
Dengan ditangkapnya Ardi saat itu,maka terbukalah siapa pelaku pemukulan saat di proyek waktu itu yang ternyata juga direncanakan oleh Ardi.Kembali dia dikenakan pasal berlapis akibat kejadian itu.Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia terus membuat masalah.Dengan adanya kasus yang menyebabkan dirinya di tahan,maka ganti rugi yang seharusnya di terima oleh Petra menunggu segala aset perusahaan Ardi terjual habis dan baru lah Petra bisa menerima uang ganti ruginya.Dengan ditahannya Ardi membuat mereka sedikit merasa tenang.Tapi mereka masih belum bisa tenang seutuhnya karena mungkin masih ada orang lain yang akan mencelakai mereka.
"Bagaimana dengan kasus penyerangan kepadamu itu?"tanya Brian kepada Petra saat ia berkunjung ke kantor Petra.
"Ardi Kak pelakunya dan ia harus menjalani hukumannya setelah pemeriksaan membuktikan dia sebagai tersangkanya."jelas Petra.
"Syukurlah kalau begitu."balas Brian.
"Tapi kita tidak boleh terlena Kak,karena masih banyak yang menanti kita ke depannya."sahut Petra.
"Benar juga apa katamu,kita tidak bisa begitu saja ceroboh dengan keadaan saat ini."sahut Brian.
"Aku lebih memikirkan keluargaku Kak."ujar Petra.
"Aku justru memikirkanmu dan Miranda karena kalian selalu menjadi incaran dari kejahatan orang-orang."balas Brian.
Setelah perbincangan itu,Brian pamit kembali ke kantornya.Petra kembali melanjutkan pekerjaannya di sana.
Di sisi lain,Miranda siang itu sedang bersantai di teras rumahnya dengan perutnya yang mulai terlihat membesar.Usia kandungan Miranda sudah memasuki bulan kelima.Sedikit banyak ia mulai merasa kesulitan untuk bergerak secara spontan.Ia berharap semoga kelahiran anaknya kelak lancar dan tidak kekurangan suatu apapun juga,serta ia dan bayinya di beri kesehatan dan keselamatan.Ia mengelus perutnya dan tersenyum membayangkan kelahiran buah hatinya tersebut.Rasanya menanti 4 bulan lagi untuk kelahiran anaknya sangat lama baginya.Ia tak sabar ingin segera melihat wajah bayinya.
Sore itu setelah Brian pulang dari kantor,Miranda menyambut Brian di ruang tamu.Brian pun mengecup puncak kepala Miranda sambil menggandeng istrinya itu masuk kedalam.
"Bagaimana harimu selama di rumah?"tanya Brian.
"Baik-baik saja,tapi aku merasa bosan di rumah saja."jelas Miranda.
__ADS_1
"Apa kamu mau kita jalan-jalan untuk mengobati rasa bosan itu?"tanya Brian.
"Tidaklah Sayang,kamu juga baru saja pulang bukan."tolak Miranda.
"Aku tak apa-apa kok.Demi kamu dan anak dalam perut ini."seru Brian sambil mengelus perut Miranda.
"Aku lagi malas keluar,mending kita mengobrol berdua saja.Aku hanya butuh teman."jelas Miranda.
"Ya sudah kalau memang itu maumu."jawab Brian.
Sebelum berbincang,Brian membersihkan diri serta berganti pakaian terlebih dahulu kemudian baru lah mereka berbincang di ruang tengah sambil menonton televisi.Seperti biasa mereka akan bertahan mengobrol di sana hingga malam tiba.Setelahnya baru lah mereka makan malam bersama dan menghabiskan waktu untuk kembali mengobrol di kamar sampai mereka lelah dan tertidur.
Keesokan paginya,mereka telah terbangun dari tidurnya.Setelah mandi dan berganti pakaian,Miranda segera menyiapkan sarapan untuk Brian dan menunggu Brian yang masih di dalam kamar menuju meja makan.Setelah Brian sudah berada di meja makan,mereka sarapan pagi,lalu Brian berangkat menuju kantornya.Miranda kembali tenggelam dengan kesibukannya sendiri dirumahnya.Entah dengan membersihkan rumah atau hanya bersantai menikmati hari di teras rumahnya.
Di rumah Putri,Putri dan Petra sedang sarapan pagi tetapi tiba-tiba Putri merasakan hal aneh.Ia merasakan mual yang sangat pagi itu saat baru saja makan beberapa suap sarapannya.Segera ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.Petra mulai khawatir dengan kondisi Putri dan menyusulnya ke kamar mandi.
