
Akhirnya Petra sampai di kantor dan segera menuju ruang kerjanya.Beberapa berkas yang Miranda tinggalkan sedang antri menunggu tanda tangannya.Ia segera menandatangani berkas-berkas tersebut satu persatu agar pekerjaannya segera berkurang.Setelah seminggu libur dari tugasnya mulai hari ini ia harus kembali tenggelam dengan pekerjaannya.
"Permisi Pak!ada tamu untuk Bapak!"seru sekretaris Petra.
"Siapa?"tanya Petra singkat.
"Tuan Rey Pak!"sahut sekretaris Petra.
"Baiklah suruh dia masuk!"titah Petra.
"Baik Pak!"sahut sekretarisnya.
"Selamat siang Tuan!"sapa Rey.
"Selamat siang Tuan!bagaimana kabar Anda?"sahut Petra.
"Baik Tuan,seperti Tuan lihat saya sudah jauh lebih baik berkat Tuan!"seru Rey memuji.
"Bukan saya,tapi atas kerja keras Tuan Rey sendiri dan saya berterima kasih dengan bantuan Tuan saat itu sehingga saya bisa menikah dengan wanita yang saya cintai!"terang Petra.
"Bukan apa-apa Tuan,saya sendiri juga tidak suka ada korban lain setelah saya!"ucap Rey merendah.
Mereka pun meneruskan pembicaraan mereka cukup lama lalu Rey pamit dari kantor Petra karena ia masih ada urusan.
"Baiklah Tuan,saya permisi dulu karena masih ada meeting di dekat sini.Kebetulan lewat di sini jadi saya mampir dan mengganggu waktu Tuan!"pamit Rey.
"Jangan sungkan Tuan Rey,saya sangat senang Tuan berkenan mampir ke kantor saya."terang Petra.
"Baiklah Tuan saya mohon pamit!"ucap Rey lagi.
"Baik Tuan,terima kasih atas kunjungannya!"sahut Petra.
Setelahnya Rey beranjak pergi dari kantor Petra dan Petra kembali sibuk dengan pekerjaannya.Hari itu Petra tidak sesibuk biasanya karena Miranda sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Petra.
Hari telah beranjak sore dan waktunya Petra untuk pulang.Sebelumnya Petra menjemput Putri di kantornya terlebih dahulu kemudian mereka baru pulang ke rumah.Sesampainya di kantor Putri,Petra langsung menuju ke ruang kerja Putri untuk menjemputnya pulang.
__ADS_1
"Hai Cinta!"sapa Petra saat melihat Putri masih berada di meja kerjanya.
"Hai Pak Suami!"sahut Putri masih dengan kesibukannya.
"Pulang yuk,khan sudah waktunya jam pulang kerja!"ajak Petra.
"Sedikit lagi ya tanggung soalnya!"tolak Putri.
"Oke deh,aku tunggu kamu di sini!"sahut Petra.
Tak beberapa lama kemudian Putri telah menyelesaikan pekerjaannya dan ia pun mengajak Petra untuk pulang.
"Ayo kita pulang!"ajak Putri.
"Sudah beres kerjanya?"tanya Petra.
"Sudah!"jawab Putri singkat.
"Ya sudah kita pulang!"sahut Petra.
Mereka pun berjalan beriringan menuju mobil.Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil,Petra segera mengemudikan mobilnya memecah jalanan kota sore itu yang dipenuhi kendaraan.
"Makan di rumah sajalah,kasihan Mbak sudah masak susah payah buat kita!"seru Putri.
"Baiklah,jadi kita langsung pulang ya!"ujar Petra.
"Iya,mau cepat-cepat mandi,badan sudah kotor sekali nih rasanya!"jawab Putri.
"Baiklah!"seru Petra.
Mereka pun segera melanjutkan perjalanan menuju rumah Putri.Sesampainya di rumah mereka berdua langsung membersihkan diri dan berganti pakaian kemudian bersantai di ruang tengah sambil menunggu makan malam.Sambil menonton televisi sesekali mereka berdua berbincang-bincang untuk mengisi waktu yang ada.
