Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 9 Pengantin pria tidak datang


__ADS_3

Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tempat acara.Dengan pasti mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung pernikahan.Suasana sudah cukup ramai dengan tamu di luar gedung acara.Beberapa teman dan kolega bisnis mereka tampak memenuhi bagian depan gedung dengan pakaian khas pesta.Sebelum acara di mulai mereka di arahkan untuk menunggu di suatu ruangan terlebih dahulu.Jantung Miranda berdetak kencang saat menunggu acara di mulai.Petra mencoba untuk menenangkan sang kakak yang terlihat jelas merasa gugup hingga beberapa kali meremas kedua tangannya.


"Tenang dong Kak.Sudah tak sabar malam pertama ya?"goda Petra.


"Dasar otak mesum.Tunggu saja kamu pasti merasakannya!"seru Miranda kesal.


"Cantik-cantik galak kayak macan."godanya lagi.


"Bodoh amat."jawab Miranda.


Petra tersenyum melihat wajah kesal sang kakak.Kali ini ia puas bisa menggoda kakaknya lagi setelah sekian lama mereka jarang bicara karena sibuk dengan bisnisnya.Sudah waktunya akad nikah berlangsung mempelai wanita dan pria di minta untuk menuju tempat acara bersama keluarga mereka.Mereka berjalan menuju tempat berlangsungnya akad nikah tetapi mempelai pria belum menampakkan batang hidungnya.Mereka memutuskan untuk menunggu beberapa saat tetapi Brian tak juga datang.Petra yang mulai gelisah mencoba menghubungi Ponsel Brian namun panggilannya tidak di angkat.Akhirnya Nadia mencoba menghubungi Lili dan panggilannya pun tidak di angkat.Mereka menjadi cemas dengan keadaan ini.Tamu sudah berkumpul tetapi acara belum juga di mulai.Revan mulai berpikiran buruk tentang Brian dan keluarganya.Ia merasa dipermainkan oleh mereka.Namun Nadia dan Petra meyakinkan ayahnya jika mereka tidak mungkin sanggup melakukan hal itu karena mereka sudah lama saling mengenal.Dan mereka yakin jika mereka keluarga yang baik dan belum pernah bermasalah sebelumnya.Namun sampai 1 jam berlalu mereka tidak kunjung datang hingga pernikahan pun terpaksa dibatalkan.Tamu undangan dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan setelah keputusan untuk membatalkan pernikahan diumumkan.Tanpa sadar air mata telah menetes di pipi Miranda.Wajah cantiknya berubah muram seketika saat tamu mulai membubarkan diri.Betapa sakit hatinya menerima kenyataan ini.Ingin rasanya ia menghilang dari dunia atas rasa kecewa dan malu yang ia terima.Terlebih orang yang telah mengecewakannya adalah orang yang dicintainya.Di balik pintu gedung seorang pria tersenyum puas melihat keadaan ini.Sepertinya ia tahu apa yang terjadi di balik kejadian ini.


Di tempat lain seorang pria masih dengan mengenakan jas putih dan 2 orang setengah baya tertidur di suatu rumah kosong.Pria tersebut terbangun dari tidurnya dan ia masih dalam keadaan terikat tangan dan kakinya.Saat tersadar ia mulai berteriak-teriak untuk dilepaskan.


"Lepaskan kami,lepaskan!"teriaknya penuh emosi.


Tak ada jawaban dari siapa pun.Dia mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya.Saat itu dia di tengah perjalanan menuju tempat acara pernikahan dan sebuah mobil menghentikannya di tengah jalan.Saat ia turun dari mobil bermaksud untuk meminta jalan agar ia bisa lewat,tiba-tiba mulutnya di bekap dari belakang oleh seseorang dan kemudian ia tidak ingat lagi apa yang terjadi.Sesaat kemudian 2 orang setengah baya itu pun mulai tersadar.


"Pa,Ma.Kalian tak apa-apa?"tanya Brian masih dengan tangan terikat.


"Di mana ini?kenapa kita ada di sini?"tanya Lili bingung.


"Ada apa ini sebenarnya?"tanya Bram.


