
Setelah Revan telah setuju dengan hubungan Petra dan Putri,Petra segera memberi kabar kepada Putri bahwa ia akan datang ke rumah Putri dalam waktu dekat.Petra tidak mau memberitahukan kapan dan apa yang akan ia lakukan.Hal itu membuat Putri semakin penasaran dan hanya mampu menduga-duga semata.Rasa cemas bersemayam di hatinya ketika memikirkan apa yang akan dilakukan Petra.
"Sebenarnya apa yang mau dilakukannya?"pikir Putri.
"Ah sudahlah,lebih baik aku kerjakan dulu ini daripada harus memikirkan hal yang belum pasti."batinnya.
Putri kembali sibuk dengan pekerjaannya dan proyek yang telah diperebutkan dengan Petra waktu itu yang akan segera terselesaikan.Menuju akhir dari penyelesaian proyek tersebut membuat Putri harus bekerja lebih keras agar bisa mencapai hasil akhir yang memuaskan.Satu meja penuh dengan gambar proyek yang sedang berjalan dan akan segera selesai itu.Menuju hasil akhirnya,Putri harus mengecek keadaan lapangan secara langsung untuk melihat hasilnya.Hari itu ia pergi ke tempat proyek itu berlangsung untuk memeriksa dan mengawasi sejenak pengerjaan proyek tersebut.Tetapi tanpa ia duga sepotong balok kayu hampir menimpanya.Untung saja saat itu asisten Putri menyadarinya dan ia menyelamatkan Putri dari balok tersebut.Naasnya balok tersebut menimpa bahu dari asistennya dan menyebabkan asisten Putri pingsan seketika.Segera asisten Putri di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis dari dokter.Putri mondar-mandir di luar ruangan ICU di mana asistennya di rawat.Ia takut terjadi sesuatu pada asistennya yang saat itu sedang mendapatkan pengobatan dari dokter.Sungguh ia sangat berhutang nyawa pada asistennya itu dan sedikit ada rasa sesal di dalam hatinya melihat asistennya dalam keadaan seperti itu.
Setelah mendengar Putri mengalami kecelakaan kerja sewaktu di lapangan membuat Petra kalang kabut dan langsung bergegas menuju rumah sakit yang di maksud.Ia begitu khawatir dengan keadaan Putri saat itu dan tanpa pikir panjang langsung berlari menuju ruang ICU.Di sana ia mendapati Putri sedang berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU kemudian menghambur memeluk Putri di depan orang lain.
"Kamu tidak apa-apa Sayang?"tanya Petra cemas.
"Iya,aku baik-baik saja tapi tidak dengan asistenku!"ucap Putri sambil terdengar isak tangisnya.
"Semoga dia baik-baik saja ya!"harap Petra.
"Iya,aku berhutang nyawa padanya!"sahut Putri.
"Sudahlah jangan menangis,kita do'akan saja ia baik-baik saja dan cepat pulih dari sakitnya!"bujuk Petra.
Putri hanya mengangguk pelan dan tak sanggup untuk bicara lagi.
2 jam kemudian dokter keluar dari ruang ICU tempat asisten Putri di tangani.Putri dan Petra secara bersamaan menghampiri dokter tersebut.Putri tak sabar mendengar keterangan dokter mengenai keadaan asistennya.
"Bagaimana keadaannya sekarang Dok?"tanya Putri cemas.
"Syukurlah lukanya tidak parah dan tidak mengenai bagian kepala jadi saya rasa itu tidak masalah.Hanya saja dia harus beristirahat total selama 3 hari ini karena bahunya masih lebam dan ada sedikit pendarahan ringan di sana hingga membuatnya pingsan seperti ini.Untuk saat ini pasien masih belum sadar,jika nanti telah sadar kalian bisa membesuknya."jelas dokter itu.
__ADS_1
"Baik Dok,terima kasih banyak!"seru Putri pada dokter tersebut.
"Sama-sama.Saya permisi dulu!"pamit dokter.
"Silahkan Dok!"sahut Petra.
"Untunglah dia baik-baik saja!"ujar Putri dengan perasaan lega.
"Syukurlah tidak ada luka yang parah.Oya,apa ini memang benar-benar kecelakaan atau perbuatan yang di rencanakan?"tanya Petra curiga.
"Maksud kamu ada yang sengaja ingin mencelakaiku?"sahut Putri.
