Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 41 Petra celaka


__ADS_3

Paginya mereka telah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.Setelah selesai bersiap-siap terlebih dahulu mereka check out dari hotel tempat mereka menginap.Mereka sengaja membuat janji terlebih dahulu untuk check out dari hotel secara bersamaan.Setelahnya baru lah mereka berempat menaiki mobil masing-masing dengan Petra dan Putri pisah jalan dengan kakaknya karena Petra dan Putri harus segera sampai di rumah untuk bersiap berangkat bekerja.Sepanjang perjalanan raut wajah bahagia terpancar dari keduanya.


Di mobil lain Miranda dan Brian terlebih dahulu menuju rumahnya untuk menaruh barang bawaannya kemudian menuju rumah Revan dan Nadia untuk memberikan oleh-oleh yang telah di beli.Sorenya saat Brian pulang bekerja mereka akan ke rumah papa dan mama Brian untuk memberikan oleh-olehnya.Sesampainya di rumah Revan mereka segera masuk ke dalam dan menemui kedua orang tuanya yang sedang sarapan dan mereka pun ikut sarapan pagi bersama.


"Ayo cepat makan nanti kalian terlambat ke kantor lho!"seru Nadia kepada Revan dan Brian.


"Baik Ma."sahut Brian.


"Mana bisa Ma,makan dengan terburu-buru yang ada malah tersedak nantinya!"keluh Revan.


"Ya sudah terserah Papa saja."sahut Nadia.


"Oh iya Ma,maaf Brian harus merepotkan Mama lagi karena Brian mau titip Miranda dulu di sini karena nanti sore kami mau ke rumah Papa dan Mama Brian."seru Brian meminta ijin.


"Kamu ini seperti sama siapa saja.Sudahlah tidak apa-apa walaupun kamu mau titip Miranda tiap hari di sini.Mama justru senang karena ada teman di rumah."ujar Nadia.


Brian hanya bisa tersenyum segan kepada Nadia karena ia kembali merepotkan Mama mertuanya itu.Setelah sarapan Brian dan Revan berpamitan kepada Miranda dan Nadia untuk berangkat kerja.Mereka menaiki mobil masing-masing dan melajukan mobilnya menembus jalanan kota pagi itu.Tak lama berselang mereka telah sama-sama sampai di kantor masing-masing dan memulai aktifitasnya masing-masing.Brian dengan berkas-berkas yang menumpuk sedangkan Revan dengan rapat perusahaan di pagi itu.


Di sisi lain Petra sedang sibuk mengamati proyek yang sedang berjalan di suatu tempat yang cukup jauh dari kota.Ia terpaksa datang ke tempat tersebut untuk memastikan persiapan pembangunan proyek yang sedang ia kerjakan.Tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang mengamatinya.Entah apa yang direncanakannya saat itu kepada Petra.Petra masih sibuk memeriksa bahan dan pengerjaan bangunan tersebut agar sesuai dengan keinginan kliennya.Saat ia lengah dan tidak memperhatikan sekitarnya,tiba-tiba ia di serang dari belakang oleh orang yang menyamar menjadi pekerja proyeknya saat itu.Ia di pukul menggunakan sekop di bagian punggungnya hingga membuatnya pingsan.Sedangkan pelakunya lari dari tempat kejadian agar tidak tertangkap oleh orang sekitarnya.Beberapa pekerja mencoba mengejar sedangkan asisten Petra dan beberapa mandor proyek segera membawa Petra menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit,Petra segera dilarikan ke ruang ICU untuk ditangani oleh dokter secepatnya.Dengan darah yang mengalir di bagian belakang kepalanya yang sempat terbentur sekop membuat asisten dan mandor proyek tersebut merasa khawatir dengan keadaannya.Kejadian ini benar-benar di luar dugaan mereka dan membuat mereka bingung harus bagaimana.Dan jalan satu-satunya mereka harus menghubungi keluarga atasannya itu dan istri dari atasannya.Tanpa banyak berpikir lagi asisten Petra menghubungi Putri terlebih dahulu.


"Halo,Ibu Putri!"seru asisten Petra saat panggilannya telah di angkat.


"Maaf saya asisten Ibu Putri.Beliau sedang ada meeting penting."sahut asisten Putri.


"Baiklah saya ingin memberitahukan jika Pak Petra suaminya sedang mengalami kecelakaan dan berada di rumah sakit Cempaka saat ini."terang asisten Petra.


"Baiklah akan saya sampaikan secepatnya kepada beliau.Terima kasih."ujar asisten Putri.


"Sama-sama."sahut asisten Petra lalu menutup panggilan teleponnya.


