Boss Playboy

Boss Playboy
Aku harus percaya kepada suamiku.


__ADS_3

Episode 134 : Aku harus percaya kepada suamiku.


***


Di kediaman Keenan,


Cinta seharian merenung melihat ponselnya, dia tak bisa berkata-kata dan yang bisa ia lakukan hanyalah merenung.


"Tring!"


Ada pesan masuk kedalam ponsel Cinta.


Cinta langsung bersemangat, dia mengira itu adalah pesan dari suaminya.


"Cinta, tanggal pertunangan ku dipercepat, Sabtu ini aku akan bertunangan, aku harap kau dan Rita datang ya,"


Isya memberikannya pesan jika pertunangan nya akan dilakukan lebih cepat dari tanggal yang sebenarnya.


Saat melihat pesan itu bukan dari suaminya membuat Cinta terdiam, bukannya dia tidak bahagia mendengar jika Isya akan melakukan pertunangan akan tetapi ada seseorang yang sangat ia nanti menghubungi dirinya.


Cinta terdiam sejenak, tetapi lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya, menghiraukan segala pikiran buruk yang ada di kepalanya.


Dia membalas pesan Isya dan memberikan ucapan selamat, walau tangannya sudah gemetaran.


Setelah itu, dia meletakkan ponselnya dan beranjak, dia hendak pergi ke rumah sakit menjenguk ibunya lagi, dia harus menyibukkan dirinya agar pikiran pikiran buruk tidak memenuhi kepalanya.


"Kau harus mempercayai nya Cinta, jangan ragu padanya, hanya sebatas panggilan dan pesan, itu bukan apa-apa," seru Cinta menyemangati dan menguatkan dirinya sendiri.


Tetapi tangannya sudah gemetaran, mungkin ini kali pertama dia tidak dihiraukan oleh suaminya, karena biasanya Keenan akan menunjukkan perasaan cintanya, menghubungi nya setiap waktu dan mengejarnya, melihat Keenan tak memberikan kabar saja telah memberikan ruang kosong yang menyakitkan di hati Cinta.


Cinta tidak mengerti dan tidak memahami rasa sakit yang mulai menggerogoti nya, tetapi rasanya sangat sakit, walau ia mencoba menghiraukan semua pikiran buruk tetap saja rasa ngilu di hatinya tak bisa ia singkirkan.


Setelah ia beranjak Cinta segera pergi ke rumah sakit lagi, agar bisa menemani ibunya dan bercerita panjang lebar.


Keseharian Cinta hanya diisi oleh kebersamaan nya dengan ibunya, hanya sekedar menghibur dirinya dan melupakan semuanya.


Tetapi Cinta tetap pulang ke rumah, untuk menunggu suaminya, dia tetap percaya kepada Keenan dan menunggu nya pulang.


Hari telah berlalu, satu hari, dua hari, bahkan Sabtu telah datang, setiap hari tak lupa Cinta memberikan pesan kepada suaminya.


"Hari ini Isya tunangan, aku akan kesana, aku harap hari ini setidaknya kau memberikan aku kabar, setidaknya kabar jika kau baik-baik saja,"

__ADS_1


Itulah pesan Cinta.


Dia sudah mengenakan dress yang sopan, yang cocok dengan dress code pertunangan Isya.


Dia meletakkan ponselnya di tas, lalu matanya yang kosong dan sudah mulai semakin risau, dia terdiam sebentar, duduk di kursi sofa rumah.


"Nyonya ...."


"Nyonya ...."


"Nyonya Cinta,"


Suara kepala pelayan yang sejak tadi memanggil Cinta berulangkali seolah tak terdengar oleh Cinta.


Dia jadi suka melamun, menepis semua pikiran buruk memang sangat sulit, dia seperti sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.


"Nyonya Cinta, maafkan saya tetapi supir untuk anda telah bersiap sejak tadi,"


Kepala pelayan itu memanggil Cinta lagi, dan mengatakan jika supir pribadi untuk Cinta telah siap sedia di lobby untuk mengantarkan Cinta ke acara pertunangan sahabatnya.


"Ya ... Pak? aduh maaf, tadi Bapak bilang apa?" Cinta sedikit terkejut, dia berusaha fokus dan menanyakan lagi apa yang baru saja di beritahukan oleh kepala pelayan ini.


