Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 46 Rencana untuk kembali bekerja


__ADS_3

Sore harinya saat pulang kerja,Brian sudah siap menunggu Miranda di lobi kantor Petra.Ia duduk di kursi tamu sambil memainkan ponsel yang berada ditangannya.Beberapa saat kemudian,Miranda keluar dengan wajah lesu dengan mengerutkan dahinya seperti merasa lelah.Brian yang tahu dengan raut muka istrinya sedikit kesal langsung mengantongi ponselnya dan menyambut Miranda.


"Kamu kenapa,Sayang?"tanya Brian.


"Lagi pusing nih aku!"desah Miranda.


"Ya sudah,kita pulang dulu saja."seru Brian.


"Iya,aku juga lelah."sahut Miranda.


Mereka akhirnya pulang ke rumah mereka.Sesampainya di rumah Brian dan Miranda langsung mandi.Miranda mandi menggunakan air hangat untuk meredakan lelah ditubuhnya.Setelahnya Miranda menemui Brian yang telah berada di ruang tamu.Mereka mengobrol bersama sambil menunggu waktu makan malam tiba.


"Kamu ada masalah di kantor?"tanya Brian.


"Iya,sedikit kesal juga."gerutu Miranda.


"Memangnya ada masalah apa sih?"tanya Brian lagi.


"Para pemegang saham minta Petra cepat kembali.Mereka tidak percaya dengan kemampuanku dalam mengelola perusahaan."decak Miranda.


"Mereka mengancam,jika sampai minggu depan Petra tidak kembali memimpin,maka mereka akan mengalihkan saham mereka ke perusahaan lain."tambah Miranda.


"Lalu bagaimana jawabanmu pada mereka?"tanya Brian.


"Aku hanya mengatakan,kalau Petra akan kembali secepatnya,jadi aku minta mereka sedikit bersabar."jawab Miranda lemah.


"Lalu respon mereka?"sambung Brian lagi.


"Mereka tetap ingin menarik saham mereka,jika Petra sampai minggu depan tidak kembali."Decak Miranda.


"Sudahlah,jangan terlalu dipikirkan.Kita tunggu saja sampai Petra kembali."saran Brian.


"Sebaiknya aku beritahu Petra masalah ini agar aku bisa mendapatkan jalan keluar mengenai hal ini."seru Miranda.


"Lalu,bagaimana dengan rencana Papa Revan tentang penjebakan pelaku pemukulan kepada Petra?"tanya Brian.


"Entahlah,aku juga tidak tahu pasti bagaimana perkembangannya sekarang."sahut Miranda.

__ADS_1


Perbincangan mereka berlanjut dan saat makan malam tiba baru lah mereka hentikan.Mereka makan bersama di meja makan tetapi rasanya Miranda tak begitu berselera makan akibat perasaannya yang kacau.


"Sudahlah,jangan terlalu dipikirkan.Kamu tidak lupa dengan bayi kita khan?"ungkap Brian.


"Iya,aku tahu."sahut Miranda sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Meski rasanya malas untuk makan,tetapi ia berusaha untuk selahap mungkin.Ia tidak ingin karena ulahnya itu,janin dalam perutnya akan bermasalah.Mereka berdua dan keluarganya sudah menunggu kelahiran si kecil dalam perut Miranda.Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya dengan kesalahan yang akan berakibat fatal pada calon buah hatinya.


Malam semakin larut,Miranda dan Brian segera beranjak tidur untuk menghadapi hari esok di kantor masing-masing.Setelah merebahkan diri di atas ranjang,mereka mencoba memejamkan mata untuk sampai ke alam mimpi.Pagi harinya Miranda dan Brian sudah siap untuk pergi ke kantor.Mereka sarapan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.Setelah sarapan,mereka berangkat bersama-sama.Seperti biasa,Brian mengantar Miranda terlebih dahulu ke kantor,lalu baru Brian menuju kantornya setelah mengantar Miranda.Selama Miranda kembali ke kantor,Brian selalu mengantar dan menjemput Miranda.Terlebih sekarang Miranda sedang hamil,sehingga Brian lebih khawatir dengan keadaan Miranda.


Di rumah Putri,Petra sedang rebahan di atas ranjang.Setelah mandi dan sarapan,ia masih diharuskan istirahat oleh Putri,tapi hanya dengan merebahkan diri di atas ranjang sepanjang hari membuatnya semakin bosan.Meski kamarnya terdapat televisi dan fasilitas mewah lain,tetapi rasa bosan itu masih menderanya.


