
Hari itu,Petra dan Putri akhiri dengan makan malam bersama keluarga mereka.Setelah makan malam,mereka kembali ke kamar untuk tidur.Mereka berjalan beriringan menuju kamar mereka sambil sesekali Petra melempar candanya agar Putri bisa tertawa mendengarnya.Petra sadar,jika selama ia berada di rumah sakit,Putri selalu saja bersedih karena dirinya.Rasa bersalah pun tiba-tiba hadir di dalam benaknya.Ingin dia menjadi pelipur lara meski hanya sedikit saja.Ia mencoba untuk kembali membuat Putri bahagia seperti dulu lagi.
Di rumah Brian,setelah mereka pulang dari bekerja mereka menghabiskan waktu mereka dengan berbincang di ruang tengah sambil menonton televisi yang berada dihadapan mereka.
"Sayang,bagaimana kerjanya hari ini?"tanya Miranda membuka obrolan.
"Baik,kamu sendiri bagaimana?"ucap Brian.
"Ya lumayan sih,aku tidak terlalu sibuk kok,sebagian besar sudah Petra bereskan sebelumnya."sahut Miranda.
"Baguslah jika begitu,jadi kamu tidak terlalu capek dan bisa menjaga kesehatanmu juga."sahut Brian.
Miranda tiba-tiba mendekati Brian dan menyenderkan kepalanya di bahu Brian.Brian pun membuka lengannya dan menyambut kepala Miranda masuk ke dalam dekapannya.
"Ada apa Sayang?"tanya Brian heran.
"Aku hanya ingin bersandar saja di bahumu."sahut Miranda.
"Kamu tidak sedang dalam masalah khan?tanya Brian lagi.
"Tidak kok,hanya aku ingin sedikit manja saja kepadamu."ungkap Miranda.
"Baiklah kalau begitu,jika kamu punya masalah ceritakan padaku,aku siap mendengar dan siapa tahu bisa membantumu!"pesan Brian.
"Baiklah,tapi untuk sekarang aku memang tidak punya masalah,hanya saja aku ingin seperti ini saja."jelas Miranda.
Brian lalu terdiam dan membiarkan Miranda masih betah dalam pelukannya.Brian berpikir mungkin sikapnya ini karena bawaan dari janin dalam kandungan Miranda.Sebelumnya Miranda sangat jarang memulai untuk bermesraan seperti itu.Seringkali Brianlah yang lebih dulu mencurahkan keromantisannya.Tetapi entah mengapa Miranda beberapa hari ini sedikit manja padanya dan sulit untuk terpisah darinya.
__ADS_1
Malam tiba dengan hembusan angin dingin menerpa sekitarnya.Hawa menjadi cukup dingin sehingga membuat Brian dan Miranda untuk beranjak pergi ke kamar tidurnya.Mereka merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik selimut hingga menutupi sebatas perut dengan Brian yang memeluk Miranda.
"Selamat tidur Sayang!"ucap Brian.
"Selamat tidur!"sahut Miranda.
"Selamat tidur bayi kecilku!"ucap Brian sambil mengusap perut Miranda dan hanya di balas senyuman oleh Miranda.
Mereka akhirnya terlelap dalam tidurnya masih dengan saling berpelukan.Mereka pasangan yang menjaga kemesraan di setiap saat.Mereka tidak mau melewatkan moment berdua seperti ini dan kelak jika anak mereka telah lahir,maka hal semacam ini akan berkurang karena harus membagi perhatian kepada anak mereka kelak.
Pagi harinya Brian dan Miranda terbangun oleh mentari pagi yang mulai menerangi bumi dengan sinarnya yang memancar.Mereka segera mandi dan berganti pakaian kemudian sarapan pagi.Usai sarapan baru lah mereka berangkat ke kantor.Sesampainya di kantor masing-masing mereka sibuk dengan dunianya sendiri.Miranda harus menggantikan Petra untuk mengawasi proyek yang belum selesai dan tak lupa ia membawa pengawal untuk pengamanannya.Kejadian Petra saat itu maaih membekas jelas diingatannya sehingga ia tak bisa ceroboh yang berakibat fatal pada dirinya.Tak tanggung-tanggung 4 pengawal pria untuk mengamankan perjalanannya dan seorang pengawal wanita untuk menemaninya saat di tempat pribadi seperti toilet atau ruang ganti.Untungnya saat itu keadaan sedang aman sehingga Miranda tidak mengalami kejadian yang merepotkan.Setelah selesai melakukan pengecekan terhadap proyek yang sedang berlangsung,Miranda segera kembali ke kantor untuk membuat laporan pengerjaan proyek saat itu.