Malam telah tiba dan semua orang di rumah Putri berkumpul untuk makan malam bersama-sama.Beberapa hidangan telah tersedia di atas meja menyambut para perut yang kelaparan segera menyantapnya.Semua orang mencoba masakan asisten rumah tangga Putri dengan penuh selera.
Di kediaman Revan,Nadia dan Revan sedang makan berdua di ruang makan.Nadia hanya mengaduk makanannya tanpa menyuapkan ke mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa Ma?Mama sakit?"tanya Revan khawatir melihat istrinya hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
"Tidak Pa,Mama sehat kok!"serunya lemah masih dengan mengaduk-aduk makanannya.
"Makanannya tidak enak ya?"tanya Revan lagi.
"Bukan begitu Pa,aku hanya rindu anak-anak saja!"ujar Nadia.
"Aku juga begitu Ma,tapi bukan berarti kita harus menyiksa diri bukan!"terang Revan.
"Iya sih Pa,tapi pikiranku kemana-mana jadi tidak nafsu makan dibuatnya!"jelas Nadia.
"Kamu tidak mau bukan anak-anak kita merasa bersalah telah menikah dan meninggalkan kita melihat kamu sakit nantinya?"bujuk Revan.
"Iya Pa,aku coba deh makan ini!"sahut Nadia.
"Nah begitu dong!"seru Revan.
Nadia pun mencoba menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.Dengan perlahan-lahan ia mulai mengunyah makanan tersebut dan menelannya.Ia lakukan hal itu berulang-ulang sampai makanan di piringnya telah habis.Setelahnya Nadia meninggalkan meja makan menuju ruang tengah demi menghibur diri agar tidak terus memikirkan anak-anaknya.
Di rumah Brian,Miranda dan Brian sudah bersiap untuk tidur setelah makan malam terlebih dahulu.Tiba-tiba Miranda ingin ke rumah ayahnya untuk bertemu ibunya.
"Sayang,aku boleh tidak besok ke rumah Papa?aku rindu Mama!"ijin Miranda kepada Brian.
"Oke,tapi aku yang antar ya sekalian berangkat kerja!"seru Brian.
"Terima kasih ya!"ucap Miranda senang.
"Iya sama-sama!"sahut Brian.
"Ya sudah sekarang kita cepat tidur biar besok bisa cepat bertemu Mama!"ajak Miranda.
"Ya sudah yuk!"sahut Brian.
Mereka segera tidur untuk menyongsong hari esok yang mereka nantikan.Sepertinya perasaan ibu dan anak ini saling berkaitan sehingga mereka memiliki perasaan yang sama saat satu sama lain saling merindukan.
__ADS_1
Malam itu bulan sedang bersinar bulat penuh menerangi bumi yang gelap.Semua insan telah terlelap menyambut esok hari yang cerah.Harapan mereka segala sesuatu akan lebih baik dari sebelumnya dan mimpi mereka bisa menjadi nyata di kemudian harinya.Semua pasangan menautkan hatinya untuk menjalin kasih yang dalam dan memberikan rasa sayang kepada orang yang di cinta.Bukan hanya untuk pasangan hidup semata tetapi untuk sanak keluarga,kerabat,dan keturunannya.
Di balik keindahan kasih sayang dan cinta dari setiap insan nyatanya terselip rasa iri,benci,amarah dan dendam yang mengisi relung jiwa orang yang tidak bisa mengendalikan pikirannya.Seyla,Ardi dan Verlan masih berusaha untuk menghancurkan orang yang mereka anggap sebagai musuh-musuh mereka.Segala daya dan upaya akan mereka lakukan untuk merusak semua ketenangan orang yang di bencinya.Seakan mereka tak jera dengan hukuman yang pernah di lewatinya,mereka masih mencoba untuk melakukan kesalahan yang sama ke depannya.Mereka tidak bisa menyadari bahwa kemarahan akan menguasai hati mereka dan membuat mereka tenggelam dalam emosi tanpa bisa menyadari bahwa ada hal yang lebih penting mereka lakukan selain balas dendam yang tiada arti.Bahkan mereka tidak akan berpikir mengenai logika hanya semata untuk membalaskan sakit hati atas segala hukuman yang di terima akibat kesalahan mereka sendiri.