Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 8 Kejutan dari kekasih


__ADS_3

Hari itu cuaca agak mendung menggantung di langit.Matahari bersembunyi di balik awan gelap di atas sana.Seakan langit bersedih dan siap meneteskan air mata.Sejenak kemudian tetes butir air turun ke bumi.Semakin lama semakin lebat dan jalanan telah basah karenanya.Miranda bersandar pada pintu rumah melihat hujan di teras rumah.Kemudian ia duduk di kursi yang terletak di teras rumah sambil memandang halaman rumah yang telah basah oleh hujan saat itu.Sesaat kemudian pagar rumah terbuka dan sebuah mobil sedan silver melaju memasuki halaman rumahnya.Ia belum mengetahui siapa gerangan orang yang bertamu sore itu.Setelah mobil berhenti tepat di depan teras rumah Miranda,seorang pria turun dengan gagahnya masih dengan setelan jas kerja yang melekat ditubuhnya.Setelah turun dan pria tersebut menatap Miranda ia baru mengenali siapa pemilik dari mobil tersebut.


"Brian!"ucapnya sumringah.


Belum sempat menjawab sapaan Miranda,Brian membukakan pintu mobil bagian belakang,lalu dari dalamnya keluar seorang pria dan seorang wanita setengah baya.Tanpa pikir panjang Miranda mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.Dengan membawa beberapa bingkisan di tangan masing-masing,mereka masuk ke dalam rumah setelah Miranda mempersilahkannya.Miranda mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Mir,kenalkan ini kedua orang tuaku!"jelas Brian.


"Salam kenal Pak,Bu.Saya Miranda!"ucap Miranda memperkenalkan diri.


"Salam kenal Nak,apa bisa kami bertemu dengan kedua orang tuamu?"tanya ayah Brian.


"Bisa Pak,mohon tunggu sebentar akan saya panggilkan!"ucap Miranda.


Setelahnya,ia langsung menemui kedua orang tuanya untuk memberi kabar.Kedua orang tua Miranda yang saat itu berada di kamar langsung beranjak keluar kamar untuk menemui tamunya.


"Selamat sore Pak,Bu!"sapa Revan.


"Selamat sore!"jawab ayah dan ibu Brian bersamaan.


"Lho Nadia?"ucap ibu Brian terkejut.


"Lili,wah kebetulan sekali!"sahut Nadia.


"Mama kenal mamanya Brian?"tanya Miranda.


"Iya,Mama kenal Ibu Nadia?"tanya Brian pada ibunya.

__ADS_1


"Iya,kami teman lama waktu SMA dulu dan sampai sekarang kami malah jadi teman arisan!"jawab Lili.


"Iya,kami sudah seperti sahabat karib!"tambah Nadia.


"Wah kebetulan yang pas sekali!"imbuh Brian.


"Oya,silahkan duduk Pak,Bu!"ucap Revan.


Sesaat kemudian pelayan keluar menghidangkan minuman dan beberapa kudapan.


"Oya maksud kedatangan kami ke rumah ini adalah untuk melamar Miranda menjadi istri Brian karena menurut cerita Brian,mereka berdua sudah lama saling mengenal dan sudah 3 tahun ini menjalin hubungan jadi alangkah baiknya hubungan mereka segera diresmikan."ungkap Bram ayah Brian


"Saya tidak bisa memutuskan sendiri semua saya serahkan kepada Miranda saja bagaimana maunya."ucap Revan.


"Bagaimana Mir,apa kamu bersedia menikah denganku?"tanya Brian.


"Aku masih syok dengan kejutan ini tapi aku menerima lamaran ini."ucap Miranda sambil berseri-seri.


"Iya,hubungan kita akan semakin erat."seru Nadia.


Usai perbincangan itu mereka mengajak keluarga Brian untuk makan malam bersama.Usai makan malam,Brian dan Miranda pergi ke tepi kolam renang belakang rumah untuk mengobrol di tempat duduk yang disediakan di sana,sedangkan orang tua mereka kembali ke ruang tamu untuk kembali berbincang.Malam itu hujan sudah reda sehingga mereka bisa bersantai di kolam renang belakang rumah.


"Kamu suka kejutannya?"tanya Brian.


"Ehmm...lumayanlah!"jawab Miranda.


"Kurang surprise ya?"tanya Brian.

