
Sepulangnya dari rumah Putri semalam,Petra langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.Mengingat kejadian bersama Putri membuatnya tersenyum tiba-tiba.
"Apa aku benar-benar cinta dengannya?"batinnya.
Petra mengacak rambutnya memikirkan pertanyaan itu.Semalam memang Putri terlihat menawan dengan balutan gaun yang dipakainya.Tak sedikit mata pria memandang ke arahnya saat ia tengah memasuki restoran bersama Petra.Petra masih mengingat jelas bagaimana para pria itu menatap Putri tanpa berkedip.Tapi Putri yang masih sibuk dengan rasa tidak nyaman memakai gaun tersebut membuatnya tidak menyadari tatapan mereka.Pagi itu karena pas sekali dengan hari libur,usai mandi dan bersiap-siap memakai baju yang rapi Petra berpamitan kepada kedua orang tuanya dan kakaknya untuk pergi.
"Mau kemana kamu!"teriak Miranda.
"Urusan anak muda Kak!"teriaknya sambil beranjak menaiki mobilnya.
"Dasar,apa dia kira aku ini orang tua!"gerutu Miranda.
"Sudah Sayang,biar saja namanya juga pria lajang!"seru Brian.
"Jadi kamu dulu juga suka kelayaban tak jelas begitu?"tebak Miranda.
"Kok jadi aku yang kena!"ucap Brian.
"Ya,mungkin saja kamu sama!"seru Miranda.
"Ya,tidak semua orang sama kalau semua sama jadi kembar dong!"canda Brian sambil mencubit gemas hidung Miranda.
"Ih,sakit tahu!"ucap Miranda sewot.
Brian hanya tertawa melihat Miranda kesakitan sambil mengusap hidungnya.Kemudian mereka menuju taman samping sekedar menikmati hari sambil minum teh.
Sudah sebulan berlalu setelah peristiwa penculikan Miranda,suasana rumah masih tenang.Brian masih tinggal di rumah Revan meskipun dia telah menyiapkan sebuah rumah untuk ditinggali bersama istrinya.Tapi mengingat kejadian lalu,Brian masih takut meninggalkan Miranda seorang diri di rumah saat ia pergi bekerja.Hingga mereka memutuskan untuk sementara waktu tinggal di rumah ayah Miranda.Setelah menembus jalanan kota saat itu,tak lama kemudian Petra telah sampai di rumah Putri.Ia segera menghubungi Putri memintanya untuk berganti pakaian dan keluar menemuinya.Sebelum membawa Putri,Petra masuk ke dalam rumah untuk meminta ijin kepada orang tua Putri.
"Selamat pagi Om,Tante!"sapa Petra saat menemui kedua orang tua Putri.
"Selamat pagi Nak Petra !"sahut ayah Putri.
"Ini adik dari Miranda ya!"tambah ibu Putri.
"Iya Tante!"jawabnya.
"Wah lama sekali tak bertemu ya!"ucap ibu Putri.
"Iya Tante,ehm begini Om,Tante saya mau mengajak Putri jalan-jalan boleh?"ucapnya minta ijin.
"Boleh kok,asal jangan malam-malam ya pulangnya!"pesan Ayah Putri.
__ADS_1
"Baik Om!"sahut Petra.
"Biar Tante panggilin Putri dulu ya!"seru ibu Putri.
"Tak usah Ma,Putri sudah tahu kok!"sahut Putri.
"Sudah janjian ya?"tanya ibunya.
"Tahu tuh,tiba-tiba nongol saja di rumah!"ucap Putri ketus.
"Maaf deh tidak kasih kabar dulu,habis nanti kamu pasti menolak pergi sama aku!"ucap Petra pura-pura sedih.
"Jangan begitulah Put,kasihan juga khan Nak Petra sudah jauh-jauh jemput!"seru ibunya.
"Bagus ya aktingnya biar dapat simpati Mama tuh!"ucap Putri kesal.
"Sudahlah,pergi sana jangan marah-marah terus!"sahut ayah Putri.
"Ya sudah,Putri Pamit dulu Pa,Ma!"pamit Putri.
"Permisi Tante,Om!"pamit Petra.
Putri jalan lebih dulu menuju teras rumah tempat mobil Petra di parkir.
"Memang mau kemana sih?"tanya Putri.
"Adalah pasti kamu suka!"sahut Petra.