"Sepertinya kita di sekap Pa,Ma!"jawab Brian.


"Siapa yang melakukan ini,berani-beraninya dia!"ucap Bram geram.


"Apa salah kita?"tanya Lili heran.


"Sepertinya ada seseorang yang ingin menggagalkan pernikahanku!"jelas Brian yakin.


"Tapi siapa dia?"tanya Bram.


"Nanti akan aku cari tahu Pa,yang terpenting kita bisa keluar dari tempat ini dulu."seru Brian.


Brian mulai berusaha menggerakkan tubuhnya agar bisa terduduk kemudian mencari-cari benda yang bisa digunakan untuk memotong tali yang mengikatnya.Beberapa kali terlihat ia menengok ke kanan dan ke kiri hingga ia melihat sebuah pecahan guci berserakan di lantai.Ia mencoba untuk meraihnya perlahan-lahan dan memastikan untuk bisa mendapatkannya.Setelah berusaha dengan susah payah ia bisa mendapatkannya dan langsung menggunakannya untuk memotong ikatan di tangannya.Tak semudah yang diperkirakan ternyata butuh waktu lumayan lama tali tersebut bisa terpotong.Setelah dapat memotong tali di pergelangan tangannya ia melepaskan tali di pergelangan kakinya dan tali yang mengikat kedua orang tuanya.Saat ia akan keluar dari tempat tersebut beberapa orang menghadangnya.Perkelahian tak bisa terelakkan lagi.Brian di keroyok oleh 4 orang sekaligus.Untungnya ia memiliki kemampuan bela diri yang cukup mumpuni sehingga ia bisa menjatuhkan seluruh lawannya dengan mudah meskipun beberapa kali pukulan sempat mendarat di wajahnya.Setelah berhasil lepas dari sekelompok orang yang menyekapnya,Brian segera menghubungi seseorang kenalannya untuk meminta pertolongan untuk menjemputnya.Sialnya ponsel miliknya tertinggal dan ponsel ayahnya sedang kehabisan baterai.Hanya ponsel milik sang ibu yang tersisa untuk menghubungi orang tersebut.Ia segera menghubungi orang tersebut menggunakan ponsel milik Lili.

__ADS_1


"Maaf Ma,aku pinjam sebentar ponsel Mama!"ucap Brian terburu-buru.


Sesaat kemudian panggilan ponselnya di terima dan ia meminta seseorang di ujung sana untuk menjemputnya.


"Tolong segera jemput kami!akan aku kirim lokasinya!"titah Brian pada orang tersebut.


Kemudian ia mengembalikan ponsel ibunya.


"Terima kasih Ma!"ucapnya.


"Iya,apa kita segera di jemput?"tanya Lili.


"Iya Ma,sabar ya Ma.Tempat ini cukup jauh dari rumah kita!"jelas Brian.


"Setelah ini kita harus mencari dalang di balik semua ini!"ungkap Bram.


"Pasti Pa,aku pastikan mereka menyesalinya!"ancam Brian.


Satu jam kemudian sebuah mobil melaju dengan cepat dan berhenti tepat di hadapan mereka.Stenley keluar dari dalam mobil untuk menyambut mereka.


"Maaf Pak,saya terlambat!"sesalnya.


"Baik Pak,silahkan masuk!"ucap Stenley.


"Mari Pa,Ma,kita pulang!"ajak Brian.


Di tengah perjalanan Brian menghela napas panjang.Ia berpikir bahwa Miranda pasti kecewa karena pernikahan mereka pasti telah dibatalkan.Jauh di dalam hati Brian,ia pun juga merasa kecewa atas kejadian ini dan pastinya ia akan mencari tahu orang yang telah menyekapnya bersama kedua orang tuanya.


"Sten,apa memungkinkan untuk mencari bukti atas penculikan ini di tempat kejadian?"ucap Brian.


"Akan saya coba cari tahu Pak!"jawab Stenley.