Asisten Putri langsung memberikan kabar itu kepada Putri tanpa bisa menunggu lebih lama lagi.Ia segera masuk ke dalam ruangan rapat dan memberitahu tentang keadaan Petra.

__ADS_1


"Permisi Bu,maaf saya mengganggu!"seru asisten Putri.


"Ada apa Nin?"tanya Putri.


"Maaf Bu,suami Ibu Pak Petra sedang di rawat di rumah sakit karena kecelakaan!"bisik Nindi asisten Putri.


"Apa!"teriak Putri membuat seisi ruangan rapat menoleh ke arahnya.


Asisten Putri hanya mengangguk pelan menjawabnya.


"Maaf,Tuan-Tuan sekalian saya harus pergi karena urusan penting!"pamit Putri di tengah-tengah meeting tersebut.


Tanpa banyak berpikir lagi,ia segera pergi menuju Rumah Sakit Cempaka tempat Petra di rawat.Sepanjang perjalanan Putri tampak cemas dan gelisah takut sesuatu yang buruk terjadi kepada suaminya.Sesampainya di rumah sakit,Putri langsung menuju ruang tempat Petra di rawat dan menemui asisten Petra yang masih setia menunggu atasannya di sana.Sedangkan mandor proyek yang membantu membawa Petra ke rumah sakit telah kembali ke tempatnya semula.Putri langsung bertanya kepada asisten Petra mengenai apa yang telah terjadi.


"Bagaimana bisa ini terjadi?"tanya Putri dengan air mata yang sudah di pelupuk matanya.


"Semua ini terjadi secara tiba-tiba Bu.Seseorang dengan sengaja menyerang Pak Petra yang sedang mengamati pengerjaan proyek yang sedang berjalan."jelas asisten Petra.


"Kami masih berusaha mencari Bu,orang tersebut berhasil kabur dan masih dalam proses pengejaran."sahut asisten Petra.


"Mengapa harus sampai seperti ini?"tanya Putri dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi.


"Tenang Bu,kita harus tenang dalam menghadapinya."bujuk Nina.


"Aku tidak bisa tenang sementara suamiku sedang bertaruh nyawa di dalam sana."serunya dengan suara sedikit meninggi.


Sesaat kemudian Revan,Nadia,Miranda,dan Brian datang.Nadia dan Miranda tak kalah sedih dengan Putri saat itu.


"Ma,Petra Ma."seru Putri dengan isak tangisnya sambil memeluk Mama mertuanya.


"Jangan menangis!alangkah baiknya kita berdo'a agar Petra cepat pulih."pinta Nadia.


"Bagaimana kronologinya?"tanya Miranda pada asisten Petra.

__ADS_1


"Saat kami sedang berada di tempat pembangunan proyek yang sedang berjalan,tiba-tiba Pak Petra di serang seseorang dari belakang dan di pukul menggunakan sekop hingga beliau jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri hingga kami harus segera melarikannya ke rumah sakit ini."jelas asisten Petra.


"Lalu siapa pelakunya?"sahut Brian.


"Kami masih mencarinya karena setelah berhasil melukai beliau,orang tersebut melarikan diri."sahutnya.


"Aku tak habis pikir dengan kalian mengapa kalian seceroboh ini saat berada di luar kantor.Harusnya kalian memberikan penjagaan ekstra kepada Petra saat ia berada di luar kantor."protes Miranda.


"Maafkan kami Bu,kami tidak menyangka akan begini jadinya."bantah asisten Petra.


"Lalu bagaimana jika sudah begini.Apa yang harus dilakukan sekarang?"ucap Miranda kesal.


"Dan sampai sekarang pelakunya masih berkeliaran bebas di luar sana."tambah Miranda.


"Sudahlah Sayang jangan emosi begini.Kasihan bayi kita."bujuk Brian sambil mengusap perut Miranda.


"Lalu apa aku harus diam saja melihat adikku terluka seperti ini?"geramnya.


"Serahkan semua padaku dan aku pastikan pelakunya akan segera kutemukan."janji Brian.


"Iya,Papa juga akan membantu pencarian pelakunya."sambung Revan.


"Saya juga akan mengusahakannya Bu."seru asisten Petra.


"Tapi kami minta bantuan Ibu Miranda untuk sementara menggantikan Pak Petra di kantor!"tambah asisten Petra.


"Aku juga tidak bisa menolak permintaan ini!"decaknya.


"Apa Kakak bisa dengan keadaan hamil begini?"tanya Putri sesenggukan.


"Tenang saja,apa yang tidak bisa kulakukan untuk adikku?aku pasti akan membantu sebisanya."sahut Miranda.


Setelah pembicaraan itu mereka masih menunggu kabar dari dokter yang merawat Petra.

__ADS_1


__ADS_2