
Hari berganti hari hubungan Petra dan Putri semakin erat saja.Mereka selalu saling menghubungi dan memberi kabar jika tidak bisa bertemu.Mereka mencoba untuk dapat meluangkan waktu di sela kesibukan masing-masing.Meski mereka seorang kekasih tetapi mereka masih profesional sebagai rival di dunia bisnis maka tak jarang mereka beradu presentasi demi mendapatkan tender yang mereka perebutkan.Tapi di luar bisnis mereka akan saling memanjakan pasangan masing-masing serta memberi perhatian lebih.
Hari itu Putri dan keluarganya mengadakan pertemuan dengan keluarga Petra di sebuah restoran ternama untuk membicarakan mengenai rencana pernikahan Putri dan Petra.Awalnya Putri akan berkunjung ke rumah Petra namun karena Petra dan Revan diharuskan meeting dengan klien saat itu di restoran tersebut membuat mereka mengalihkan tempat pertemuannya.Nadia terpaksa menyusul mereka ke tempat pertemuan tersebut karena Petra dan Revan telah lebih dulu berangkat karena meeting tersebut.Setelah semua berkumpul pembicaraan pun segera di mulai.
"Maaf Pak,saya harus mengganggu pekerjaan Anda dengan Putra Anda!"seru ayah Putri sungkan.
"Tidak apa-apa Pak,lagipula kita lebih dulu membuat janji sebelumnya.Justru saya yang seharusnya minta maaf karena telah mengalihkan tempat pertemuan kita secara mendadak."sahut Revan.
"Tidak apa-apa Pak.Kami bisa mengerti kesibukan kalian!"ujar ayah Putri.
"Oya,bagaimana dengan tanggal pernikahannya?apa sudah ditentukan?"tanya Revan.
"Sudah Pak,kami memiliki 2 pilihan yaitu bulan ini tepat 2 minggu lagi dan 3 bulan kemudian menurut hari baiknya!"sahut ayah Putri.
"Kalau saya ingin bulan ini saja.Lebih cepat lebih baik bukan?"seru Revan.
"Baiklah kami setuju saja dengan pilihan Anda!"ucap ayah Putri.
"Kalau begitu kita harus mulai bersiap‐siap dari sekarang ya?"sahut Nadia.
"Iya Bu!"jawab ibu Putri.
Mereka menutup pembicaraan mereka dengan makan siang pada siang hari itu.Petra dan Putri hanya bisa tersenyum simpul mendengar pembicaraan kedua orang tua mereka.Antara rasa malu dan bahagia bercampur jadi satu dalam hati mereka berdua.Setelah makan mereka pun berpisah di sana karena Revan dan Petra masih harus melanjutkan pekerjaan mereka.Sedangkan Putri harus kembali ke kantor karena jam makan siang telah berakhir.
Mereka tidak menyadari bahwa seseorang telah menguping pembicaraan mereka.Dan mungkin bahaya akan menimpa mereka saat mereka lengah.Dengan wajah penuh amarah dan dendam orang tersebut meninggalkan restoran tempat Petra mengadakan pertemuan dengan Putri.Saat telah memasuki mobil,orang itu mengemudikan mobilnya meluncur di tengah padatnya lalu lintas.
"Sialan!"umpat orang yang mendengar pembicaraan keluarga Petra dan Putri yang ternyata adalah Seyla sambil memukul kemudinya.
__ADS_1
"Aku tidak akan tinggal diam dengan ini,aku akan cari cara untuk membuat pernikahan mereka batal!"seru Seyla penuh kelicikan.
"Aku akan lebih brutal dari yang mereka kira.Aku pikir dengan peristiwa kecelakaan kerja waktu itu ia akan takut menikah dengan Petra tapi nyatanya aku salah kira."geramnya.
"Lihat saja nanti apa yang aku perbuat dengan kalian!"serunya licik.
Seyla sedang merencanakan sesuatu untuk Petra dan Putri.Tetapi firasat Miranda mulai bermain ketika ia di beri kabar bahwa 2 minggu lagi pernikahan Petra dan Putri akan dilangsungkan.Instingnya mulai bermain dan tanpa keluarganya ketahui ia menyewa bodyguard untuk Petra dan Putri.Dengan pengalaman yang pernah di alami saat menjelang pernikahannya dulu dengan Brian,Miranda yakin pasti ada pihak yang akan menghalangi pernikahan mereka berdua.Brian pun mendukung ide Miranda untuk memberikan pengawalan kepada kedua calon mempelai itu hingga pernikahan mereka terlaksana.Segera Miranda menghubungi orang kepercayaannya untuk menyiapkan beberapa orang pengawal untuk Petra dan Putri.Tak butuh waktu lama,Miranda sudah mendapatkan para pengawal yang siap untuk mengawal Petra dan Putri kemana pun mereka pergi.Miranda baru menceritakannya setelah pengawal-pengawal tersebut mulai bertugas untuk mengawal mereka berdua.Miranda tak ingin Putri dan Petra menolak pengawalan darinya karena menurut Miranda hal ini sangat mereka butuhkan.Setelah mendengar kata pengawalan,Petra baru ingat bahwa ia sedang mencari kebenaran tentang kecelakaan yang menimpa asisten Putri waktu itu.Ia segera menghubungi bawahannya yang telah ia tugaskan untuk mencari penyebab kecelakaan tersebut.
