
Keesokan harinya setelah pulang kerja Nadia,Revan,Miranda dan Petra berkumpul di ruang tengah menunggu kedatangan Verlan dengan orang tuanya.Di antara mereka tidak ada yang mengetahui apa maksud kedatangan mereka.Sesuai yang dijanjikan,tepat pukul 5 sore Verlan datang bersama kedua orang tuanya membawa beberapa bingkisan yang sengaja telah ia siapkan untuk di bawanya ke rumah Miranda.Kemudian ia menyerahkan bingkisan tersebut kepada Miranda dan orang tua Miranda pun menerima bingkisan tersebut.
"Mohon maaf sebelumnya.Apa maksud kedatangan Pak Herman dan keluarga ke rumah kami?"tanya Revan heran.
"Begini Pak Revan,maksud kami datang kemari untuk meminta putri bapak menjadi calon istri dari Verlan putra kami."ucap Herman.
"Benar Pak,karena putra kami sudah mengenal putri Bapak semenjak masih kuliah dulu jadi kami rasa keduanya sudah mengenal satu sama lain."Tambah Widi istri Herman.
Mendengar ucapan mereka Miranda termangu sambil menatap Petra yang duduk di sebelahnya.
"Maaf Pak,Bu.Tetapi saya sudah memiliki pasangan dan kami pun sudah merencanakan sebuah lamaran,Verlan pun sudah mengetahuinya!"sanggah Miranda.
"Benar Pak,Bu.Putri kami telah memiliki pasangan dan kami pun sudah saling mengenal,jadi kami tidak bisa menjawabnya."ungkap Revan.
"Kalau begitu aku ingin menarik saham milik Harda Grup dari Mandala Grup jika lamaran ini di tolak!"ancam Verlan.
"Apa maksudmu?semudah itu kamu menarik saham hanya karena urusan pribadi?"ungkap Petra penuh emosi.
"Tentu saja,aku akan melakukannya jika keinginanku tidak terpenuhi!"ancamnya lagi.
"Sepicik itu pemikiranmu menyangkutpautkan urusan pribadi dengan bisnis.Aku semakin yakin untuk menolak lamaran ini.Permisi!"seru Miranda sambil berlalu meninggalkan mereka di ruang tamu.
Rasa kesal,benci,dan marah bercampur jadi satu.Ia tak pernah menyangka sama sekali jika Verlan mampu melakukan hal ini kepadanya.Sebagai sahabat dia tak ingin mempercayai hal ini tapi kenyataan ini begitu membuatnya terpukul.Di tengah kegundahannya,ia menyandarkan dirinya pada kursi taman di samping rumah.Ia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya.Baginya sangat tidak mungkin mengganti Brian di hatinya dengan orang lain.
"Kamu benar-benar menolak lamaran ini?"tanya Revan yang membuat Miranda terkejut.
"Tentu Pa.Papa tahu pasti khan,siapa pria yang aku cintai?"ucap Miranda.
"Iya Papa tahu,tapi sebagian besar saham perusahaan yang kamu kelola adalah milik Harda Grup apa kamu dan Petra sanggup kehilangannya?"tanya Revan.
"Biar saja kami kehilangan saham mereka Pa,Petra yakin bisa kembali menguatkan perusahaan lagi.Itu jika Papa percaya pada kami."terang Petra meyakinkan ayahnya.
"Aku sudah cukup memenuhi permintaan Papa,tapi untuk hal ini Miranda minta maaf tidak bisa memenuhinya.Jangan pertaruhkan hidup Miranda dengan orang ambisius seperti Verlan Pa,Miranda minta biarkan Miranda mencintai orang yang Miranda cinta."pintanya.
"Mereka bilang pernikahan ini juga demi bisnis kita bersama.Untuk menyatukan usaha kita!"bujuk Revan.
"Jangan paksa Miranda Pa,biarkan miranda memilih jalan sendiri setidaknya untuk kali ini saja!"pinta Miranda.
