Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 51 Persalinan Miranda


__ADS_3

Pagi harinya saat Putri bangun tidur,ia kembali mual dan segera beranjak menuju kamar mandi.Setelah tak ada yang bisa ia muntahkan Putri langsung segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantornya.Usai mandi Putri membangunkan Petra yang masih bergelung di bawah selimut.Petra seperti enggan membuka matanya malah menarik Putri yang telah rapi hingga duduk di atas ranjang,lalu Petra memeluk pinggang Putri.


"Selamat pagi anak Papa!"seru Petra menyapa calon buah hati yang masih di dalam perut Putri sambil mengusap lembut perut Putri.


"Babynya tak mau dengan Papanya karena Papanya masih bau!"seru Putri sambil menutup hidungnya.


"Tega sekali sih kamu bilang begitu!"rajuk Petra.


"Habis kamu susah sekali dibangunkan.Aku lelah membangunkanmu sedari tadi."keluh Putri.


"Kamu sudah rapi,memangnya mau kemana?"tanya Petra saat menyadari Putri sudah rapi.


"Mau pergi kerja saja,capek di rumah tidak melakukan apa-apa."jawab Putri.


"Ya sudah,aku mau mandi dulu sekarang!"seru Petra sambil beranjak pergi ke kamar mandi.


Putri hanya menggelengkan kepalanya,lalu bergegas menyiapkan pakaian untuk Petra.Setelah Petra keluar dari kamar mandi,ia tak melihat keberadaan Putri di sana dan ia segera mengganti bathrobenya dengan pakaian kerja,lalu menyusul Putri ke ruang makan.


Masih dengan membenahi pakaiannya agar terlihat rapi,Petra melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan menemukan kedua orang tua Putri dan istrinya itu tengah menunggunya di meja makan.


"Selamat pagi Ma,Pa!"sapa Petra kepada kedua orang tua Putri.

__ADS_1


"Bagaimana tidurnya?nyenyakkah?"tanya ayah Putri.


"Nyenyak Pa."sahut Petra sambil melempar senyum.


"Iya Pa nyenyak,sampai-sampai susah buat dibangunkan."sela Putri.


"Namanya juga sudah bahagia,rasa galaunya sudah hilang khan?"goda ibu Putri.


"Galau bagaimana Ma?"tanya Putri bingung.


"Galau karena kamu usir suamimu ini dari kamar dan mengatainya bau,ha ha ha ha!"ungkap ibu Putri sambil tertawa lebar.


Petra hanya tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengarkan ucapan ibu mertuanya tersebut.


"Aku hanya bertanya ke Mama tentang aku ini benar-benar bau atau bagaimana?sedangkan waktu itu aku sudah mandi dan berganti pakaian."jawab Petra polos.


"Itu,itu.Sudahlah aku tak mau membahasnya lagi."ujar Putri mengelak.


Setelah itu mereka duduk terdiam sambil terus memakan sarapan pagi mereka.Setelah makan tak lupa Putri meminum vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mualnya.Ia juga meminum susu ibu hamil yang sengaja Petra belikan untuknya.


Setelah selesai sarapan,Petra dan Putri berangkat kerja bersama-sama dengan Putri mendapatkan pengawalan ekstra dari bodyguard yang sengaja Petra sewa selama Putri masih bekerja dalam keadaan hamil.Petra memang sangat memperhatikan mengenai Putri saat mengetahui Putri sedang dalam keadaan mengandung anaknya.Bahkan tanpa di minta Petra selalu mengantar dan menjemput Putri dari kantornya.Perhatian Petra yang seperti ini membuat Putri semakin tak bisa jauh dari Petra.Bahkan seringkali Putri menghubungi Petra di sela-sela kesibukannya.Tetapi terkadang Putri juga tiba-tiba merasa kesal kepada Petra tanpa sebab yang jelas.Namun saat Petra jauh dari pandangannya,Putri begitu merindukan kehadirannya.Terkadang Petra di buat bingung dengan keadaan tersebut tetapi lambat laun Petra mulai bisa menyesuaikan diri dengan Mood Putri.

