Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 42 Petra siuman


__ADS_3

Setelah hampir 3 jam di tangani dalam ruang ICU,pintu ruangan terbuka dan seorang dokter keluar dari dalamnya.Semua orang yang berada di luar ruangan langsung menemui dokter untuk mengetahui keadaan Petra.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?"tanya Putri dengan isak tangisnya.


"Apa ada luka serius pada adik saya?"sambung Miranda.


"Tuan Petra mengalami pendarahan ringan di kepala bagian belakang,tetapi akibat syok karena pukulan di bagian belakang kepalanya,pasien belum sadar."jelas dokter pria tersebut.


"Lalu bagaimana keadaannya saat ini?"tanya Nadia.


"Semua stabil hanya saja kita harus menunggu hingga pasien tersadar lebih dulu untuk mengetahui tindakan selanjutnya yang harus diberikan.Tetapi jika sampai besok pagi pasien belum sadar kami harus melakukan operasi untuk mengatasi pembekuan darah yang mungkin terjadi."jelas dokter itu.


"Apa tak ada jalan lain untuk menyembuhkannya selain operasi Dok?"tanya Miranda.


Dokter tersebut hanya menggelengkan kepalanya penuh sesal menjawab pertanyaan Miranda.


"Do'akan saja pasien bisa sadar sebelum besok paginya."seru dokter tersebut.


"Baik,Dokter terima kasih."sahut Miranda.


Mendengar ucapan dokter tersebut membuat tangis Putri semakin menjadi.Ia tidak bisa lagi menahan kesedihannya membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidupnya tanpa Petra.Nadia hanya bisa menenangkan menantunya yang sedang gundah itu.Dalam hatinya,Nadia pun merasa bersedih dan khawatir dengan keadaan putranya yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.Tapi ia hanya bisa mendo'akan keselamatan Petra dari luar ruangan.


Sedangkan Miranda sejak tadi gelisah sekaligus murka dengan adanya kecerobohan seperti ini.Dia begitu kesal dengan keamanan Petra yang seakan-akan diabaikan oleh bawahannya dan ia pun tidak mau terus berdiam diri.Ia segera menghubungi seseorang untuk menemukan pelaku penganiayaan kepada Petra secepat mungkin.Melihat Miranda tampak panik dan emosional,Brian segera menenangkannya dan mencoba meredam emosinya.


"Sudahlah jangan seperti ini Sayang.Kasihan calon anak kita!"seru Brian.


"Aku tidak akan tinggal diam jika pelakunya ditemukan!"ancam Miranda.


"Ingatlah bayi kita jangan menuruti emosimu!"sahut Brian.


"Benar apa kata suamimu Sayang.Jangan terlalu menggebu-gebu dalam menghadapi masalah.Kita harus bermain pintar dan cerdik untuk menangkapnya!"seru Revan.


"Maksud Papa?"tanya Miranda.

__ADS_1


"Kita jalankan misi untuk menjebaknya!"ungkap Revan dengan penuh siasat.


"Aku mengerti Pa."sahut Miranda lemah.


"Tidak biasanya kamu berpikir sependek ini tapi hanya karena emosi kamu tidak bisa bermain cantik dengan musuhmu."seru Revan.


"Benar kata Papa,aku terlalu marah dengan apa yang menimpa Petra."sesalnya.


"Sekarang tenanglah dan jangan melakukan tindakan tergesa-gesa yang dapat membuat mereka lari dari kita!"titah Revan.


Mendengar ucapan ayahnya,Miranda mulai bisa meredam emosinya.Segera ia duduk di samping Putri dan mencoba membujuk adik iparnya untuk tenang.Dia juga merasa bersalah kepada Putri karena membuat suasana semakin kacau saat ia emosi seperti ini.Seharusnya ia lebih bisa berpikir tenang agar bisa mencairkan kegelisahan ini bukan jusru tambah memperburuk suasana.


"Maafkan aku ya Put,seharusnya aku harus bisa menjadi penyemangatmu bukan justru membuatmu makin terpuruk dalam kesedihan seperti ini!"seru Miranda.


