Boss Playboy

Boss Playboy
Berhati dingin itu penting.


__ADS_3

Episode 124 : Berhati dingin itu penting.


***


Di kediaman Keenan,


"Jadi begini, seperti yang kau tahu, selama dua hari ini, perusahaan Ayah hancur dan bangkrut karena ulah Tuan Keenan yang menarik dana nya dari perusahaan Ayah,"


"Ayah tahu, Ayah salah, Ayah meminta maaf tapi kali ini tolong bantu Ayah,"


Rehan mencoba sekuat tenaga untuk menyelematkan perusahaan nya, akan tetapi disaat yang sama dia bahkan tidak pernah sekalipun mencoba memahami perasaan putrinya sendiri.


Saat mendengar jawaban Rehan Heit, akhirnya Cinta mengerti apa tujuan ayahnya datang menemuinya.


Bukan untuk meminta maaf atas semua ketidak adilan yang dia alami selama ini, bukan untuk menanyakan kabar, apakah Cinta sehat atau tidak.


Bukan seperti yang di harapkan oleh Cinta, harapan palsu yang ingin sekali saja ditanyai kabar oleh ayah kandungnya sendiri.


Cinta tersenyum namun matanya menunjukkan kesedihan, tangannya mencengkeram erat, dan dia memberanikan bicara kepada ayahnya.


"Ayah ..."


"Pernahkah Ayah khawatir padaku? aku tinggal bersama lelaki asing sekarang?"


"Apakah Ayah pernah menanyakan kabar ku? apakah Ayah pernah bertanya apakah aku sehat atau sakit?"


"Apakah Ayah ...." pertanyaan yang begitu banyak berhenti di mulutnya, dia berhenti mempertanyakan segalanya.


Benar kata Keenan, suaminya, jika dia telah dibuang dan tidak dianggap sama sekali.


Jika selama ini ternyata harapan itu hanya milik imajinasi nya seorang, jika selama ini dia sendirian tak ada yang memperdulikan.


Rehan yang yang panik melihat ekspresi putrinya langsung menjawab Cinta lagi.


"Ci ... Cinta maafkan Ayah, Ayah tahu banyak kesalahan, tapi kali ini ayah sudah tidak memiliki pilihan lain lagi ...." sebelum Rehan selesai mengucapkan ucapannya, Cinta langsung memberanikan kali ini menatap ayahnya, Monic dan Rara dengan lantang.


"Kalian keluar lah dari rumah ini, aku sudah tahu apa yang kalian inginkan, untuk apa aku membantu orang yang tidak menganggap aku ada," dengan dingin dan keras hati, Cinta mengatakan ucapan itu dengan nada yang sedikit bergetar, lalu ia segera berdiri dan hendak pergi meninggalkan ayahnya.


Tetapi setelah Cinta membalikkan badan, Monic yang tidak terima diperlakukan tidak hormat langsung bangkit dan berteriak.


"Dasar anak tidak tahu diuntung! kau kira siapa dirimu! kalau bukan karena kau simpanan Tuan Keenan, apa kau kita kami Sudi mendatangi mu? ha? jangan berbesar kepala ya sialan! sebentar lagi juga kau akan ditinggalkan seperti sampah, kau kan hanya simpanan!" teriak Monic membuat Cinta terdiam dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"MONIC! APA KAU GILA!" Rehan langsung berteriak pada istrinya.


Dia sudah susah payah membujuk Cinta malah istrinya ini memperumit segalanya, dan malah dengan angkuhnya menghina Cinta.


"Iya aku sudah gila, semenjak kau berbagi kabar dengan mantan istri mu itu, kau berubah dan bahkan suka marah pada ku dan Rara ...."


Pertengkaran yang tidak ingin di dengar oleh Cinta terdengar di kediaman itu, membuat Cinta pusing dan meminta pelayan untuk mengeluarkan mereka dari kediaman itu.


Cinta langsung melanjutkan langkahnya lagi, mungkin memiliki hati yang dingin juga ada baiknya, jadi kita tidak mudah terluka.


"Cinta, tolong Ayah Cinta, jika perusahaan bangkrut, Ayah akan gila, tolong Ayah,"


Para pelayan dan penjaga sudah mulai mengusik Rehan dan Monic, dimana Rara yang takut melihat pertengkaran ayah dan ibunya sudah kabur sejak tadi.


"Lepaskan aku! kalian pikir siapa kalian berani mengusir aku, ha?" Monic dengan segala keangkuahan nya, dia berteriak dan tak mau diusir secara tidak hormat.


Cinta mendengar semua keributan di belakangnya, tetapi tak mau menoleh kebelakang, dia tetap melangkah.


