Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Memberitahu Orang Tua


__ADS_3

"Kalian itu, kalau ada apa-apa dan butuh nasehat. Ya ngomong sama orang tua. Jangan masalah sudah berlarut kayak gini baru mau cerita."


Ibu Arka menyayangkan sikap anak dan menantunya yang menyimpan masalah dan tak mau bicara kepadanya.


"Bukan apa-apa, ibu nggak mau kalau sampai kalian bercerai cuma gara-gara rasa bosan. Kasihan anak-anak. Karena keegoisan orang tua, mereka harus tumbuh dalam keluarga yang berantakan." lanjut wanita itu.


Arka dan Amanda menunduk dalam.


"Awalnya kita pikir itu masalah sepele, bu. Jadi kita pikir bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi nyatanya sekarang kami butuh bantuan ibu, papa, dan juga daddy." ucap Arka.


Ibunya menghela nafas lalu duduk dihadapan sang anak dan juga sang menantu.


"Sekarang kalian maunya solusi seperti apa?" tanya ibu Arka lagi.


Sedang sang ayah tiri sejak tadi fokus mendengarkan dan mencoba memahami isi percakapan.


"Arka pengen anak-anak dititip dulu disini, kadang di rumah daddy. Arka sama Amanda harus mendapatkan kebebasan yang kami cari. Entah untuk seminggu, dua minggu atau bahkan satu bulan. Biar kami nggak penasaran dan nggak mendongkol lagi dalam hati. Karena kalau kami belum mendapatkan hal itu, hati dan keinginan kami sama-sama akan terus penasaran dan mencari." tukas Arka.


"Kami mau mencarinya secara terbuka, bu." ucap Amanda.


"Daripada penasaran dan akhirnya berselingkuh di belakang, hanya untuk mencari solusi kebosanan." lanjut wanita itu kemudian.


"Jadi nanti masing-masing kalian mau tinggal dimana. Tadi papa dengar katanya mau pisah dulu. Kenapa seperti itu?"


Ayah tiri Arka kini menimpali. Arka dan Amanda saling bersitatap satu sama lain.


"Arka di rumah Arka, Amanda tetap di penthouse." jawab Arka.


"Apa nggak masalah seperti itu?. Kalau nanti hubungan kalian malah makin renggang gimana?" tanya ibu Arka khawatir.


Arka dan Amanda kemudian sama-sama tersenyum.


"Kami masih saling mencintai koq, bu. Cuma kami perlu ruang aja sedikit." ujar Arka.


Ibu Arka kini yang gantian saling bersitatap dengan suaminya.


"Ya sudah kalau begitu. Kapan kalian akan memulai semua ini?" tanya wanita itu lagi.


"Secepatnya, bu." ujar Amanda.

__ADS_1


"Lebih cepat, lebih baik." lanjutnya lagi.


"Iya, bu. Biar masalahnya cepat selesai dan kami bisa sama-sama dalam rasa yang seperti dulu lagi." ujar Arka.


"Kami, mau menumbuhkan rasa rindu yang besar diantara kami. Supaya nantinya kami bisa menghargai kebersamaan kami dengan lebih baik lagi." lanjut pemuda itu.


Ibu Arka dan sang ayah tiri pun menyetujui permintaan anak dan menantu mereka tersebut.


Mereka memang tak begitu mengerti dengan konsep rumah tangga anak muda jaman sekarang. Sebab di jaman mereka dulu mau sebosan apapun, mereka tetap tumplek di satu rumah.


Tapi kembali lagi, beda jaman mungkin berbeda pula sudut pandang dan cara penyelesaian suatu masalah.


Ibu dan ayah tiri Arka hanya mencoba mempercayai anak dan menantu mereka, untuk menyelesaikan masalah ini dan mencari solusi.


***


"Ya sudah kalau memang maunya seperti itu." ucap Ryan, ketika akhirnya Arka dan Amanda menyambangi pria itu dan menyampaikan maksud.


"Tapi daddy minta, apapun yang terjadi usahakan jangan bercerai. Terlalu banyak yang kalian korbankan kalau sampai hal itu terjadi."


