
"Ka, makasih ya. Yang tadi enak banget."
Amanda berterima kasih pada suaminya, usai mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Arka sendiri tersenyum lalu mencium bibir istrinya itu.
"Sama-sama sayang." ujarnya kemudian.
"Aku sayang kamu, Ka." ucap Amanda lagi.
"Aku juga sayang kamu." balas Arka lalu mencium bibir sang istri.
"Mau mandi dulu, apa tidur dulu?" tanya Arka.
"Mandi dulu aja." jawab Amanda.
"Oke."
Kemudian mereka mandi bersama dan setelah itu mereka juga sama-sama mengganti seprai tempat tidur beserta sarung bantal.
"Yuk kita tidur ajak Amanda."
Arka mengangguk, kemudian keduanya sama-sama berbaring.
***
Esok hari di lokasi syuting. Meski masih dalam masa reading, namun semuanya datang dan mengikuti kegiatan yang berlangsung.
Ini kali pertamanya Arka bertemu Rio lagi, setelah beberapa hari terlewati dan sahabatnya itu seolah menghilang. Arka pikir ia benar-benar sibuk hingga tak ada satupun pesan di WhatsApp yang ia balas.
"Lo kemana aja sih?" tanya Arka pada Rio.
Namun Rio tak menjawab dan malah melengos begitu saja. Membuat Arka merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Bro."
Arka menyusul Rio. Namun Rio berjalan cepat.
"Lo kenapa sih?. Salah gue apa?" tanya Arka padanya.
Rio menghentikan langkah, kemudian menoleh.
"Lo masih tanya salah lo apa?"
Rio balik melontarkan pertanyaan bernada sinis.
"Iya apa?. Orang gue ngerasa nggak punya salah sama lo." ucap Arka.
"Beberapa waktu belakangan ini, ada lo menghabiskan waktu bareng gue?
Rio bertanya lagi pada Arka seraya berjalan mendekat.
"Ri, kita ini bukan anak SMP lagi. Walau kita bersahabat, kita punya kehidupan lain masing-masing."
"Gue paham soal itu, Ka. Tapi lo ngabisin waktu sama anak-anak manajemen yang kerjanya cuma party. Lo selalu pergi bareng mereka kan?"
Arka berpikir, sepertinya tuduhan itu berlebihan. Mengingat ia hanya pergi beberapa kali bersama mereka dan itu pun ada Rio.
__ADS_1
"Ini foto-foto lo sama mereka. Dan baca caption dibawahnya."
Rio menunjukkan foto yang diupload oleh Dion di akun Instagram pribadi miliknya.
"Nah gitu dong, Ka. Sekali-kali jangan dibawah ketek si Rio mulu."
Dan dibawahnya Arka menjawab.
"Haha." Di ikuti emoticon tertawa.
"Berarti lo merasa selama ini kalau gue cuma penghalang antara lo dan mereka." ujar Rio.
"Ri, itu sekedar komen. Dan lagi foto ini diambil di hari yang sama saat lo ikut. Lo liat dong baju gue!"
"Tetap aja, lo setuju kan sama pendapatnya Dion. Bahwa gue tuh seakan menghalangi-halangi lo buat bergaul sama mereka."
"Ri, ayolah. Ini bukan masalah serius."
"Gue tersinggung, Ka."
Rio berlalu begitu saja, namun Arka belum akan menyerah. Ia kembali mengikuti Rio.
"Masalah ini nggak perlu lo gede-gedein, bro. Ini masalah sepele." ujar Arka.
"Yang sepele di mata lo, belum tentu sepele di mata orang lain." ucap Rio.
Tak lama mereka tiba di halaman parkir dan Rio langsung masuk ke mobil. Pengejaran Arka terhenti sampai disana.
"Lo kenapa, Ka?" tanya. Salah seorang artis yang akan satu frame dengannya nanti. Ia kebetulan lewat dan melihat dra Korea tersebut.
***
Di sepanjang jalan Rio yang mengemudikan mobil ayahnya tersebut, terus di kejar pesan singkat dari Arka.
"Eh, Karyadi. Lo kayak bocil, anjay. Aturan lo ngomong aja ke gue langsung kalau lo ada uneg-uneg. Ngapain pake drama marah segala dan nggak negur gue. Pantas aja lo nggak ada menghubungi gue selama beberapa hari ini."
