
Pagi menampakkan dirinya dengan sinar mentari yang menghangatkan bumi.Pagi itu Miranda baru saja terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi,Sayang."sapa Brian saat Miranda baru saja membuka matanya.
"Kamu sudah bangun,Sayang?"tanya Miranda dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya."sahut Brian dengan senyum manisnya.
"Kenapa tak bangunkan aku?"tanya Miranda.
"Aku ingin puas memandangi wajah istriku."seru Brian membuat Miranda tersanjung.
Miranda hanya bisa tersenyum salah tingkah dibuatnya.Setelahnya mereka membersihkan diri lalu turun ke bawah untuk sarapan bersama-sama.Revan dan Nadia telah siap di meja makan kemudian Brian dan Miranda menyusul ke meja makan.
"Bagaimana tidur kalian?nyenyak?tanya Nadia.
"Iya Ma."jawab keduanya.
"Oya kalian mau pulang hari ini?"tanya Revan.
"Iya Pa,Brian mau minta maaf karena kemarin harus titip Miranda di sini karena Brian sedang sibuk di kantor Pa,Ma!"ujar Brian meminta maaf.
"Kalau kamu sibuk biar Miranda menginap di sini saja,kasihan kalau sendirian dia juga lagi hamil khan!"pinta Nadia.
"Kalau Brian terserah Miranda saja."seru Brian.
"Tak usahlah Ma,Miranda ingin hidup mandiri bersama Brian."tolak Miranda.
"Yakin kamu mau tinggal sendiri dikehamilan pertama ini?"tanya Nadia.
"Miranda yakin Ma,Mama tak usah khawatir.Miranda bisa kok."bujuk Miranda.
"Baiklah,tapi jangan lupa hubungi Mama kalau ada apa-apa!"titah Nadia.
"Iya Ma,Miranda mengerti."sahut Miranda.
Setelah perbincangan itu Miranda dan Brian meneruskan sarapan.Setelah sarapan mereka berdua pamit pulang ke rumahnya.Segera mereka naik ke dalam mobilnya dan beranjak meninggalkan rumah Revan menuju rumahnya.
"Sayang,aku ingin ikut kamu ke kantor boleh?"pinta Miranda.
"Mengapa kamu tiba-tiba ingin ke kantor?"tanya Brian heran.
"Entahlah,mungkin aku bosan harus di rumah saja."terang Miranda.
"Ya sudah,tapi kamu jangan kemana-mana saat aku ada meeting penting,oke!"pesan Brian.
"Oke."sahut Miranda senang.
Pada akhirnya Brian berbalik arah menuju kantornya.Di sana Brian sengaja menaruh beberapa pengawal untuk Miranda.Brian semakin protective kepada Miranda saat mengetahui Miranda sedang hamil.Setiap saat dan setiap waktu Miranda harus mendapat penjagaan jika berada di luar rumah,apalagi saat Brian tak berada di sisinya.Brian sedang memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya sedangkan Miranda hanya duduk manis di sofa di ruang kerja Brian.Brian yang masih sibuk dengan pekerjaannya hanya sesekali melirik ke arah Miranda yang telah di landa kebosanan saat itu.
"Kamu kenapa?bosan ya di sini?"ucap Brian seakan tahu apa yang Miranda rasakan dengan masih membolak-balikkan berkas yang berada ditangannya.
"Iya,habis aku tidak berbuat apa-apa,Cuma lihat kamu yang sibuk kerja sendiri."rajuk Miranda.
"Bukannya kamu sendiri khan yang ingin ikut aku ke kantor?"seru Brian kepada Miranda.
"Iya sih tapi jadi bosan begini."gerutu Miranda.
__ADS_1
"Atau mau aku antar pulang saja?"tawar Brian.
"Tak mau,aku mau tunggu kamu saja sampai selesai kerja!"tolak Miranda.
"Kenapa jadi manja begini ya."seru Brian heran.
"Pokoknya aku tak mau pulang ke rumah aku maunya pulang sama-sama kamu nanti."seru Miranda bersih keras.
"Ya sudah tapi jangan cemberut begitu dong."rayu Brian.
Miranda tersenyum memaksa ke arah Brian dan Brian tergelak dibuatnya.Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Miranda yang berubah seperti anak kecil.
"Apa ini bawaan bayi ya?"batinnya dengan senyum keheranan.
Miranda hanya bisa pasrah dengan kejenuhan yang dirasakan.Ia pun meraih ponselnya dan mengotak-atik ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya.Tak lama kemudian Stenley masuk untuk memberitahukan Brian bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Maaf Pak,ada tamu untuk Bapak!"seru Stenley memberitahu.
"Persilahkan masuk!"perintah Brian.
"Halo,Brian!"sapa wanita seksi itu dan langsung mencoba memeluk Brian namun segera ditepisnya.
"A,ada apa kamu kemari Clara?"tanya Brian gugup kepada wanita yang bernama Clara itu.
Brian tahu pasti dengan sikap Clara selama ia mengenalnya dan wanita itu sungguh agresif padanya.
"Aku sangat merindukanmu."ucap Clara tanpa rasa canggung.
