
Setelah resignnya Seyla dari kantor Petra,membuatnya lebih leluasa dalam bekerja meski seringkali Seyla datang untuk mengunjunginya.Setidaknya dia tak perlu setiap waktu saat berada di kantor bertemu dengan Seyla seperti dulu.Bahkan dia telah menempatkan sekretaris baru seorang pria sebagai pengganti Seyla.Sekretaris ini lebih kompeten dan profesional di banding Seyla.Dari sisi pribadinya ia sangat terampil,disiplin,dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan.Kali ini Petra sangat menyukai cara kerja sekretaris barunya tersebut.Saat Petra tidak berada di kantor,ia memberi pesan kepada sekretarisnya untuk tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam ruangannya tanpa pengecualian.Suatu hari,Petra sedang pergi untuk menghadiri meeting di luar kantor dan saat itu Seyla datang untuk bertemu dengan Petra tetapi sekretaris Petra mencegahnya.
"Aku mau bertemu dengan Petra!"seru Seyla.
"Maaf Nona,Tuan tidak berada di tempat!"seru Sekretaris Petra.
"Baiklah,aku akan menunggunya di dalam!"seru Seyla sambil berjalan menuju ruangan Petra.
"Maaf Nona,Tuan Petra berpesan untuk tidak memasukkan orang lain ke dalam ruangannya!"jelas sekretaris Petra sambil menghadang Seyla yang akan masuk ke ruangan Petra.
"Aku ini calon istrinya!"seru Seyla sombong.
"Maaf tidak ada pengecualian Nona.Tuan sendiri yang memberi peraturan dan saya tidak mau bermasalah dengan atasan ketika saya sedang bekerja!"tegasnya.
"Baiklah,saya akan laporkan kamu kepada Petra sekarang!"ancam Seyla.
"Silahkan Nona,saya hanya menjalankan tugas saya."ucap sekretaris Petra.
Seyla kemudian menghubungi Petra yang masih dalam meeting di suatu tempat.Petra menyerahkan ponselnya kepada asistennya agar asistennya yang menjawab telepon dari Seyla sedangkan dia meneruskan meeting bersama beberapa kliennya.
"Halo,maaf Nona,Tuan sedang rapat sebaiknya Anda telepon kembali nanti!"ucap asisten Petra.
"Tapi aku hanya ingin bertanya,apa benar Petra melarangku masuk ke dalam ruangannya?"Seru Seyla.
"Benar Nona,ini semua perintah Tuan dan berlaku tanpa pengecualian termasuk Anda atau keluarga Tuan Petra sendiri."jelas asisten Petra.
Tanpa banyak bicara lagi Seyla langsung menutup panggilan teleponnya.Asisten Petra menyerahkan kembali ponsel milik Petra.
Meeting tersebut berjalan cukup lama hingga petang tiba pertemuan tersebut baru berakhir.Saat pulang pun Petra tak lagi mampu mengemudikan mobilnya sehingga ia menugaskan asistennya untuk menggantikannya mengemudi.Ia menyandarkan punggungnya di kursi penumpang sambil melepaskan pandangan keluar jendela mobilnya.Tanpa terasa ia tertidur saat menutup mata hingga mereka telah sampai di rumahnya.Asistennya membangunkannya dengan perlahan-lahan agar tidak mengejutkan bosnya tersebut.
"Pak,Pak,kita telah sampai!"ucap asisten Petra membangunkan Petra.
"Hoamm...kita sudah sampai ya?maaf aku ketiduran!"ucapnya sambil menguap beberapa kali.
"Tidak masalah Pak,sebaiknya Anda segera beristirahat sepertinya Anda kelelahan!"saran sang asisten.
__ADS_1
"Benar sekali ucapanmu.Bawa saja mobilnya pulang ke rumahmu agar besok kau bisa menjemputku!"titah Petra.
"Baik,Pak."sahutnya.
Petra keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sambil terus mengusap matanya.Saat Petra telah memasuki rumah asistennya bergegas pulang mengendarai mobil Petra.Saat Petra akan beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya ia bertemu dengan ibunya.
"Kamu baru pulang?"tanya Nadia.
"Iya Ma,maaf Petra lelah.Petra ke kamar dulu!"pamit Petra.
"Apa kamu sudah makan?"teriak Nadia.
"Sudah Ma,sekalian meeting tadi!"sahut Petra.
Kemudian Petra masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.Matanya sudah tidak bisa untuk mentolerir agar tetap terjaga.Ia segera membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya setelah berganti pakaian.Dalam sekejap mata dia telah memasuki alam mimpinya.Pagi itu menyambut dengan cerah.Petra masih terlelap dalam mimpinya dan ia sengaja untuk bangun lebih siang karena hari ini ia libur bekerja.Pagi-pagi ponselnya berbunyi dan suara genit nan berisik membuatnya malas untuk menanggapi.Ya,seperti biasa Seyla menagih janjinya pada Petra karena ia tahu hari ini Petra libur bekerja.
"Halo,Sayang!kamu bilang kita akan jalan kalau kamu libur?"tagih Seyla.
"Tidak sepagi ini juga kali Seyla,aku masih mengantuk dan aku lelah setelah meeting kemarin!"jelasnya kesal.
"Nanti sore saja jangan sekarang aku mau tidur dulu.Bye!"seru Petra sambil menutup panggilan teleponnya.
