
Episode 145 : Kemarahan untuk diri sendiri.
***
"Bajingan, brengsek! kenapa saat aku pergi dia malah kelihatan lebih sedih dariku? padahal dia yang mencampakkan aku! sialan!" Cinta mengumpat dalam dirinya sembari mencengkeram tangannya.
Kemarahan, kekecewaan dan rasa sakit menyatu menyakiti nya sebegitu dalam, sampai tangisan tak akan mampu menggambarkan hatinya sekarang ini.
Ia masih ingat dengan sangat jelas, bagaimana Keenan menjanjikan nya dunia, memberikan nya sebuah harapan yang melebihi keinginannya, dan bodohnya ia mempercayai hal itu.
Mau bagaimana lagi, lelaki monster itu datang saat ia terjatuh begitu dalam, saat ia membutuhkan sebuah kebohongan, dan kebohongan itu sungguh datang tetapi ia tidak tahu akan sebegini menyakitkan.
Dia membenci segalanya, dia tidak suka, bahkan saat melihat dirinya di cermin ingin sekali ia merusak cermin itu, tidak berhenti ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua kepercayaan bodohnya.
"Aku bodoh!"
"Aku benci diriku!"
"Kenapa aku harus mempercayai dia?"
"Jelas-jelas aku sudah tahu akan berakhir seperti ini, kenapa aku harus terjatuh dalam pesona nya?"
Dia kemudian berteriak dia melempar apapun yang terlihat olehnya, kamarnya berantakan, nafasnya seperti tergesa-gesa setelah merusak segalanya.
Dia sekarang sedang berdiri di depan cermin, dia melihat wajahnya yang sangat menyedihkan, wajah pucat dan mata bengkak.
Dengan nafas yang tergesa-gesa dia mengambil vas bunga kecil yang berada di meja cermin dan melemparnya memecahkan cermin besar yang memperlihatkan pantulan dirinya.
"Aaaaaah!"
__ADS_1
Dia berteriak histeris, tangannya menyapu kaca-kaca yang berserakan dan menjatuhkan segala hal yang ada di meja rias.
Ibunya yang tadi mengambil makanan untuk ia berikan kepada putrinya mendengar teriakan itu.
Tanpa menunggu lama dia berlari dan menuju kamar putrinya.
"Cinta ...."
Layla begitu terkejut saat melihat putrinya berteriak histeris dengan tangan yang berdarah-darah, menangis tak tertahankan dan menyedihkan.
Layla berlari mendekat dan mengambil kain yang bisa ia temukan dan menutupi luka-luka di tangan putrinya.
"Ada apa sebenarnya Nak? kenapa kau jadi seperti ini?" Layla tentu menangis melihat keadaan Cinta yang kelihatan seperti kehilangan dirinya sendiri dan hanya bisa menangis.
Cinta bahkan tak mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, dia tetap menangis dan berteriak.
Layla merasa putus asa dengan keadaan ini, ia tahu luka-luka di tangan putrinya pasti dalam makanya mengeluarkan banyak darah.
Layla adalah seorang dokter umum jadi dia tahu, kebersihan dan steril nya alat sangat penting untuk sebuah luka seperti yang dialami oleh putrinya.
Disaat yang sama,
Dokter pribadi yang sudah disinggung oleh Bram tadi telah datang ke kediaman Keenan,
Dia segera memberikan pengobatan lengkap kepada Keenan, dimana Bram tadi sudah menjelaskan bagaimana luka Keenan, jadi sang dokter sudah memberikan pengobatan dengan peralatan lengkap yang telah ia bawakan.
Setelah dokter itu memberikan pengobatan, dia meminta ijin kepada Keenan untuk segera pergi.
Keenan yang tidak bersemangat untuk melakukan apapun hanya menunduk dan bersandar di ranjang kamarnya, matanya menatap lekat ke sampingnya dimana dia selalu memeluk Cinta di sisinya.
__ADS_1
Dia mengusap ranjang dan terdiam terus menerus, ini adalah kali pertama ia merasakan patah hati, rasanya terlalu sakit dan melebihi seperti yang ia bayangkan.
"Dia sungguh pergi, dia langsung pergi, hanya satu malam dia langsung menyerah, katanya dia akan melupakan aku dan menyerah atas perasaan nya, sedangkan aku, aku sangat mencintai nya, semakin hari semakin bertambah, dasar wanita jahat!"
"Kau tidak tahu saja bagaimana hatiku Sekarang ini, ingin mengejar mu dan mengatakan semuanya tapi aku lebih takut kehilangan mu daripada menuruti keegoisan ku,"
Dia berbicara pelan, memejamkan matanya, sekarang ini demi keselamatan Cinta dia harus merelakan keegoisan hatinya juga perasaan cintanya, dia tidak bisa membiarkan Cinta dalam bahaya yang lebih besar lagi dan akan menyesalinya dikemudian hari.
Sampai saat ia menunduk dan bergelut dengan kekosongan hatinya, matanya menangkap sebuah pita yang sedikit keluar dari laci meja yang ada di samping ranjangnya, dia melihatnya sedikit lama sampai akhirnya dia memutuskan untuk segera duduk dan membuka apa isinya.
Dia membuka laci itu dan melihat sebuah kotak berwarna biru kesukaannya, dia penasaran dengan isinya karena dibungkus dengan sangat rapih dan baik.
Dia membuka pitanya lalu menemukan sebuah bungkusan berwarna biru juga, diatasnya ada surat.
Dia mengambil surat dan membacanya.
"Untuk suamiku, kau tahu keinginan mu akhirnya terkabul, sekarang kebahagiaan kita akan lengkap, seorang bayi telah datang ke kehidupan kita, apakah kebahagiaan berlebihan seperti ini pantas aku terima? haha, yang jelas aku bahagia sekali, aku harap kau jangan mentertawakan aku ya,"
"Oh ya, aku sangat merindukanmu, apakah karena aku hamil muda? tapi aku ingin terus berada di sisimu, apakah kau akan bosan kepadaku jika aku menempel terus? hehe, yang jelas aku ingin kita jadi ayah dan ibu yang pantas untuk anak kita,"
Tulisan yang ia baca itu seolah tak nyata, Keenan mengedipkan matanya berkali-kali, bahkan tangannya gemetaran sampai surat itu terjatuh.
Dia membuka bingkisan biru kecil di kotak dan melihat foto-foto janin yang masih sangat kecil, dan itu pasti adalah anak mereka.
Pandangannya jadi kabur, air matanya mengenang di matanya membuat semuanya jadi kabur, air matanya menetes begitu deras dan tubuhnya bergetar hebat.
Tangannya mengepal foto itu dengan sangat erat. Hatinya semakin hancur, dia ternyata menyakiti istrinya yang akan memberikan kejutan ini kepadanya.
Tubuhnya membeku tapi hatinya hancur berantakan, penyesalan namun juga kemarahan kepada dirinya sendiri, dia memukul dadanya, dia mencengkeram tangannya.
__ADS_1
***