Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 36 Menginap di rumah Papa Revan


__ADS_3

Setelah mengantar Miranda ke rumah Revan dan juga menyampaikan kabar baik kepada Nadia,Brian segera berpamitan pergi ke kantor.Ia meninggalkan Miranda yang masih asyik berbincang dengan ibunya di sana.Setidaknya Brian bisa merasa tenang istrinya ada yang menemani dan cukup aman berada di rumah tersebut.Segera Brian melajukan mobilnya menuju kantor dan tak lama kemudian ia telah sampai di kantornya.Segera ia menuju ruang kerjanya dengan di ikuti stenley di belakangnya.Setelah menyapa formal kepada Brian lalu Stenley melaporkan kegiatan apa saja yang harus Brian lakukan pada hari ini.Jadwal Brian cukup padat dan mungkin dia akan pulang telat untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini.Ia pun tak ingin menunda pekerjaannya lagi agar cepat selesai dan bisa kembali menemui Miranda di rumah Revan.


Di tempat lain Petra membenamkan diri pada urusan kantor yang cukup padat dan beberapa meeting penting yang harus ia datangi.Ia cukup sibuk beberapa hari ini untuk mengerjakan proyek yang baru ia dapatkan beberapa hari yang lalu.Ia juga harus bolak-balik dari kantor menuju tempat pembangunan proyek untuk memastikan bahwa proyek yang dikerjakan berjalan dengan lancar.Belum lagi meeting yang kebanyakan berada di luar kota menyebabkan dirinya jarang bisa berkomunikasi dengan istrinya pada jam kerja.Tetapi semua ia jalani dengan penuh tanggung jawab dan konsisten karena nasib perusahaan ada di tangannya.Selagi ia mampu,maka ia akan mengerjakannya dengan sebaik mungkin.


Di kantor Putri,pekerjaan tak begitu padat karena proyek kemarin telah selesai dan ia hanya mengecek beberapa dokumen saja.Beberapa kali dia melihat layar ponselnya dan tak melihat ada pesan atau telepon masuk dari orang yang diharapkannya.


"Mungkin dia sedang sibuk!"batinnya.


"Kadang aku terganggu dengannya tapi tak bisa dipungkiri kadang aku juga rindu suaranya!"gumamnya sambil tersenyum dibuatnya.


Putri kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas dihadapannya.Ia tak mau lagi memikirkan suami usilnya itu.Bisa-bisa seharian ia tidak semangat bekerja jika sudah seperti itu.


Sore harinya Brian masih sibuk meeting kesana kemari dan masih belum bisa pulang meski sudah waktunya jam pulang kantor.Sama seperti Brian,Petra juga masih berada di kantor untuk menyelesaikan tugas kantornya.Tak lupa Petra menjemput sang istri dulu di kantor kemudian ia akan kembali lagi ke kantornya sendiri untuk menyelesaikan tugasnya.


"Kalau kamu sibuk mengapa pakai acara jemput segala sih?"tanya Putri kepada Petra saat sudah berada di mobil dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya.


"Masa iya aku biarkan istri cantikku pulang sendiri!"puji Petra.


"Mulai deh gombalnya!"gerutu Putri sambil memutar bola matanya jengah.


"Boleh khan memuji istri sendiri!"goda Petra.


"Iya,iya!"jawab Putri.


Sesampainya di rumah,Petra langsung pamit kembali ke kantor dan Putri segera masuk ke dalam rumahnya.


"Di mana suamimu Sayang?"tanya ibu Putri saat ia baru masuk ke dalam rumah.


"Kembali ke kantor Ma,masih ada pekerjaan yang belum selesai katanya!"sahut Putri.

__ADS_1


"Wah sibuk sekali ya dia?"tanya ibunya lagi.


"Iya Ma,namanya juga pimpinan perusahaan besar jadi wajar kalau sibuk!"sahut Putri lagi.


"Cepat mandi sana!setelah ini kita makan sama-sama!"titah ibu Putri.


"Baik Ma,kalau begitu Putri permisi ke kamar dulu!"pamit Putri.


"Iya Sayang!"jawab ibunya.


Putri segera bergegas menuju kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.Ia menyalakan air untuk mengisi bathup kemudian ia berendam di dalamnya dengan air hangat.Rasa lelah yang ia rasakan telah sirna oleh air hangat yang merendam seluruh tubuhnya.Tak beberapa lama ia telah menyelesaikan ritual mandinya itu dan segera mengganti bathrobe-nya dengan pakaian sehari-hari.Segera ia temui kedua orang tuanya untuk makan malam bersama karena sudah waktunya mereka untuk makan malam.