Di kediaman Revan,Miranda terus mengurung diri di dalam kamarnya.Kedua orang tuanya bisa memahami kesedihan yang di alami Miranda.Petra pun sudah mencoba membujuk tetapi tidak juga berhasil.Hingga malam tiba Miranda masih tidak mau keluar dari kamarnya bahkan ia tidak makan sejak siang tadi.Tiba-tiba saat mereka tengah dalam kecemasan memikirkan keadaan Miranda,seseorang datang menemui mereka.


"Selamat malam,Om,Tante!"sapanya.


"Selamat malam.Siapa kamu?"tanya Revan.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Ardi.Saya teman kuliah Miranda dulu!"jawabnya lantang.


"Mau apa kamu datang ke sini?"tanya Petra sinis.


Ia tahu pasti siapa Ardi sebenarnya.Dia orang yang dulu pernah menggoda kakaknya dan sempat berbuat kasar pada kakaknya saat masih kuliah dulu.


"Maaf teman,aku hanya berkunjung sejenak saja!"ucapnya dengan senyum angkuhnya.


"Cepat katakan apa maumu?"tanya Petra lagi.


"Aku dengar calon suami kakakmu lari dari pernikahannya.Aku rasa ia hanya ingin bermain-main saja dengan Miranda!"ucap Ardi memprovokasi.


"Apa maksudmu,apa kamu tahu sesuatu?"tanya Revan.


"Jangan terlalu percaya pada ucapannya Pa,dia itu orang yang berambisi dan angkuh!"tekan Petra.


"Terserah,jika kalian tak percaya padaku.Tapi yang jelas aku siap menjadi penggantinya."ucapnya puas.


"Sudah ku duga itu yang akan kau katakan.Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga!"usir Petra murka.


"Pertimbangkan lagi tawaranku atau kalian akan mendapat malu!"tegasnya.


"Aku tidak akan mengijinkan kakakku menikah dengan orang licik sepertimu.Mencari kesempatan dalam kesempitan!"umpat Petra.


"Saya tunggu kabarnya Om,Tante.Saya permisi dulu!"pamitnya lalu beranjak pergi dari kediaman Revan.


"Dasar orang gila.Nekat sekali ia datang kemari!"seru Petra.


"Pa,apa sebaiknya kita nikahkan saja Miranda dengan Ardi?setidaknya kita tidak mendapat malu karena telah membatalkan pernikahan ini!"ungkap Nadia pasrah.


"Papa tak tahu lagi harus bagaimana Ma!"jawab Revan.


"Ma,Pa.Jangan tertipu dengan hasutannya.Aku percaya ada sesuatu di balik ketidakhadiran Brian kemarin!"ungkap Petra.


Tanpa mereka sadari Miranda mendengar semua pembicaraan mereka.Awalnya ia ingin mulai menerima kenyataan yang ada tapi mendengar penuturan kedua orang tuanya ia kembali bersedih.


"Pa,Ma.Aku tak ingin lagi menikah jadi biarkan aku mengambil keputusan sendiri dalam hidupku!"ucapnya lemah sambil berlari menuju kamarnya lagi.

__ADS_1


Di dalam kamarnya ia kembali menangis meluapkan kesedihan yang dirasakan.Ia sama sekali tak mendapat kabar dari Brian dari kemarin.Rasanya saat itu adalah mimpi buruk baginya.Mungkinkah benar kata Ardi bahwa Brian mempermainkan perasaannya.Di sisi lain Petra sedih dengan keadaan kakaknya.Ia secara sembunyi-sembunyi menyelidiki di balik hilangnya Brian dan kedua orang tuanya.Ia yakin Brian tidak mungkin tega mengkhianati kepercayaannya.Terlebih lagi Brian mengaku padanya bila ia sangat mencintai Miranda.3 hari berlalu setelah kejadian itu Brian memberi kabar pada Petra lewat ponselnya.Ia ingin bertemu dengan Miranda dan kedua orang tuanya di suatu tempat.Ia ingin Petra merahasiakan pertemuan ini agar keselamatan mereka terjaga.


Di suatu tempat di kediaman Ardi ia bahagia karena ia pikir orang tua Miranda akan menyetujui dirinya menjadi suami Miranda.Dengan percaya diri ia yakin jika Miranda akan menerimanya setelah Brian mengecewakannya.


__ADS_2