
Episode 101 : Kesempatan terakhir.
***
Setelah berulang kali melakukan hubungan panas yang membuat Keenan merasakan kepuasan tak ternilai setiap kali ia melakukannya, akhirnya Keenan memutuskan mengakhirinya, dia merasa Cinta akan pingsan lagi jika dia teruskan.
Dia menggendong istrinya kedalam bath tub, dia mengecup pipinya dan membisik, “Sayang, maafkan aku, aku tidak bisa menahan diriku jika menyangkut kamu, istirahatlah biarkan aku yang membersihkan mu,” bisik Keenan membuat Cinta yang hendak membalas ucapan Keenan sudah tidak memiliki tenaga yang tersisa lagi dan membiarkan Keenan melakukan apa yang ia mau.
Setelah beberapa saat, Cinta sudah duduk di sofa meja riasnya, dia sudah mengenakan piyama handuk di tubuhnya, dan sekarang Keenan sedang mengeringkan rambutnya.
Wajah Keenan kelihatan puas sekali, dia tersenyum sejak tadi, dan sesekali dia mencium Cinta dibagian yang terlihat olehnya.
Lalu saat itulah Cinta teringat, jika dia harus meminta ijin menemui ibunya yang akan datang beberapa saat lagi.
“Ehem, sa … sayang,” Cinta mencoba memulai pembicaraan.
“Hmm? apa sayang?” Keenan langsung menghentikan hair dryer dan memerhatikan Cinta dengan lekat, hendak menunggu apa yang akan dikatakan oleh Cinta selanjutnya.
“Itu, emm, sebentar lagi ibuku akan datang ke kota, ada hal yang ingin ia sampaikan, mungkin aku akan menginap di rumahku beberapa hari, aku ingin meminta ijin agar nanti kau tidak mencari ku,” Cinta tersenyum kaku, dia melihat perubahan ekspresi Keenan saat ia mengatakan hal itu.
Keenan yang mendengarkan apa yang sudah dikatakan istrinya ini meletakkan hair dryer keatas meja, dia memeluk Cinta dari belakang, dan mata mereka bertemu di cermin yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
“Sayang, apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mengijinkan mu?” geram Keenan benar-benar tidak suka jika istrinya ini bertemu dan kembali dengan keluarganya yang jelas jelas sudah membuangnya secara tidak langsung.
“Jangan begitu, ibuku sudah lama tidak bertemu denganku, mungkin dia merindukan aku dan hendak mengatakan sesuatu, jadi tolong ijinkan aku kesana ya ….” Cinta tentu tidak menyerah, walau sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya nanti.
Dan apa tujuan ibunya kembali ke kota, apakah memang karena ibunya merindukannya atau ada hal lain.
Keenan menatap Cinta beberapa saat, mata tajamnya membuat Cinta sedikit gugup.
“Ini kesempatan terakhirmu, aku sudah menjadi suamimu, jika aku melihat mereka menyakitimu sekali lagi, ah tidak, jika satu tetes air matamu menetes untuk keegoisan mereka lagi, maka aku akan menghancurkan mereka seperti debu, tak terkecuali, apakah itu ibumu atau ayahmu!” geram Keenan langsung melepaskan Cinta.
Keenan tidak suka dengan ayah dan ibu Cinta, semakin ia pikirkan, semakin ia kesal.
Keenan menggeram tangannya dan wajahnya kelihatan marah, ini akan menjadi kesempatan terakhir bagi ayah dan ibu Cinta, jika sekali lagi mereka membuat wanitanya menangis seperti sebelum-sebelumnya maka dia akan turun tangan secara langsung.
Cinta yang melihat kemarahan suaminya entah kenapa kali ini tidak membuatnya marah, akan tetapi senyuman kecil malah terlihat diwajahnya.
Dibela dan dilindungi seseorang adalah sebuah harta karun bagi Cinta, dan sekarang lelaki itu memberikannya, seperti sebuah mimpi di negeri dongeng.
Keenan yang sedang mengganti pakaiannya karena dia harus ke kantor, mendengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
“Tok … Tok … Tok!”
__ADS_1
Saat mendengar itu, Cinta hendak bangkit dan membukanya, akan tetapi langsung dihalangi oleh Keenan karena tahu pinggang wanitanya ini masih sakit.
Jadi Keenan beranjak membuka pintu itu sendiri, dia melihat kepala pelayan rumahnya sedang mengetuk pintu dan wajahnya kelihatan kurang menyenangkan sekarang.
“Ada apa?” tanya Keenan sedikit menypit dan mengernyit.
“Itu Tuan, Ibu anda sudah sampai di sini dan sedang menunggu anda di ruang tamu,”
Ya, Lucia, ibu tiri Keenan sudah sampai dan menunggu Keenan untuk menjumpainya di ruang tamu.
“APA?” geram Keenan membuat Cinta sedikit bingung mendengar respon Keenan saat mendengar ucapan yang diucapkan oleh pelayan yang mengetuk pintu kamar mereka.
Sesaat setelah itu Keenan menutup pintu, dan dengan wajah terlihat tidak nyaman, ia membenarkan kejama putih yang sedang ia kenakan, dia tergesa-gesa dan wajah muramnya kelihatan jelas oleh Cinta.
“Ada apa?” Cinta datang menghampiri dan hendak mencari tahu apa yang membuat suaminya ini kelihatan kurang nayaman.
“Umm, tidak ada apa-apa, pokoknya kau jangan keluar kamar sampai aku kembali ya, aku hanya sedang memiliki tamu penting,” seru Keenan terlihat memaksakan senyumannya.
Cinta melihat dengan curiga, tentu saja lelaki ini kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu, namun karena tidak mau memperpanjang masalah, Cinta hanya menuruti saja.
***
__ADS_1