Baru saja kembali dari tempat proyek pembangunan tersebut,asisten Petra memberitahukan bahwa ada rapat perusahaan yang di gelar secara mendadak di kantor cabang Mandala Grup.Segera Miranda menghadiri acara tersebut di ruang rapat perusahaannya.
"Selamat siang semua!"sapa Miranda kepada beberapa orang yang telah hadir.
Mereka masih menunggu beberapa orang lagi untuk hadir di rapat tersebut.Beberapa saat kemudian satu persatu orang telah hadir di sana dan setelah lengkap,mereka segera memulai rapat tersebut.
"Mari kita mulai rapat ini sekarang juga!"ajak pemegang saham terbesar diperusahaan Petra.
Semua bersiap mendengarkan rapat tersebut.
"Begini Bu Miranda,tujuan kami berkumpul di sini adalah untuk memastikan benar atau tidaknya Pak Petra sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk kembali lagi ke perusahaan."ungkap salah satu pemegang saham.
"Maaf Pak,saya belum bisa memastikannya kapan Pak Petra bisa kembali tapi kami pastikan Pak Petra akan kembali secepatnya."jelas Miranda mencoba meyakinkan.
"Kami tidak bisa begitu saja mempertahankan saham kami di sini karena kami hanya yakin dengan kemampuan Pak Petra."sambung salah seorang lagi.
__ADS_1
"Saya sudah bilang jika Pak Petra pasti kembali tetapi Anda sekalian harus bersabar karena kami masih mengusahakan kesehatannya!"ungkap Miranda.
"Kami tidak bisa menunggu terlalu lama karena kami butuh kepastiannya jika tidak biarkan kami mengalihkan saham kami ke perusahaan lain!"gertak salah satu peserta rapat.
"Saya tahu,saya tidak sebaik Petra dalam bisnis tapi selama saya menggantikannya,saya sudah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan.Saya hanya berharap jika Bapak-bapak sekalian bisa memberi waktu lagi hingga Pak Petra kembali."pinta Miranda.
"Baiklah kami akan memberi waktu hanya dalam minggu ini jika sampai minggu ini beliau tidak kembali,maka terpaksa kami akan mengalihkan saham kami ke perusahaan lain."tegas pemegang saham terbesar Mandala Grup.
Miranda hanya bisa terdiam menatap kepergian mereka setelah menyampaikan apa yang ingin mereka ungkapkan.Rapat bubar setelah mereka memutuskan untuk memberi waktu kepada Petra kembali ke perusahaan.Usai rapat tersebut,Miranda kembali ke ruangannya dengan penuh emosi dan asisten Petra mencoba untuk menenangkannya.
"Mengapa semua jadi runyam seperti ini sih?"keluh Miranda.
"Sabar Bu,kita pasti bisa mengatasinya!"seru asisten Petra.
"Sampai detik ini saja kamu belum bisa menyelesaikan kasus penganiayaan Petra tapi masih saja kamu bisa memastikan masalah ini bisa kamu selesaikan!"ucap Miranda dengan nada tinggi.
"Maafkan saya Bu,tapi saya sudah mengusahakannya."sahut asisten Petra.
"Sudahlah,aku lelah memikirkannya.Belum juga satu masalah selesai sudah muncul masalah lagi."desah Miranda sambil memijit keningnya.
"Aku yakin ini ada yang memprovokasi mereka untuk mencabut saham mereka dari Mandala Grup atas berita Petra yang masih belum sadar."yakin Miranda.
"Apa mungkin ini perbuatan dalang dari penyerangan Pak Petra?"tanya asisten Petra.
"Bisa jadi seperti itu,aku yakin ini adalah musuh lama yang kembali menebar teror pada keluargaku."seru Miranda.
Setelah pembicaraan itu,asisten Petra meninggalkan ruangan Miranda yang masih sibuk menduga-duga siapa dalang di balik masalah yang menimpanya itu.Ia mulai merasa lelah dengan masalah yang datang silih berganti.Ia yakin orang ini sudah merencanakan hal ini dengan matang.Dia memang benar-benar ingin menghancurkan Petra dan perusahaan yang dikelola mereka.Miranda merasa ini ada hubungannya dengan dendam pribadi dari orang tersebut dan kemungkinan yang bisa melakukannya adalah 3 orang yang mempunyai hubungan dengan Petra dan dirinya.
__ADS_1
Setelah sekian lama memikirkan mengenai masalah perusahaan dan adiknya,Miranda tak mau lagi berlarut-larut dalam prasangkanya sehingga ia mengalihkan pikirannya ke pekerjaan yang harus diselesaikan.Paling tidak dengan mengerjakan sesuatu,ia tidak akan terlalu terikat oleh pikirannya tersebut.