Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 10 Kondisi sebenarnya


__ADS_3

Hari itu Petra,Miranda,Revan dan Nadia berangkat menuju tempat di mana mereka sepakat bertemu dengan Brian.Perjalanan panjang mereka tempuh dengan menaiki mobil Petra agar tidak menimbulkan kecurigaan.Setelah menempuh jarak cukup jauh mereka sampai di suatu villa besar di puncak milik keluarga Brian.Mereka di sambut beberapa security dan dipersilahkan masuk saat pagar telah terbuka.Villa dengan gaya modern dan megah itu berdiri diantara perkebunan kelapa di sekelilingnya.Orang tak akan menyangka jika ada rumah di sana.Sesampainya di depan teras villa mereka di sambut oleh Marni asisten rumah tangga dari Lili.


"Selamat datang,Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya.Silahkan masuk Tuan dan Nyonya sudah menunggu di dalam!"ajak Marni.


"Terima kasih Mbak."ucap Petra.


Mereka langsung diantarkan menuju ruang tengah villa tersebut.Di sana telah menunggu Bram dan Lili,lalu mereka dipersilahkan duduk.


"Selamat datang Pak,Bu dan kalian berdua.Maaf kami harus mengundang kalian di tempat yang jauh dan terpencil ini."ucap Bram.


"Terima kasih atas undangannya.Tetapi ada apa sebenarnya ini?"tanya Revan.


"Begini Pak,sebelumnya kami minta maaf karena pada hari pernikahan tidak bisa hadir karena kondisi yang tidak memungkinkan.Saat perjalanan menuju gedung pernikahan,kami di hadang sebuah mobil dan di bius.Setelahnya kami di sekap seharian di suatu rumah kosong jauh dari kota."terang Bram.


"Lalu bagaimana dengan Brian,apa dia baik-baik saja?apa dia terluka?"tanya Miranda tak sabar.


"Tenang saja Sayang,aku tak apa-apa!"sahut Brian dari arah belakang kedua orang tuanya.


Ia berjalan menghampiri Miranda,lalu Miranda bangkit dari duduknya dan memeluk Brian.


"Maaf,kami harus menghilang sebentar."ucap Brian.


"Kenapa kamu tidak menghubungi aku?"Tanya Miranda sambil berurai air mata.


"Bagaimana aku bisa menghubungimu sedangkan aku baru sadar saat hari telah petang dan aku yakin acara kita pasti sudah dibubarkan."terang Brian.


"Tapi kenapa selama ini kamu tidak memberi kabar sama sekali padaku?"rajuk Miranda.


"Karena aku tak mau keselamatan kalian terancam!"jawabnya.


Miranda kemudian memandang wajah Brian dan menyadari ada sedikit lebam di wajahnya.


"Apa ini?"tanyanya sambil menunjuk lebam pada wajah Brian.


"Usahaku menyelamatkan diri agar bisa segera bertemu denganmu!"rayunya.


"Bohong,nyatanya kamu tak pernah menghubungiku usai lolos dari tawanan mereka?"ujar Miranda.


"Aku sudah bilang aku tak mau kalian dalam bahaya,lagi pula aku masih mencari pelakunya!"jelas Brian.


Miranda kemudian kembali duduk di samping kedua orang tuanya dan Brian juga duduk di samping ibunya.


"Kami masih menyelidiki hal ini dan untuk sementara Brian belum bisa keluar dari tempat ini."ucap Bram.


"Iya kami mengerti,kami juga akan mencoba mencarinya diam-diam."seru Revan.


"Biar Petra saja Pa,Papa,Mama,dan Kak Miranda pura-pura tidak tahu apa-apa tentang ini!"saran Petra.


"Alangkah baiknya kamu jangan terlibat hal ini Petra!"seru Brian.

__ADS_1


"Sudah tenang saja aku akan berhati-hati.Aku sudah tahu siapa yang pantas untuk dicurigai!"seru Petra geram.