"Iya, dad. Kami janji nggak akan bercerai. Kami cuma butuh ruang dan waktu untuk diri kami sendiri dulu." ucap Arka.


"Have fun boleh, tapi jangan sampai selingkuh." pinta Ryan lagi. Dan lagi-lagi Arka serta Amanda pun mengangguk.


"Kenapa kalian baru bicara sekarang sih?"


Nino meletakkan teh dan kopi hangat yang ia buat dihadapan sang ayah dan juga saudara-saudaranya. Termasuk pada Ansel yang ini tengah diam mendengarkan.


"Kami pikir ini masalah kami dan buka hal yang serius." ucap Arka.


"Tapi ujungnya jadi serius kan?"


Nino berucap seraya duduk di hadapan saudaranya itu. Arka mengangguk sambil menunduk. Amanda pun belum mengangkat wajahnya sejak tadi.


"Ya udah kalau gitu mau kalian, cari kebebasan kalian yang hilang itu." ucap Ryan.


"Tapi jangan lupa jalan pulang." lanjutnya lagi.


Arka dan Amanda sedikit lega, sebab pihak keluarga mencoba mengerti apa yang kini mereka rasakan. Mereka bertekad untuk menuntaskan masalah ini dengan segera.

__ADS_1


***


"Nggak ah, gue nggak setuju."


Sedikit berbeda dari keluarga Arka, Rio menyatakan jika ia tak setuju. Dengan rencana Arka serta Amanda yang ingin pisah rumah dulu untuk sementara waktu.


"Ini sementara doang, Ri." ujar Arka menjelaskan.


"Iya mau sebentar kek, sekejap mata. Gue tetap nggak setuju, Ka. Kalau rencananya berubah ditengah jalan gimana?. Misalkan lo berdua tiba-tiba nyaman sama perpisahan itu. Kan sayang kalau sampe lo sama si Firman cerai. Udah capek-capek lo memperjuangkan cintanya dia sampe setengah mati. Terus nanti cerai gitu aja, mengorbankan anak-anak."


Arka menarik nafas, ia bingung bagaimana memberi pengertian pada sahabatnya itu. Sedang Amanda kini sudah pulang ke rumah dan mengurus si kembar.


"Lagian lo berdua ada-ada aja deh solusinya. Kayak bocil yang lagi main kawin-kawinan tau nggak." ujar Rio lagi.


Arka duduk di hadapan Rio.


"Solusi ini supaya gue sama dia nggak mendongkol lagi dalam hati. Biar gue sama dia sama-sama mendapatkan kebebasan lagi sampe gumoh. Kan kata lo hidup itu sama aja kayak kita pengen makan sesuatu. Kalau lagi pengen makan, ya makan aja sampe bosen. Kalau udah bosen nanti pasti balik lagi ke makanan yang sebelumnya."


"Iya tapi sekarang gue khawatir. Gimana kalau pernyataan gue itu ternyata salah. Gimana kalau kita pengen makan sesuatu. Dan ketika kita makan, justru kita malah jatuh cinta sama makanan itu. Nggak pengen balik lagi ke yang lama?"


"Gue masih cinta sama dia, Ri. Kita masih saling cinta. Cuma butuh waktu aja buat sendiri sementara waktu."


Rio yang menarik nafas panjang kali ini.


"Tapi kalau lo berdua sampai cerai, gue musuhin lo Ka. Gue nggak akan tega liat nasib anak-anak lo, yang mendadak jadi anak broken home."


"Iya, gue janji. Lagian ini cuma buat bentar doang koq. Iya kali gue tahan sampe lama nggak tidur sama dia."


"Awas aja lo tidur sama cewek lain. Nggak bakal gue mau temenan sama lo lagi."


"Iya, Bambang. Emang selama lo kenal gue, gue sering sembarangan gitu tidur sama cewek?. Nggak kan?"


"Ya bisa aja kan lo khilaf."


"Kagak, gue cuma mau saling ngasih ruang doang sama si Firman."


"Ya udah." ujar Rio kemudian.


Ia menyetujui keinginan Arka pada akhirnya. Meski dalam hati pemuda itu masih ada rasa yang mengganjal.

__ADS_1


__ADS_2