Biarkan Aku Mencinta

Biarkan Aku Mencinta
Bab 25 Keinginan melamar Putri


__ADS_3

2 bulan berlalu Petra masih saja menjalin hubungan dengan Putri tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.Hanya kakaknya yang mengetahui hubungan Petra dengan Putri.Kakaknya yang sudah kembali rukun dengan ayahnya tetap bersih keras ingin tinggal di rumah yang Brian Beli.Ia ingin hidup mandiri dengan suaminya dan tak ingin bergantung pada kedua orang tuanya.Brian juga menyetujui keputusan Miranda asal istrinya itu merasa senang dan bahagia.Meski begitu Miranda sering meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah orang tuanya dengan ijin dari Brian tentunya.Tak jarang Brian akan menjemputnya pulang saat Miranda berada di sana sambil menunggu kepulangannya dari kantor.Saat akhir pekan,Miranda dan Brian sering menginap di sana untuk melepaskan rasa rindu antara anak dan orang tua.Terkadang mereka juga menginap di rumah orang tua Brian agar sama-sama merasa diperhatikan terlebih Brian adalah anak satu-satunya.Ketika Miranda menginap di rumah Revan,Petra selalu mengajak kakaknya untuk mendengarkan ceritanya dan sekedar membagi pengalaman atau mengeluarkan isi hatinya.Dengan seksama Miranda mendengarkannya dan Miranda merupakan pendengar yang baik bagi adiknya.


"Kak aku mau melamar Putri!gimana menurut Kakak?"seru Petra meminta pendapat Miranda.


"Aku sih oke saja,tapi apa kamu sudah minta ijin Papa sama Mama?" tanya Miranda mengingatkan.


"Belum Kak!"sahut Petra.


"Kamu tahu sendiri Papa seperti apa,jadi jangan sampai melangkahi persetujuan Papa!"saran Miranda.


"Iya Kak,tapi aku ragu Papa mau menerimanya!"seru Petra khawatir.


"Coba saja dulu!kalau Papa menolak kamu bisa yakinkan Papa khan.Mama juga pasti bantu kamu,tapi maaf aku tak bisa membantu karena pasti akan berakhir dengan adu mulut pada akhirnya!"jelas Miranda.


"Oke Kak,makasih ya sarannya!"ucap Petra dengan senyun terkembang di wajahnya.


Memang tidak salah Petra menjadikan Miranda sebagai tempat curhatnya karena Miranda selalu memberi saran yang logis untuknya tidak hanya urusan percintaan tapi juga untuk urusan pekerjaan juga.


Setelah mendengar saran dari Miranda,hari ini Petra ingin membicarakan hal ini pada kedua orang tuanya.Ia tidak ingin menunda-nunda lagi rencananya untuk segera melamar Putri.Saat malam tiba dan semua keluarga berkumpul di rumah,Petra mulai mengatakan kepada kedua orang tuanya tentang rencananya tersebut.Saat kedua orang tua Petra sedang duduk-duduk di ruang tengah,Petra mulai membuka pembicaraan.


"Pa,Ma.Petra mau bicara sebentar bisa?"seru Petra meminta ijin.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sih Sayang?"tanya Nadia pada Petra.


"Begini Ma,Pa.Petra mau melamar wanita yang Petra cintai.Petra hanya mau minta ijin kepada Mama dan Papa."sahut Petra.


"Siapa wanita itu!"tanya Revan.


"Putri Pa.Dia dulu teman kuliah Kak Miranda tapi sekarang ia pimpinan perusahaan yang memenangkan proyek pembangunan sebelumnya."ungkap Petra.


"Yang benar saja kamu,kamu mau menikahi rivalmu sendiri?"ucap Revan menolak.


"Masih mending Putri daripada Seyla Pa.Paling tidak dia bersaing secara sportif daripada Seyla yang bermain curang!"jelas Petra.


"Papa tidak setuju dengan pilihanmu.Papa tidak mau kamu hanya dimanfaatkan olehnya."ucap Revan bersih keras.

__ADS_1


"Terserah Papa mau setuju atau tidak yang pasti Petra akan tetap menikahi Putri dengan atau tanpa restu kalian!"seru Petra sambil beranjak pergi dari sana.


"Ada apa dengan mereka semua?selalu saja bertindak semaunya sendiri.Apa mereka sudah tidak menganggap orang tuanya lagi?"seru Revan kesal.


"Pa,sebaiknya untuk masalah hati jangan disangkutpautkan dengan bisnis Pa.Ingat apa yang baru saja kita lewati!karena keinginan Papa untuk menikahkan Petra dengan klien besar Papa berapa kerugian yang kita terima?Papa mengalami kerugian mental dan finansial bukan?tolong beri kesempatan dia untuk memilih jalannya sendiri.Bukankah selama ini Miranda dan Petra selalu menuruti Papa?sekarang saatnya mereka memilih jalan sendiri!"jelas Nadia pada Revan.


