
Beberapa hari setelahnya,Petra telah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.Semua keluarga menyambutnya dengan suka cita.Meski masih harus istirahat total di rumah tetapi paling tidak Petra sudah bisa berkumpul lagi bersama keluarganya.Sepulangnya dari rumah sakit Petra langsung beristirahat dikamarnya dengan ditemani Putri.Tak henti-hentinya Putri mengurus Petra dan ia mengambil cuti panjang untuk menjaga Petra hingga pulih kembali.Ayah Putri untuk sementara waktu menggantikan Putri di kantor sekaligus mengurus kantornya sendiri.Dengan di bantu oleh Nindi asisten Putri membuat ayah Putri mudah untuk mengerjakan 2 perusahaan sekaligus.Ayah Putri hanya perlu memeriksa berkas penting yang butuh untuk di periksa oleh Putri.Untuk berkas lain Nindi sudah bisa mengatasinya seorang diri.Di rumah Putri,Putri mulai sedikit banyak mengajak Petra berbincang agar komunikasinya lancar karena saat berada di rumah sakit Petra seperti enggan bicara.
"Kamu butuh apa?coba katakan padaku?"tanya Putri penuh kesabaran.
"Aku hanya ingin kamu temani saja."ucap Petra singkat.
"Apa kamu tidak ingin makan sesuatu?"tanya Putri lagi.
"Tidak,aku sudah kenyang.Bukankah aku baru saja makan!"tolak Petra.
"Siapa tahu saja kamu ingin kue atau camilan begitu!"tawar Putri lagi.
"Aku tidak mau,aku hanya mau kamu temani aku beristirahat di sini."seru Petra sambil menepuk ranjang di sisinya.
Putri pun menuruti permintaannya dan naik ke atas ranjang dan duduk tepat di sebelah Petra.Tiba-tiba Putri menyandarkan kepalanya di bahu Petra,lalu tanpa terasa air matanya sudah menetes di pipinya.
"Kamu kenapa?"tanya Petra.
"Tidak apa-apa."jawabnya singkat sambil terdengar sedikit isak tangisnya.
"Mengapa kamu menangis?"tanya Petra.
"Aku sedih melihatmu seperti ini."ucap Putri masih dengan isak tangisnya.
"Aku akan cepat sembuh Cintaku,jangan khawatir lagi!"seru Petra.
"Aku hampir putus asa saat melihatmu seperti ini,bahkan aku tidak bisa membayangkan jika aku kehilanganmu!"seru Putri dengan tangis yang semakin menjadi.
"Aku tidak akan semudah itu ditewaskan karena cintamu menguatkanku!"hibur Petra.
"Sepertinya kamu sudah sembuh benar sekarang!"seru Putri sambil masih terisak.
"Mengapa bisa begitu?"tanya Petra heran.
"Kau sudah bisa kembali menggodaku."terang Putri dengan kesal.
"Sudah kubilang bukan,aku tidak akan semudah itu ditaklukan."ujarnya lagi.
"Tapi setelah ini aku ingin kamu mendapat penjagaan khusus dari orang yang ahli dibidangnya."tegas Putri.
"Untuk apa Sayang?aku seperti bayi saja pakai acara di jaga segala."tolak Petra.
"Kamu memang bayi besarku jadi harus ada pengawalan khusus untukmu.Jika kamu menolak aku akan marah padamu!"ancam Putri.
"Jangan begitu dong Cintaku."bujuk Petra.
"Makanya dengarkan saranku."balas Putri.
"Baiklah,demi kamu."seru Petra setuju.
__ADS_1
"Nah begitu dong!kamu harus tahu,aku tak ingin kehilanganmu dan aku tak ingin kejadian ini kembali menimpamu,aku sangat menyayangimu!"ungkap Putri sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Sungguh,kalau kau benar-benar menyayangiku coba katakan lagi padaku."goda Petra.
"Kamu ini di kasih hati minta jantung!"kesal Putri.
"Ayolah,sekali saja!"rengek Petra.
"Baiklah bayi besar,aku sangat menyayangimu dan aku sangat mencintaimu suamiku!"seru Putri dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Aku juga."sahut Petra dengan senyum puasnya.
"Puas?"tanya Putri.
Petra hanya mengangguk pelan menjawab ucapan Putri.Dengan senyum lebar dia menatap wajah Putri.
"Cium pipiku dong!"pinta Petra.
"Sudah cukup mesra-mesranya!sekarang waktunya kamu istirahat."tolak Putri.
"Berarti boleh dong nanti dilanjutkan?"tanya Petra sambil memainkan alisnya.