"Ih,kenapa sih dia begitu amat,tenang Seyla kamu harus bersabar sebentar lagi dia akan menjadi milikmu.Setelah dia bertekuk lutut di depanku,aku akan membuangnya seperti pria-pria yang dulu!"ucap Seyla kepada dirinya sendiri dengan sombongnya.
Pukul 10 Petra telah bangun dari tidurnya.Lalu ia beranjak ke kamar mandi dan berganti pakaian.Setelah tubuhnya segar dia turun ke bawah untuk makan karena pagi tadi tidak sempat sarapan.Ia menuju meja makan yang masih tersedia makanan yang sengaja disisakan untuknya.Setelah makan ia pergi ke ruang tengah untuk bersantai sebentar.
"Tumben bangun siang?"tanya Miranda pada Petra.
Miranda lalu duduk di sebelah Petra bersama dengan Brian.
"Iya Kak,habis meeting sampai malam jadi cukup lelah nih!"sahut Petra.
"Maaf ya,aku sendiri tidak bisa membantumu karena di kantor juga harus aku yang handle!"seru Brian.
"Iya,tak apa-apa kok!"sahut Petra.
__ADS_1
Kemudian Revan datang dan duduk di hadapan anak-anaknya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Seyla!"tanya Revan.
"Baik,Pa."jawabnya singkat.
"Memang Papa masih berniat menjodohkan Petra dengan Seyla.Apa Papa yakin dengan Seyla dan Papanya!"seru Miranda.
"Sudahlah,jangan ikut campur urusan adikmu lebih baik kamu urus keluargamu sendiri!"seru Revan dengan nada tinggi.
"Miranda hanya bertanya Pa,tidak bermaksud ikut campur,jika memang Papa tidak ingin mendengar Miranda bicara,Miranda tidak akan bicara lagi!"seru Miranda kesal sambil beranjak pergi meninggalkan Revan dan Petra di sana sedangkan Brian menyusul istrinya yang sedang emosi.
Revan kembali membujuk Petra untuk segera meresmikan hubungannya dengan Seyla.
"Kapan kalian akan menikah?"tanya Revan pada Petra.
"Petra sudah bilang sebelumnya Petra masih perlu menjajaki lagi sifat Seyla!"sahut Petra.
"Tapi sampai kapan kamu menggantung hubungan dengan Seyla.Papa tidak akan setuju jika kamu menikah dengan orang lain!"ancam Revan.
"Sampai aku siap dan aku tak mau di paksa!"ucap Petra sambil berlalu dari hadapan Revan.
Petra sangat kesal dengan ayahnya.Sepertinya ayahnya mulai termakan oleh kata-kata Hendra dan Seyla.Hal ini membuatnya ingin segera mengakhiri situasi ini dan membongkar semua kebusukan Seyla dan ayahnya.Pukul 3 sore Seyla datang ke rumah Petra dan mengajaknya untuk berjalan-jalan bersama-sama.Petra dengan malasnya menuruti permintaannya dan mereka pergi berdua.Petra hanya mengajak Seyla untuk makan di suatu rumah makan yang dulu pernah menjadi tempat di mana kakaknya sempat mentraktir teman-temannya saat kuliah.Seyla nampaknya kurang suka dengan tempatnya karena berada di pinggiran jalan dan tidak semewah perkiraannya.Petra sengaja mengajak Seyla makan di sana untuk mengetahui respon Seyla.Seperti dugaannya pasti Seyla tidak suka dengan tempat pilihannya.
"Kenapa?kamu tidak suka aku ajak kemari?"tanya Petra.
"Ah,tidak kok aku suka asal sama kamu!"sahut Seyla sambil bergelayut manja di lengan Petra.
Tanpa di sadari Putri melihat kemesraan mereka sehingga di buat cemburu karenanya.Putri yang semula ingin mengenang saat bersama Petra di tempat itu tiba-tiba mengurungkan niatnya.Menyadari hal itu Petra mengejar Putri yang beranjak pergi dari sana.
"Put,tunggu!"teriak Petra.
"Aku sudah salah merindukan orang yang ternyata tak merindukanku!"ucap Putri sambil menaiki mobilnya dan melesat cepat meninggalkan rumah makan itu.
Petra hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Putri yang menusuk hatinya.Dia sadar telah menyakiti hati Putri dan selama ini tidak menemui atau menghubunginya sama sekali.Tapi ini ia lakukan agar Putri tidak terlibat masalahnya.Ia tak menyangka akan seperti ini kejadiannya.
__ADS_1
Setelah kepergian Putri ia kembali masuk ke dalam rumah makan dan kembali duduk di kursinya.Kali ini perasaannya tiba-tiba memburuk akibat kejadian barusan.Ia bahkan malas untuk bicara dan hanya terdiam mendengar ocehan Seyla.Usai makan ia langsung mengantar Seyla pulang dan ia pun segera pulang ke rumahnya.Awalnya Seyla menolak namun melihat Petra kembali menjadi dingin dengan tatapan tajamnya ia menyetujuinya.Hari itu Petra pulang dengan perasaan kalut dan langsung mengunci diri di dalam kamar.Hingga pagi menjelang ia masih enggan untuk bicara dengan yang lainnya.Usai sarapan dia langsung pergi meninggalkan rumah menuju kantor.