
Episode 123 : Ingin tahu apa yang terjadi.
***
Di perusahaan Keenan,
Sejak tadi wajah Keenan kelihatan sangat bahagia, ada rona merah di pipinya, senyuman yang melekat di wajahnya juga memperlihatkan sisi berbeda dari Bos mereka.
Seorang Keenan yang setiap kali mereka lihat memiliki wajah tegas dan mata tajam, entah kenapa berubah menjadi kelihatan hangat dan kelihatan bahagia sekali.
"Sepertinya Bos kita sedang mengalami hal yang luar biasa hingga bisa tersenyum riang seperti itu,"
"Tidakkah menurut mu jadi lebih mengerikan? jika Bos tersenyum seperti itu?"
"Ah, tidak masalah lah, yang jelas dia tidak akan mempersulit kita,"
Para karyawan Keenan tentu saja langsung bergosip diantara mereka karena keanehan Keenan hari ini.
Senyuman nya terasa sangat berbeda dan terlalu bahagia kelihatan, membuat Keenan seperti bukan dirinya saja hari ini.
Dengan hati yang senang dan pikiran yang jernih karena menghabiskan banyak waktu bersama sang istri, meeting akhirnya berjalan dengan sangat mulus.
Tidak ada yang dilempar pakai laporan, tidak akan yang langsung dipecat dan tidak ada bentakan dan tatapan mata tajam yang mengerikan.
Membuat semua peserta meeting merasa hari ini adalah hari dimana seluruh keberuntungan mereka selama satu tahun digunakan sekaligus.
Disaat yang sama di kediaman Keenan,
Rehan Heit yang sengaja datang saat Keenan sudah pergi bekerja datang bersama anak dan istrinya.
"Kenapa sih kami harus ikut Pah?" gerutu Rara tidak suka dan Sudi bertemu dan meminta tolong kepada Cinta.
"Iya, itu kan urusan mu bersama anakmu itu! kenapa kami harus ikut!" Monic ikut menimpali.
Dengan mengepal tangan dan dengan wajahnya yang sangat tidak terima harus ikut meminta tolong kepada Keenan.
Rehan yang sudah kesal sekali, apalagi dia sedang dalam dirundung masalah langsung membentak keduanya.
"Ingat ya kalian berdua, hidup dan mati kita bergantung pada Cinta! jika kalian tidak bersikap baik dan memohon kepadanya, apa kalian kira masih bisa hidup dengan nyaman dan tenang? ha?"
__ADS_1
"Kalian belum mengerti kah jika perusahaan ku sudah bangkrut, jika Cinta tidak meminta kepada Tuan Keenan untuk mengembalikan dana itu maka kita akan menjadi gelandangan!" geram Rehan benar-benar marah dan menunjukkan wajah yang mengerikan.
Rara sampai takut melihat ayahnya, dan bersembunyi di belakang ibunya.
Sedangkan Monic yang sebenarnya marah dan harga dirinya terluka hanya diam saja, dia tidak bisa mengatakan apapun sekarang ini.
Lalu setelah itu mereka semua turun dari mobil dan mencoba mengetuk gerbang yang masih saja tertutup rapat.
***
"Cinta ... ini Ayah Nak, tolong buka sebentar, ayah hanya mau berbicara sedikit saja,"
Rehan mulai berteriak, mencoba dengan sekuat tenaga agar gerbangnya mau terbuka.
"Cintaaaa ...."
Karena tidak ada suara apapun, Rehan berteriak lagi.
"Apa yang kalian lakukan? cepat panggil Cinta, kalian mau jadi patung saja disini?" Rehan langsung menatap tajam kearah Monic dan Rara untuk ikut memanggil Cinta.
"Sialan! jika bukan karena perusahaan menjadi taruhan mana mau aku memanggilnya dan meminta tolong padanya! sialan!" geram Monic merasa sangat jengkel namun disaat yang bersamaan juga tidak bisa membantah perintah suaminya.
"Ci ... cinta, to ... tolong buka gerbangnya,"
Disaat yang sama, Cinta yang tadi berguling-guling di kasur karena merasa hubungan nya dengan sang suami semakin intim dan romantis sayup-sayup mendengar teriakan yang memanggil namanya.
Bagaimana pun jarak dari gerbang kerumah jauh, jadi suaranya terdengar pelan sekali namun masih bisa dikenali oleh Cinta.