"Kamu memang sudah sembuh dan kegenitanmu yang sekarang kambuh."cerca Putri.
"Namanya juga suami istri masa iya tak boleh romantis?"gerutu Petra.
"Jahat amat sama suami sendiri."rengeknya.
"Biar saja,kamu sih ada-ada saja yang di minta!"balas Putri.
"Iya-iya aku tidur."sahut Petra sambil merebahkan kepalanya di atas bantal.
Ia mencoba untuk memejamkan matanya dan memasuki alam mimpinya tetapi matanya seakan sulit terpejam.Mungkin karena beberapa hari ini ia sudah puas beristirahat di rumah sakit sehingga kini ia bosan terus-terusan berbaring di atas ranjang.Ia kembali membuka matanya kemudian menatap ke arah di mana tempat Putri berada.
"Apalagi?"tanya Putri kesal.
"Aku sulit tidur."jawab Petra sambil tertawa kecil.
"Cobalah pejamkan mata dulu dan segera tidurlah!"saran Putri.
"Baiklah aku coba sekali lagi."ungkapnya.
Kembali Petra memejamkan matanya dan kali ini ia mulai bisa tertidur pulas.Putri pun yang masih dalam pelukan Petra ikut tertidur disisinya.
Sore harinya mereka berdua baru terbangun dari tidurnya dan segera membersihkan diri masing-masing di dalam kamar mandi secara bergantian.Kemudian mereka berkumpul bersama orang tua Putri di ruang tengah.
"Bagaimana keadaanmu Petra?"tanya ayah Putri.
"Baik Pa,sudah mendingan sekarang."jelas Petra.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu.Kami sempat khawatir dengan kondisimu."seru ayah Putri.
"Iya Pa,Petra sudah sehat kok."balas Petra.
"Sebaiknya kamu jangan ceroboh jika keluar rumah!bawalah beberapa pengawal sebagai penjagaanmu.Kamu itu seorang pengusaha yang sedang naik daun,jadi banyak orang yang tidak suka denganmu."saran ibu Putri.
"Baik Ma,Petra mengerti."sahut Petra.
"Memang dia ini suka bikin orang jantungan Ma,Pa jadi jangan terkejut."sela Putri.
"Tapi meski begitu kamu cinta khan?kalau tak cinta tak mungkin kamu bisa menangis sejadi-jadinya seperti itu saat Petra tidak sadar."ledek ibu Putri pada Putri.
"Ah,Mama ini apa-apaan sih."seru Putri dengan muka merah padam karena malu.
"Benarkah itu?"goda Petra.
"Tentu saja,kamu tidak percaya dengan Mama? Sayang waktu itu Mama tidak sempat merekamnya."tambah ibu Putri.
"Mama!"rengek Putri.
"Sudahlah Ma,jangan menggoda Putri terus kasihan dia,mukanya sudah seperti kepiting rebus."ucap ayah Putri sambil terkekeh geli.
"Papa itu sama saja."ucap Putri kesal sambil meninggalkan mereka bertiga di ruang tengah.
"Petra susul Putri dulu ya Ma,Pa!"pamit Petra.
Ayah dan ibu Putri mengangguk secara bersamaan masih dengan tertawa kecil melihat Putri yang kesal karena mereka goda.Mereka senang bisa menjahili Putri seperti itu.Sepertinya sudah menjadi tradisi bagi mereka menggoda Putri hingga kesal seperti itu.
Petra mencari Putri di setiap tempat yang memungkinkan Putri berada di sana dan ia baru menemukan Putri di teras samping rumah sambil memandang tanaman yang berjejer dihadapannya.
"Hai,Sayang!"sapa Petra.
"Mau apa kamu kesini?mau meledek aku juga khan?"tuduhnya pada Petra.
"Mengapa sih kamu selalu berprasangka buruk kepadaku?"rajuk Petra.
"Habis kamu,Mama dan Papa itu sama saja,suka sekali menggodaku hingga aku kesal dibuatnya."ungkap Putri.
"Mau di peluk?biar kesalnya hilang!"tawar Petra.
"Itu sama saja kamu mencari kesempatan di dalam kesempitan."tuduhnya lagi.
"Lagi-lagi menuduhku seperti itu!"decak Petra pura-pura sedih.
"Oke,maaf aku selalu berburuk sangka padamu!"seru Putri.
"Dimaafkan kok."sahut Petra dengan tiba-tiba tersenyum renyah.
Mereka meneruskan perbincangan mereka di sana hingga petang menjelang dan mereka masuk ke dalam setelah matahari terbenam.Mereka kembali berkumpul di ruang tengah menunggu makan malam disiapkan.
__ADS_1