
Pagi itu Petra yang sedang berada di kantor sedang berusaha untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya.Tapi apa yang diharapkannya sepertinya sia-sia.Ia justru cemas memikirkan hubungannya dengan Putri yang tak kunjung membaik.Banyak pekerjaan yang terbengkalai karena sikapnya ini.Asisten dan sekretarisnya pun pusing memikirkan Petra yang kacau dalam mengelola perusahaannya.Banyak hal yang harus mereka bereskan dengan kegalauan Petra yang seperti ini.Tidak biasanya Petra menjadi tidak seprofesional ini.Biasanya dalam keadaan sulit seperti apapun itu ia dapat memisahkan waktu untuk bekerja dan waktu untuk urusan pribadinya.Kali ini sungguh di luar dugaan mereka.Petra seakan tidak punya semangat kerja lagi setelah meeting perusahaan kemarin.Asistennya yang ikut dalam pertemuan sudah menduga jika hal ini disebabkan oleh Putri yang sempat bosnya temui setelah meeting kemarin.Ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan pada bosnya tersebut.Berulang kali ia mengambil ponselnya kemudian memasukkan kembali pada saku celananya bermaksud untuk menghubungi Putri untuk minta bantuan tapi kemudian ia menyadari jika bosnya bersikap seperti itu kemungkinan ia sedang bermasalah dengan Putri jadi ia berpikir untuk menghubungi Miranda agar Miranda mau membujuk adiknya untuk bisa kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Halo,Bu Miranda!"sapa asisten Petra saat teleponnya telah tersambung pada Miranda.
"Halo,dengan siapa ini?"tanya Miranda.
"Maaf Bu,saya asisten Pak Petra,bisakah ibu datang ke kantor sekarang?"tanyanya.
"Ada masalah apa?"sahut Miranda.
"Nanti akan saya ceritakan jika Ibu sudah sampai di kantor!"jelasnya.
"Oke kalau begitu saya berangkat sekarang!"seru Miranda.
"Terima kasih Bu,maaf merepotkan."ucapnya sambil menutup panggilan teleponnya.
"Ada apa lagi ini?"gumam Miranda cemas.
Tanpa berlama-lama,Miranda langsung menuju kantor dengan mengendarai mobil ayla merah yang disiapkan Petra khusus untuknya.Selama perjalanan ia hanya mengkhawatirkan jika Petra mengalami kesulitan untuk mengelola perusahaan seorang diri.Tak lama kemudian Miranda telah sampai di kantor lalu berjalan menuju ruangan Petra.Sebelum masuk ke dalam ruangan Petra,Miranda di sambut oleh asisten Petra yang kemudian menceritakan keadaan yang ada.Usai mendengar asisten Petra bercerita,Miranda langsung masuk menemui Petra.
"Aduh kenapa jadi hancur begini kantor tidak ada aku!"ucap Miranda mengagetkan Petra yang tengah melamun menghadap ke luar jendela.
"Kakak,kenapa Kakak ke sini?"sahut Petra.
"Memang salah ya aku ke sini?aku tak pernah menyangka jadi seperti ini perusahaan yang kita bangun bersama-sama!"ucap Miranda pura-pura sedih.
"Apa sih Kakak,jangan menggodaku aku lagi tidak mood nih!"sahut Petra.
"Hey,tampan lagi galau atau gimana sih kok sampai kamu berubah begini?dulu apapun masalahnya kamu tak pernah lho sekacau ini,tapi kali ini kamu tidak profesional dalam memimpin perusahaan."tegas Miranda.
__ADS_1
"Jangan mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan bisnis jika kamu tidak ingin hancur.Ingat banyak karyawan bergantung dari perusahaan ini.Kamu mau perusahaan ini jatuh dan mereka kehilangan pekerjaan mereka?kamu tega melihat mereka kelaparan di luar sana akibat kecerobohanmu?"tambah Miranda.
"Bukan maksudku begitu Kak,tapi...!"ucap Petra terputus oleh kata Miranda.
"Karena cinta kamu lemah?tapi bukan berarti kamu bisa mengorbankan banyak orang Petra!"ucap Miranda geram.
"Iya,Kak!"jawabnya singkat.
"Sekarang kamu ceritakan masalahmu kepadaku dan aku akan berusaha mencari solusinya kemudian segera kembalikan nyawamu yang dulu sebagai pebisnis profesional!"titah Miranda.
Petra pun menuruti kata-kata kakaknya dan menceritakan semua kejadian yang sangat mengganggu pikirannya.Miranda mendengarkan setiap inti cerita dari Petra dengan seksama.Kemudian ia mulai memberi saran agar masalahnya tidak berkepanjangan.