Rio tak menjawab dan mengabaikan pesan tersebut begitu saja.
"Bro."
Lagi-lagi Arka mengirim pesan.
"Kalau lo nggak bales pesan gue sampai ntar malem. Gue boom chat lo liat aja, biar hp Lo nge-hange."
Rio memilih untuk tetap membisu. Kini Arka jadi resah sendiri menghadapi sahabatnya itu.
"Kelar masalah rumah tangga gue. Ada lagi masalah baru. Masalah tuh kenapa sih, kalau nggak menghampiri hidup gue sehari aja." Gerutu Arka.
"Ka, ayo reading!"
Sutradara memanggil Arka, dan tak lama pemuda itupun kembali ke tengah-tengah para cast.
***
Di lain pihak.
__ADS_1
Elina tengah melihat ke arah handphone sambil terus meminum-minuman dingin yang ia pesan tadi.
"Lo kenapa sih?" tanya salah seorang teman padanya. Saat ini mereka tengah berada di kantin sebuah stasiun TV, karena baru saja selesai mengisi acara.
"Arka koq nggak menghubungi gue ya, udah beberapa hari ini." ujarnya.
"Sibuk kali." tukas temannya.
Elina diam. Otaknya berpikir pastilah kini Arka tengah sibuk dengan istri dan anak-anaknya. Dan entah mengapa itu membuat hatinya sangat terluka.
Ia benar-benar tenggelam dalam perasaan yang sejatinya sangat salah. Ia jatuh cinta pada Arka sejak lama dan kini rasa itu seakan bangkit kembali.
"Udalah, El. Ngapain sih lo ngarepin Arka. Orang udah punya bini begitu. Mending lo cari aja yang lain. Temen-temen artis kita juga banyak koq. Atau lo cari dah tuh pengusaha kaya, buat kalau udah nggak jadi artis tetap sejahtera."
Elina makin diam. Saat ini otaknya tak bisa berpikir jernih. Seperti ada kabut yang menutupi.
***
"Kenapa Ka?"
Amanda bertanya pada Arka, ketika sore hari mereka semua telah berada di rumah. Tadi Arka sempat mengadu pada istrinya itu melalui WhatsApp dan menyatakan jika Rio tengah marah padanya.
Namun ketika Amanda meminta penjelasan lebih lanjut, Arka bilang nanti ia akan cerita di rumah. Karena saat itu dirinya harus reading lagi bersama para cast.
"Jadi si Bambang Rio marah ke aku, Man. Gara-garanya, waktu kita yang pisah rumah itu. Aku ada ke klub malam bareng anak-anak manajemen, ada dia juga. Tapi pas kita ngambil foto bareng-bareng, dia itu ada di toilet. Dia marah, dia bilang aku main mulu sama anak manajemen. Padahal itu foto cuma sekali itu doang." ujar Arka.
"Emang dia nggak ingat baju yang kamu pakai malam itu?" tanya Amanda.
"Namanya juga Rio, mendahulukan ngambek kayak bocil FF." tukas Arka.
Amanda tertawa.
"Nah si Dion, teman aku. dia nge-uploadĀ foto itu di Instagramnya dia, dengan caption begini."
Arka menunjukkan postingan Dion berikut caption yang tertera di bawahnya. Amanda pun membaca, kemudian ia melihat komentar Arka yang berupa tawa diikuti emoticon.
"Nah si Rio marah, dia kira selama ini aku tuh sama dia terus karena terpaksa. Dia merasa jadi penghalang aku dan anak-anak manajemen lain."
"Astaga, Rio." Amanda kini tersenyum lebar.
"Gemes kan dengarnya?" ucap Arka.
"Kayak pengen cubit pak tang." lanjutnya lagi.
Amanda pun tertawa.
"Kalau kayak gini jalan satu-satunya ya, kamu harus baik-baikin dia Ka. Kalau nggak bakalan ngambek terus tuh sampai nanti-nanti." ucap Amanda.
"Makanya." tukas Arka.
"Tapi udah coba minta maaf sejauh ini?" tanya Amanda lagi.
"Udah, tapi belum membuahkan hasil." ucap Arka.
Amanda kembali tertawa. Kali ini ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalian tuh ada-ada aja." ujarnya.