"Tak apa-apa Kak.Seharusnya aku juga harus yakin jika suamiku akan bertahan.Aku tahu Petra adalah pria yang kuat."seru Putri yang mulai menghentikan tangisnya.


"Baguslah jika kamu berpikir begitu.Aku juga percaya Petra bukan seseorang yang lemah.Dia pasti akan segera tersadar sebentar lagi."yakin Miranda dengan senyum manisnya.


"Iya Kak."sambut Putri.


"Kamu sebaiknya pulang saja Mir,kamu itu sedang hamil tidak baik begadang di rumah sakit!"pinta Nadia.


"Iya Sayang,sebaiknya kita pulang dulu,besok kita bisa kesini lagi khan!"ajak Brian.


"Aku tidak akan pulang selama Petra belum siuman.Aku yakin sebentar lagi ia akan sadar dan segera dipindahkan ke ruang perawatan.Dia bukan pria lemah dia adikku yang paling kuat."tegas Miranda meyakinkan semua orang.


"Tapi Kak ini sudah malam sepertinya..."ucap Putri terputus lalu menitikkan air matanya lagi.


"Kamu boleh menyerah dengan kondisi Petra saat ini,tapi aku tidak akan pernah ragu dengan keyakinanku bahwa Petra kuat dan ia akan siuman sebentar lagi."sambung Miranda.


Tepat pukul 2 dini hari suster keluar dari ruangan ICU dan memanggil dokter untuk memeriksa Petra.Semua orang khawatir dengan kondisi Petra saat itu ketika suster secara tiba-tiba memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.Putri pun mulai panik dan berpikiran buruk mengenai kondisi Petra.Ia kembali menangis tersedu melihat wajah panik suster dan dokter saat masuk ke ruang ICU.


"Jangan cemas,kita do'akan saja Petra baik-baik saja."seru Nadia.

__ADS_1


"Iya,mudah-mudahan setelah ini ada kabar baik."tambah Brian.


"Semoga saja Kak."sahut Putri.


Tak berapa lama kemudian dokter kembali keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?"tanya Putri.


Belum sempat menjawab para perawat mendorong ranjang rumah sakit yang terdapat Petra diatasnya keluar dari ruang ICU.


"Seperti yang Anda lihat,pasien sudah siuman dan akan kami pindahkan ke ruang perawatan."terang dokter.


Semua berebut menghampiri Petra untuk melihat keadaannya.


"Maaf Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan.Biarkan kami lewat terlebih dahulu untuk memindahkan pasien ke ruang perawatan."seru salah seorang perawat.


Mereka akhirnya menyingkir dari sisi ranjang Petra dan perawat mulai kembali mendorongnya menuju ruang perawatan di ikuti Putri dan keluarga Petra.Sesampainya di dalam ruangan perawat menempatkan Petra di suatu ruangan dengan fasilitas mewah dan lengkap sesuai permintaan keluarganya.Putri dan yang lain pun ikut masuk ke dalam ruangan untuk menemani Petra.


"Maaf untuk sementara biarkan pasien istirahat dulu dan jangan di ajak berbicara dulu."pesan perawat tersebut.


"Baik Sus!"sahut mereka bersamaan.


Perawat tersebut kemudian keluar dan Miranda akhirnya pamit pulang karena Petra telah siuman.Ia harus beristirahat karena paginya harus menggantikan Petra di kantor untuk sementara waktu.


"Aku permisi dulu ya Ma,Pa,Put,Aku harus istirahat sebentar di rumah,Salam untuk Petra!"pamit Miranda.


"Kamu hati-hati ya Sayang!"pesan Nadia.


"Jika kamu masih lelah sebaiknya hari ini kamu tidak usah ke kantor."seru Revan.


"Tak apa-apa Pa,Miranda ke kantor saja.Nanti ada Brian yang mengantar Miranda dan beberapa pengawal juga untuk menjaga Miranda saat di kantor."yakin Miranda.


"Ya sudah,kalau begitu kami pamit dulu!"seru Brian.

__ADS_1


Usai pamit Brian dan Miranda beranjak pulang untuk beristirahat sebelum berangkat ke kantor masing-masing.Segera Brian melajukan mobilnya menuju rumahnya setelah keduanya telah masuk ke dalam mobil.


__ADS_2