Setelah keputusan besar itu,Revan tidak lagi bisa memaksa.Terpaksa ia menolak lamaran Verlan demi putrinya.Esoknya Verlan benar-benar menarik semua saham perusahaannya dari perusahaan Miranda sehingga keuangan perusahaan tidak stabil untuk sementara waktu.Tetapi berkat tangan dingin Petra dan kerja keras Miranda,akhirnya semua dapat teratasi.Hal ini membuat Verlan geram karena usahanya untuk menghancurkan perusahaan Miranda tidak berhasil.Ia pun mulai mencari dukungan dari pihak lain untuk membantunya memuluskan rencana selanjutnya.
__ADS_1
Di perusahaan Berham Grup,Brian dengan cekatan memainkan jarinya di atas laptop kesayangannya.Ia sedang sibuk meningkatkan performa perusahaannya agar diakui dunia.Sambil mengerutkan dahi,ia bekerja dengan memutar otaknya.Sesaat kemudian asistennya datang memberinya kabar tentang Miranda.
"Maaf pak,ada kabar buruk dari perusahaan Mandala Grup!"lapornya.
"Apa itu Sten?"tanyanya sambil terus berkutat dengan laptopnya.
"Harda Grup menarik sebagian besar sahamnya dari Mandala Grup."lapornya.
"Bukankah itu perusahaan milik ayah Verlan?"tanyanya sambil menghentikan kerjanya.
"Iya pak,konon ini semua karena urusan pribadi."terangnya.
"Maksudnya?"tanya Brian bingung.
"Lamaran Pak Verlan di tolak oleh Ibu Miranda."jelasnya lagi.
Brian hanya tersenyum tipis mendengar penuturan asistennya.Ia tak menyangka Miranda rela mengorbankan perusahaannya hanya demi mempertahankan hubungan mereka.
"Baiklah,kamu boleh keluar!"titah Brian.
"Baik Pak,permisi!"pamit Stenley asisten Brian.
"Halo,Sayang!"sapa Brian.
"Iya,ada apa sayang?"tanya Miranda.
"Ku dengar perusahaan kamu lagi dalam masalah,apa butuh bantuan?"tawarnya.
"Sudah beres kok.Kamu meragukan kemampuanku dan Petra ya?"ucap Miranda.
"Bukannya begitu,lagi pula kamu tak memberi kabar sama sekali jika kamu ada masalah!"jelasnya.
"Aku khan sudah bilang,kami berdua bisa mengatasinya."jawab Miranda.
"Ya sudah kalau begitu,sampai bertemu lagi ya!"ucap Brian mengakhiri percakapan.
"Oke."balas Miranda.
Brian kemudian menutup panggilan ponselnya.Ia tak menyangka Miranda bisa semandiri ini padahal jika di ingat saat kejadian di waktu kuliah dulu ia tampak rapuh.Kini seiring berjalannya waktu Miranda tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.Mengingat masa itu membuat Brian merindukan Miranda.Perasaan cintanya semakin besar pada Miranda.Ia berharap miranda pun memiliki perasaan yang sama dengannya.Brian kembali sibuk dengan pekerjaannya dan ia menjadi pimpinan yang bertanggung jawab dan handal di bidangnya.Kemampuannya telah diakui oleh sang kakek dan rivalnya.Bahkan saat ini banyak perusahaan besar yang mulai melirik perusahaannya untuk bisa bergabung dengan perusahaan mereka.Seperti Petra,Brian juga memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan Petra.Nyatanya mereka bisa membuktikan kemampuannya masing-masing dalam mengelola perusahaan.
__ADS_1
Di sisi lain Miranda masih terpaku dengan ponsel yang ada di genggamannya.Setelah mendapat panggilan telepon dari Brian,ia mendadak tersenyum ceria.Petra yang tiba-tiba masuk ke ruangannya pun heran dibuatnya.