"Siapa yang berteriak memanggil namaku?" gumam Cinta melangkahkan kaki menuju balkon kamar, dia mencari-cari sumber suara.
Sampai akhirnya dia melihat di arah gerbang yang jauh sana, dia melihat ayahnya melambaikan tangan dan memanggil namanya, mencoba agar Cinta bisa melihatnya.
"Ayah ...." Cinta berbicara pelan, tangannya langsung mengepal, dia ingin langsung masuk ke dalam kamar dan menghiraukan nya.
Akan tetapi, melihat ayahnya kelihatan kurus dan kelelahan, apalagi kelihatan berusaha keras memanggil namanya sekencang mungkin tetap melukai harinya.
Dia hanya seorang anak yang sangat menyayangi orangtunya melebihi dirinya sendiri, Cinta ingat apa yang disampaikan suaminya, akan tetapi dia ingin memberikan kesempatan kepada ayahnya untuk mengatakan apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan.
Juga Cinta tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi selama mereka ada di pemandian air panas, juga Cinta tidak terlalu mencari tahu karena sudah percaya kepada suaminya.
__ADS_1
***
Cinta yang tidak tega melihat ayahnya kelelahan seperti itu, kembali ke dalam ruangan, dia mengambil telepon rumah dan menyambungkan kepada penjaga gerbang.
"Tring!"
"Halo Nyonya?" penjaga gerbang yang sudah mendapatkan perintah dari Tuan nya untuk tidak membiarkan siapapun masuk kecuali dirinya sendiri memang tidak bergeming saat Rehan mencoba meminta kepadanya untuk membuka gerbang itu.
"Pak, ayah ku yang diluar dipersilahkan masuk saja, nanti aku yang bicara pada Suamiku," ucap Cinta sembari mengusap-usap liontin pemberian Keenan di lehernya.
Seolah meminta kekuatan untuk bisa menguatkan hatinya, tentang apa pun yang nanti akan diberitahu oleh ayahnya.
Cinta mencoba menguatkan hatinya, dan juga dirinya agar segala sesuatu yang menimpa ayahnya selama dia ada pemandian air panas, agar dia tidak akan goyah dan bisa mengambil keputusan dengan baik.
"Ta ... Tapi Nyonya, Tuan Keenan ...." belum selesai penjaga gerbang itu melanjutkan ucapannya, Cinta langsung menimpali.
"Tenang saja Pak, suamiku biar aku saja yang mengurus," Cinta membuat sang penjaga gerbang tidak memiliki pilihan lain.
Jadi dia membuka gerbang besar itu, membuat Rehan melebarkan mata dan senang sekali.
"Ingat ya! jaga sikap kalian dihadapan Cinta, hidup dan mati kita ada di tangannya! mengerti!" geram Rehan mencoba memberikan tekanan dan pengertian mengancam kepada Monic dan Rara.
Lalu setelah itu ketiganya langsung masuk lagi kedalam mobil dan berkendara ke dalam kediaman Keenan.
***
Sesampainya di lobby rumah, pelayan yang ada di kediaman itu melihat dengan sinis dan tajam kearah Rehan dan keluarganya, tetapi Rehan tidak peduli, dia tetap melangkah menuju rumah.
Dimana sebenarnya para pelayan yang datang kedepan itu diperintahnya oleh Cinta untuk menuntun mereka ke ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu yang sangat besar dan mewah, mata Monic dan Rara langsung berbinar, keduanya langsung iri dan merasa Cinta terlalu beruntung untuk mendapatkan ini semua.
Di kursi sofa ruang tamu sudah ada Cinta duduk menunggu ayahnya, juga ibu tiri dan saudari nya yang kelihatannya ikut bersama ayahnya.
"Cinta ... maafkan Ayah mengganggu mu, tapi ada yang ingin ayah katakan," Rehan langsung tersenyum selembut mungkin, dia duduk di kursi sofa yang menghadap dengan Cinta.
Diikuti oleh Monic dan Rara.
"Ada apa Ayah, sampaikan lah," Cinta menjawab dengan santai, walau sebenarnya dia berusaha keras menahan perasaan nya, dia hanya tidak ingin mengabaikan ayahnya, itu saja.
__ADS_1
Karena jika dia mengabaikan ayahnya maka apa bedanya dia dengan ayahnya itu?
***