
Di kantor Petra,Miranda masih sibuk dengan pekerjaannya.Ia memeriksa beberapa berkas proyek yang sedang dalam pengerjaan.Tak beberapa lama kemudian asisten Petra datang memberitahukan jika Ardi Prana datang ke kantor tersebut.Miranda pun di buat gelisah karenanya.Tapi rasa takutnya segera ia kuasai dan akan menemui Ardi Prana dengan seorang pengawal disisinya.Mereka menuju ruang rapat kantor Petra dengan Ardi yang telah berada di sana.
"Tolong hubungi Brian sekarang juga dan suruh dia datang sekarang juga.Bilang aku yang memintanya!"titah Miranda kepada asisten Petra.
"Baik Bu."sahut asisten Petra.
"Segera antarkan suamiku ke ruang rapat setelah ia sampai di sini!"pesan Miranda.
"Baik."balasnya singkat.
Ruang rapat sengaja tidak di pasang CCTV agar kerahasiaan kantor terjaga,tetapi untuk kali ini Miranda ingin memasang kamera di sana untuk bukti apa yang akan dibicarakan oleh Ardi nanti.Sebelum Ardi menuju ruang rapat,Miranda menyuruh seseorang untuk memasang kamera di ruang rapat tersebut.
Sesampainya di ruang rapat,Ardi sudah menunggu Miranda dengan berduduk santai di salah satu kursi.
"Hai,Cantik.Apa kabar denganmu?"sapa Ardi dengan seringainya.
"Apa maksud kedatanganmu kemari?"tanya Miranda tegas.
"Aku hanya ingin melihat ruangan ini yang akan terbengkalai setelah saham dari perusahaan ini akan di cabut satu persatu oleh pemiliknya."seru Ardi dengan culasnya.
"Jadi,kamu yang memprovokasi para pemegang saham lain untuk menarik saham mereka dari perusahaanku?"tanya Miranda kesal.
"Bagaimana ya?ha ha ha ini masih belum apa-apa.Aku akan buat kalian menderita!"ancam Ardi.
"Sayangnya aku tidak takut dengan ancamanmu itu karena sekarang aku sudah lelah kau permainkan!"sela Miranda dengan berani.
"Apa kau sudah kebal denganku atau kau ingin kita menjalani hari-hari berdua dan memadu kasih bersama?"goda Ardi sambil memainkan matanya.
"Jangan asal bicara kamu.Bahkan untuk bicara denganmu seperti ini saja aku sudah muak apalagi harus hidup denganmu.Aku lebih baik mati daripada hidup dengan orang sepertimu."umpat Miranda.
"hah,sungguh tak di sangka aku yang kaya raya dan pebisnis unggul di tolak oleh wanita sepertimu."hinanya.
"Jangan samakan aku dengan wanita di luar sana yang bisa kau beli dengan uangmu.Aku bukan wanita yang gila harta seperti perkiraanmu itu."jelas Miranda.
"Benarkah itu?"seru Ardi lagi.
"Tentu saja aku tidak akan melakukan hal kotor hanya demi uang."tegas Miranda.
"Tapi aku benar-benar tertarik padamu."seru Ardi sambil mendekati Miranda.
__ADS_1
"Apa maumu?"tanya Miranda masih mencoba bertahan dengan keberanian yang telah dikumpulkan.
"Jangan terlalu dekat Tuan!"larang pengawal Miranda.
"Oh,jadi saat ini kamu sudah membawa penjaga untukmu?"tanya Ardi.
"Tentu saja.Aku takut kau mencelakai istriku lagi seperti saat itu."seru Brian sesaat setelah membuka pintu dan langsung menghampiri istrinya tersebut.
"Tidak ku sangka ternyata kau menjaga istrimu sampai seketat ini!"sindir Ardi.
"Pasti itu akan ku lakukan.Apalagi aku tahu pasti dengan watak aslimu itu."balas Brian.
"Jika urusanmu sudah selesai sebaiknya kau pergi dari sini!"usir Brian.
"Baiklah,tapi aku bukan berarti menyerah kali ini.Aku akan menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kalian!"gertak Ardi.
"Kami akan menghadapinya bersama.Jadi kami tak takut dengan ancamanmu itu."sahut Brian.
Setelah itu,Ardi pergi meninggalkan kantor Petra.Tapi masih banyak rencana yang akan ia lakukan untuk keluarga Miranda dan Petra.Dua bersaudara itu akan menjadi incaran kelicikannya kelak.
Siang harinya,Petra berkunjung ke kantornya.Miranda masih mencoba menenangkan hatinya di ruangannya bersama Brian.Ia masih kesal sekaligus emosional karena tingkah Ardi tadi.Miranda memijit keningnya yang sedikit pusing karena terbawa emosi oleh perbuatan Ardi.Tak lama kemudian,Petra masuk ke ruangan Miranda dan terkejut melihat keberadaan Brian di sana.
