
"Yeay, kekek."
Azka dan Afka bertepuk tangan ketika ayah dan ibu mereka telah kembali dan membawakan mereka sejumlah cupcake.
Tadi saat Amanda dan Arka pergi menonton, keduanya di titipkan di rumah Ryan. Sebab Ryan ada meminta untuk bertemu dengan kedua cucunya itu. Kini mereka telah sama-sama kembali ke penthouse.
"Kalian senang?" tanya Amanda pada sang anak.
"Ya." jawab keduanya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Good, mama juga senang kalau gitu."
Amanda memberikan masing-masing satu cupcake kepada mereka, dan masih ada banyak lagi yang lainnya.
"Selamat makan cupcake." tukas Arka lalu beranjak ke kamar.
Ia dan Amanda membersihkan diri lalu berganti pakaian. Ketika mereka kembali, keduanya tercengang sekaligus terdiam. Pasalnya cupcake-cupcake tersebut, semua cream diatasnya telah dimakan tanpa terkecuali.
"Aku nggak kepikiran sampai sini, Ka." ujar Amanda seraya memperhatikan semua itu.
Arka kemudian tertawa.
"Untung donatnya nggak dibuka sekalian." ujarnya kemudian.
Lalu mereka pun duduk dan menikmati donat yang dimaksud.
"Mama, kekek."
Azka menawarkan salah satu cupcake yang sudah compang-camping kepada ibunya.
"Nggak mau mama, bekas mulut kalian semua." tukas Amanda antara kesal namun gemas dan lucu.
"Kekek, nak."
Azka berusaha mengatakan jika cupcake itu enak rasanya.
"Iya mama tau ini enak, tapi kan kalian makan semua atasnya. Sampe berantakan gini."
"Nanak." ujar Azka sekali lagi seraya menyodorkan cupcake tersebut.
Amanda mengambilnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
"Papapa, kekek. Mam!"'
Afka menyodorkan cupcake bekas mulutnya pada Arka, dan memaksa ayahnya itu untuk makan.
"Afka aja ya yang makan. Masa papanya dikasih bekas kamu, nggak sopan loh itu." Amanda mengajarkan pada anaknya.
"Kekek, nak. Mam!" Afka masih terus berusaha.
Arka hanya tersenyum lalu meraih cupcake tersebut dan membuang bagian atasnya. Lalu ia pun memakan cupcake tersebut dan Afka terlihat gembira.
"Yeay, mamam." Afka bertepuk tangan.
"Mama, mamam!"
Azka memberikan lagi pada Amanda.
"Nggak mau, ih. Udah Azka aja." Amanda masih saja menolak.
__ADS_1
"Nak, mam!" ujar Azka terus memaksa.
Amanda lalu berpura-pura memakan cupcake tersebut.
"O'ong."
"No-no."
Azka dan Afka menggelengkan kepala sambil mengatakan hal tersebut. Mereka mengcopy ucapan sang ibu yang selalu mengatakan,
"No, nggak boleh bohong ya."
"O'ong." ujar Azka lagi.
Arka makin tertawa, sementara Amanda kini sewot.
"Mama nggak mau, ini kan udah kamu masukin ke mulut semua." ujar wanita itu.
"O'ong, no, no."
Amanda melebarkan bibir.
"Buang aja atasnya, Man. Jangan ngajarin anak untuk bohong." ucap Arka.
"Ya ini aku lagi ngajarin mereka juga, untuk nggak main terima-terima aja dalam hidup." Amanda membela diri.
Arka makin tertawa.
"Azka, Afka. Kita nonton yuk!" ajak Arka.
"Toton."
"Iya, ayo!" ujar Arka sekali lagi. Keduanya lalu mendekat dan menilik ke layar tablet yang biasa mereka gunakan. Tablet tersebut kini berada di tangan sang ayah.
Perhatian mereka teralihkan, dan Amanda selamat dari cupcake yang disodorkan oleh sang anak.
***
"Ri, tiga hari lagi kita balik ke Surabaya. Jangan lupa dan jangan telat sama jadwal syuting yang udah ditentukan."
Mbak Arni mengirim pesan singkat pada Rio, begitupula dengan Arka. Namun saat ini Arka tengah sibuk dengan kedua anaknya. Hanya Rio yang melihat pesan tersebut.
"Oke, beres." jawab Rio.
