Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 52 Miranda melahirkan putranya


__ADS_3

Setelah diperbolehkan masuk oleh dokter,mereka berduyun-duyun masuk ke dalam ruangan tempat Miranda di rawat.Mereka tidak sabar ingin melihat bayi yang Miranda lahirkan.Begitu melihat sosok mungil didekapan Miranda,Nadia pun langsung menggendongnya dan mencium kedua belah pipi chubbynya.Bayi itu hanya mengeliat sesaat kemudian kembali tertidur didekapan sang nenek.Wajahnya percampuran antara wajah Miranda dan Brian.Dan saat mereka tahu jika bayi itu berjenis kelamin laki-laki,maka mereka semakin antusias kepada bayi tersebut.


"Miranda,kamu melahirkan bayi laki-laki?"tanya Nadia tidak percaya.


"Iya Ma."sahut Miranda singkat.


"Calon pewaris perusahaan sepertinya."goda Bram.


"Iya dong Kek."sahut Lili.


"Juga calon pemilik perkebunan Kakek nantinya."tambah Bram.


"Dan pemilik perusahaan cabang dari Mandala Grup juga."tambah Revan.


"Terus bagaimana dengan Petra Pa?"tanya Miranda.


"Petra akan menempati kantor utama Mandala Grup.Papa sudah lelah mengurus perusahaan,jadi Papa ingin kalian yang meneruskan perusahaan Papa."ungkap Revan.


Miranda hanya bisa saling bertatapan dengan Brian.Dalam benaknya ia hanya ingin menjalani hidupnya sebagai seorang istri dan seorang ibu dari putra kecilnya.Tapi jika ayahnya menyerahkan perusahaan cabang kepada putranya,maka ia harus mengelolanya dulu sebelum putranya bisa menggantikan posisinya di kantor cabang.Sesaat kemudian Miranda hanya bisa menghela napas panjang dan mulai melepaskan beban dalam pikirannya.


"Oya,siapa nama bayimu ini?"tanya Lili kepada Brian.


"Daren Bendern Begnito Ma.Gabungan dari nama Papa Bram dan Papa Revan.Brian minta maaf jika belum minta ijin kepada kalian untuk memasukkan nama kalian dalam nama anak Brian!"seru Brian meminta maaf.


"Mengapa kamu minta maaf?kami justru senang mengetahuinya.Benar khan besan?"seru Revan kepada Bram.


"Tentu saja.Kakek mana yang tidak senang nama belakangnya digunakan oleh cucunya ini!"sahut Bram.

__ADS_1


Mereka tertawa renyah setelah mengungkapkan perasaannya.Setelah cukup menjenguk cucunya,Bram dan Lili pamit pulang lebih dulu karena Bram harus kembali ke perkebunan.Sedangkan Nadia masih setia menemani cucunya di sana sambil mengajak Miranda mengobrol agar Miranda tidak merasa bosan.


"Ma,aku ingin pulang!"rengek Miranda kepada Nadia.


"Kamu ini bagaimana sih Mir?kamu baru saja melahirkan tapi masih juga mau cepat-cepat pulang."gerutu Nadia.


"Aku tidak suka di sini Ma."rajuknya lagi.


"Sabarlah Sayang,lagipula besok juga kamu pasti boleh pulang.Kamu melahirkan secara normal khan!"bujuk Nadia.


"Iya Ma,tapi lebih enak kalau pulang lebih awal."desak Miranda.


"Turuti apa kata dokter Sayang,ini semua juga demi kebaikan kamu dan anak kita."sela Brian.


"Iya nih Kakak.Jangan-jangan mau nambah momongan lagi mau buru-buru pulang!"goda Petra.


"Mau aku pukul sampai pingsan kamu!"ancam Miranda.


"Ih,wanita meski habis melahirkan menakutkan juga ya Kak kalau lagi marah!"seru Petra kepada Brian sambil menyingkir dari sisi Miranda.


Brian hanya menggelengkan kepala mendengar pertengkaran kakak beradik tersebut.


"Belum jera juga kamu,hah!"teriak Miranda kesal.


"Sudahlah Sayang jangan dihiraukan dia,kamu jangan marah-marah terus tak baik buat ASInya nanti."bujuk Brian.


"Dia itu suka sekali buat aku kesal."seru Miranda sambil memanyunkan bibirnya karena kesal.

