
Hingga Petra kembali pulang dari kantornya,Putri masih setia merebahkan diri di ranjang kamarnya.Saat Petra masuk ke dalam kamarnya pun Putri tidak mengetahuinya karena matanya masih terpejam.Petra segera membersihkan dirinya terlebih dahulu dan berganti pakaian kemudian menyusul Putri naik ke ranjang,tetapi tiba-tiba Putri terbangun oleh Petra yang berada di sana.Putri menolak kehadiran Petra didekatnya dengan alasan Petra bau dan Putri tak mau berdekatan dengannya.Dengan wajah memelas Petra pergi dari kamarnya dan keluar menuju ruang tamu menemui ibu mertuanya.
"Ma,bolehkah Petra bertanya?"tanya Petra.
"Memang apa yang ingin kau tanyakan pada Mama?"sahut ibu Putri.
"Apa Petra bau ya Ma?padahal Petra sudah mandi dan berganti pakaian.Petra juga sudah memakai parfum tetapi mengapa kata Putri,Petra ini masih bau ya Ma?"tanya Petra kesal.
"Ha ha ha ha...ups maafkan Mama ya!"seru ibu Putri sambil tertawa renyah kemudian menahan tawanya.
"Mengapa Mama tertawa?"tanya Petra bingung.
"Lucu saja melihatmu seperti itu."seru ibu Putri sambil tersenyum.
"Apanya yang lucu Ma!"gerutu Petra.
"Ya sikapmu itu.Putri itu sedang hamil dan bawaan tiap orang yang hamil itu berbeda-beda.Contohnya ada wanita yang hamil mengidam dan ada yang tidak,ada yang temperamental ada juga yang mudah bersedih,ada yang manja kepada suami dan ada juga yang benci dengan bau suami seperti yang kamu alami saat ini."ucap ibu Putri sambil tersenyum geli.
"Jadi memang begitu ya Ma,lalu berapa lama Putri akan seperti ini kepada Petra Ma?"tanya Petra sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal dan memanyunkan bibirnya.
"Sampai melahirkan mungkin."seru ibu Putri asal.
"Ya ampun Ma!lama sekali!"sahut Petra kaget.
"Ya mau bagaimana lagi,terima saja ya!"bujuk Mama Putri.
Mendengarkan ibu Putri mengatakan hal itu membuat Petra berputus asa.Dengan langkah gontainya ia kembali ke kamar tetapi tidak berani masuk ke dalam kamar hanya menatap Putri dari luar kamar.Petra akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar tamu agar tidak mengganggu kenyamanan Putri.
Melihat Petra tidur di kamar tamu membuat ayah Putri yang baru saja pulang kerja mulai bertanya-tanya tentang keberadaannya di sana.
"Ma,mengapa menantu kita berada di kamar tamu?"tanya ayah putri heran.
"Ha ha ha,jangan bikin Mama tertawa lagi Pa!"seru ibu Putri kepada suaminya sambil tertawa lepas.
__ADS_1
"Mama ini mengapa jadi tertawa tak jelas begini sih?"tanya ayah Putri semakin bingung.
"Putri sedang hamil Pa!"seru ibu Putri memberitahu suaminya.
"Putri hamil,bukankah harusnya Petra senang,tapi mengapa jadi pindah kamar sih?"tanya ayah Putri.
"Iya itu Pa,masalahnya Putri tak mau berdekatan dengan Petra karena bawaan bayi."jelas ibu Putri.
"Ha ha ha,lucu sekali mengidamnya."seru ayah Putri sambil terbahak-bahak.
"Tuh khan,Papa juga ikut tertawa juga."seru ibu Putri.
"Tapi kasihan juga Petra sampai terusir begitu kesannya."ujar ayah Putri.
"Mau bagaimana lagi Pa,itu juga bukan kemauan Putri juga khan!"ucap ibu Putri.
"Iya juga sih.Ya sudahlah Papa mau mandi dan ganti baju dulu,gerah sekali!"pamit ayah Putri dengan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di dalam kamarnya.