Kemudian pemuda itu lanjut hunting makanan ke sebuah tempat yang terdapat banyak street food. Ia meminta salah satu kru YouTubenya untuk merekam.
"Hai gaes, gue lagi ada di sebuah pasar di daerah Tangerang. Kira-kira gue bawa duit seratus ribu, dapat apa aja ya?"
Ia berkata di depan kamera.
"Yuk, ikutin gue!" lanjutnya lagi.
Maka kameramen pun mengikuti kemana Rio pergi dan di tempat jualan apa ia berhenti. Awal mulanya ia membeli pentol-pentolan ala Korea, disusul kemudian roti bakar, cumi bakar dan masih banyak lagi.
Rio makan sambil menghadap kamera tentunya, karena ia sendiri tengah mengejar beberapa konten sebelum kembali ke Surabaya.
Ketika tengah makan, posisi Rio agak ke tengah. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan memberinya klakson cukup panjang.
"Tiiiiiiin."
__ADS_1
Rio kaget, nyaris saja apa yang ia makan terjatuh. Andai ia tak sigap memegangi makanan tersebut.
"Sialan tuh mobil." gerutu Rio pada kendaraan yang akhirnya berlalu tersebut.
"Lagian ngapain coba, bawa mobil bagus ke jalan rame kayak gini. Ya pasti bakalan macet karena banyak orang. Kadang-kadang orang kaya otaknya cuma seperempat." lanjutnya lagi.
Kemudian mobil itu pun berhenti.
"Nah loh berhenti, bos." ucap kameramen padanya.
"Biarin aja, kalau tuh orang macem-macem nih. Gue siram pake kuah tteokbokki." jawab Rio.
Seseorang tampak keluar dari mobil tersebut dan menuju ke arah toko kue yang tak jauh dari sana.
"Karet gelang?" ujarnya seraya memperhatikan. Karena ternyata yang berada di dalam mobil itu adalah Gareth.
"Mau ngapain dia kesini?" gumamnya lagi.
Jiwa kepo Rio meronta-ronta dan dengan kekuatan lambe turah, ia segera mendekat ke arah toko kue tersebut. Ia menyelinap diantara keramaian pengunjung.
"Gareth."
Seorang perempuan cantik menghampiri pria itu.
"Tante Inggrid." ujarnya lalu mereka cipika-cipiki.
"Ini keponakan saya, Gareth."
Tante-tante bernama Inggrid itu, memperkenalkan Gareth pada dua orang temannya yang kebetulan juga berkunjung ke toko kue tersebut.
"Itu tantenya si karet?" gumam Rio.
"Lah koq cantik amat ya, kayak Sophia Latjuba." lanjutnya lagi.
"Apa gue tinggalin aja Liana, terus sama tantenya dia?."
Rio menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum.
"Apa sih gue?" ujarnya lagi.
Tak lama ia pun menguping Gareth yang berbasa-basi bersama kedua teman tante Inggrid. Gareth kemudian masuk, selang beberapa saat berlalu ia pun keluar. Ia membawa dua kantong berisi kue lalu mengambil handphone. Gareth kini tampak menelpon seseorang.
"Hallo, Amanda."
"Degh." batin Rio bergemuruh.
"Amanda?" ngapain dia nelpon Amanda.
Sementara kru nya kini bingung, lantaran melihat Rio yang juga bingung.
"Amanda, aku lagi ada di toko kue Tante aku. Kebetulan aku dikasih banyak banget. Aku nggak enak buat menolak. Sedangkan aku lagi nggak makan cake. Kamu mau nggak?"
Rio agak curiga dengan alasan Gareth tersebut. Entah mengapa ia berpikiran kalau Gareth memang hendak mendekati Amanda. Sementara di seberang Amanda mengiyakan saja. Toh ia juga merasa tak enak menolak pemberian Gareth.
"Ya udah, ini aku kirim ke tempat kamu ya." ujar Gareth kemudian.
Tak lama telpon tersebut pun disudahi. Gareth kini jadi senyum-senyum sendiri. Melihat senyuman tersebut, Rio dan kameramennya saling bersitatap. Karena mereka merasa sikap Gareth semakin aneh.
"Lo curiga nggak sih bos?" tanya kameramennya itu pada Rio.
__ADS_1
"Gue kalau ke Amanda-nya sih, nggak. Tapi kalau ke dia, iya." jawab Rio.