"Habis dapat jackpot Kak?"tanya Petra asal.
"Apa sih?"tanyanya.
"Habis senyum-senyum sendiri begitu!"tandasnya.
"Lagi bahagia,makanya cari pacar sana biar bahagia hidupnya!"ucap Miranda mengejek.
"Aku khan sudah ada Putri!"ujarnya.
"Kamu serius dengan Putri?"tanya Miranda ragu.
"Makanya Kakak cepat nikah biar aku bisa lamar Putri!"ucap Petra.
"Oke,sabar dulu ya,Adikku tercinta!"ucap Miranda.
"Jangan lama-lama Kak nanti keburu jamuran!" canda Petra.
"Bisa saja kamu."jawab Miranda.
Petra kemudian pergi dari ruangan kakaknya menuju ruang kerjanya sendiri.Sedangkan Miranda masih asyik dengan laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.Ia tak ingin kalah dari Brian yang kini telah resmi menggantikan sang Kakek menjadi Direktur Utama.Kakeknya mempercayakan perusahaannya di tangan Brian sepenuhnya.Dan dengan kepercayaan yang diberikan Brian bisa membuktikan kemampuannya.
Hari itu Petra dan Miranda mengadakan rapat pemegang saham di perusahaan.Mereka berkumpul di ruang rapat perusahaan dengan para pemilik saham.Beberapa orang adalah kolega Revan yang masih percaya untuk menanamkan modal mereka pada Mandala Grup.Semakin majunya perusahaan di bawah kepemimpinan Petra membuat beberapa orang diantaranya kembali menanamkan modal pada perusahaan tersebut.Sehingga Mandala Grup menjadi perusahaan yang semakin berkembang.Cukup dengan waktu dua tahun Petra dan Miranda bisa membuktikan kepada para pemegang saham bahwa mereka mampu memimpin perusahaan dengan lebih baik.Mereka pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pemilik saham yang terus memberi dukungan kepada mereka baik secara finansial dan moral.Setelah rapat usai Miranda dan Petra kembali ke ruangan masing-masing.
"Permisi Bu,hari ini Ibu ada pertemuan dengan salah satu klien di sebuah restoran di ujung jalan!"ucap Nina asisten Miranda.
"Jam berapa pertemuannya?"tanya Miranda.
"Jam 1 siang,masih 30 menit lagi Bu!"ucap Nina.
"Baiklah kita berangkat sekarang agar tidak terlambat!"ajak Miranda pada asistennya.
Memang setiap ada meeting penting Nina selalu menemani Miranda.Sebagai asisten pribadi Miranda,dengan setia Nina menemani kemana pun bosnya pergi.Hanya dengan waktu 10 menit mereka telah sampai di tempat yang telah dijanjikan.Kali ini Miranda harus berjuang sendiri untuk memenangkan hati klien agar mau menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaannya,sebab Petra sedang ada rapat dadakan sehingga ia di minta untuk mewakili Petra.Cukup lama menunggu,klien yang di tunggu pun tiba.
"Selamat siang Bu,silahkan duduk!"sapa Miranda sambil mempersilahkan kliennya duduk.
"Selamat siang Bu Miranda,perkenalkan nama saya Trisa!"ucap Trisa memperkenalkan diri sambil menyambut tangan Miranda.
__ADS_1
Setelah perkenalan tersebut mereka langsung menuju inti perbincangan.Setelah presentasi yang cukup panjang dan berakhir lancar,akhirnya pihak kedua belah pihak setuju untuk mengadakan kerja sama.Surat kotrak akan di kirim ke kantor karena membutuhkan tanda tangan dari Petra.Mereka mengakhiri pertemuan dengan berjabat tangan dan ucapan terima kasih.Setelah kepergian kliennya,Miranda beranjak pergi kembali ke kantor tepat pada pukul 3 sore.Letih yang dirasakannya seakan terbayar oleh kesuksesannya menggaet klien siang itu.