Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 6 Rencana Verlan


__ADS_3

Sekian lama menyelidiki keluarga Miranda,Verlan telah mengantongi informasi mengenai Revan ayah Miranda yang merupakan pemilik Mandala Grup.Ia mencoba mencari celah dari perusahaan milik Revan agar bisa mendapatkan hati Miranda.Setelah mendapatkan informasinya,Verlan mulai menyusun rencana.Verlan akan menggunakan perusahaan ayahnya sebagai alasan mengambil kesempatan dalam rencananya.Verlan adalah anak dari Herman pemilik perusahaan yang cukup terkenal Harda Grup.Perusahaan tersebut sama besar dengan perusahaan milik ayah Miranda.Saham mereka juga tertanam di beberapa perusahaan besar lain termasuk Mandala Grup.Tetapi setelah kelulusannya,Verlan justru lebih sibuk dengan rencananya di banding mengurus perusahaan ayahnya.Meski sudah sering ayahnya meminta agar ia mau membantu mengelola perusahaan,tetapi ia tak pernah menghiraukannya.Verlan yang merupakan anak tunggal dikeluarganya merasa dirinya bisa mendapatkan apa yang diinginkannya karena ia tidak memiliki saudara untuk berbagi.Semenjak kecil ia sudah terbiasa apa yang diinginkannya selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya.Saat ini ia juga berpikir kalau kemauannya akan terpenuhi juga.Dengan terpaksa ia ikut mengelola perusahaan ayahnya agar bisa melaksanakan rencananya.Ayahnya yang tidak mengetahui rencana di balik keikutsertaannya dalam mengelola perusahaan,menyambutnya dengan suka cita.


"Kamu sungguh mau ikut mengelola perusahaan?"tanya Herman tidak percaya.


"Iya Pa!"jawabnya singkat.


"Papa senang mendengarnya."ungkap Herman senang.


"Tapi aku ada permintaan khusus,aku harap Papa bisa memenuhinya!"pintanya.


"Oke,ayah usahakan."ucap Herman menyetujui.


Verlan tersenyum puas mendengar persetujuan ayahnya.Keesokan harinya ia mulai aktif mengelola perusahaan ayahnya.Meski ia tidak serius dalam memimpin perusahaan ayahnya dan terkesan hanya main-main,yang terpenting baginya ia sudah bersedia menuruti permintaan ayahnya.


Di tempat lain Putri,Sasi,David,dan Ferdi sedang merencanakan reuni kecil-kecilan sekedar untuk berkumpul bersama sahabat dekat saja.Satu persatu sahabat mereka satu kampus dulu,mereka undang melalui sambungan telepon.Miranda,Verlan,Petra dan Brian mereka undang dalam pertemuan mereka.Minggu depan adalah waktu yang pas untuk mereka mengadakan acara tersebut.Di samping bertepatan dengan hari libur,mereka semua memiliki waktu luang untuk bisa datang.Memang sudah lama mereka tidak bertemu sejak kelulusan waktu itu.Masing-masing dari mereka sibuk dengan bisnis masing-masing.Akhirnya mereka bisa bertemu setelah sekian lama tidak pernah bertemu.Hari yang di tunggu telah tiba.Miranda datang bersama Petra dan Brian yang waktu itu datang ke rumah karena Miranda memintanya datang untuk memperkenalkan Brian kepada kedua orang tuanya sebagai pacar Miranda.Respon kedua orang tuanya juga tidak buruk,terlebih Brian telah sukses meniti karirnya dengan hasil jerih payahnya sendiri.Usai perkenalan itu,mereka segera berangkat menuju lokasi pertemuan agar tidak terlambat sampai tujuan.Di sebuah restoran mewah di tengah kota itu tampak ramai dengan orang kelas atas yang sedang menikmati makan malam bersama pasangan.Miranda menggandeng tangan Brian dengan mesra memasuki restoran tersebut di susul Petra adiknya.Sesampainya di dalam restoran mereka di arahkan seorang pelayan menuju meja tempat mereka berkumpul.Di sana sudah berkumpul Putri,Sasi,David dan Ferdi.Miranda,Brian,dan Petra pun duduk bersebelahan dan tak lama kemudian Verlan datang.