__ADS_1


Hari demi hari berlalu dengan cepatnya.Usia kandungan Miranda sudah mencapai hampir 9 bulan lamanya.Tinggal menunggu hari saja hari persalinan Miranda terlaksana.Miranda dan Brian telah mempersiapkan segala kebutuhan persalinan nantinya.Rasa cemas seketika hinggap di benak Miranda saat hari persalinan semakin dekat.Ia sangat gugup menghadapi persalinan pertamanya ini.Melihat istrinya yang di landa kepanikan membuat Brian berusaha menenangkan hati istrinya dengan sesekali memberikan pelukan hangatnya untuk mengurangi rasa panik istrinya.


"Tenanglah,kamu dan bayi kita pasti baik-baik saja!"ujar Brian menenangkan.


"Aku hanya sedikit khawatir saja karena ini pengalaman pertama aku akan menjalani persalinan."terang Miranda masih dalam pelukan Brian.


"Aku sangat sayang kalian berdua."ungkap Brian.


"Kami juga mencintaimu Papa."seru Miranda.


"Oh iya,sebaiknya kita mulai memanggil satu sama lain dengan sebutan Papa dan Mama agar anak kita kelak mudah untuk mengenali kita."saran Brian.


"Iya,ya.Harusnya sejak dari pertama kehamilan kita melakukannya tapi baru kita sadari saat anak kita akan lahir ke dunia!"sesal Miranda.


"Tidak apa-apa.Belum terlambat untuk memulai dari sekarang khan Ma!"seru Brian.


"Iya Papa."sahut Miranda,lalu mereka tertawa bersama saat saling memanggil dengan sebutan tersebut.


Brian sangat senang melihat Miranda bisa tertawa seperti itu dan kepanikannya mulai perlahan-lahan sirna.Miranda juga menikmati kebersamaan mereka yang seperti ini dan sebentar lagi anggota keluarganya akan bertambah satu.Mereka sudah membayangkan betapa serunya keluarga kecil mereka nanti.


Pagi itu Miranda ingin pergi untuk kontrol ke dokter Siska untuk menanyakan persiapan persalinannya kelak.Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat dokter Siska praktek,tiba-tiba Miranda mengalami kontraksi sesaat.Brian pun di serang rasa panik dan segera menaikkan kecepatan mobilnya sedikit agar segera sampai di rumah sakit.Beberapa kali Miranda mencoba mengatur napasnya saat perutnya mengalami kontraksi yang sesaat muncul dan hilang secara teratur.Sesampainya di rumah sakit tujuan mereka,Miranda segera di periksa oleh dokter Siska yang sebelumnya menangani Miranda.Beberapa saat kemudian dokter Siska mengatakan jika Miranda akan segera melahirkan karena telah terjadi pembukaan yang berurutan.Segera pihak rumah sakit menyiapkan ruang bersalin untuk menangani persalinan Miranda.Tak lupa Brian menghubungi orang tua Miranda dan orang tuanya sendiri untuk mengabarkan hal ini.Segera Revan dan Nadia bergegas ke rumah sakit.Bram dan Lili juga segera berangkat dari rumah mereka menuju rumah sakit untuk menyambut kelahiran cucu mereka.

__ADS_1


Tak beberapa lama kemudian mereka berempat telah sampai dalam waktu yang hampir bersamaan dengan Bram dan Lili yang sampai terlebih dahulu di rumah sakit,kemudian di susul oleh Revan dan Nadia setelahnya.Petra datang seorang diri karena Putri juga sedang hamil besar sehingga tidak bisa ikut ke rumah sakit bersama Petra.Mereka semua gelisah sekaligus antusias menyambut kelahiran dari anak Brian dan Miranda.Brian tampak mondar-mandir di depan ruang persalinan menunggu kabar dari dokter.Sesaat kemudian terdengar suara tangisan bayi yang memecahkan keheningan pada petang hari itu.Semua orang merasa senang mendengar suara keras bayi yang baru Miranda lahirkan saat itu.Mereka masih harus menunggu bayinya dan ibunya dibersihkan barulah mereka boleh menjenguk ibu dan bayinya tersebut.Mereka sudah tidak sabar ingin melihat wajah dari bayi Miranda dengan Brian.Rasanya menunggu dokter memperbolehkan mereka masuk membuat mereka sedikit kehilangan kesabarannya.Hampir 1 jam mereka berada di depan ruang bersalin,dokter memperbolehkan mereka masuk untuk menjenguk Miranda dan bayinya pada akhirnya.


__ADS_2