Boss Playboy

Boss Playboy
Bos Keenan kacau


__ADS_3

Episode 143 : Bos Keenan kacau.


***


Di kediaman Cinta,


Setelah melihat kepala pelayan itu pergi menggunakan mobil, Cinta akhirnya melepaskan segala topeng yang ia pasang sejak tadi di hadapan Keenan.


Dia tersungkur di depan rumahnya, lalu dia menangis lagi, bagaimana mungkin sebuah hubungan pernikahan bisa berakhir hanya dalam satu malam.


Seolah hubungan itu tak bernilai, seolah hubungan itu hanyalah sebuah permainan anak-anak yang bisa dihentikan sesuka hati.


Layla yang mendengar tangisan di depan rumahnya tentu saja langsung berlari ke depan rumah dan ia lihatlah putrinya menangis tersedu-sedu, awalnya tangisannya seolah ditahan akan tetapi karena hatinya terlalu sakit, dia kemudian menangis dengan suara yang semakin nyaring.


"Cinta ...." Layla panik dan berlari, memeluk putrinya yang menangis tersedu-sedu entah karena apa.


Merasakan ada seseorang langsung memeluknya membuat Cinta membuka matanya, ia melihat ibunya sedang memeluknya dan tentu lah tangisannya semakin merebak.


"Ibu ..." dia memanggil Ibunya dan membalas pelukannya.


"Sudah Nak, tenang dulu ... tenang," Layla mengusap pundak Cinta, mencoba meminta kepada Cinta untuk tenang dan menceritakan apa sebenarnya yang terjadi.


Tetapi sebelum itu Layla mengajak putrinya untuk memasuki rumah, takutnya menjadi omongan tetangga jika melihat Cinta menangis seperti itu di depan rumah.


***

__ADS_1


Sedangkan disaat yang sama, Keenan yang sudah hancur berbaring di lantai, ruangan pribadinya kelihatan begitu berantakan, setelah melihat Cinta pergi dan benar-benar sudah tidak ada di dekatnya membuat hatinya kosong.


"Ini semua karena para tetua bajingan itu! mereka pikir hidupku ini miliknya? kita lihat apa yang akan aku lakukan!" geram Keenan memukul lantai dengan tangannya lagi.


Kepalan tangannya sudah penuh darah dan luka, banyak hal yang ia pukul dan pecahkan, tidak sedikit diantaranya malah melukai tangannya, tetapi rasa sakitnya tak terasa olehnya karena hatinya jauh lebih sakit dari itu semua.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Ada suara mengetuk pintu ruangan pribadinya, ialah Bram yang selama ini mengurus perusahaan atas perintah Keenan.


Sudah ada lingkaran mata hitam di mata Bram, dimana kualitas tidurnya yang sangat ia sukai selama ini telah hancur karena pekerjaannya yang semakin banyak.


Dia belum tahu apa yang terjadi, jadi dia hanya menggerutu saja sejak tadi.


"Aku mau meminta gaji tambah, pekerjaan ku sudah kelebihan, Bos harusnya bersyukur memiliki aku!" gerutunya masih mengetuk ruangan pribadi Atasannya itu.


Karena Keenan akan segera mengambil alih kekuasaan ayahnya seperti yang mereka rencanakan, jadi perusahaan antara Keenan dan ayahnya akan menyatu dimana ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh Keenan.


"Pak ... ini aku Bram," Bram akhirnya memanggil dan bersuara karena sejak tadi tak ada suara yang keluar dari dalam ruangan.


"Apakah dia lupa hari ini dia menyuruhku datang dan mengumpulkan semua laporan merepotkan ini? apakah dia sedang berkencan dengan wanita tercinta nya? ck ck," Bram masih berpikir jika Keenan masih bersama Cinta.


Mengingat betapa Keenan sangat serius kepada wanita itu, pikirannya memang tak salah sama sekali.


Keenan yang berada dalam ruangan yang kesal sekali saat mengetahui ada yang mengetuk ruangan hampir meledakkan amarahnya, akan tetapi saat ia dengar itu adalah Bram dia segera menghela nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


Dia ingat jika dia memang memerintahkan Bram agar segera datang ke kediaman nya dan membawakan semua berkas dan laporan yang ia butuhkan sebelum ia kembali lagi ke Inggris.


"Cklek!"


Keenan segera membuka pintu ruangan pribadi nya dan saat Bram melihat keadaan Keenan, mata Bram membelalak dan dia menganga seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.


"Pa ... Pak, apakah anda baik-baik saja?" tanya Bram khawatir, karena tangan Keenan sudah penuh luka dan darah, bahkan darahnya mengotori pakaiannya.


"Aku baik-baik saja, masuk kedalam dan berikan laporan nya, ada yang ingin aku bicarakan juga!" ketus Keenan mengangkat dagunya agar memperlihatkan wajah angkuhnya.


Sebab matanya sekarang sudah memerah juga pipinya karena menangis benar-benar hebat karena kepergian sang isti.


Untuk pertama kalinya seolah lelaki arogan nan dingin itu menangis karena wanita.


"Astaga naga, apa yang terjadi dengan ruangan ini? apakah sedang ada perang di sini, semuanya pecah dan ...." Bram kemudian melihat kearah Keenan yang juga berantakan.


Dia segera menutup mulutnya yang tak sengaja terbuka begitu saja, "Jangan bilang Bos akhirnya merasakan patah hati, apakah dia berpisah dengan Nona Cinta? tapi kenapa? bukankah dia sudah menikah dengan Nona Cinta? apakah Nona Cinta mencampakkan Bos? apakah kali ini aku melihat hal langka sekali lagi?"


Pertanyaan demi pertanyaan langsung menghujani Bram yang tak bisa berhenti mengaga walau dia sudah menutup mulutnya.


Keenan yang tadi mendengar ocehan Bram itu menatap Bram dengan dingin, dia berdiri dan melipat tangannya.


"Dimana berkas yang aku minta," seru Keenan pada Bram membuat Bram segera menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri.


"I ... Ini Pak," sahut Bram sembari menyodorkan berkas itu.

__ADS_1


Keenan segera membaca berkas itu satu persatu, walau tangannya masih berdarah dia seolah tak peduli.


***


__ADS_2