Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Mbok Yem


__ADS_3

"Hai gaes, it's me Rio Salim. Jumpa lagi dalam acara makan with Riri."


Rio berujar depan kamera, kemudian pengambilan video di cut untuk intro.


"Kali ini acaranya nggak mukbang gaes. Karena ada banyak yang butuh makan disini. Jadi sebisa mungkin kita menjaga untuk nggak membuat makanan menjadi mubazir." tukas Rio lagi. Dan lagi-lagi video di cut untuk intro.


"Hari ini gue sedang ada di sebuah tempat makan di atas ketinggian." ujarnya


Angle kamera berubah. Dari yang tadinya di depan, berubah jadi dari samping. Tapi akhirnya Rio kembali menoleh pada kamera tersebut.


"Makan di ketinggian kayak di Jakarta mah, lewat. Ini bener-bener tinggi tempatnya." tukas pemuda itu lagi.


Kemudian video lagi-lagi di cut, agar dapat diberikan pemandangan panorama sekitar nantinya.


"Yup, dimana lagi kalau bukan di gunung Lawu, tepatnya di warung mbok Yem. Warung yang menjadi favoritnya pada pendaki gaes."


"Hari ini gue akan mereview makanan yang ada di warung mbok Yem ini. Seperti apa sih rasanya. Ikuti terus dan jangan lupa di subscribe plus nyalakan loncengnya. Agar kalian mendapat pemberitahuan dari konten-konten berikutnya."


Video kemudian di lanjut dengan memperlihatkan bagian dapur mbok Yem yang tengah sibuk menyiapkan makanan. Berupa nasi pecel plus telur mata sapi.


Tak lama Rio dan team serta Arka mendapatkan pesanan mereka, setelah sekian lama mengantri. Lantaran cukup banyak pendaki lain yang juga memesan makanan disana. Kemudian mereka pun makan bersama. Dengan Rio yang sambil ngonten tentunya.


"Gaes, jujurly ini enak." ucap Rio di depan kamera, ketika akhirnya ia mendapati suapan pertama.


"Dan karena gue laper juga sih." ujarnya kemudian tertawa.


Ia terus saja berceloteh sambil makan di depan kamera. Sampai kemudian konten tersebut selesai di rekam dan makanan telah habis.


"Nah gaes, sekian dulu review dari gue. Sampai ketemu lagi di konten berikutnya."


Rekaman diakhiri dan kru yang merekam tersebut langsung membereskan kamera, lalu makan.


***


"Nin."


Amanda menelpon Nino yang saat ini tengah berada di kantor. Hari sudah sedemikian siang dan belum ada tanda-tanda mengenai keberadaan Arka dan juga Rio.


"Iya, Amanda. Ada apa?" tanya Nino pada saudaranya itu.


"Nin, Arka tuh dari kemarin nggak bisa di hubungi dan dia nggak ada ngabarin juga sedikitpun." jawab Amanda.


Nino diam sejenak, sebab ia agak kaget mendengar hal tersebut. Sepanjang yang ia ketahui selama mengenal Arka. Saudaranya itu bukan tipikal orang yang tidak memberitahu istri. Kemanapun ia melangkah, ia pasti mengabari Amanda.


"Kamu nggak menghubungi Rio?" tanya nya kemudian.


"Udah, si Rio sama aja. Nggak bisa di hubungi juga. Dan aku udah tanya ke orang management dan orang management itu udah cari tau ke sutradara yang sama-sama ada disana. Udah didatangi juga tempatnya, tapi mereka berdua nggak ada."

__ADS_1


Amanda menjelaskan panjang lebar.


"Kemana ya mereka.?" tanya Nino bingung.


"Nggak tau, ini papanya Rio juga lagi nyariin." ujar Amanda.


"Apa mereka nggak sengaja bikin ulah, terus di tangkap pihak yang berwajib ya?" tukasnya lagi.


Pikiran Amanda pun kini kemana-mana. Sementara Nino masih diam dan berpikir.


"Aku tuh khawatir banget. Gimana kalau seandainya mereka berdua itu tau-tau menggunakan obat-obatan terlarang. Terus terciduk deh, di suatu tempat." ujar Amanda dengan nada cemas.


