil?" tanya Arka kemudian.


"Makanya ini lagi di urus dulu sama Nino. Mudah-mudahan bisa." ucap Amanda.


"Kasihan dia." ucap Arka.


"Pasti kangen banget itu." lanjutnya lagi.


"Pasti, Ka. Tapi ya mau gimana. Kita ngikutin prosedur yang ada aja. Orang lembaga atau instansi terkaitnya bukan punya kita." tukas Amanda.


Arka kini menarik nafas dalam-dalam.


"Semoga semuanya lancar dan bisa di wujudkan." ujar pemuda itu kemudian.


"Aamiin." jawab Amanda.


"Aku cuma pengen liat papa senang, Ka." tukasnya lagi.


"Iya, Man. Maaf aku nggak bisa bantu banyak." ujar Arka.


"Iya, nggak apa-apa koq. Kamu mau mendengarkan masalah keluarga aku aja, aku udah seneng koq." ucap Amanda.


"Kan kita juga keluarga, Man." tukas Arka.


"Iya sih." Kali ini Amanda tertawa dan Arka pun ikut-ikutan.


"Kamu pikir kita kumpul kebo." lanjutnya lagi.


Pasangan suami-istri tersebut kini tertawa-tawa.


***


Esok harinya, sebelum berangkat ke kantor. Amanda ada meminta asisten rumah tangganya yang ada di rumah, untuk merekam Rania dan juga Rasya. Mengenai apa saja yang ingin disampaikan kedua anak itu terhadap ibu mereka, Rani.


Setelah video tersebut diambil, kemudian rekamannya dikirim ke handphone Amanda  melalui WhatsApp.


Amanda berangkat ke kantor dan bekerja terlebih dahulu. Sama halnya dengan Nino. Saat jam makan siang tiba, mereka sama-sama menyambangi lapas wanita dibagikan timur kota dan menemui Rani di sana.


Rani menangis saat mendapati kunjungan Amanda dan juga Nino. Sejatinya bila boleh jujur, Amanda masih memiliki kemarahan terhadap saudaranya itu. Meski telah berkurang sebesar 80%.

__ADS_1


Kehadirannya di tempat tersebut, kemudian ditengahi oleh Nino. Mereka akhirnya benar-benar berbaikan dan Nino berjanji akan membantu sebisa mungkin.


Rani kemudian membuat video yang direkam langsung di handphone Amanda. Nantinya video tersebut akan diberikan kepada Rasya dan juga Rania. Untuk mengobati kerinduan kedua anak itu terhadap ibu mereka.


Usai berkunjung pada Rani, baik Amanda maupun Nino kembali ke kantor masing-masing. Sore harinya barulah Amanda kembali menjenguk Amman.


Sedang Nino mulai mengupayakan perizinan agar keponakan dan juga adik tirinya bisa bertemu dengan sang ayah.


"Nino mana?"


Amman bertanya ketika ia tak menemukan anak laki-lakinya tersebut.


"Lagi ngurus perizinan, supaya bisa bawa anak-anak kesini pa." jawab Amanda.


Amman jadi mendadak sumringah. Terlihat jelas ia bahagia mendengar semua itu.


"Semoga bisa segera, papa sudah pengen sekali memeluk mereka." ucap pria itu.


"Iya, papa yang sabar ya. Kita akan usahakan semuanya buat papa." tukas Amanda.


"Makasih, Amanda. Kamu benar-benar anak yang baik. Papa banyak dosa sama kamu."


Mendadak Amman mengingat perbuatannya yang terdahulu kepada sang anak.


"Udalah, pa. Nggak usah di ungkit lagi, biar jadi masa lalu aja." Lagi-lagi Amanda berucap.


Amman matanya kini tampak berkaca-kaca. Kemudian Amanda menggenggam tangan pria tua itu dengan erat dan penuh kasih sayang.


Amman mencoba tersenyum, lalu ia menarik anaknya itu ke dalam pelukan.


"Kreeek."


