Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 20 Kepindahan Miranda dan suaminya


__ADS_3

Hari itu saat Petra telah sampai kantor ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya.Tak bisa dipungkiri ia merasa bersalah kepada Putri karena telah mengecewakannya.Ia berusaha seprofesional mungkin tidak menyangkutpautkan urusan pribadi saat bekerja.Tetapi ia juga tak ingin di ganggu oleh siapa pun jadi ia menitip pesan kepada sekretarisnya agar tidak ada seorang pun yang datang menganggunya.Sekretarisnya pun menuruti segala perintah atasannya dan melaksanakan apa yang telah di tugaskan.Kembali dia harus berdebat dengan Seyla karena permintaan bosnya tersebut.Pada akhirnya Seyla menyerah dan pergi dari kantor Petra.Dengan menghentak-hentakkan kakinya Seyla berjalan menuju mobilnya sambil mengomel sendiri.Sekretaris Petra hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Seyla.Dia sebagai seorang pria juga mengerti perasaan atasannya jika mempunyai pasangan seperti Seyla pasti akan merepotkan apalagi bosnya tersebut orang yang sangat sibuk.Dia akhirnya kembali ke tempat duduknya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Di tempat lain Putri yang masih kecewa dengan Petra hanya bisa melamun di ruang kerjanya sambil menatap lepas ke arah jalanan kota melalui jendela gedung tempatnya bekerja.Rasanya begitu menyakitkan dikecewakan orang yang kini mulai bisa mengisi relung hatinya tersebut.Awalnya Putri memang telah menyukai Petra tapi hanya sekedar suka seperti mengidolakan saja tetapi saat ini rasa dalam hatinya berbeda.Rasa rindu,rasa ingin diperhatikan dan rasa takut kehilangan yang dulu masih belum ada kini tumbuh seiring berjalannya waktu.Di tengah lamunan itu terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk!"seru Putri.


"Maaf Bu,hari ini kita ada meeting dengan beberapa klien kita!"ucap asisten Putri.


"Apa termasuk perusahaan Mandala Grup?"tanya Putri lesu.


"Benar sekali Bu!"sahut asistennya.


"Bisakah digantikan oleh orang lain?"tanya Putri.


"Maaf Bu,ini proyek penting jadi tidak bisa diwakilkan!"ucap asistennya.


"Baiklah,jam berapa meeting dilaksanakan?"tanya Putri.

__ADS_1


"Pukul 1 siang Bu,setelah makan siang!"sahut asistennya.


"Oke,kamu siapkan semuanya kita akan datang sesuai waktu yang ditentukan!"titah Putri.


"Baik Bu,saya permisi dulu!"pamit asistennya sambil berlalu dari ruangan Putri.


"Ya,silahkan!"sahut Putri.


Setelah kepergian asistennya Putri bersiap-siap merapikan beberapa berkas di mejanya untuk di bawa meeting.Waktu saat itu masih menunjukkan pukul 11 siang jadi masih tersisa 2 jam lagi dari waktu meeting.Meski perasaannya kacau tapi tugas ini hanya dia yang bisa melakukannya dan mau tak mau dia di tuntut profesional dalam bekerja.Ia menyempatkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda akibat hatinya yang galau.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 dan Putri menghubungi asistennya untuk bersiap menuju tempat meeting.Mereka berkumpul di lobi kantor kemudian bergegas meninggalkan kantor.Banyak yang mereka bicarakan di dalam mobil mengenai proyek kerja sama yang akan jadi topik pembicaraan saat meeting nanti.Hingga mereka sampai di basement tempat meeting dilangsungkan mereka baru menghentikan pembicaraan.Putri dan asistennya melangkah dengan penuh semangat untuk mendapatkan tender besar tersebut.Ia menaiki lift menuju ruang pertemuan yang kebetulan berada di lantai 3 hotel tersebut.Di sebuah restoran besar meeting itu dilaksanakan sekalian untuk makan siang bersama para klien.Masih 2 orang yang hadir dan kedua mata peserta meeting menatap ke arah Putri dan asistennya saat suara sepatu high heelsnya memenuhi ruangan.Dengan yakin ia menyapa kedua orang tersebut kemudian mencari kursi untuk tempat duduknya.Beberapa saat kemudian peserta meeting yang lain tiba di sana.Dan seseorang diantaranya adalah Petra.Putri dan Petra sempat bertemu pandang sebentar kemudian Putri mengalihkan pandangannya ke tempat lain.Meeting pun dilaksanakan dan para peserta berperang ide dalam meeting tersebut.Berbagai presensi diutarakan masing-masing dari mereka demi memenangkan tender tersebut.Dari beberapa peserta hanya Putri peserta wanita yang cukup percaya diri diantara peserta pria.Dengan lantang ia menyampaikan presentasinya dan menjelaskan dengan gamblang.Meski tak sedikit cibiran yang ia dapatkan di antara peserta tentang dirinya tapi ia tak mau memikirkannya agar konsentrasinya tak terpecah.Berbeda dengan Petra yang kagum oleh ide dan lancarnya Putri saat presentasi yang menarik perhatiannya.Dengan profesional Putri bekerja walau Petra tahu jika mungkin hatinya masih terluka oleh dirinya.Tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan saat Putri telah mengakhiri presentasinya.Dan Putrilah yang diputuskan sebagai pemenang atas tender tersebut.Ia di beri kepercayaan untuk mengerjakan proyek besar tersebut.