Akhirnya ia tahu apa yang terjadi selama mereka ada pemandian air panas, ternyata suaminya membalaskan dendam dengan sangat keji juga meriah.


Akan tetapi kali ini, Cinta tidak marah, entah kenapa hatinya malah seolah terobati.


"Cinta, tolong Ayah ...." hanya suara minta tolong ayahnya yang selalu menyelekit di hatinya, membuat rasanya susah melangkah.


***


Keributan itu akhirnya berakhir, Rehan dan keluarganya dan diusir dan tak bisa berada dekat dengan kediaman itu.


Cinta sudah kembali ke kamarnya yang luas, membandingkannya tubuhnya diatas ranjang dan melihat langit-langit kamar.


Sampai pada akhirnya seorang pelayan mengetuk kamar pribadinya.


"Tok ... Tok ... Tok!"


"Nyonya, ini ada panggilan dari Tuan," pelayan itu datang membawa sebuah ponsel, dimana Keenan sedang menghubungi istrinya.


Cinta memang sudah tidak menggenggam ponsel semenjak kejadian di rumahnya saat lalu, bukan karena Keenan melarang tetapi Cinta Ingin menjauhkan dirinya dari segala komunikasi yang akan menyulut emosi nya.


Cinta menerima panggilan itu, dan yang dia dengar pertama kali, sudah pasti suara menggelegar yang membuat Cinta harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Sayang, kenapa kau mengijinkan parasit itu masuk? ha? kenapa?"

__ADS_1


"Aku hanya ...." belum sempat Cinta menyelesaikan ucapannya, Keenan sudah menimpali lagi.


"Dengar ya, jika kau memohon untuk menyelematkan perusahaan nya, aku akan menghabisi mu sampai pingsan!" geram Keenan lagi tak suka istrinya membiarkan Rehan yang jelas-jelas hanya memanfaatkan Cinta masuk kedalam rumah mereka.


"Tidak akan, aku hanya baru tahu jika selama kita ke pemandian air panas, kau sudah membereskan segalanya untuk aku, bahkan membalaskan dendam kepada ayahku,"


"Terimakasih yaa,"


Cinta masih berbaring di atas ranjang, dengan matanya lurus ke langit-langit ruangan.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Keenan yang tadinya emosi jiwa, dengan gaya khas nya yang memarahi sang istri yaitu tangan di pinggang dan suara yang menyelekit sekarang berubah.


Jantungnya berdegup kencang, pipinya memerah dan tangannya terlepas dari pinggangnya.


"Sayang, kau pintar sekali ya menggodaku disaat aku masih berada perusahaan kita, awas kau nanti di rumah," ketus Keenan kembali merona dan senyam senyum.


Cinta terkekeh, dia sudah terbiasa dikatakan menggoda oleh suaminya, walau sebenarnya dia tidak menggoda sama sekali, membuat Cinta seolah terbiasa dengan wanita penggoda yang khusus untuk suaminya saja.


"Aku tidak menggoda loh, tapi yasudah terserah lah sayang, aku menunggu mu pulang, nanti aku akan memasak banyak makanan," balas Cinta memiringkan badannya, tersenyum begitu lepas dan pipinya merona.


Keduanya persis seperti dua sejoli yang dimabuk cinta yang sedang melakukan panggilan.


"Baiklah sayang, nanti juga akan ada kiriman baju untukmu, nanti malam pakai ya," goda Keenan dengan segala otak kotor yang selalu memimpin di kepalanya.


Cinta yang masih berpikir positif jika itu hanyalah baju biasa tentu saja hanya mengiyakan.


Setelah panggilan itu usai, Cinta langsung bangkit, dia sudah bersemangat sekali untuk memasak menyambut suaminya.


Sedangkan Keenan yang masih senyam senyum itu tidak sadar jika atmosfer dalam ruangan meeting begitu tegang.


Semua peserta meeting seolah menyaksikan drama romansa aneh yang tidak akan ada di dunia nyata.


Bagaimana pun tadi saat pengawal rahasia Cinta memberikan pesan jika Rehan dan keluarganya memasuki rumah membuat Keenan tak pikir panjang dan langsung menghubungi istrinya di tengah meeting.


Bahkan karyawan yang sedang melakukan presentasi pun harus berhenti melihat pemandangan super duper aneh itu.


"Ehem!" Keenan yang sadar jika wajah semua karyawannya seperti sedang syok dan tak percaya jika ini kenyataan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang kalian lihat? lanjutkan meetingnya!" ketus Keenan kembali duduk di meja kebesarannya dan melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


***


__ADS_2