__ADS_1


"Sudahlah,mending kamu susui Daren dulu.Kasihan dia mulai haus ini!"titah Nadia kepada Miranda.


Daren memang tidak menangis tetapi ia mulai berusaha mencari keberadaan ibunya dan beberapa kali mulutnya mengecap.Nadia segera menyerahkan Daren kepada Miranda,kemudian Miranda mulai menyusui bayinya tersebut.Setelah kenyang menyusu pada ibunya,Daren tertidur lelap dan Nadia meletakkan cucunya di box bayi yang tersedia di ruang perawatan.Mereka kembali berbincang-bincang dan tak lama kemudian Revan dan Nadia pun pamit pulang.Petra menyusul kedua orang tuanya untuk pamit pulang karena dia juga harus menemani istrinya yang sedang hamil 7 bulan.


Kini tinggal Brian dan Miranda yang berada di rumah sakit tersebut bersama bayi mungil mereka.Miranda baru diperbolehkan pulang keesokan harinya.Terpaksa hari ini mereka harus menginap di rumah sakit untuk semalam saja.Beberapa kali Brian terbangun di tengah malam untuk membantu Miranda mengurus buah hatinya yang meminta menyusu kepada ibunya.Ia akan kembali meletakkan Daren ke dalam box bayi saat Daren kembali tertidur lelap.


Keesokan paginya,Brian membantu Miranda untuk bersiap-siap pulang ke rumah karena hari ini Miranda sudah diperbolehkan untuk pulang.Mereka segera beranjak dari rumah sakit setelah menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.Dengan di gendong oleh Miranda,Daren tertidur nyenyak dalam dekapan ibunya.Brian membukakan pintu mobil untuk Miranda dan setelah Miranda masuk ke dalam Brian menutup pintunya.Kemudian Brian masuk dan duduk di kursi pengemudi tepat di sebelah kursi tempat Miranda duduk bersama bayinya.Segera ia melajukan mobilnya menembus jalanan kota pagi itu menuju arah rumahnya.Sesaat kemudian mereka telah sampai di rumah mereka.Lalu mereka segera masuk ke dalam rumah dan meletakkan Daren di dalam box bayi yang telah disiapkan sebelumnya.Setelah selesai membaringkan Daren di box bayi,kemudian Miranda berganti pakaian di susul dengan Brian yang kemudian juga ikut berganti pakaian.


Setelahnya mereka berdua mengobrol mengenai keputusan Papa Revan yang mengatakan bahwa kantor cabang akan berpindah kepemilikan kepada Daren.


"Bagaimana ini Pa,masa aku harus bekerja lagi di kantor sih?"tanya Miranda tiba-tiba kepada Brian.


"Lalu mau bagaimana lagi Ma,sudah keputusan Kakek Revan khan seperti itu."sahut Brian.


"Padahal aku sudah merencanakan untuk tidak kembali ke kantor lagi karena ingin merawat Daren sepenuhnya!"gerutu Miranda.


"Kita boleh berencana tapi tetap Tuhan yang menentukan segalanya."seru Brian.


"Iya,tapi aku akan butuh bantuan jika harus mengerjakan urusan kantor seorang diri."sela Miranda.


"Aku akan membantumu semampuku."balas Brian.


"Beginilah susahnya jika ada dua perusahaan yang sama-sama sedang naik daun."keluh Miranda.


"Jangan banyak mengeluh.Kita syukuri saja apa yang ada jangan dijadikan beban yang berat."saran Brian.


Miranda hanya mengangguk lemah menuruti perkataan suaminya.Sebisa mungkin Brian berusaha untuk membuat Miranda nyaman dan tidak mengalami tekanan dalam pekerjaannya.Dengan demikian Brian berencana untuk membagi waktu dikantornya juga di kantor Miranda.Untuk saat ini Brian hanya menginginkan Miranda istirahat terlebih dahulu sampai ia siap kembali ke kantor.Miranda juga akan membawa baby sitter untuk Daren saat Miranda membawanya ke kantor nanti.Ia akan mencoba untuk meluangkan waktunya untuk Daren di sela-sela kesibukannya.Yang lebih beruntungnya lagi di dalam ruangan Petra telah disiapkan sebuah kamar pribadi yang awalnya Petra gunakan untuk beristirahat ketika ia lembur dan tidak bisa pulang ke rumah.Kini kamar tersebut akan Miranda gunakan untuk tempat Daren ketika Miranda mulai kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2