Miranda hanya sesekali melirik wanita itu tanpa berkata apa-apa justru kembali sibuk dengan ponselnya.Beberapa kali Brian melihat ke arah Miranda tapi Miranda tak merespon kepadanya.
"Clara,maaf aku sudah punya istri,jangan bicara sembarangan seperti itu."tegas Brian.
"Iya dan istrinya sedang hamil pula."celetuk Miranda masih asyik dengan ponselnya.
"Siapa kamu tiba-tiba menyela pembicaraan kami?"tanya Clara kesal.
"Sekretaris pribadi."jawab Miranda asal.
"Hanya sekretaris pribadi berani untuk ikut campur urusan bosnya!"hina Clara.
"Ya siapa tahu saja Anda tidak mengerti bahwa bos saya ini sudah beristri dan akan memiliki anak."terang Miranda.
"Sayang sudahlah,jangan diteruskan lagi!"pinta Brian.
"Sayang?jadi kamu?"ucap Clara terputus.
"Iya saya istrinya."seru Miranda kesal.
"Brian,dia,dia...!"ucap Clara terputus.
"Sudahlah sebaiknya kamu pergi dari sini jangan memperburuk suasana hati istriku,dia sedang hamil muda."usir Brian.
"Tapi Brian,aku hanya ingin bertemu denganmu saja."desaknya.
"Sudahlah pergilah dari sini!"usir Brian lagi.
"Jangan paksa dia pergi kalau dia tak mau pergi."sela Miranda.
__ADS_1
"Tapi Sayang..."ucap Brian terputus.
"Selesaikan dulu masalah kalian aku akan pulang lebih dulu sekarang!"ucap Miranda sambil mengajak seorang pengawal untuk mengantarnya pulang.
"Tolong antarkan saya pulang!"seru Miranda pada salah seorang pengawal.
"Baik,Nyonya!"sahutnya.
"Tunggu!"teriak Brian pada pengawal itu.
Pengawal tersebut berhenti dan memundurkan tubuhnya selangkah untuk memberi jalan kepada Brian.
"Sayang,jangan pergi!"cegah Brian.
"Ehm,baiklah,tapi jangan usir dia,biarkan dia pergi dengan sendirinya!"bisik Miranda dengan senyum penuh siasat.
"Apa yang akan kamu lakukan?"tanya Brian khawatir.
"Sudah kamu hanya perlu diam saja tanpa harus melakukan apa-apa!"ujar Miranda sambil kembali masuk ke dalam ruangan bersama Brian dibelakangnya.
"Brian,jangan usir aku dari sini."rajuk Clara.
"Duduklah dikursimu!"bisik Miranda kepada Brian.
Tanpa bertanya Brian duduk di atas kursi kerjanya,lalu Miranda menyusul Brian dan duduk di atas paha Brian dan mencoba untuk terlihat mesra dengan Brian.
"Baiklah jika kamu menginginkan tetap di sini tapi maaf jika perbuatan kami bisa merusak pemandanganmu."tegas Miranda yang telah siap dengan rencananya.
Miranda memulai aksinya,ia mulai menyentuh wajah suaminya dengan lembut,lalu mengecup pipi suaminya dengan sengaja dan disaksikan oleh Clara.
"Apa yang akan kalian lakukan?"tanya Clara gelisah.
"Menurutmu,apa yang akan dilakukan seorang suami istri jika sedang berduaan seperti ini?"tanya Miranda menjebak Clara.
"Kalian gila ya!"teriak Clara histeris.
"Bukannya kamu sendiri yang ingin melihat aktifitas kami ini?siapa tahu kamu butuh referensi untuk kegiatan kami ini."seru Miranda santai.
Miranda kembali melakukan kemesraan dengan Brian dan Clara yang melihat pun akhirnya merasa kesal dan memilih pergi dari sana.
"Sudahlah,dasar gila!"umpat Clara sambil keluar dari ruangan Brian.
Setelah Clara keluar,Miranda berdiri dan menjauh dari Brian.Brian yang melihatnya langsung berdiri dan menarik tangan Miranda lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Jadi semua ini hanya sandiwara saja?"tanya Brian.
"Kamu pikir apa?lepaskan aku!"teriak Miranda kesal.
"Mengapa tidak dilanjutkan saja?"tanya Brian usil.
"Kamu kira aku segila yang dipikirkan wanitamu itu,hah?"seru Miranda sambil mendorong tubuh Brian dan melepaskan pelukannya karena merasa kesal dengannya.
"Jadi kamu cemburu dengan dia?"tanya Brian tergelak.
"Bukannya kamu yang menyuruhku tetap tinggal jadi apa perlu aku pergi sekarang?"seru Miranda mencoba menguasai dirinya.
"Sudahlah Sayang,jangan marah lagi.Dia memang seperti itu jadi jangan dihiraukan."jelas Brian mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
Miranda masih menekuk wajahnya karena kejadian tadi dan memang rencananya berjalan lancar kali ini,tapi untuk ke depannya tidak menuntut kemungkinan ia akan kembali lagi untuk menggoda Brian.