"Kalian pacaran?"tanya Ferdi pada Miranda dan Brian ketika melihat mereka datang sambil bergandengan tangan.


"Iya,sejak kuliah dulu hingga sekarang."ungkap Miranda sambil melempar senyum manisnya.


"Sengaja dirahasiakan ya?"seru Sasi kesal.


"Maaf,waktu itu kita harus fokus kuliah dulu."ucap Brian menjelaskan.


"Iya kalau diberitahu waktu itu,pasti mahasiswa satu kampus bakal tahu semua."ungkap Petra.


"Iya,kalian khan suka gembar-gembor.Khan malu kita."tambah Miranda.


Mendengar pengakuan Miranda dan Brian membuat Verlan kembali terbakar api cemburu.Kecewa sudah pasti ia rasakan saat itu,tapi ambisinya mengalahkan segala yang ia rasakan.Ia akan tetap menjalankan rencana yang telah disusunnya.Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang hingga larut malam.


"Oya,kapan rencana menikah?"tanya Ferdi pada Miranda.


"Belum tahu pasti!"jawab Miranda.


"Secepatnya kalau bisa."ungkap Brian sambil menatap Miranda penuh cinta.


"Ya,semoga bisa terlaksana."harap Petra.


"Kalau kamu tampan,sudah ada calon belum?"tanya Sasi genit.

__ADS_1


"Sudah,itu calonku!"ucap Petra sambil menunjuk ke arah Putri.


Semua mata tertuju pada Putri saat Petra mulai menunjuknya tadi.


"Maaf,ini salah paham,aku,aku tidak tahu apa-apa!"jelasnya.


"Kamu mulai sembunyi-sembunyi juga dari kita?"ungkap Sasi kesal.


"Jangan asal bicara Petra,jadi salah paham semua nih gara-gara kamu!"seru Putri bingung.


"Memang kamu tidak mau jadi calon aku?"tanya Petra pada Putri.


"Sudahlah jangan buat semua orang jadi salah paham."elak Putri.


"Aku serius.Kamu mungkin lupa meeting minggu lalu dan kamu mempresentasikan cara kerja perusahaan ayahmu dan akhirnya kita menandatangani kontrak kerja sama."jelas Petra.


"Jadi kamu Direktur Mandala Grup?"tanyanya terkejut.


"Tak salahkan kalau aku punya hubungan dengan klien sendiri?"ucapnya lagi.


"Mana ada pria melamar wanita seperti itu!"ejek Miranda sambil mencebikkan bibirnya.


Putri hanya tersenyum geli mendengar ejekan Miranda pada Petra.Petra hanya memutar bola mata karena jengah menanggapi kata-kata kakaknya.Lalu ia kembali menatap Putri dan melanjutkan obrolannya.


"Bagaimana tanggapanmu?"tanya Petra lagi kepada Putri.


"Aku kurang yakin pria dingin sepertimu akan serius!"ucapnya mencela.


Miranda tertawa terbahak-bahak dengan ucapan yang dilontarkan Putri pada adiknya.


"Makanya sekali-sekali kamu perlu pendekatan dulu dengan wanita,jangan asal melamar saja!"saran Miranda.


"Aku tak mau membuang waktu untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.Kalau cocok mending langsung menikah."ucap Petra enteng.


"Kamu pikir menikah semudah membalikkan telapak tangan,adikku sayang!"seru Miranda.


"Kok jadi kalian berdua yang berdebat?"seru Brian bingung.


"Iya juga ya."jawab Miranda.

__ADS_1


"Setiap orang itu punya cara sendiri untuk menyatakan cinta,jadi kamu jangan ikut campur,Sayang!"ujar Brian sambil mengecup tangan Miranda.


Miranda hanya mengangguk mendengar penjelasan Brian.Melihat kemesraan Brian dan Miranda,Verlan memendam amarahnya.Ia akan beraksi di waktu yang tepat.Lewat tengah malam mereka mengakhiri pertemuan itu dan beranjak pulang ke rumah masing-masing.Sesampainya di rumah Miranda,Brian langsung pamit pulang karena hari telah malam.Setelah kepulangan Brian,Petra dan Miranda bergegas masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.Malam itu karena rasa lelah yang mereka rasakan membuat mereka tidur lelap hingga pagi menjelang.