"Tapi bagaimana kalau kekhawatiranku terjadi Ma?"sahut Revan.


"Mereka sudah dewasa.Mama yakin mereka bisa mengatasinya sendiri!"jawab Nadia.


"Baiklah kalau begitu,Papa ikut saran Mama!"seru Revan.


Masih dengan amarahnya Petra masuk ke dalam kamarnya.Dia tidak akan berhenti hanya karena ayahnya tidak menyetujui hubungannya dengan Putri.Bagaimanapun juga Petra akan memperjuangkan cintanya pada Putri.Masih bergelut dengan pikirannya sendiri tiba-tiba Nadia menemui Petra di kamarnya.


"Sayang,Mama boleh masuk?"seru Nadia sambil mengetuk pintu kamar Petra.


"Masuk saja Ma,tidak di kunci kok!" teriak Petra dari dalam kamarnya.


"Mama mau bicara soal yang barusan kamu katakan!"ujar Nadia.


"Petra tetap akan memperjuangkan cinta Petra Ma,tidak peduli Papa larang Petra!"seru Petra keras kepala.


"Benarkah Ma!"ucap Petra senang.


"He em!"ucap Nadia sambil tersenyum.


"Makasih ya Ma!"ucap Petra sambil memeluk erat ibunya.


Melihat Petra yang demikian membuatnya terharu karena ia ingat saat Petra masih kecil,Petra seringkali memeluknya.


Tapi semenjak Petra beranjak dewasa hal itu sudah tak lagi dia dapatkan.Mungkin karena anak-anaknya mulai malu jika melakukan hal itu saat mereka sudah beranjak dewasa.Namun bagi Nadia anaknya masih tetap seperti anak-anaknya yang dulu.Ia masih akan memperhatikan mereka serta mengawasi mereka walaupun dari jauh.


Hari itu Petra bisa tidur dengan nyenyak karena harapannya akan segera terwujud.Rasanya hal ini seperti mimpi,akhirnya ia bisa menepati janjinya pada Putri.Tak sabar Petra ingin segera melamar Putri.Waktu seakan berputar lama sekali.Petra tak melewatkan kesempatan itu untuk memberitahukan kepada kakaknya.Ia pun segera menelepon sang kakak untuk menceritakan hal tersebut.Dering ponsel di ujung sana berbunyi dan terdengar suara Miranda dari ujung sana.


"Ada apa?"tanya Miranda.

__ADS_1


"Gitu amat Kak jawabnya?"seru Petra.


"Oke deh adikku yang paling tampan.Ada keperluan apa adikku ini meneleponku!"sahut Miranda.


"Ya nggak gitu juga kali Kak!risih tahu dengarnya!"ujar Petra.


"Begini salah begitu salah,terus aku mesti gimana dong?"balas Miranda.


"Ya sudah lah.Kak aku mau cerita nih!"ucap Petra penuh semangat.


"Kenapa dapat tender baru,menang lotre apa dapat undian berhadiah?"seru Miranda kocak.


"Ya ampun Kak,serius kenapa!"sahut Petra.


"Habis antusias banget jadi aku pikir dapat barang berharga!"seru Miranda.


"Emang berharga bagiku Kak!"seru Petra.


"Apa itu?"tanya Miranda penasaran.


"Papa udah ijinin aku lamar Putri!"seru Petra senang.


"Bahagia ya kamu!"balas Miranda.


"Iya Kak,tadinya Papa tolak keputusanku tapi aku bilang pada Papa meski Papa tidak setuju aku akan tetap menikahi Putri."cerita Petra.


"Lalu?"sahut Miranda.


"Lalu Mama bicara sama Papa dan akhirnya Papa setuju kasih kesempatan aku buat mencari pasangan hidup sendiri.Semua kata Kakak itu benar Kak!"ucap Petra.


"Iya dong,Kakak gitu lho!"sahut Miranda.


"Jangan-jangan Kakak ada kemampuan seperti cenayang gitu?"canda Petra.


"Suka-suka ya kalau bicara.Lain kali aku nggak mau kasih solusi lagi!"ancam Miranda.

__ADS_1


"Bercanda Kak,jangan marah dong.Aku itu selalu butuh saran Kakak!"bujuk Petra.


Setelah lama mengobrol lewat telepon akhirnya Petra menyudahi panggilan teleponnya karena hari sudah larut malam.Petra harus segera pergi tidur karena besok tugas kantor sudah siap menunggunya di meja kerjanya.


__ADS_2