
Episode 141 : Hanya harga diri yang tersisa.
***
Di kediaman Keenan,
Keenan untuk pertama kali dalam hidupnya mengalah demi sebuah perasaan yang tumbuh semakin besar di hatinya.
Dia tidak tahu jika semakin besar rasa cinta maka akan semakin besar pula keinginan untuk melindungi walau dengan cara apapun.
Dia berbicara dengan ayahnya sebentar, lalu dia mematikan panggilan dari ayahnya, dia melihat langit malam, kali ini malam begitu mendung dan gelap, tak ada bintang kelihatan disana.
Matanya yang selalu tajam untuk kali ini kelihatan begitu dalam dan sayu, sesuatu yang ia genggam terus menerus dan ingin ia eratkan di sisinya, akhirnya keadaan akan selalu menang dan memisahkan.
Walau dia tidak rela, walau dia ingin berlari sekarang juga dan memeluk istrinya, walau dia ingin mengatakan jika dia tidak pernah bosan dan selalu mencintainya, perasaan takut selalu menggerogoti hatinya.
Dia telah melihat ibunya berwajah pucat di rumah sakit, hal itu menyadarkan Keenan jika dia tidak akan siap merasakan hal yang sama terhadap Cinta.
Kehilangan Cinta selamanya akan membuatnya gila, dan yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menjaganya dari jauh.
Disaat yang sama, Cinta duduk di tepi ranjang, pintu menuju balkon masih terbuka, angin dingin memasuki ruangan tapi tak terasa olehnya.
Matanya yang kosong dan air mata nya yang tak mau mengering, dia mencengkeram kasur ditangannya.
Hatinya hancur dan tak bisa ia kendalikan.
Seperti Cinderella, kehilangan sihir di Jam dua belas malam, kembali menjadi wanita biasa dengan segala hal yang memilukan.
Cinta telah diangkat setinggi langit lalu dihempaskan begitu saja, mendengar suaminya mengatakan jika dirinya telah sama seperti wanita yang selama ini memohon kepada Keenan membuat hatinya semakin perih.
__ADS_1
Cinta mengingat jika Keenan memang pernah mengatakan nya, malam saat Keenan marah kepadanya, jika Keenan akan membuat Cinta bertekuk lutut dan memohon kepadanya.
"Kau menang, aku akhirnya bertekuk lutut kepadamu, kau menang atas hatiku yang tak bernilai, kau menang karena membuatku menderita seperti ini, kau menang Keenan!" ucapan pilu dan pelan, air mata yang terus mengalir, dia mengusap perutnya yang masih rata.
Cinta tahu dia sudah tak bisa memperbaiki segalanya lagi, dia telah dibuang dan tak dibutuhkan, bagaikan barang bekas.
Dia sudah tak ingin menjatuhkan harga dirinya lagi dan menangis memohon lagi, dia tak ingin disamakan seperti wanita wanita yang memang selama ini menggoda Keenan.
Cinta menatap dengan pedih, cincin berlian yang begitu mewah di jemarinya, dia melepaskan cincin itu, deraian air matanya semakin menjadi-jadi, isakan tangis nya terdengar tertahan agar tak mengeluarkan suara yang lebih keras.
Kemudian dia melepaskan kalung yang merupakan hadiah paling ia suka, dia mencengkeram kedua perhiasan mahal yang akhirnya akan lepas juga dari dirinya.
Hanya dalam satu malam, satu malam saja langsung membuat Cinta kehilangan segalanya, dia akhirnya mengerti tak satupun dari semua ini merupakan kepunyaannya.
Dia akhirnya sadar, sejak awal kontrak antara dirinya dan Keenan tidak pernah berakhir, dan sekarang dia harus pergi dan melupakan semuanya.
Menganggap semua ini hanya mimpi, mimpi indah atau mimpi buruk semuanya bercampur.
***
Tetapi, dia tahu sejak awal yang ia miliki hanyalah harga diri, dia sudah memohon tadi malam, dia sudah menangis dan mengatakan apa yang ia ingin katakan.
Jika Keenan akan melepaskan dirinya karena bosan, apa yang bisa dilakukan oleh Cinta?
Dia hanya bisa pergi dengan harga dirinya yang tersisa, dia akan menyembunyikan perasaan nya yang telah hancur, dia memang sudah terbiasa menyembunyikan perasaan hatinya yang sakit, kali ini apa salahnya bersandiwara lagi?
Cinta memakai pakaian nya yang ia pakai waktu pertama kali memasuki apartemen Keenan, dia melihat lemari yang penuh dengan pakaian branded dan mahal, dia menutup lemari itu, tak satupun dari antara itu semua adalah miliknya.
Dia meninggalkan segalanya di kamar itu, dia keluar dari kamar pribadi Keenan dan melangkah menuju lantai bawah, disana sudah ada kepala pelayan dan beberapa pelayan, juga Keenan duduk di sofa seolah menunggunya.
__ADS_1
"Heh, sudah tidak sabar rupanya melihat ku menandatangani surat itu, menyedihkan sekali aku!" geram Cinta menghentikan langkah sebentar, dia menelan salivanya dan mengatur pernafasan nya.
Dia tidak boleh terlihat gemetaran dan hancur, dia harus bisa menyembunyikan segala nya, semua rasa sakitnya sudah ia telan dan sembunyikan, setidaknya untuk beberapa menit sembari ia duduk di hadapan Keenan.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Suara sepatu Cinta yang menggema membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Deg!"
Jantung Keenan seolah diremas sebegitu sakit seketika melihat Cinta yang melangkah mendekat itu mengenakan pakaian yang pertama kali dipakai olehnya, pakaian yang bukan dibeli olehnya.
Cinta duduk di sofa yang berhadapan dengan Keenan, tangannya yang mungil itu segera mengambil surat yang telah tersedia di atas meja.
"Aku hanya tinggal tanda tangan saja kan?" tanya Cinta tanpa menolah sedikit pun kearah Keenan.
"I ... Iya," balas Keenan sedikit gemetaran, tangannya mencengkeram saat ia melihat Cinta sudah mengambil pulpen dan menandatangani nya secara langsung dan cepat.
Kemudian setelah itu, Cinta meletakkan cincin pernikahan dan kalung liontin yang pernah ia berikan kepada Cinta.
"Ini semua aku kembalikan, aku tidak ingin apapun darimu, aku tidak akan menuntut mu dikemudian hari, aku tidak akan meminta uang mu juga,"
"Aku hanya ingin, setelah ini semoga kita tak akan pernah bertemu lagi," Cinta menguatkan hatinya, sebenarnya dia sudah hampir runtuh tetapi dia ingin beberapa saat lagi, dia harus kuat setidaknya saat berada di hadapan Keenan.
"Ka ... kau bisa memilikinya, aku sudah memberikannya kepadamu, jadi setidaknya bawa saja," Keenan langsung menolak cincin pernikahan dan kalung itu, dia tidak ingin Cinta melepaskan semuanya.
Seolah jika Cinta melepaskannya maka hubungan nya dan Cinta akan benar-benar berakhir.
Cinta tersenyum pahit, saat mendengar ucapan itu, "Sejak awal tak ada satupun dari hal ini merupakan milikku, aku hanya mengembalikan nya saja, jika kau tidak suka kau bisa membuangnya, permisi!" ketus Cinta dengan harga dirinya yang tersisa.
__ADS_1
Dia berdiri dan meletakkan kalung dan cincin itu di atas meja, dia kemudian melangkah pergi.
***