
Setelah kejadian semalam,Brian lebih protective kepada Miranda dan ia telah memutuskan untuk menjemput dan mengantar Miranda ke kantor selama Petra masih cuti.Pengawalan pun semakin diperketat oleh Brian ia tak mau lagi kecolongan seperti saat di pesta kemarin.Rasanya kejadian itu masih membekas di dalam ingatannya bagaimana Miranda tampak pucat seolah hari itu hari terakhir Brian bertemu Miranda.Marah sudah pasti ia rasakan tetapi untuk saat ini baginya yang terpenting adalah keselamatan Miranda.Brian tidak mau terpancing emosi sehingga ia mengabaikan keselamatan Miranda dan lebih mementingkan amarahnya.Pagi itu Miranda sudah mulai kembali bekerja meski kejadian semalam masih membuatnya sedikit lemah.
"Kamu yakin tidak apa-apa?"tanya Brian.
"Yakin,aku bisa kok!"tegas Miranda.
"Tapi kamu masih terlihat sedikit pucat!"seru Brian.
"Tak apa,nanti siang pasti sudah lebih baik!"seru Miranda meyakinkan Brian.
"Baiklah kalau begitu,kalau ada apa-apa segera hubungi aku!"seru Brian.
"Iya aku tahu!"sahut Miranda sambil mengulas senyum di wajahnya.
"Baiklah aku pergi dulu.Nanti aku jemput kamu dan tunggu sampai aku datang!"titah Brian sambil berpamitan kepada Miranda.
"Baik Tuan!"goda Miranda.
Brian hanya tersenyum menanggapinya kemudian berlalu dari kantor Miranda menuju kantornya.Selepas kepergian Brian,Miranda langsung masuk ke dalam kantor menuju ruang kerjanya diikuti oleh beberapa pengawal yang menjaganya.Sesampainya di dalam ruangannya,Miranda sudah di sambut oleh asisten Petra di sana.
"Selamat pagi Bu!"sapa asisten Petra.
"Selamat pagi,ada jadwal penting hari ini?"tanya Miranda.
"Tidak Bu.Hanya saja kemarin malam saat ibu datang ke pesta perayaan anniversary klien kita,saya mendengar bahwa ibu mengalami insiden yang hampir merenggut nyawa Ibu!"jelas asisten Petra.
"Sudahlah jangan di bahas lagi.Oya aku ingin jangan beritahukan hal ini kepada siapa-siapa termasuk keluargaku dan Petra.Tolong kerja samanya!"perintah Miranda.
"Baik Bu,saya mengerti!"sahut asisten Petra.
"Kalau begitu saya permisi Bu!"pamit asisten Petra.
"Silahkan!"jawab Miranda.
Setelah obrolan itu Miranda langsung berkutat dengan tumpukan berkas dihadapannya.Beberapa berkas membutuhkan tanda tangan dari Petra jadi ia memisahkan berkas yang harus Petra tanda tangani setelah Miranda memeriksa dan membaca berkasnya lebih dulu.Semua berkas harus di baca dengan seksama tanpa ada yang boleh terlewatkan sedikit pun karena jika sampai terlewatkan akan menjadi masalah bagi perusahaan mereka.
Waktu berlalu dengan cepat dan esok harinya Petra dan Putri telah siap untuk kembali sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor masing-masing.
__ADS_1
"Besok kita sudah kembali bekerja lagi!"seru Petra.
"Iya memangnya kenapa?"tanya Putri heran.
"Lama berpisah dan baru bisa bertemu lagi sepulang kerja!"rajuk Petra.
"Kenapa jadi manja begini sih?"seru Putri.
"Habis maunya sama-sama terus tiap hari!"ucap Petra.
"Nanti kerja tidak,jadinya mesra-mesra terus sama kamu.Lalu kerjanya kapan?"sahut Putri.
"Ya khan bisa kita kerja satu tempat!"ide Petra.
"Perusahaan kita saja sudah beda,mana mungkin kita satu tempat jauh lah Sayang!"seru Putri.
"Apa kamu bilang tadi?"tanya Petra.
"Perusahaan kita beda!"jawab Putri.
"Bukan yang itu,setelah itu!"desak Petra.
"Ish,kamu itu pura-pura lupa deh.Setelah itu!"gerutu Petra.
"Sa,sayang!"ucap Putri sambil menutup mulutnya.
"Nah itu yang aku maksud!"ujar Petra sambil tertawa lepas seperti anak kecil yang memenangkan permainan.
"Memang tak boleh aku memanggil begitu?"seru Putri salah tingkah sambil memasang muka cemberutnya.
"Aku suka kamu panggil begitu.Coba panggil seperti itu lagi!"pinta Petra.
