
Sudah waktunya Petra dan Miranda menjalankan rencananya.Mereka bersiap untuk melancarkan aksinya.Dengan berat hati Miranda menghubungi ponsel Ardi dan mengatakan ingin bertemu di suatu tempat.Dengan senang hati Ardi menyetujui permintaan Miranda.Setelah Miranda menutup panggilannya,ia merasa ragu untuk bertemu dengan Ardi karena takut Ardi bersikap kasar seperti dulu lagi.Di tempat lain,Ardi dengan bangganya berpikir jika rencananya untuk menjauhkan Brian dan Miranda telah berhasil.Saat tengah meneleponnya tadi,tak ada kata kasar yang keluar dari mulut Miranda.Ia semakin yakin kalau Miranda telah membuka hati untuknya.Padahal ini adalah bagian dari jebakan yang Petra rencanakan.
"Gimana Kak?sukses?"tanya Petra.
"Iya,sepertinya ia tak menaruh curiga padaku!"ungkap Miranda.
"Semoga rencana kita berhasil!"harap Petra.
"Tapi aku takut!"ujar Miranda.
"Tenang Kak,aku akan selalu di samping Kakak!"seru Petra.
Sesuai rencana esok harinya mereka bertemu di sebuah restoran ternama dekat dari rumah Miranda.Mereka sengaja memilih tempat itu agar mudah di awasi oleh beberapa bawahan Petra.Demi menjaga keamanan Miranda,Petra ikut masuk ke dalam restoran bersama dengan kakaknya.Ia menyamar sebagai orang lain agar tidak dikenali oleh Ardi.Petra mengambil tempat duduk tak jauh dari Miranda.Tak beberapa lama Ardi datang seorang diri menghampiri Miranda yang tengah duduk menunggu kehadirannya.
"Sudah lama menunggu,Cantik?"sapa Ardi.
Sesungguhnya ia jijik mendengar kata-kata tersebut tapi Miranda mencoba bersikap manis.
"Tidak kok,aku juga baru saja sampai!"ucap Miranda dengan senyum kepura-puraannya.
"Oya,ada apa kamu ingin bertemu denganku?"tanya Ardi.
"Ehm...Aku ingin meminta bantuan padamu untuk menanamkan saham pada perusahaanku karena perusahaanku mengalami kesulitan!"terang Miranda.
"Aku harus memenangkan tender ini agar perusahaanku bisa bangkit,tapi saham yang ku miliki tidak cukup untuk menjadi pimpinan lagi."tambahnya.
"Tapi aku punya syarat untuk ini!"pinta Ardi.
"Baiklah,tapi aku ingin kau berikan saham atas namaku agar aku bisa menyelesaikan urusan perusahaanku terlebih dahulu lalu aku akan memenuhi kemauanmu."ungkap Miranda.
"Baiklah,besok kita bertemu kembali untuk serah terima saham itu tapi setelah urusanmu selesai aku harap kamu bisa menikah denganku!"pinta Ardi.
"Baiklah,lagipula aku sudah move on dari Brian!"tegas Miranda.
"Aku tak mau berharap pada orang yang tak bisa diharapkan!"tambahnya lagi.
"Tentu,apa pun itu yang bisa aku lakukan untukmu akan aku lakukan."ucapnya sambil menggenggam tangan Miranda.
Saat itu Miranda hanya bisa menerima perlakuan Ardi agar Ardi bisa mempercayainya.Setelah perbincangan itu mereka makan bersama.Beberapa kali Petra mengamati kakaknya dengan Ardi secara diam-diam.
"Aku tak menyangka aku bodoh tidak memilihmu waktu itu,sudah jelas kamu yang bisa membahagiakanku!"ucap Miranda di sela makannya.
"Aku harus berterima kasih pada orang yang berhasil membatalkan pernikahanku,jika tidak aku akan bersedih telah menikahi orang yang salah."tambahnya.
"Andai kau bertemu dengan orang itu saat ini apa yang ingin kau katakan?"tanya Ardi yang membuat Miranda terkejut.
"Aku akan mengatakan terima kasih padanya dan aku akan memberi imbalan spesial untuknya!"jawab Miranda sambil mengulas senyum bahagia untuk meyakinkan Ardi.
__ADS_1
"Kalau begitu ucapkan itu padaku!aku yang merencanakan semua agar kalian gagal menikah!"ucapnya.
"Apa benar kau yang melakukan semua itu Ardi?"tanya Miranda lagi.
"Iya,aku lakukan itu agar aku bisa mendapatkanmu.Kau tahu khan,aku sangat menyukaimu saat masih kuliah dulu hingga sekarang!"terangnya.
"Terima kasih atas pengakuanmu yang membuatku paham semuanya!"ucap Miranda.
"Tak masalah."jawabnya.
Sesaat kemudian sirine mobil polisi berbunyi dan berhenti tepat di depan restoran tempat Miranda dan Ardi bertemu.Awalnya Ardi tak menyadarinya tetapi saat polisi mulai masuk ke dalam restoran dan ingin menangkapnya,ia berusaha untuk melarikan diri.Sayangnya usahanya sia-sia belaka karena tempat mereka bertemu telah di kepung oleh polisi.Tidak ada jalan lain lagi untuknya kabur dan ia pun menyerahkan diri kepada pihak kepolisian.