"Jangan pikir terlalu jauh dulu. Siapa tau mereka lagi kemana atau handphone mereka pada rusak." ucap Nino.


"Masa iya handphone rusaknya barengan." tukas Amanda.


Nino diam dan menyadari itu semua. Kini kecurigaannya mengikuti arah kecurigaan wanita tersebut.


"Coba ntar aku cari tau." ucap Nino.


"Tolong ya, Nin. Aku bingung banget ini, apa kita susul aja kesana?"


"Pokoknya tunggu kabar dari aku, nanti segera aku cari tau dan kabari." ucap Nino lagi.


"Oke, ya udah deh. Aku mau lanjut kerja dulu."


"Iya." jawab Amanda.


Tak lama panggilan tersebut disudahi. Nino mulai menghubungi beberapa pihak dan mencoba melacak keberadaan Arka serta Rio.


Sementara di gunung, Arka dan Rio sendiri sudah bersiap dan hendak melakukan perjalanan pulang. Rio mengambil video sekali lagi dan akhirnya mereka pun mulai berjalan.


***


"Arka sama Rio menghilang?"


Ansel bertanya pada Nino. Ketika saudaranya itu menceritakan tentang Arka dan juga rio, yang sampai saat ini belum ada kabar sama sekali.


"Iya, ini gue lagi nunggu info juga dari orang yang gue suruh. Kalau emang masih nggak ada titik terang, malam ini atau besok pagi gue mau ke Surabaya." ucap Nino.


"Gue ikut." tukas Ansel.


"Lo kan udah mau nikah, nggak usah banyak kemana-mana dulu." ucap Nino lagi.


"Apa hubungannya coba?" tanya Ansel heran.


Nino menatap saudaranya itu. Ia lupa jika Ansel bukanlah merupakan warga lokal, yang banyak percaya akan pantangan serta hal mistis.

__ADS_1


"Ya udah deh, kalau lo pengen ikut. Kita tunggu informasi dulu bentar lagi. Kalau memang semuanya masih belum clear, kita langsung berangkat." ujarnya kemudian.


"Oke." jawab Ansel.


Nino lalu menunggu informasi terkait Arka maupun Rio. Ia ada menghubungi pihak manajemen dan meminta kontak beberapa orang, yang kira-kira bisa di hubungi di lokasi tempat dimana Arka dan Rio syuting. Termasuk kontak sang sutradara.


Setelah beberapa saat berlalu, pihak-pihak yang ia hubungi sama mengatakan jika mereka tidak tau. Mengenai keberadaan dua orang tersebut. Namun mereka janji akan membantu untuk melakukan pelacakan maupun pencarian.


"Kita kayaknya harus berangkat malam ini juga."


Nino akhirnya membuat keputusan.


"Amanda nggak diajak?" tanya Ansel pada saudaranya itu.


"Dia pasti khawatir banget kan?" lanjutnya lagi.


"Coba gue hubungi dulu." ucap Nino.


Tak lama ia pun segera menghubungi Amanda dan kebetulan Amanda belum kembali tidur. Sebab ia masih berusaha menemukan Arka.


"Hallo, Man."


"Iya, Nin." jawab Amanda.


"Kayaknya aku harus ke Surabaya malam ini deh." tukas Nino.


"Sebab aku udah cari info buat melacak keberadaan mereka. Tapi hasilnya masih nol." lanjut pria itu.


"Aku ikut, Nin." Amanda meminta.


"Anak-anak gimana tapi?" tanya Nino kemudian.


"Mereka ada di rumah ibu Arka." jawab Amanda.


"Ya udah kalau gitu kamu siap-siap, nanti aku jemput."


"Oke."


Maka Amanda pun bersiap. Nino dan Ansel kini mengambil dompet, uang, dan kunci mobil. Tak lama keduanya terlihat sudah berada di halaman parkir.


Selang beberapa saat berlalu, mobil yang dikemudikan Nino terlihat keluar dari gerbang pintu pagar.


"Nin, kita kasih tau daddy nggak?" tanya Ansel ketika mereka sudah berjalan cukup jauh.


"Jangan dulu, nanti dia jadi khawatir dan kepikiran." jawab Nino.


"Oh, oke deh." jawab Ansel kemudian.

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya tiba di kediaman Amanda.


__ADS_2