
Sepulangnya dari rumah Putri,Petra langsung pulang ke rumah untuk memberitahu kedua orang tuanya ia akan bertunangan dengan Putri.Saat ia telah sampai di rumah sebuah mobil sport terparkir di depan teras rumahnya.Ia penasaran siapa yang bertamu saat itu kemudian ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.Ternyata Seyla dan kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumah.Petra hanya menyapa ringan mereka kemudian naik ke atas menuju kamarnya.Sebelum ia menaiki tangga lantai menuju kamarnya,ayahnya memanggilnya untuk duduk menemani mereka mengobrol sebentar.
"Petra sini sebentar kami mau bicara!"panggil ayahnya.
"Ada apa Pa?"serunya sambil menghampiri ayahnya.
"Begini sebenarnya,Papa dan Pak Hendra bermaksud menjodohkanmu dengan Seyla karena selama ini kamu masih betah sendiri.Bagaimana menurutmu?"tanya Revan.
"Aku tidak mau Pa,aku sudah punya pilihan sendiri lagipula kenapa Papa tidak tanya aku dulu lalu menyetujuinya!"ungkap Petra.
"Tapi Petra..."ucap Revan terpotong karena Petra beranjak meninggalkan mereka.
"Aku tetap tidak setuju Pa!"teriaknya.
Petra tampak kesal mengenai perjodohan ini karena ia benar-benar tidak menyukai Seyla karena ia terlalu banyak tingkah dan sering genit padanya.Petra menyukai wanita low profile tapi kuat dalam menghadapi masalah.Petra mengunci pintu kamarnya ingin menenangkan pikiran seorang diri.Sepulang Seyla dan keluarganya,Revan ingin mengajak Petra bicara tapi ia menolaknya.Revan terpaksa mengalah menunggu keadaan mulai dingin.Miranda yang mengetahui hal ini mulai membujuk Petra untuk bicara dengannya.Ia mulai sedikit melunak dan membukakan pintu untuk kakaknya.
"Boleh aku masuk!"seru Miranda.
"Ya,tapi tutup lagi pintunya Kak!"pinta Petra.
"Ada yang mau kamu ceritakan?"tanya Miranda.
Miranda sudah tahu kalau Petra menyukai Putri tapi ia belum tahu bagaimana perasaan mereka masing-masing.
"Kakak pastinya tahu kalau aku suka Putri,hari ini aku ingin meminta Papa dan Mama untuk merencanakan pertunanganku dengan Putri tapi belum aku sempat bicara mereka merencanakan perjodohanku dengan orang lain."terangnya.
"Kalau aku sih dukung kamu sepenuhnya sebab cinta nggak bisa dipaksakan,seperti aku dulu juga gitu khan.Untungnya aku tak memilih orang yang salah."dukung Miranda.
"Aku tahu gimana Seyla Kak.Dia itu kalau di kantor genit ke aku dan kemarin saat pesta perayaan ulang tahun perusahaan kolega kita,ia menyiram Putri dengan air minumnya serta mengancam Putri di depan teman-temannya.Gila tidak tuh orang!"umpat Petra.
"Namanya juga usaha,jadi apapun itu akan dilakukan cuma aku agak curiga dengan perjodohan ini.Jangan-jangan ada udang di balik batu!"seru Miranda ragu.
__ADS_1
"Maksud Kakak?"tanya Petra tak mengerti.
"Siasat untuk mencari kekayaan semata."jawab Miranda.
"Bisa juga sih!"ucap Petra.
"Mau cari tahu dengan akting dulu atau langsung kamu akhiri tanpa tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan?"tawar Miranda.
"Jadi aku harus pura-pura menerima perjodohan ini dan aku menjauhi Putri?"sahut Petra.
"Yaps...tapi bongkar semua sebelum kamu benar-benar menikah dengannya!"tegas Miranda.
"Caranya kamu pasti lebih paham dariku jadi segera jalankan misinya dan selesaikan sebelum pernikahan.Buat Seyla percaya bahwa kamu benar-benar menerimanya dan segera atasi dia.Ingat jangan sampai kamu terlena dalam permainan sendiri!"tambah Miranda mengingatkan.
"Aku mengerti."sahut Petra.
Kakaknya hanya mengacungkan ibu jarinya kemudian beranjak keluar dari kamar Petra dan menutup pintu kembali membiarkan Petra menyusun rencana sendiri.Sesungguhnya Miranda tidak setuju dengan perjodohan itu karena banyak gosip mengenai Seyla yang sampai di telinganya.Dia bahkan diam-diam mencari tahu tentang rumor tersebut dan beberapa rumor memang benar adanya.Hari itu Miranda dan Petra diliputi rasa curiga pada Seyla dan sialnya kedua orang tuanya begitu percaya pada Seyla dan keluarganya.