"Kenapa kamu?cemberut saja dari tadi?"tanya Putri saat masuk ke dalam kamar melihat Petra menekuk wajahnya.


"Bosan ah,ingin masuk kerja!"keluh Petra.


"Ya mau bagaimana lagi?kamu sih pakai acara sakit segala!"seru Putri.


"Siapa juga yang mau sakit!Ini gara-gara orang yang pukul aku.Kok jadi aku yang disalahkan."gerutu Petra.


"Iya,iya.Aku yang salah dan yang lain benar semua!"decaknya.


"Susah bicara sama kamu,bawaannya jutek terus."keluh Putri sambil beranjak meninggalkan Petra di sana.


Belum sempat melangkahkan kaki keluar dari kamarnya,Petra meraih tangan Putri dan mendekapnya dalam pelukannya.


"Jangan tinggalkan aku sendiri!"pinta Petra.


"Malas bicara sama kamu yang keras kepala!"balas Putri.


"Iya,maaf.Aku tak akan buatmu marah lagi,tapi temani aku di sini!"rajuk Petra.


"Baiklah,tapi tak ada permintaan macam-macam ya!"pesan Putri.


"Berarti sebagai suami aku tak boleh bermesraan denganmu?"tanya Petra.


"Tak ada permintaan aneh-aneh.Titik!"seru Putri dengan penekanan di setiap katanya.

__ADS_1


"Baiklah,tapi kamu istirahat ya!"seru Putri.


Petra hanya mengangguk pelan menanggapi permintaan Putri tersebut.Mereka kembali duduk di atas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang.Putri menyalakan televisi dihadapannya dan mereka menonton berdua di sana.


"Kamu kapan mulai masuk kerja?"tanya Petra.


"Besok mungkin aku sudah bekerja karena Papa juga harus mengelola perusahaannya sendiri."jelas Putri.


"Sebaiknya aku besok juga mulai masuk kantor saja.Entah mengapa perasaanku tak enak.Aku takut Kak Miranda mengalami kesulitan di kantor."terang Petra.


"Selama tubuh kamu sehat sih,aku tidak masalah."sela Putri.


"Tapi jika kamu masih merasa tidak yakin dengan kondisi tubuhmu sebaiknya urungkan niatmu dulu."tambah Putri.


"Aku sudah merasa siap untuk bekerja kembali.Sekalian aku akan mencari dalang atas pemukulanku nanti."seru Petra.


"Tapi ingat,jangan melibatkanmu dengan bahaya lagi.Bisa-bisa aku mati berdiri karena melihat kondisimu seperti waktu itu lagi!"pesan Putri.


"Iya,Sayang.Aku tidak akan ceroboh kali ini!"ucap Petra sambil mengecup kening Putri.


"Janji?"seru Putri sambil menunjukkan jari kelingkingnya kepada Petra.


"Iya,janji."sahut Petra sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Putri.


Putri tersenyum menyambutnya dengan gembira.


Setelah bosan berada di kamar,mereka berpindah tempat ke taman belakang rumah.Mereka berjalan beriringan menuju taman belakang rumah.Segera mereka duduk di bangku taman yang sengaja disediakan untuk tempat bersantai di sana.Sambil memandang ke arah tanaman yang menghijau di taman belakang rumah,mereka kembali mengobrol dengan ditemani secangkir capoucinno hangat yang disediakan oleh asisten rumah tangga Putri.


"Moment seperti ini jarang aku lewati denganmu.Terkadang aku bersyukur dengan kejadian ini karena paling tidak kita bisa meluangkan waktu bersama seperti ini."ungkap Petra.


"Benar juga.Selama menikah,kita lebih sering menghabiskan waktu di kantor daripada meluangkan waktu berdua seperti ini."sahut Putri.


"Tapi tetap saja aku tidak mau kamu terluka lagi seperti waktu itu."tambah Putri dengan sedikit bersedih.


"Iya aku tahu,hanya di balik kejadian kemarin,aku bisa mengambil hikmahnya."seru Petra.


Perbincangan itu mereka lakukan hingga siang hari.Saat matahari telah berada dipuncaknya,mereka baru masuk kembali ke dalam rumah dan melanjutkan bersantai di ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2