"Entahlah,aku tak enak badan kali ini!"balasnya lemah.
"Apa kita ke dokter saja?"tanya Petra lagi.
"Sebaiknya kalian ke rumah sakit dan periksa ke dokter kandungan saja!"saran ibu Putri yang tiba-tiba berada di luar kamar mandi.
"Mama,ini kenapa sih?sudah tahu anaknya sakit tapi tidak di bantu malah di goda begitu!"rajuk Putri kesal.
"Mama serius Put,kamu kira Mama bercanda begitu?"sahut ibu Putri.
__ADS_1
"Tapi ada benarnya juga sih Sayang."seru Petra menyetujui usul Mama Putri.
"Maksud kamu aku hamil begitu?"balas Putri lesu.
"Bisa jadi bukan?"seru Petra.
"Baiklah terserah kamu saja."ujar Putri pasrah.
"Kalau begitu pagi ini juga kita berangkat ke dokter."seru Petra.
Putri hanya mengangguk pelan menanggapi ajakan Petra.Mereka kemudian berangkat menuju rumah sakit terdekat dan langsung menuju ruang yang dianjurkan oleh Mama Putri yaitu poli kandungan.Sesampainya di ruang tersebut kebetulan antrian masih sepi sehingga Putri bisa segera di periksa oleh dokter.Pemeriksaan berlangsung dengan lancar dan apa yang di duga oleh orang tua Putri sebelumnya ternyata benar adanya.Putri dinyatakan hamil 3 bulan.Sebelummya Putri tidak menyadari jika sudah beberapa bulan ini ia tidak datang bulan karena kesibukannya di kantor.Dan saat di ruang poli kandungan tersebut ia baru ingat jika ia sudah lama tidak mengalami datang bulan.Hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Petra dan harapannya untuk segera memiliki anak segera terwujud.
Setelah memeriksakan kandungan Putri,mereka berdua segera kembali pulang ke rumah untuk memberi kabar kepada orang tua Putri.Betapa bahagianya mertua Petra mendengar kabar anaknya telah berbadan dua.Harapan mereka untuk menimang cucu secepatnya akan terlaksana dalam beberapa bulan ke depan.Hari itu Putri terpaksa libur kerja karena ia masih merasa lelah dengan awal kehamilan ini.Jika ia melihat Miranda,keadaannya sungguh banyak perbedaan dengan dirinya saat ini.Putri lebih lemah dan malas untuk melakukan aktifitas berbeda dengan Miranda yang sangat semangat untuk melakukan segala aktifitasnya.Petra mengantar Putri ke dalam kamarnya kemudian ia pamit pergi bekerja setelahnya.
"Aku berangkat dulu ya Sayang!"pamit Petra.
"Heem."gumam Putri malas.
Petra hanya menatap istrinya itu singkat,lalu beranjak pergi dari sana.Ia merasa kasihan dengan keadaan Putri yang demikian,tetapi di sisi lain dia bahagia dengan kabar gembira barusan.Setelah kepergian Petra,Putri langsung memejamkan matanya karena ia merasakan pusing dikepalanya.Ia berharap setelah beristirahat rasa pusing dikepalanya segera menghilang.Tak butuh waktu lama,Putri mulai terlelap dalam tidurnya.Bahkan ia sempat melewatkan makan siangnya tetapi asisten rumah tangganya segera menyiapkan makan siang untuk Putri dan mengantarkannya ke kamar Putri.Ia membangunkan Putri secara perlahan-lahan dan memberikan makanan tersebut saat Putri telah terbangun.
"Maaf ya Non,bibi terpaksa bangunkan karena Nona belum makan siang!"seru asisten rumah tangga itu.
"Iya Bi,tak apa-apa kok.Harusnya Putri yang minta maaf ke Bibi karena sudah merepotkan Bibi."seru Putri merasa bersalah.
"Tak apa-apa Non.Memang kalau hamil itu berbeda-beda cirinya Non."jelas asisten rumah tangganya.
__ADS_1
Putri hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah asisten rumah tangganya tersebut.Setelah usai makan,tak lupa Putri meminum vitamin dan obat pereda mual dari dokter yang ia datangi bersama Petra tadi.Setelah itu,Putri kembali tidur dan meringkuk di atas ranjang empuknya.Rasanya hari ini ia ingin bermalas-malasan di sana seharian penuh dan tak mau turun dari ranjangnya seolah ia tidak rela meninggalkan ranjangnya walau hanya untuk sekejap mata.