Boss Playboy

Boss Playboy
Jangan lihat, jangan dengar!


__ADS_3

Episode 119 : Jangan lihat, jangan dengar!


***


Hari semakin malam, Rehan masih keras kepala, dia akan melakukan segalanya demi bisa bertemu Cinta dan meminta kepadanya agar Keenan mengembalikan dana yang di investasikan.


Rehan langsung mematikan teleponnya, banyak sekali panggilan masuk dan menanyakan mengenai hutang-hutang yang memang harus dibayarkan oleh perusahaannya.


Karena tahu dia akan benar-benar hancur jika tidak datang dan meminta tolong kepada Cinta.


Disisi lain, Keenan dan Cinta hendak kembali pulang, saat tadi Cinta tertidur dia segera terjaga saat akan makan malam, dan setelah itu mereka kembali pulang.


Keenan tidak berhenti menggenggam tangan istrinya, saat mata mereka bertemu senyuman langsung tertoreh di wajah mereka, seolah hanya dari saling berpegangan tangan dan berdekatakan satu sama lain sudah membuat mereka benar-benar bahagia.


“Sayang, tidurlah, nanti saat sampai aku akan membangunkan kamu,” Keenan mengecuk dahi istrinya, sembari tangannya mengarahkan kepala Cinta agar bersandar di bahunya dengan nyaman.


Cinta tersenyum, dia bersandar di bahu suaminya sembari matanya melihat kearah luar jendela, langit sudah gelap dan saat mereka sudah duduk dengan nyaman, supir segera melajukan mobil.


Cinta masih tidak menyangka dari seluruh manusia di bumi, seorang Keenan yang datang entah dari mana malah membuatnya merasa aman dan membawanya kabur dari kenyataan pahit.


Menjanjikannya dunia indah yang tidak pernah ia bayangkan, membawanya kabur dari kepahitan yang ia tahan sendiri.


Dia melihat tangan kokoh suaminya yang menggenggam tangannya, tidak dilepaskan, membuat Cinta menjadi semakin yakin, mungkin saatnya berserah dan mengikuti hatinya, menikmati hidupnya.


Mungkin memang sudah saatnya baginya berbahagia.

__ADS_1


***


Setelah beberapa saat di perjalanan ….


Mereka berkendara memakan waktu beberapa saat, mungkin sudah tengah malam sekarang, lampu mobil yang menyinari mengisyaratkan penajaga gerbang hendak membukakan gerbang besar rumah itu.


Tetapi disaat yang bersamaan, Rehan yang tidak menyerah menunggu Cinta di depan gerbang, dimana mobilnya ia parkirkan di jalanan sekitar halaman luas diluar kediaman Keenan.


Melihat sebuah mobil dimana kaca tembus pandang mobil itu memperlihatkan para penumpang, membuat Rehan akhirnya melihat Cinta.


Pantas saja dia menunggu seharian dan memanggil Cinta tak disahuti, itu karena memang Cinta tidak berada di rumah.


Dengan wajah yang sudah kelihatan lelah dan putus asa, dia berlari hendak mengetuk kaca mobil.


Disaat yang sama Cinta yang sebenarnya sejak dari jarak jauh samar-samar melihat seseorang yang sepertinya ia kenal mengernyitkan dahinya, barulah saat sudah dekat dengan gerbang depan, dia bisa melihat jika lelaki yang sudah sedikit berumur itu adalah ayahnya.


“A … Ayah,” suara nya kecil, tetapi Keenan yang memang hatinya sedingin es itu segera menutupi mata Cinta dengan tangannya.


“Jangan lihat dan jangan dengar apapun yang dia katakan, ini adalah akibat dari perbuatannya dan kau tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkannya,”


“Ingat … kau sudah dibuang oleh mereka,” Keenan berbisik, sembari tatapan mata yang sangat tajam itu mengarah kearah Rehan yang sudah mengetuk pintu mobil mereka yang berjalan lambat.


Karena mobil masih berjalan tentu membuat Rehan sampai berlari mengejar dan terengah-engah.


“Cinta ….”

__ADS_1


“Cin …”


“Ini Ayah, tolong keluar sebentar Nak,”


“Ayah sudah menunggu seharian, tolong dengarkan Ayah sebentar,”


Suara teriakan ayahnya yang semakin lama semakin pelan menyayat dan menyakiti hati Cinta.


Sesuai dengan dugaan Keenan, Cinta memang memiliki hati yang sangat lembut, hanya mendengar suara kelelahan ayahnya saja sudah hampir membuat nya tergerak.


Tetapi Keenan menahannya, menutup mata istrinya, disaat yang sama Cinta mencengkeram tangannya dan menahan dirinya untuk tidak tergerak dan turun dari mobil.


Apa yang dikatakan Keenan ada benarnya, dia telah dibuang sejak lama, sejak ayah dan ibunya bercerai, dia sudah tidak dibutuhkan dan dianggap sebagai kegagalan, jadi tidak ada alasan baginya untuk membantu ayahnya, apapun yang sedang di alami oleh ayahnya sekarang ini.


Tetapi hati dan tubuhnya tidak bisa berbohong, tubuhnya gemetaran dan hatinya sakit, seberapa banyak pun luka yang diberikan ayah dan ibunya tetap tak mampu membuat Cinta mengabaikan mereka.


Keenan melihat seberapa keras Cinta menahan dirinya, Keenan berdecak kesal mengetahui bagaimana Cinta benar-benar memiliki hati yang terlalu lembut.


“Cinta, dengar Ayah sebentar …. buka gerbangnya Ayah mohon,” suara ayahnya semakin pelan.


Gerbang langsung di tutup, walau ayahnya berlari tetap tak bisa mengejar, mobil Keenan sudah memasuki halaman rumah, dimana Rehan masih berada di luar, terengah-engah dan melihat mobil itu semakin jauh memasuki lobby rumah.


Saat sampai di lobby rumah pun, Keenan menggenggam tangan istrinya dengan kuat membawanya dengan sangat cepat memasuki rumah, agar Cinta tidak melihat ke belakang.


Saat Rehan melihat Cinta memasuki kediaman dari jauh, Rehan berhenti sejenak, dia sudah lelah seharian, marah seharian dan sepertinya energinya telah terkuras.

__ADS_1


Dan sepertinya malam ini dia tidak akan bisa berbicara dengan Cinta dan meminta tolong.


Dia tidak memiliki pilihan lain lagi selain pulang sebentar, sebelum esok pagi datang lagi dan menemui Cinta, dia akan melakukan segalanya, demi menyelamatkan perusahaan nya, dia tidak ingin menjadi gelandangan.


__ADS_2