__ADS_1


"Tidak kok,aku cuma bercanda.Aku justru tak menyangka kamu akan melakukan ini."jawab Miranda.


"Aku sudah pernah bilang akan secepatnya melamar kamu."ungkapnya.


"Aku pikir kamu hanya bercanda waktu itu!"seru Miranda.


"Rasanya tak sabar menunggu pernikahan kita!"ucap Brian sambil menggenggam tangan Miranda.


"Iya,aku juga."balas Miranda.


Mereka saling bertatapan melepas kerinduan mereka.Tiba-tiba Petra datang mengganggu kemesraan mereka.


"Nah gitu donk.Jangan lama-lama nikahnya biar aku cepat menyusul kalian!"ungkap Petra mengejutkan mereka.


"Ya sudah lamar saja Putri biar nanti nikahnya kita barengan!"seru Miranda asal.


"Tak mau ah,nanti konsepnya sesuai kemauan Kakak.Aku juga punya konsep sendiri di hari pernikahanku nanti."ucap Petra.


Kemudian Petra meninggalkan Miranda dan Brian berdua di sana sedangkan ia masuk kembali ke dalam rumah menuju kamarnya.Malam itu juga mereka menetapkan kapan pernikahan Miranda dan Brian akan dilaksanakan.Mereka memutuskan sebulan lagi pernikahan berlangsung karena dari kedua belah pihak tidak ingin lagi menunda.Mereka sangat antusias memyambut pernikahan ini.Menjelang acara pernikahan beberapa persiapan telah dilakukan.Mulai dari katering,gedung,seserahan,hiburan dan pakaian.Bahkan mereka menggunakan jasa wedding organizer ternama untuk acara pernikahan tersebut.Persiapan demi persiapan telah dilaksanakan dan tinggal seminggu lagi pernikahan akan dilangsungkan.Menunggu saat itu,Miranda sungguh tidak sabar.Ia di landa rasa gugup,resah dan beberapa malam sebelumnya terserang insomnia.Matanya mulai sedikit menghitam dan terlihat pucat.Untuk menanggulanginya Nadia memutuskan agar Miranda mengambil cuti hingga resepsi pernikahannya usai.Mau tidak mau Miranda menyetujui permintaan ibunya karena ini demi kebaikannya juga.Sehari sebelum pernikahan berlangsung Miranda melakukan istirahat total.Keluarganya tak ingin ia kelelahan saat resepsi berlangsung.Mereka berharap acara ini berjalan lancar tanpa ada hambatan.


Keesokan harinya acara yang di tunggu pun telah tiba.Semua orang telah bersiap menuju tempat acara pernikahan berlangsung.Revan dan Nadia telah siap dengan jas dan gaunnya.Petra tampak tampan dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya yang bidang.Sedangkan Miranda terlihat cantik dengan gaun putih panjang dengan lengan panjang namun terbuka di bagian bahunya.Butiran kristal dan mutiara kecil menghiasi gaun yang dipakainya menambah kesan feminim dan elegan.Riasan yang pas diwajahnya membuatnya semakin cantik dan mempesona.


"Siap berangkat!"ajak Petra.


"Sudah."jawabnya singkat masih dengan kegugupannya.


"Mari kita berangkat!"ajak Revan.

__ADS_1


"Iya,takut macet nanti bisa-bisa kita telat."tambah Nadia.


Mereka segera menaiki mobil dan bergegas menuju tempat acara diadakan.Dalam hatinya Miranda merasa senang karena akhirnya apa yang diimpikannya akan segera terwujud.Kedua orang tuanya pun merasakan hal yang sama karena pada akhirnya putri mereka satu-satunya akan segera menjadi istri orang.Tetapi tak bisa dipungkiri jika ada sedikit rasa sedih di dalam hati mereka karena sudah jelas Miranda akan tinggal bersama Brian dan memungkinkan mereka akan jarang bertemu.Sebelumnya mereka belum pernah sekalipun hidup berjauhan jadi awalnya akan sedikit sulit merelakan.Setiap pekerjaan yang mengharuskan untuk keluar kota pun selalu Petra yang berangkat karena alasan mereka tidak ingin Miranda mengalami kesulitan di sana.Apalagi Miranda adalah wanita yang banyak mencuri perhatian orang sehingga banyak pria yang mungkin akan berbuat nekat padanya.


__ADS_2