"Bagaimana Petra,apa kamu benar-benar tidak mau menerima perjodohan ini?"tanya Revan.
"Ayah Seyla klien penting perusahaan kita dan jika mereka memutuskan kerja sama kamu bisa kehilangan segalanya."tambah Revan.
"Aku tahu Pa,tapi beri aku waktu untuk mengenal Seyla.Ini bukan jaman siti nurbaya yang dijodohkan tanpa mengenal satu sama lain."terang Petra.
"Baiklah akan kubicarakan hal ini dengan Pak Hendra."seru Revan.
Petra hanya terdiam sambil meneruskan makannya.Miranda yang mengetahui dan pernah merasakan hal yang sama dengan yang Petra rasakan saat ini pasti akan merasa kecewa menghadapi keadaan ini.Dalam benak Petra hal ini bertentangan dengan hatinya dimana hatinya telah memilih Putri sebagai pasangannya.Namun,ia harus berpura-pura menyetujui keputusan ayahnya.
"Masih saja sama suka memaksakan keputusan kepada anak-anaknya!"batin Petra.
Tak lama kemudian Petra pamit ke kantor.Ia melajukan mobilnya menembus jalanan kota yang masih sepi tetapi bukan langsung ke kantor melainkan ke rumah pujaan hatinya.Ia menghentikan mobilnya cukup jauh dari rumah Putri namun masih bisa memandang kegiatan orang yang berada di teras rumah Putri.
__ADS_1
"Maafkan aku harus melakukan ini.Mungkin kita harus bersabar untuk bisa bersama."batin Petra.
Sesaat kemudian ia melajukan kembali mobilnya menuju perusahaan tempatnya bekerja.Pagi itu ia datang lebih awal karena jadwal pertemuan yang lumayan padat.Sebelum pertemuan dilaksanakan ia harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.Seperti biasa Seyla datang ke kantor mengenakan pakaian yang lumayan seksi untuk menarik perhatian Petra.
"Tolong lain kali berpakaian lebih sopan ke kantor karena klien kita orang penting semua,mengerti!"jelasnya santai.
"Baik Pak,maafkan saya!"sahut Seyla.
"Lain kali jangan diulangi lagi.Ini kantor jadi kita harus profesional.Terserah kamu kalau di luar jam kantor."terang Petra.
"Baik Pak!"ucap Seyla.
"Oya meeting kali ini kamu tidak bisa ikut karena pakaianmu yang mencolok jadi sementara kamu akan digantikan seseorang!"seru Petra.
"Baik Pak!"ucap Seyla dengan sedikit muram.
"Lain kali jika pakaianmu sudah kamu ubah kamu bisa ikut!"hibur Petra.
Seyla pun tersenyum mendengar kata-kata Petra.Ia cukup merasa terhibur olehnya.Segera Petra menuju ruang rapat bersama asistennya karena meeting akan segera dimulai.Beberapa orang telah hadir sebelumnya dan beberapa orang hadir bersamaan dengan tibanya Petra di tempat meeting.Meeting pun segera dimulai dam berakhir dengan lancar.Petra kembali ke ruangannya dan menemui Seyla berada di sana sedang menunggunya duduk di atas sofa diruangannya.Mengetahui hal itu asistennya pamit untuk kembali keruangannya.Petra duduk di atas kursi kebesarannya sambil membuka laptop meneliti hasil kerjanya.
"Ada perlu apa kamu ke ruanganku?"tanya Petra.
Seyla menghampiri Petra sambil mencoba merayunya.
"Bagaimana dengan perjodohan kita?"tanya Seyla sambil menggerakkan jarinya di lengan Petra yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Aku tak mau buru-buru menikah,aku ingin saling mengenal dulu lebih jauh.Sayangnya ini jam kerja,jadi aku harap kamu bisa profesional saat berada di kantor!"tegas Petra.
"Baiklah,aku tunggu kabarnya!"ucap Seyla genit sambil beranjak meninggalkan ruangan Petra.
Sesungguhnya sangat sulit bagi Petra untuk berpura-pura menerimanya karena rasa jengah dengan tingkah Seyla yang menurutnya menjijikkan,tapi apa mau di kata ini demi terungkapnya kecurigaannya dan kakaknya.Setelah kepergian Seyla ia memijit kepalanya karena di buat pusing oleh Seyla.Ia berharap masalah ini segera selesai dan ia bisa kembali bersama Putri disisinya.
__ADS_1