Kepala pelayan itu tersenyum namun wajahnya khawatir, "Nyonya, apakah anda sehat? wajah anda kelihatan pucat sekali, anda bisa istirahat saja dulu, jangan pergi ke acara tunangan itu," kepala pelayan itu mengucapkan kekhawatiran nya.


"Saya sehat kok Pak, oh ya apakah Bapak supir sudah siap sedia? saya sudah hampir terlambat," Cinta hendak berdiri, dia mengambil tasnya dan mencoba dan memaksakan senyuman di wajahnya.


Kepala pelayan itu hanya menunduk, dia menuntun Cinta menuju mobil yang sudah tersedia.


Setelah sampai di mobil, Cinta masuk dan membuka kaca mobil sebentar.


"Pak ..."


Cinta memanggil kepala pelayan yang masih berdiri tegak di luar mobil.


"Ya, Nyonya?"


"Jika Keenan menghubungi Bapak, tolong katakan padanya, aku baik-baik saja, katakan padanya jika aku ingin dia segera pulang," Cinta tersenyum dan gemetaran.


Tangannya ia cengkeram dan matanya begitu sendu, lalu ia segera menutup kaca mobil dan saat itu pula lah mobil itu melaju.


Kepala pelayan itu hanya membungkuk dan tak bisa berkata apapun lagi.

__ADS_1


***


Kepala pelayan itu segera masuk ke dalam kediaman dan kemudian mendapatkan panggilan dari Keenan.


"Apakah dia sudah pergi?"


"Sudah Tuan, kata Nyonya dia baik-baik saja dan ingin anda segera pulang," Kepala pelayan itu mengatakan apa pesan Cinta.


Saat mendengar itu Keenan hanya terdiam, tetapi ada rasa sakit dan pedih di wajahnya, dia tidak bisa menyembunyikan kerinduan namun juga rasa sakit yang ia rasakan dalam waktu yang bersamaan.


"Katakan padanya aku akan pulang besok, siapkan kepulangan ku dan aku ingin kau melakukan sesuatu kepadaku,"


Balas Keenan memberikan sebuah perintah kepada kepala pelayan yang ada di kediamannya.


***


Di tempat pertunangan Isya,


Cinta sampai disana dan melihat betapa sederhana pesta pertunangan itu, sederhana namun begitu hikmat.


Cinta memberikan selamat dan duduk di kursi diantara keluarga Isya, disana ada Rita juga.


Saat pertunangan itu berjalan, Cinta melihat sang lelaki dan sahabatnya saling bertukar cincin, dia tersenyum dan bahagia tetapi tak tahu mengapa dia merasa sedikit iri.


Cinta melihat ke jari manisnya, ada cincin berlian besar disana, cincin pernikahan yang dibeli dengan terburu-buru.


"Tes!"


Air matanya entah mengapa menetes tak terasa, dia mencengkeram tangannya.


Dia kemudian mengusap perutnya, "Semua akan baik-baik saja, dia berbeda dengan lelaki yang lain, walau dia tidak pernah melamar ku dan tidak mengumumkan pernikahan kami, dia tetap tak akan meninggalkan aku, aku percaya!"


Lagi-lagi ia menekankan dirinya dan tekadnya untuk tetap mempercayai suaminya.


Setelah itu ia mengusap air matanya yang mengalir tak terasa dan berusaha keras untuk turut bahagia untuk pertunangan sahabatnya ini.


Disana Cinta juga bertemu kembali dengan Rama, lelaki yang selama ini mencari dirinya, tetapi semua cerita sudah Rama dengar dari kedua sahabatnya dan dia tak bisa berbuat apa-apa.


Rama berencana untuk pindah ke luar negeri melupakan Cinta, akan tetapi masih banyak hal yang harus ia lakukan disini.


Dan dia sudah cukup senang melihat Cinta sekarang, Cinta kelihatan semakin cantik dan dia sudah bahagia hanya melihatnya saja.

__ADS_1


Walau sebentar juga Cinta tak terlalu memperhatikan Rama karena pikirannya masih melayang kepada suaminya.


***


__ADS_2