"Tak ada siaran ulang!"ucap Putri sambil berlalu dari kamar meninggalkan Petra di sana seorang diri.
"Ayolah,sekali lagi!"teriak Petra merajuk.
"TIDAK ADA SIARAN ULANG!"teriak Putri dengan penekanan di setiap katanya.
__ADS_1
Petra hanya tersenyum simpul melihat Putri yang seperti itu Meski sudah seminggu mereka menikah tapi mereka jarang sekali mengutarakan ungkapan cinta kepada masing-masing.Petra dan Putri sama-sama pribadi yang gengsi untuk mengungkapkan perasaan kepada pasangan masing-masing tetapi saat ini Petra yang lebih aktif untuk berkata-kata manis di depan Putri.Mengingat Petra yang dingin dulu,kini saat di depan Putri hal itu sudah tidak lagi terlihat tetapi jika di depan orang lain hal itu masih berlaku.
Setelah seminggu puas mengambil cuti setelah pernikahan keduanya,Putri dan Petra telah siap untuk kembali beraktifitas di kantor mereka masing-masing.
"Kamu aku antar saja ya ke kantornya!"tawar Petra.
"Ih kayak anak kecil saja di antar segala!"tolak Putri.
"Ayolah,aku ingin antar jemput kamu!"desak Petra.
"Iya,iya,oke,oke!"jawab Putri mengalah.
"Namanya juga pengantin baru makanya maunya nempel terus!"goda ibu Putri sambil melangkah ke ruang makan tempat Petra dan Putri telah duduk di sana.
"Iya Put,kamu khan jadi ada yang sopirin!"celetuk ayah Putri sambil melempar senyumnya ke arah mereka dan berjalan di sisi istrinya.
"Tuh khan gara-gara kamu jadi ribet begini!"ungkap Putri menyalahkan Petra.
"Tapi memang benar kata Mama dan Papa!"ungkap Petra setuju.
"Sudahlah terserah kamu saja,kalau terus berdebat begini kita tidak akan selesai-selesai justru bisa-bisa telat dibuatnya."putus Putri.
Ayah dan ibu Putri hanya tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua yang mirip anak-anak.Semenjak kehadiran Petra di sana suasana rumah menjadi ramai dan Putri menjadi banyak bicara di banding sebelum adanya Petra.Hal ini bagi mereka menjadi hal yang positif karena rumah tak lagi sepi karenanya.Tetapi di lubuk hati mereka yang terdalam mereka takut jika suatu saat Petra dan Putri memilih untuk tinggal sendiri,rumah mereka akan kembali jauh lebih sepi dari sebelumnya.Akan tetapi kedua orang tua Putri juga tidak bisa melarang anaknya untuk meninggalkan rumah mereka karena bagaimana pun juga Petra adalah kepala rumah tangga saat ini dan Petra adalah pemimpin bagi istrinya sehingga mereka harus menyiapkan diri jika sewaktu-waktu mereka akan pergi.
Setelah sarapan,Putri dan Petra berpamitan kepada kedua orang tua Putri untuk pergi bekerja,lalu ayah Putri pun pamit untuk berangkat bekerja.Putri dan Petra telah menaiki mobil dan bergegas pergi dari rumah menuju kantor di susul ayah Putri meninggalkan rumah menuju kantornya.Kini di rumah mulai sepi karena rasa bosan yang melanda,ibu Putri pun akhirnya pergi ke butik untuk mengisi waktu luangnya.Dalam perjalanan menuju kantor Putri,Putri dan Petra menyempatkan berbincang-bincang sepanjang perjalanan.Terkadang mereka saling bertukar pendapat mengenai bisnis yang sama-sama mereka jalani.Selain sebagai pasangan hidup mereka juga terlihat seperti rekan seprofesi yang bisa di buat sebagai tempat bertukar pikiran dan pendapat.Tak lama berselang mereka berdua telah sampai di kantor Putri dan setelah berpamitan Petra melajukan mobilnya menuju kantor Mandala Grup.
"Jangan lupa nanti aku jemput.Kamu jangan kemana-mana tunggu aku di sini ya Cinta!"pesan Petra kepada Putri.
"Iya aku tahu Sayangku!"balas Putri.
"Aku meleleh nih mendengarnya!"sahut Petra.
"Ya sudah meleleh saja di sini tak usah kerja.Aku masuk dulu dari pada lihat orang meleleh di sini khan takut!"ucap Putri sambil berlari meninggalkan Petra di sana.
"Love you!"teriak Petra.
"Love you too!"sahut Putri lantang.
__ADS_1
Setelah Putri tak lagi dapat terlihat oleh matanya Petra kembali melajukan mobilnya menuju kantornya.