Di kediaman Revan,Miranda makan malam bersama kedua orang tuanya.Nadia merasa senang akhirnya bisa makan malam bersama Miranda.


"Pa,Mama mau kasih kabar gembira!"seru Nadia kepada Revan sambil tersenyum ceria.


"Apa itu Ma?"tanya Revan penasaran.


"Benarkah itu Mir?"tanya Revan kepada Miranda dengan berbinar-binar.


"Iya Pa,Miranda baru saja periksa hari ini dengan Brian dan dokter menyatakan Miranda hamil 6 minggu Pa!"seru Miranda.


"Papa senang mendengarnya.Semoga kalian sehat selalu ya!"pesan Revan.


"Do'akan Miranda ya Pa!"pinta Miranda.


"Pasti itu!"sahut Revan.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan wajah berseri-seri.Hingga makan malam usai Brian tak kunjung pulang menjemput Miranda dan ini membuatnya khawatir.Baru saja Miranda akan menghubungi suaminya ternyata Brian lebih dulu menelepon istrinya itu.

__ADS_1


"Halo,Sayang!"terdengar suara Brian menyapa di ujung telepon.


"Iya Sayang.Baru saja aku mau menelepon kamu tapi tiba-tiba kamu menelepon lebih dulu!"seru Miranda.


"Benarkah!kamu merindukanku ya!"goda Brian.


"Bukan begitu Sayang,kamu mengapa belum menjemputku?"tanya Miranda.


"Maaf Sayang,aku masih ada pekerjaan jadi sementara kamu menginap di sana dulu ya,nanti aku juga akan pulang kesana kok setelah pekerjaanku selesai."jelas Brian.


"Jadi kita tidur di rumah Papa Sayang?"tanya Miranda lagi.


"Iya Sayang,maaf ya!"sesal Brian.


"Iya tidak apa-apa kok."sahut Miranda.


"Kalau begitu aku kerja dulu ya Sayang,kamu langsung tidur saja jangan tunggu aku kasihan nanti bayi kita,Oke!"pesan Brian pada Miranda.


"Oke Papa!"sahut Miranda sambil menirukan suara anak-anak.


Mendengar jawaban Miranda yang demikian membuat Brian dan Miranda tergelak bersamaan.Rasanya tak sabar melihat makhluk kecil yang kini masih berada di dalam rahim Miranda lahir ke dunia.Mereka akan menantikan bayi mungil itu mengisi hari-hari mereka dan suara tangisan dan ocehannya akan meramaikan suasana di rumah.Setelahnya Brian menutup panggilan teleponnya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya dengan senyum yang masih terkembang di wajah setelah pembicaraannya dengan Miranda barusan.Miranda yang berada di rumah Revan pun masih membayangkan betapa bahagianya jika suatu saat nanti anaknya lahir dan mengisi hari-harinya.Dia akan sibuk untuk menjaga dan merawat buah hatinya tersebut dengan senang hati.Kasih sayang akan diberikan kepada anaknya seperti saat Nadia dulu mengasihi dan mencintai kedua anaknya.


"Ternyata begini rasanya menjadi calon ibu!"batin Miranda sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Tanpa sadar ia meneteskan air matanya saat menatap perut ratanya sambil berharap agar saat proses persalinannya nanti di beri kelancaran dan keselamatan untuknya dan juga anaknya kelak.


Malam itu setelah puas dengan angannya mengenai anak yang akan dilahirkannya nanti,Miranda masih belum bisa tidur menunggu kepulangan suaminya.Ia mondar-mandir di ruang tamu sambil sesekali menatap keluar halaman dari jendela ruang tamu untuk memastikan kepulangan Brian.Beberapa kali Miranda melakukan hal itu hingga ia merasa kelelahan dan akhirnya tertidur di sofa ruang tamu karena lama menunggu suaminya yang tak kunjung pulang.Beberapa menit setelahnya Brian sampai di rumah Revan kemudian masuk ke dalam rumah dan menemukan Miranda telah tertidur di sofa.


"Lagi-lagi aku membuatmu tertidur di sofa."ujar Brian.

__ADS_1


"Kamu begitu setia menunggu kepulanganku padahal sekarang kamu sedang hamil."gumam Brian sambil menatap wajah cantik istrinya.


Belum sempat membersihkan dirinya,Brian mengangkat tubuh sang istri untuk dibaringkan di ranjang kamar mereka.Setelahnya barulah Brian membersihkan diri dan bersiap untuk tidur di samping istrinya.


__ADS_2