Usai mendengar jawaban Petra,Putri masuk ke dalam mobil dan ikut kemana Petra melajukan mobilnya.Selama di dalam mobil Putri hanya terdiam tanpa banyak kata.Melihat situasi itu Petra membuka pembicaraan terlebih dulu.
"Diam saja.Dulu saja pertama kenal sudah berani godain aku bareng Sasi!"ingat Petra.
"Anggap saja aku dulu khilaf!"ucapnya.
"Tapi nyaman khan!"seru Petra.
"Kalau kamu masih banyak omong aku turun sini saja!"ucap Putri.
"Eits,lagi datang bulan ya?emosian banget,padahal khan aku cuma bercanda!"terang Petra.
"Hhhaaa...!"decak Putri kesal.
__ADS_1
"Ada apa Non,kesambet!"gurau Petra.
"Iya kesambet mau makan kamu!"serunya.
"Jangan dong,dagingku pahit!"sahut Petra.
Putri hanya memutar kedua bola matanya kemudian kembali terdiam.Ia memalingkan wajahnya ke arah samping kirinya melihat keluar jendela mobil.Ia kemudian melihat banyak pepohonan serta berbagai bunga di sepanjang jalan yang telah mereka lewati.Rasanya seperti taman bunga sepanjang jalan yang ia lewati tadi.
"Wah,banyak banget bunganya.Indah lagi!"seru Putri terpesona.
"Kamu suka tempat ini?"tanya Petra.
"Suka banget!"seru Putri antusias.
"Nanti di sana ada yang lebih indah lagi!"seru Petra.
Tanpa menjawab apa-apa Putri masih menikmati indahnya bunga di sekitar tempat tersebut dari dalam mobil.Petra sengaja menurunkan kecepatan mobilnya agar Putri bisa puas menikmati perjalanan itu.Tak begitu lama mereka telah sampai di tempat tujuan.Dengan tidak sabar Putri keluar dari mobil dan berlari ke arah tempat yang penuh dengan berbagai jenis bunga dengan bermacam warna.Ia menyentuh satu persatu jenis bunga dan menghirup aromanya.Dia kemudian duduk di bangku tepat berada di tengah taman bunga.Disebelahnya terdapat buket bunga yang membuatnya kebingungan,lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Itu untukmu!"seru Petra seakan tahu apa yang dipikirkan Putri.
"Untuk aku,dari kamu?"tanyanya heran.
"Ya iyalah masa dari orang lain.Di sini cuma ada kita berdua!"sahut Petra.
Ia memandang buket bunga itu lalu mencium aromanya kemudian menaruh bunga itu dipangkuannya.Baru kali ini ia bisa merasa nyaman dan bebas menikmati harinya.Senyumnya terus mengembang dibibirnya yang indah.Wajahnya nampak cantik mempesona hingga Petra terbius olehnya.
"Kamu ngapain?"tanya Putri saat melihat Petra terdiam membeku di samping mobilnya.
"Lagi lihat bidadari turun ke bumi!"puji Petra.
"Bisa saja gombalnya!"sahut Putri sambil tersipu malu dibuatnya.
Petra kemudian menghampiri Putri dan tiba-tiba memeluknya erat.Putri yang terkejut karenanya hanya terdiam menerima perlakuan Petra.
"Aku sungguh-sungguh ingin menikahimu.Apa kamu tak melihat keseriusanku!"seru Petra lirih.
"Tapi bukannya ini terlalu cepat,bahkan kita belum pernah menjalin hubungan sekalipun!"sahut Putri.
"Apa begitu penting bagimu kita mempunyai hubungan terlebih dahulu baru menikah?"ungkap Petra.
"Tentu saja,kita harus saling menjajaki satu sama lain jangan terburu-buru!"sahut Putri.
__ADS_1
"Baiklah tapi setidaknya kita bertunangan dulu agar hubungan kita pasti!"pinta Petra.
Putri hanya mengangguk menerima keputusan Petra.Hari itu mereka menghabiskan waktu di tempat itu hingga siang hari.Sorenya mereka beranjak pulang dan menyempatkan diri untuk mengisi perut di suatu restoran langganannya.Usai makan,Petra langsung mengantar Putri untuk pulang ke rumahnya.Sesampainya di rumah Putri,ia langsung pamit pulang kepada kedua orang tua Putri.Ia ingin segera memberi kabar kepada keluarganya bahwa ia ingin bertunangan dengan Putri.