Setelah keluar dari kamar mandi,ayah Putri tidak melihat istrinya berada di sana dan ayah Putri kemudian keluar kamar untuk bersantai di ruang tamu.
"Mendung amat wajahnya?"tanya ayah Putri membuka pembicaraan kepada Petra.
"Iya Pa,lagi pusing."sahut Petra singkat.
"Mama sudah cerita kok.Kamu yang sabar ya!"seru ayah Putri.
"Iya Pa."sambut Petra.
"Namanya juga lagi hamil jadi agak sensitif dan kadang memang aneh-aneh permintaannya."lanjut ayah Putri.
Petra hanya mengangguk lemah sambil menatap wajah mertuanya.Tak beberapa lama makan malam telah tersedia dan semua orang telah siap di meja makan untuk menikmati makanan yang telah tersedia.Tak beberapa lama kemudian Putri keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan untuk makan bersama.
"Wah,calon ibu sudah mau keluar kamar ternyata!"goda ayah Putri.
__ADS_1
"Iya,Pa.Setelah istirahat tadi aku sudah lumayan baik."sahut Putri.
Petra masih tidak berani berkata,hanya sekilas melirik ke arah Putri kemudian melanjutkan makannya.Setelah makan Petra berlalu dari ruang makan menuju ruang tengah untuk menonton televisi di sana.
Sesaat kemudian Putri menyusul Petra ke ruang tengah dan mulai mengobrol dengan Petra.
"Kamu mengapa diam saja hari ini?"tanya Putri.
"Aku tak apa-apa kok."sahut Petra.
"Mengapa kamu tidur di kamar tamu?"tanya Putri lagi.
"Aku tak mau mengganggu zona nyamanmu."balas Petra seolah menyindir.
"Maaf ya,bukan maksudku untuk mengusirmu dari kamar,aku hanya tiba-tiba berubah selera."sesal Putri.
"Aku sungguh tak apa-apa kok Sayang.Lagipula aku tahu ini semua bukan kesalahanmu.Demi anak kita aku rela."sambut Petra.
"Ta,tapi sebenarnya saat kamu tak kembali ke kamar aku sangat merindukanmu tetapi mengapa terkadang aku justru kesal melihatmu?itu membuatku tak mengerti."jelas Putri secara gamblang.
"Sudahlah sementara kita jalani saja apa adanya karena itu juga demi anak kita."saran Petra sambil tersenyum kepada Putri.
"Apa kamu bisa kembali tidur bersamaku malam ini?"tanya Putri.
"Kamu yakin akan baik-baik saja ketika kita dalam satu ruangan yang sama?"Petra balik bertanya.
"Aku rasa jika hanya tidur masing-masing pasti semua masih aman.Aku tidak mau kita pisah kamar seperti ini.Kata orang tidak baik jika sudah menikah sampai pisah kamar begini."terang Putri.
"Aku sendiri juga tidak mau seperti ini hanya saja aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman saat ada aku di kamar."jelas Petra.
"Sudahlah jangan begini lagi,aku jadi makin bersalah jika membiarkanmu tidur di kamar tamu."rajuk Putri.
"Baiklah,aku akan kembali ke kamar kita."seru Petra menuruti kemauan istrinya itu.
__ADS_1
Putri tersenyum mendengarnya dan mereka kembali ke kamar berdua meski tidak bisa saling bermesraan karena takut Putri akan terganggu lagi.Dengan begitu mereka jauh lebih baik di banding harus tidur di kamar yang berbeda.Entah sampai kapan mereka harus menjaga jarak seperti ini.Tetapi Petra masih bersyukur karena Putri masih peduli dengan perasaannya dan memintanya untuk kembali tidur bersama.Paling tidak mereka masih bisa berdekatan meski terlihat menjaga jarak.Malam itu mereka tutup dengan merebahkan diri di ranjang dan mata mulai terpejam dan memasuki dunia mimpi masing-masing.