"Halo!"seru Petra.
"Halo Tuan!"jawab bawahannya.
"Bagaimana penyelidikan kasus kecelakaan itu?"tanya Petra.
"Sepertinya itu bukan kecelakaan biasa tapi sebuah kesengajaan Tuan!"jawab bawahannya.
"Belum dapat diketahui Tuan.Tidak ada saksi atau bukti yang mengarah kepada pelaku.Sepertinya mereka tahu titik buta CCTV dan bekerja dengan sangat rapi."jelasnya.
"Sial,ini sangat menyebalkan!berani sekali dia bermain api denganku!"umpat Petra.
"Saya akan mencoba mencari lagi Tuan!"sahutnya.
"Baiklah,terima kasih untuk infonya!"seru Petra.
"Sama-sama Tuan."jawabnya sambil mengantongi ponselnya setelah panggilan di ujung sana dimatikan.
"Sepertinya ide pengawalan ini memang dibutuhkan.Kak Miranda selalu waspada dengan bahaya di sekitarnya!"gumam Petra.
__ADS_1
Usai perbincangan itu,Petra merasa terintimidasi dengan kejadian yang telah terjadi sehingga ia kembali cemas dengan keadaan Putri.Ia takut jika Putri kembali menjadi sasaran penyerangan oleh orang yang memiliki dendam padanya.Sejauh yang ia tahu,Putri tak pernah bermasalah dengan siapapun jadi tak mungkin ada orang yang sengaja menyakitinya.Untuk rival yang kalah tender pun tidak seharusnya mereka melakukan hal demikian pada lawannya.Ini akan menjadi masalah besar jika mereka menyakiti orang hanya karena kalah tender dan membuat orang tersebut akan disingkirkan dari dunia bisnis ini.Petra hanya bisa menduga-duga saja dengan pelaku sebenarnya dari kejadian itu.
Di sisi lain Putri yang tiba-tiba mendapat pengawalan khusus dari Miranda merasa sedikit risih dengan hal tersebut.Bahkan untuk ke kamar mandi saja Putri harus di kawal oleh seorang pengawal wanita yang profesional dalam bidangnya.Miranda tak mau kejadian padanya terulang kepada Putri dan itu akan menghambat pernikahan mereka.Putri yang tidak suka diikuti oleh seseorang mengajukan protes pada Miranda tentang ini.Putri tahu dari pengawal yang di kirim untuknya bahwa ini perintah dari Miranda.
"Halo!"seru Putri setelah Miranda mengangkat teleponnya.
"Ada apa Put?"tanya Miranda.
"Apa-apaan sih kamu Mir?kenapa sampai ke kamar mandi aku harus di kawal sih?"seru Putri kesal.
"Eits,panggil aku kakak ya calon adik ipar!"goda Miranda.
"Oke Kak!Puas!"kesal putri.
"Apa mau pengawal wanita yang mengikutimu ke kamar mandi di ganti pengawal pria saja?"tawar Miranda.
"Bukan begitu juga Kak,tapi masa iya sampai ke dalam kamar mandi juga sih?aku sudah dewasa merasa masih diperlakukan seperti anak kecil!"gerutu Putri.
"Malah kalau perlu dimanapun kamu berada aku sediakan tuh satu-satu pengawal di sana!"ide Miranda.
"Ih,sebel deh!"sahut Putri.
"Sudah jangan banyak protes nanti setelah kamu sudah menikah dengan Petra,pasti akan lebih banyak lagi pengawalnya,he he he!"canda Miranda sampai tergelak lalu menutup sambungan teleponnya.
"Dasar,kakak sama adik sama saja terlalu berlebihan.Apa sebaiknya aku protes saja sama Petra tapi dia pasti lebih gila lagi di banding kakaknya bisa-bisa ruangan ini di penuhi pengawal yang diperintahkannya.Ah,sudahlah mending tak usah saja!"gumamnya sendiri.
Meski di dera rasa kesal dan tidak nyaman dengan keberadaan orang-orang tersebut tapi di sisi lain Putri merasa bahagia karena ia diperhatikan oleh Miranda sebagai calon kakak iparnya.
__ADS_1