Mentari mulai menampakkan wajah di balik pepohonan yang rimbun oleh daunnya.Pagi menyapa dengan manja dengan hawa dingin yang menusuk tulang membuat mata enggan terbuka.Kicau burung bernyanyi bersahut-sahutan menyambut hari yang cerah.Kupu-kupu menari indah di taman mengitari bunga yang bermekaran.Alam nampak mendukung indahnya pagi ini dengan angin yang berhembus menyejukkan segenap jiwa insan yang menghirup udara pagi ini.Sejenak Miranda membuka mata,lalu mengerjapkan mata kemudian beranjak dari tidurnya untuk segera mandi dan bersiap menuju kantor.Saat pintu kamar terbuka,bersamaan dengan itu Petra keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian rapi,siap untuk berangkat kerja.Mereka turun menuju ruang makan bersama-sama dan menyapa ibunya yang sudah duduk manis di ruang makan untuk sarapan.Sang ayah tak terlihat batang hidungnya pagi ini untuk sarapan bersama mereka.Miranda mulai mencari-cari keberadaannya saat telah duduk di atas kursinya.


"Papa mana Ma?"tanya Miranda.


"Papa berangkat pagi sekali ke luar negeri katanya ada meeting penting di Belanda!"jawab Nadia.


"Kenapa mendadak Ma,bukannya kalau ke luar negeri selalu merencanakannya jauh-jauh hari ya?"Ucap Petra.


"Entahlah,Mama juga kurang tahu sebabnya!"seru Nadia.


Kemudian mereka melanjutkan sarapannya.Usai sarapan,Miranda dan Petra langsung berangkat menuju kantornya.Hari itu Nadia merasa kesepian karena anak dan suaminya sama-sama sibuk bekerja.Ia hanya seorang diri di rumah ditemani pelayan dan asisten rumah tangga.Terkadang ia minta pelayan atau asisten rumah tangganya untuk sekedar menonton televisi atau makan siang bersama.Nadia adalah majikan yang supel kepada pegawai yang dipekerjakannya.Ia baik dan tidak pernah memandang status seseorang dari pekerjaan mereka.Sungguh mereka beruntung memiliki majikan seperti Nadia tak hanya cantik dari penampilan,tetapi cantik hati pula.Di ruangan masing-masing,Miranda dan Petra sibuk dengan laptopnya.Sambil sesekali merebahkan punggungnya pada sandaran kursi Miranda beristirahat sejenak.Di tengah kesibukannya,asisten pribadinya yang bernama Nina mengetuk pintu ruangannya.


"Maaf Bu,ada tamu yang ingin bertemu Ibu!"ucapnya.


"Baiklah,persilahkan masuk ke ruangan saya!"titah Miranda.


"Baik bu!"jawab Nina.


Sesaat kemudian seseorang membuka pintu ruangannya dan ternyata ia adalah Verlan.


"Hai Mir!"sapa Verlan.


"Verlan,ada apa kamu kemari?"tanya Miranda terkejut.


"Tak ada apa-apa,cuma ingin menyampaikan bahwa besok aku dan orang tuaku ingin berkunjung ke rumahmu!"ucapnya menjelaskan.


"Boleh tahu apa tujuan kalian datang ke rumah?"tanya Miranda.


"Nanti kamu tahu sendiri.Aku harap kamu ada di rumah dan beri kabar ini pada kedua orang tuamu!"titahnya.


"Baiklah kalau begitu."sahut Miranda.


"Aku permisi dulu,maaf sudah mengganggu waktumu!"pamitnya.


"Silahkan."jawab Miranda singkat.

__ADS_1


Jauh di dalam hatinya setelah kepergian Verlan ia merasa ada yang aneh tetapi dia tak ingin berburuk sangka kepada Verlan.Perasaannya menjadi kacau mendengar Verlan akan datang ke rumahnya terlebih lagi ia membawa kedua orang tuanya.Miranda tak mengerti maksud dan tujuan Verlan berkunjung ke rumahnya.Ia hanya dapat bertanya di dalam hati tanpa tahu jawaban pastinya.


__ADS_2