"Siapa yang kau maksud?"tanya Brian.


"Serahkan semua padaku!"seru Petra lagi.


Pertemuan hari itu berakhir.Miranda dan keluarganya kembali pulang ke rumah mereka.Sebelum pulang Miranda dan Brian melampiaskan kerinduan mereka dengan saling memeluk erat tubuhnya.Sepeninggal Miranda dan keluarga dari villanya,Brian masih termangu di ruang tengah sedangkan kedua orang tuanya beranjak menuju kamar mereka.


"Sepertinya Petra sudah mendapatkan petunjuk siapa pelakunya!"batin Brian.


Dalam perjalanan kembali menuju rumahnya,Miranda bisa merasa lega sekarang setelah mengetahui kebenarannya.Sedangkan Petra masih bergelut dengan pikirannya sambil mengemudikan mobilnya.Dia akan mencari tahu mulai saat ini.1 jam kemudian mereka telah sampai rumah dan mereka bergegas masuk ke dalam rumah.Baru saja mereka masuk rumah,Verlan telah duduk di ruang tamu menunggu kepulangan mereka.


"Selamat siang Pak,Bu!"sapa Verlan.


"Selamat siang Nak!"jawab Nadia.


"Maaf kami tinggal dulu kami mau istirahat!"ucap Revan.


"Ada apa kamu kemari?"tanya Petra kesal.


"Maaf jika aku mengganggu,aku hanya ingin menjenguk Miranda saja!"seru Verlan.


"Aku baik-baik saja."ucap Miranda.


"Syukurlah,aku tahu ini sangat sulit bagimu tapi aku harap kamu bisa menerima kenyataan."ucap Verlan.


"Apa maksudnya?"tanya Miranda curiga.


"Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah jika bukan dengan Brian,jadi maafkan aku!"tegas Miranda.


"Aku yakin aku bisa lebih baik dari Brian!"yakin Verlan.


Tanpa mendengarkan ucapan Verlan,Miranda langsung pergi meninggalkannya.


"Sudahlah Ver,kau tidak akan bisa menggantikan posisi Brian di hatinya!"ucap Petra sambil berlalu dari hadapan Verlan.


"Sial!"umpat Verlan.


"Aku pastikan kamu jadi milikku!"serunya lirih.


Ia pun pergi dari rumah Miranda dengan amarah yang membara.Ia tak habis pikir mengapa Miranda masih berharap pada orang yang telah mengecewakannya,sedangkan ia selalu setia menunggu Miranda bersedia menjadi pendampingnya.


Setelah kepergian Verlan,Petra mulai mencari tahu tentang tragedi penyekapan yang di alami oleh Brian.Ia menyuruh seseorang untuk mengumpulkan bukti berupa rekaman CCTV atau saksi yang berada di tempat kejadian.Beberapa orang ia kerahkan agar pencarian segera mendapatkan hasil.Dari salah satu orang suruhannya,terdapat bukti berupa rekaman CCTV dari tempat kejadian yang berada di salah satu pusat perbelanjaan.Sayangnya,tidak ada saksi yang melihat kejadian tersebut karena jalanan waktu itu sedang sepi.Setelah melihat rekaman CCTV tersebut,Petra segera mencari keberadaan orang yang telah di suruh untuk menyekap Brian dan keluarganya.Tidak butuh waktu lama mereka berhasil ditemukan.Petra memberi perintah kepada orang suruhannya untuk membawa mereka ke suatu tempat tersembunyi untuk dimintai keterangan.Setelah mereka di bawa ke sana,Petra menyusul ke tempat mereka di kumpulkan.Sesampainya di sana Petra langsung ditunjukkan menuju tempat mereka berada.


"Siapa orang yang menyuruh kalian!"tanyanya penuh amarah.


"Jawab aku atau kalian tahu akibatnya!"gertak Petra.