"Mungkin saja bukan.Kamu tak ingin menyelidikinya?"tanya Petra.
"Aku tak punya waktu untuk itu.Proyek ini harus segera selesai jadi akan sulit bagiku untuk mengerjakan yang lain!"seru Putri bingung.
"Terserah kamulah!"jawab Putri pasrah.
Dalam 3 hari ke depan,asisten Putri masih harus di rawat di rumah sakit agar kesehatannya benar-benar pulih.Sedangkan Putri harus bekerja sendiri tanpa bantuan dari asistennya yang masih belum pulih.Pekerjaan serasa dua kali lipat dari biasanya dan Putri harus bekerja ekstra untuk menyelesaikannya.
3 hari berlalu asisten Putri telah kembali bekerja.Kini Putri bisa sedikit bernapas lega karena ada yang membantu menyelesaikan pekerjaannya.Seperti janji Petra sebelumnya,sore itu Petra beserta kedua orang tuanya mendatangi rumah Putri untuk melamarnya.Berbagai oleh-oleh sengaja di bawa untuk diberikan kepada keluarga Putri.Dengan wajah berseri-seri Petra masuk ke dalam rumah Putri.
"Selamat sore Om,Tante!"sapa Petra kepada kedua orang tua Putri yang saat itu tengah berbincang di ruang tamu.
"Selamat sore Nak Petra!"sahut kedua orang tua Putri secara bersamaan.
"Ada apa ini kamu membawa kedua orang tuamu kesini?"tanya ayah Putri.
__ADS_1
"Begini Pak,Bu,kami datang ingin melamar Putri untuk menjadi istri Petra!"ucap Nadia.
"Sebentar saya panggilkan Putri dulu.Kalian silahkan duduk dulu!"seru ibu Putri.
"Mari silahkan duduk!"ajak ayah Putri.
"Baik Pak!"sahut Revan.
Ibu Putri bergegas memanggil Putri yang masih berada di kamarnya dan setelahnya ibu Putri menyiapkan minuman dan beberapa makanan untuk teman berbincang-bincang.Putri yang mengetahui kedatangan Petra dan keluarganya langsung menuju ruang tamu untuk menemui mereka.
"Selamat sore Om,Tante!"sapa Putri kepada Nadia dan Revan dengan wajah bingung.
"Selamat sore Nak Putri!"sahut Nadia dan Revan.
"Ada apa ini?"tanya Putri tidak mengerti.
"Seperti janjiku padamu dulu khan.Kedatanganku kesini hari ini untuk melamarmu Put!"ucap Petra yakin.
"Iya Nak,Petra sudah meminta kami untuk melamarmu jadi bersediakah kamu menikah dengan Petra?"tanya Revan.
Putri menatap kedua orang tuanya sebelum menjawab lamaran Petra.Kedua orang tua Putri hanya mengangguk padanya tanda setuju dengan lamaran tersebut.
"Baiklah,karena kedua orang tua saya menyetujuinya,saya pun juga setuju!"jawab Putri sambil menundukkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Baiklah untuk tanggal pernikahan kami serahkan pada kedua orang tua Nak Putri saja.Bagaimana Pak,Bu?"tanya Revan.
"Baiklah akan kami kabarkan setelah kami merundingkannya terlebih dahulu!"jawab ayah Putri.
__ADS_1
Petra merasa bahagia mendengar jawaban Putri dan ia sudah tidak sabar lagi untuk segera menikah.Rasanya penantiannya dan kesabarannya selama ini tidak sia-sia.Setelah di rasa cukup untuk mengatakan apa yang ingin diungkapkan kepada keluarga Putri,Petra dan keluarganya beranjak pulang setelah sempat berpamitan sebelumnya.Dengan saling menatap satu sama lain Petra dan Putri melepaskan rasa bahagianya.Setelah puas dengan saling menatap mereka berpisah saat Petra masuk ke dalam mobilnya dan beranjak pergi dari rumah Putri.Petra mengemudikan mobilnya memecah jalanan kota dengan senyum kebahagiaan di wajahnya.Hal itu membuat Nadia merasa bahagia karena baru kali ini Petra bisa tersenyum ceria seperti itu.Revan hanya bisa melihat lepas ke arah luar jendela mobil sambil merangkai angan di langit yang tinggi.Ia berharap semoga anak-anaknya bisa hidup bahagia dengan jalan yang mereka pilih sendiri.