"Petra!kenapa kamu kesini?"tanya Miranda terkejut.
"Bagaimana kabarmu?"sambung Brian.
"Baik Kak,aku datang kesini karena dari kemarin perasaanku tidak enak.Aku ingin melihat keadaan kantor sekalian melihat Kakak bekerja."seru Petra sambil mendekat kepada Miranda yang saat itu berdiri di depan kursinya.
Saat Petra tinggal berjarak selangkah lagi di depan Miranda,tiba-tiba Miranda merasakan pusing dan mendadak tak sadarkan diri.Untung saja Petra segera menangkap tubuh kakaknya itu sehingga Miranda tak sampai terjatuh.
"Kak!"teriak petra yang membuat Brian seketika menghampiri Miranda yang tengah terjatuh dipelukan adiknya.
"Sayang,ada apa denganmu?"tanya Brian saat telah sampai di depan Petra dan segera mengangkat tubuh Miranda dari dekapan Petra.
Brian sungguh panik dibuatnya.Terlebih Miranda sedang hamil dan sangat rawan untuk kondisi janinnya.Segera Brian membawa Miranda ke rumah sakit terdekat di ikuti dengan Petra dibelakangnya.Dengan disopiri oleh Petra,mereka membawa Miranda dengan mobil Petra.
"Sebenarnya apa yang terjadi,Kak?"tanya Petra cemas di tengah perjalanan menuju rumah sakit.
"Mungkin dia sedang banyak pikiran."sahut Brian.
__ADS_1
"Memikirkan apa,Kak?"tanya Petra penasaran.
"Sudahlah nanti saja aku ceritakan saat sampai di rumah sakit."seru Brian.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tujuan mereka.
Sesampainya di rumah sakit tersebut,Brian segera membawa Miranda menuju ruang penanganan agar segera mendapat pertolongan.Brian dan Petra pun dianjurkan untuk menunggu di luar ruangan agar dokter lebih leluasa memeriksa pasien.Di luar ruangan sambil menunggu Miranda selesai di periksa,Brian mulai bercerita kepada Petra mengenai masalah yang membuat Miranda pingsan.
"Ardi tadi ke kantormu dan mengganggu Miranda."ungkap Brian dengan menghela napas panjang.
"Lalu apa yang ia katakan?"tanya Petra lagi.
"Ia mulai menggoda Miranda dan mengancam akan menghancurkan kalian berdua,Miranda juga menduga jika Ardi yang menghasut para pemegang saham untuk menarik saham mereka dari Mandala Grup."terang Brian.
"Jadi sepelik itu masalah selama aku cuti?"tanya Petra.
"Iya,para pemegang saham mengancam jika sampai minggu depan kau tidak memimpin perusahaan kembali,maka mereka akan menarik semua saham mereka dari Mandala Grup."jelas Brian.
"Apa Kakak tidak memberitahukan jika aku telah sadar dan dalam pemulihan?"tanya Petra.
"Papa Revan menghendaki kami untuk merahasiakan tentang kondisimu saat ini demi mencari pelaku pemukulan terhadapmu."jelas Brian.
"Sepertinya kita harus menyusun siasat untuk memancing pelaku tersebut."saran Petra.
"Aku akan merencanakan sendiri dan akan aku atur siasatnya."seru Petra dengan emosi membara.
Brian tak bisa berkata apa-apa lagi karena ia masih mengkhawatirkan Miranda yang masih ditangani oleh dokter.
Sesaat kemudian dokter yang memeriksa Miranda di ikuti Miranda yang telah siuman keluar dari ruang penanganan.Brian dan Petra berebut bertanya kepada dokter apa yang terjadi dengan Miranda.Sedangkan Miranda masih berusaha menguasai rasa pusing yang perlahan-lahan mulai menghilang.
"Bagaimana,Dok dengan istri saya?"tanya Brian.
"Apa Kakak saya baik-baik saja?"sambung Petra.
"Nyonya Miranda baik-baik saja,hanya usahakan untuk tidak banyak pikiran agar hal ini tidak terjadi lagi.Mengingat usia kandungan Nyonya Miranda masih trimester awal."pesan dokter tersebut.
"Baiklah,Dok.Terima kasih."sahut Brian.
Setelah menjelaskan tentang keadaan Miranda,dokter tersebut meninggalkan mereka di sana.Setelah dipastikan tidak ada masalah serius kepada Miranda,akhirnya mereka bisa pulang ke rumah.Dengan di antar oleh Petra mereka pulang ke rumah Brian sedangkan mobil Brian dan Miranda di bawa pulang oleh pengawal Miranda yang masih berada di kantor.
__ADS_1