Sesaat mereka saling pandang dan kembali menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau kalian.Cepat bawa keluarga mereka ke sini dan sekap mereka semua tanpa di beri makan!"titah Petra pada bawahannya.


"Jangan...!"teriak salah seorang di antaranya.


"Aku tak suka bernegosiasi lama-lama dengan seorang kriminal,jadi aku harap kalian bisa bekerja sama!"bentaknya.


"Ka,kami hanya orang suruhan Tuan Ardi Prana.Kami akan kehilangan pekerjaan jika kami tidak melaksanakan perintahnya!"terang orang tersebut.


"Sudah ku duga ini salah satu dari musuh lama.Sepertinya dia masih belum menerima atas kejadian beberapa tahun silam!"ucap Petra.


"Bawa mereka ke kantor polisi atas dugaan penculikan dan penyekapan serta penyerangan,lalu pastikan mereka di hukum setimpal!"titah Petra.


"Baik,Tuan."ucap bawahannya.


Segera ia pergi dari tempat tersebut dan mengambil bukti percakapan antara dirinya dan orang suruhan Ardi.Ia tidak ingin langsung menjebloskan Ardi ke dalam penjara tetapi dia ingin sedikit bermain-main dengannya.Ia memiliki ide untuk mempermainkannya.Dan ini akan membutuhkan peran Miranda di dalamnya.Ia ingin menghancurkannya terlebih dahulu sebelum dipenjarakan.Rencananya akan ia ceritakan kepada Kakaknya dan Brian ketika ia telah sampai di rumah.Sesampainya di rumah Petra bergegas masuk dan duduk di ruang tamu.


"Darimana saja kamu Petra?"tanya Nadia.


"Ada urusan mendadak Ma!"jawabnya.


"Kamu tahu khan kita harus lebih hati-hati sekarang!"ujar Nadia.


"Tenang saja Ma.Oya,dimana Kak Miranda?"tanya Petra.


"Masih di kamar sepertinya!"jawab Nadia.


"Ya sudah,Petra temui Kak Miranda dulu ya Ma!"pamitnya.


"Hmm..."gumam ibunya.


Petra bangkit dari sofa menuju kamar Miranda.Dia pun mengetuk pintu kamar Miranda memanggilnya.


"Kak,sibuk tidak?"tanya Petra sambil mengetuk pintu.


"Masuk saja tidak di kunci kok!"jawab Miranda.


"Aku ganggu ya?"tanya Petra saat melihat kakaknya tengah berbaring sambil memainkan ponselnya.


"Ah,tidak kok ini lagi chating sama Brian!"ujarnya.


"Asyik nih yang sudah tak galau lagi?"goda Petra.


"Mulai deh usilnya!"balas Miranda jengah.


"Oya,aku boleh tidak minta bantuan Kak Miranda?"tanya Petra.


"Apa itu?"tanya Miranda penasaran.


"Ini mengenai kasus penculikan Brian,aku sudah tahu orangnya tetapi aku harus menjebaknya dan aku butuh bantuan Kakak."jelasnya.

__ADS_1


"Oke,selama aku bisa akan ku bantu!"jawab Miranda.


Kemudian mereka menyusun rencana untuk menjebaknya.Awalnya Miranda keberatan dengan rencana tersebut tetapi setelah Petra berhasil meyakinkannya,akhirnya ia setuju untuk melakukannya.Sebelum melaksanakan rencananya tak lupa Petra meminta ijin kepada Brian jika Miranda akan ikut serta dalam rencananya.Meski awalnya Brian tidak setuju karena dapat mengancam keselamatan Miranda,tapi Petra berjanji akan menjaga Miranda sebisanya.Brian meminta agar petra menjamin keselamatan Miranda orang yang dicintainya itu.Dan Petra akan memenuhi janjinya karena Miranda juga kakak yang amat ia sayangi.Ia menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari rencananya untuk menghancurkan orang yang telah merencanakan penculikan itu.


__ADS_2