"Jadi kalian menjebakku?"tanya Ardi.
"Maaf,hanya ini cara satu-satunya untuk membuatmu mengaku!"ucap Petra.
"Aku tidak terima dengan semua ini!"serunya dengan emosi.
Ardi pun segera di bawa ke kantor polisi untuk di tahan bersama ke empat orang suruhannya.Ia pun tidak dapat mengelak lagi dari tuduhan yang diarahkan padanya.Terlebih semua bukti mengarah padanya dan tidak ada celah untuknya lepas dari tuduhan.
Setelah Ardi di bawa oleh polisi,Miranda dan Petra pulang ke rumahnya dan saat sampai rumah Brian sudah berada disana menunggu kepulangan Miranda.Sepertinya Petra sudah menceritakan keadaan sesungguhnya kepada Brian.
"Kamu baik-baik saja,Sayang?"tanya Brian khawatir.
"Aku baik-baik saja karena Petra selalu bersamaku!"ucap Miranda.
"Sudah kewajibanku,lagi pula dia adalah kakakku jadi sudah kewajibanku menjaganya."ucap Petra.
"Jangan sungkan-sungkan,Kakak ipar!"goda Petra.
"Wah,aku tersanjung dengan sebutan yang kau berikan!"jawab Brian.
"Sudah bercandanya!"sela Miranda.
"Sewot melulu nih habis merayu Ardi!"canda Petra.
"Gara-gara ide gilamu tuh.Awas saja lain kali aku tak mau bantu kamu lagi!"ancam Miranda kesal.
"Tapi bermanfaat khan ideku itu?"seru Petra angkuh.
"Halah,tapi aku juga khan yang jadi umpan!"balas Miranda.
"Sudah-sudah jadi bertengkar jadinya!"lerai Brian.
Mending aku berenang aja di kolam belakang daripada kena semprot melulu!"ucap Petra sambil berlalu meninggalkan Brian dan Miranda menuju kolam belakang.
"Inilah susahnya kalau punya calon istri primadona kampus jadi ada saja halangannya!"seru Brian.
__ADS_1
"Jadi kamu menyesal dekat denganku?"seru Miranda kesal.
"Bukan begitu,Cinta,tapi memang ini resikonya."jawab Brian.
"Ya sudah,besok-besok aku tak usah dandan biar jelek saja!"tegas Miranda.
"Tidak begitu juga lah!"seru Brian.
Mereka terus berbincang hingga malam menjelang.Brian pun segera pamit pulang setelah berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua Miranda.Sejak kejadian penyekapan itu Brian harus membawa beberapa pengawal jika bepergian.Orang tua Brian tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.Sesampainya di rumah kedua orang tua Brian sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu.
"Selamat malam Pa,Ma!"sapa Brian.
"Selamat malam,kamu darimana saja!"tanya Bram.
"Dari rumah Miranda Pa.Kebetulan orang yang telah merencanakan penyekapan kita sudah di tangkap pihak berwajib jadi aku di mintai keterangan."jelasnya.
"Siapa dia yang berani melakukan itu pada kita?"tanya Bram.
"Ardi Prana Pa,teman kampusku dulu!"jelas Brian.
"Ardi Prana?bukankah dia pemilik Prana Grup.Dia yang mengajukan kontrak kerja sama dengan kita tetapi belum kita sepakati sebelumnya bukan?"seru Bram.
"Iya Pa.Sepertinya kontrak kerja sama itu adalah alasan dia untuk menjebak kita."terang Brian.
"Maksudnya?"sela Lili.
"Ia berencana membuat perusahaan kita pailit Ma.Aku tahu dia sejak kuliah,jadi aku paham dengan sifatnya jadi aku tak semudah itu menyetujui kontrak kerja samanya."ujar Brian.
"Nekat sekali dia!"ujar Bram.
"Tapi tenang saja Pa.Semua sudah berlalu!"seru Brian.
"Oya,untuk pernikahanmu yang sempat batal,Mama ingin segera mengadakannya lagi!"seru Lili.
"Iya,tak baik juga menggantung hubungan seperti ini!"tambah Bram.
"Aku setuju saja Pa,Ma,tapi aku ingin diadakan secara sederhana mengingat banyaknya kendala yang menghadang sebelumnya."pinta Brian.
"Tapi bagaimana dengan Miranda?"tanya Lili.
"Sebaiknya kita bicarakan lagi dengan Revan dan Nadia tentang ini!"sahut Bram.
"Oke Brian setuju Pa.Kita cari dulu waktu yang tepat untuk membicarakannya!"ucap Brian.
"Besok saja kita ke sana tak usah terlalu lama!"ajak Lili.
"Iya,sekalian buat kejutan seperti saat itu!"seru Bram setuju.
__ADS_1
Mereka pun setuju berkunjung kembali ke rumah Miranda untuk membicarakan pernikahan.Malam itu mereka segera beristirahat untuk mempersiapkan rencana esok hari.Bulan mulai menampakkan wajah di hamparan langit hitam pertanda telah malam.Bintang bertaburan menghiasi angkasa menunjukkan indahnya dunia.Namun semua insan terlelap dalam tidurnya sebagai waktu istirahat mereka.Melewati malam dalam mimpi-mimpi mereka berjalan menembus alam bawah sadarnya.Dengan harapan hari esok akan lebih indah daripada hari ini.