Pintu terbuka. Ternyata Vera yang datang dengan membawa buah-buahan. Vera langsung mendekat dan memeluk Amman, yang telah terlebih dahulu melepaskan pelukannya terhadap sang anak. Vera juga tampak berinteraksi dengan Amanda, setelahnya.


Selang beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Mereka mengira itu dokter atau perawat. Namun seketika mereka semua terdiam, tatkala menyadari jika yang datang tersebut adalah Citra. Wanita itu melangkah masuk kedalam


Dan pada saat yang bersamaan, Nino juga tiba lalu menyaksikan itu semua. Ia sempat tertegun sejenak di dekat pintu masuk. Sampai kemudian Amman pun berkata,


"Tinggalkan kami berdua!"


Maka Amanda, Nino, dan juga Vera keluar dari ruangan tersebut. Kini hanya tinggal Amman dan citra saja yang masih berada disana.


Amanda dan Nino tak pergi jauh, mereka masih berdiri di muka ruangan. Sedang Vera memilih untuk mengurus beberapa keperluan, termasuk menebus obat di apotek rumah sakit.


"Aku datang kesini karena anakku yang meminta." ucap Citra dengan nada dingin.


"Dia anak kita." Amman berkata seraya menatap wanita itu.

__ADS_1


"Kita itu kalau dilakukan bersama secara sukarela. Tapi disini aku dipaksa, sampai akhirnya aku hamil."


Citra seakan kembali mengorek masa lalu. Amman terus menatap wanita itu dan tak melepaskan pandangannya sedikitpun.


"Lantas apa yang mau kamu bicarakan?" tanya nya kemudian.


"Jangan memanfaatkan anakku untuk bisa memohon agar hukuman kamu diringankan. Karena itu semua tidak akan pernah terjadi."


Citra menjawab pertanyaan dari laki-laki yang ia benci tersebut. Sementara Amman kini tampak mengerutkan dahi.


"Maksud kamu?" tanya nya tak mengerti.


"Kamu kan yang nyuruh Nino untuk meminta sama aku. Supaya hukuman kamu di ringankan. Kalau bisa kamu bebas."


Amman menatap Citra dengan penuh kemarahan.


"Aku memang pengen cepat bebas dari penjara. Tapi aku nggak pernah memanfaatkan anakku untuk itu." ucapnya kemudian.


Nino yang ada di luar berbalik dan masuk kembali ke dalam.


"Ini murni permintaan Nino, bukan papa yang nyuruh." ujarnya menjelaskan.


"Apa mama nggak kasihan sama papa?" tukasnya lagi.


Citra menoleh, lalu menatap puteranya itu lekat-lekat.


"Kasihan kamu bilang." ujarnya dengan nada sinis dan penuh penekanan.


"Kalau kamu kasihan sama dia, lalu bagaimana dengan bekas luka yang dia tinggalkan untuk mama?" lanjutnya lagi.


Nino diam karena tak mungkin untuk menjawab hal tersebut. Biar bagaimanapun juga ia tak berada di posisi Citra sebagai korban. Ia tak tau persis bagaimana rasanya.


"Kamu ternyata sama nggak berperasaannya dengan ayah kamu." ujar Citra.


"Jangan mencecar dia."


Amman membela Nino sedang Nino kini seperti tersentak hatinya. Dari kecil hingga remaja ia hidup dalam tekanan, dan setiap kali mendapat tekanan hatinya akan mendadak menjadi sedih.


"Kalau kamu datang kesini cuma untuk marah-marah. Lebih baik kamu pergi!" Amman mengusir wanita yang masih ia cintai tersebut.


Citra menatap pria itu dan juga Nino. Tak lama ia pun keluar dari ruangan. Bahkan melengos begitu saja di hadapan Amanda. Nino berbalik arah dan hendak kembali ke luar.


"Jangan lakukan hal itu lagi." ucap Amman pada sang anak.


Nino menghentikan langkah dan mendengarkan. Namun ia tak menoleh sama sekali.


"Karena akan percuma." Amman melanjutkan kata-kata sekali lagi.

__ADS_1


Nino lalu benar-benar keluar dan di muka pintu, ia di peluk oleh Amanda.


***


__ADS_2