"Apa kamu gila?apa yang kamu lakukan?"tanya Putri dengan penuh emosi.


"Aku tahu aku salah aku akan jelaskan setelah semuanya berakhir!"ucap Petra.


"Aku tak butuh penjelasan apapun darimu.Lagipula aku tak berharap banyak kau menepati janjimu!"seru Putri ketus.

__ADS_1


"Aku janji aku akan segera menyelesaikan urusanku dan akan merealisasikan janji kita!"yakin Petra.


"Sudahlah,aku masih banyak urusan selesaikan saja janjimu dengan Seyla!"serunya sambil berlalu pergi ketika pintu lift terbuka.


Petra nampak kesal dan bingung harus berbuat apa karena rencananya masih belum berjalan.Rey baru akan melancarkan aksinya lusa saat ia ada waktu libur kerja sedangkan masalah ini semakin rumit jika terus di ulur-ulur.Dengan keputusasaan yang menyerang dirinya,Petra melajukan mobilnya pulang ke rumah untuk menumpahkan isi hatinya kepada Miranda.Sayangnya setibanya Petra di rumah Miranda telah bersiap-siap untuk pergi membawa kopernya dan suaminya.


"Kakak mau kemana!"tanyanya saat baru saja datang.


"Aku mau pindah ke rumah yang di beli Brian sebelum kami menikah!"jelasnya sambil memaksakan senyuman di bibirnya.


"Kenapa mendadak sekali?"sahut Petra sedih.


"Aku tidak mau mengganggu rencana Papa,lebih baik aku mengalah daripada harus bertengkar lagi!"jelas Miranda.


"Lalu bagaimana aku bisa bercerita masalahku kepada Kakak?"tanya Petra.


"Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu jadi datanglah ke rumah!"seru Miranda sambil berlalu dari hadapan Petra dan masuk ke dalam taksi yang di pesannya.Taksi itu pergi meninggalkan kediaman Revan menuju rumah baru Brian.Rasanya berat hati Miranda meninggalkan adiknya di sana dengan sikap ayahnya yang pemaksa tetapi ia juga tidak ingin berlarut-larut terlibat adu mulut dengan ayahnya hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Kini Petra hanya bisa melepaskan emosinya dengan mandi menggunakan shower yang ia nyalakan untuk mengguyurnya dari kepala hingga kaki.Berharap dengan mengalirnya air ke saluran pembuangan air kekacauan ini segera berakhir.Tetapi nyatanya masalah ini masih menghantuinya dan ia hanya bisa bersabar saja.Di kantor Putri masih kesal dengan sikap Petra yang seenaknya memeluk dirinya di tempat umum.Petra masih belum menjelaskan tentang hubungannya dengan Seyla yang membuat Putri yakin dirinya hanya dipermainkan oleh Petra.Dia tak bisa menyembunyikan perasaan cemburu yang menggelayut dalam dada saat kembali melihat wajah Petra.Kejadian di rumah makan itu seakan kembali berputar diingatan merusak suasana hatinya.


__ADS_2