"Sebaiknya segera selesaikan urusanmu dengan Seyla.Apa lagi yang kamu tunggu jika kamu sudah tahu semua rencananya.Tinggal bongkar semua rencananya dengan bukti dan saksi yang ada beres khan!"ucap Miranda.
Petra hanya mengangguk menanggapi saran dari kakaknya.Sedikit beban pikirannya mulai berkurang saat ia bisa bercerita pada kakaknya.Ia kembali menghubungi Rey untuk menanyakan kabar tentang rencana yang di buat.Rey meminta maaf ia belum bisa melakukannya karena ia masih harus menemani orang tuanya yang sedang berkunjung ke rumahnya.Tetapi ia berjanji akan segera melaksanakannya dalam waktu dekat.
Hari itu setelah menyelesaikan pekerjaannya Petra pulang ke rumah.Seperti kemarin dia kembali mengurung diri di kamarnya.Di ruang tamu Revan dan Nadia berbincang-bincang mengenai Petra.Nadia menjawab bahwa setelah kepergian Miranda kemarin Petra selalu mengurung diri di kamar.Bahkan untuk makan saja dia malas untuk turun ke ruang makan.Kadang makanannya tak di sentuh sama sekali atau hanya di makan sedikit saja.Mendengar hal itu Revan merasa bersalah kepada Miranda dan Petra.Tak seharusnya ia membentak Miranda saat itu yang menyebabkan Miranda pergi dari rumahnya.Akibatnya Petra seperti tidak memiliki saudar tempatnya bercerita.Ingin meminta Miranda untuk kembali tapi rasa egoisnya lebih tinggi sehingga Revan hanya termenung dalam diamnya.Nadia juga tak bisa berbuat apa-apa karena suaminya memang keras kepala dan mudah emosi.Meski Nadia tahu jika Revan mulai kehilangan sosok anak perempuannya dalam rumahnya tapi rasa gengsi itu lebih tinggi.
"Ada apa Sayang?"tanya Brian.
Menunggu sekian lama tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Miranda.Miranda masih bergelut dengan pikirannya sendiri sehingga mengabaikan pertanyaan suaminya.
"Sayang,kamu sakit?"tanya Brian lagi sambil menepuk pelan pundak Miranda.
"Apa Sayang?"tanya Miranda terkejut.
"Kamu kenapa sih?lagi bosan di rumah ya?"seru Brian lagi.
"Ah,nggak kok cuma masalah Petra aja!"jawab Miranda enteng.
__ADS_1
"Kenapa lagi dengan Petra?"tanya Brian penasaran.
"Biasalah Sayang,masalah cinta.Kamu tahu khan kalau Papa tak setuju dengan hubungan Petra dan Putri tapi ia masih kekeh ingin menikahi Putri."jelas Miranda.
"Terus?"sahut Brian.
"Sekarang Petra masih mencari tahu tentang maksud Seyla mendekatinya dan bukti sudah berhasil dikumpulkan tetapi ia memiliki rencana agar Seyla mengakui rencananya dan itu bisa menjadi bukti untuk diserahkan pada Papa bahwa Seyla itu punya maksud jahat."lanjut Miranda.
"Sukses rencananya?"sambung Brian.
"Berjalan aja belum gimana mau sukses!"ucap Miranda kesal.
"Yang jadi masalah itu perusahaan jadi terbengkalai karena dia ketahuan Putri sedang bermesraan dengan Seyla di rumah makan dan ia seharian ini galau sehingga tak mau mengurus pekerjaannya."tambah Miranda.
"Terus terjadi perang dunia antara pasangan?"tebak Brian.
"Gitu deh,korbannya perusahaan.Nggak biasanya sih Petra nggak profesional begini!"ujar Miranda.
"Mungkin karena dia nggak punya tempat cerita.Kamh khan yang biasa jadi tempat curhatnya!"seru Brian.
"Mungkin juga sih."sahut Miranda.
"Apa sebaiknya kita balik ke rumah Papa?"ajak Brian.
"Nggak ah,Papa aja nggak menganggap aku ada kalau tinggal di sana!"bantah Miranda.
"Eh,mana tahu sekarang Papa Revan lagi rindu kamu?emang kamu bisa tahu isi hati orang?"bujuk Brian.
"Nanti aja deh pikir-pikir dulu.Kamu mandi dulu sana biar segar badannya.Air panas udah aku siapin tuh di kamar mandi!"seru Miranda mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Oke,nanti kita ngobrol lagi ya!"sahut Brian.
Setelah mandi Brian,Miranda dan Brian kembali mengobrol malam itu setelah menyelesaikan makan malam mereka.Hingga larut malam mereka berbincang di ruang tengah sambil menonton televisi.Karena hari mulai larut mereka menghentikan aktifitasnya kemudian pergi tidur.