
Aku masih sangat kesal pada didi yang selalu sering melupakan aku, ketika ia sedang bersama dengan teman-teman nya, seolah-olah aku ini hanya lah kayu yang tidak memiliki perasaan sama sekali.
Aku menoleh dan memberikan tatapan tajam pada didi, aku memberikan isyarat untuk mengajaknya pergi dari sini, namun siapa sangkah respondnya hanya sesimplek itu, aku lihat dia hanya tersenyum saja seolah tidak peka dengan keadaan dan juga isyarat dariku. Dia benar-benar laki-laki yang menyebalkan sekali.
Aku geram melihat dirinya yang terus mengabaikanku , aku pun beranjak duduk dari kursi taman tersebut, dan segera meninggalkan Didi dengan teman-teman nya yang sama saja menyebalkan seperti Didi.
Lalu aku mendengus kesal dan lelah pada keadaan, ingin rasanya aku memberikan sentilan pada kening Didi atau sekedar menjedotkan kepalanya kedinding agar dia bisa mengerti maksud ku dan belajar dari kesalahannya itu.
Ini memang bukan kali pertamanya didi mengabaikan ku, hingga bisa dikatakan aku begitu bosan jika dia sudah bersama teman-teman nya. Aku sudah paham dan sangat tau, bahwa diriku akan diabaikan oleh nya.
Setelah berjalan beberapa langkah dari sana, tangan ku tiba-tiba di tahan oleh tangan kekar dan putih berotot dan tentunya aku sudah tau siapa pemilik tangan kekar tersebut.
Aku menoleh kepadanya dan tetap dengan tatapan kesal dan tajam, menandakan bahwa diriku ini masih marah padanya, tapi entah apa yang ada dipikirannya itu. Sehingga otaknya sulit berfikir dan tak sadar dengan yang ia perbuat.
Menjalani hubungan dengan lelaki menyebalkan seperti dia menang harus extra sabar, jika tidak maka sudah lama sekali hubungan ku dan didi dapat di pastikan akan berakhir.
"Sayang, kau mau kemana? kenapa meninggal kan ku disana, katanya dengan tatapan polosnya, yang membuat diriku ingin sekali menjedotkan kepalanya itu.
"Aku meninggalkan mu? kau ini benar-benar sudah tidak bisa berpikir ya, sudah jelas-jelas kau mengabaikan aku dan sibuk dengan teman-teman mu sedari tadi, aku tidak habis pikir dengan mu, kenapa ada manusia sebodoh dirimu ini" aku sudah tidak lagi bisa menahan kekesalan ku pada Didi.
Didi hanya diam saja menatap kepergian ku yang tidak bisa lagi di cegah olehnya.
Aku yang ingin memeperbaiki mood ku saat ini memutuskan untuk membeli eskrim dan kemudian duduk di tempat yang cukup jauh dari tempat Didi dan teman-teman nya mengobrol.
__ADS_1
Aku membeli es krim rasa Strawberry kesukaan ku, saat aku sedang menyantap es krim ku, tiba-tiba muncul seorang perempuan duduk disamping ku, awalnya aku hanya cuek dan tidak peduli dengan kehadirannya itu.
Namun setelah sekian lama dia mulai menarik perhatianku, yaitu dengan membuang sampah makanan nya ke sembarang tempat. Aku yang saat sedang kesal langsung saja menegurnya dengan ucapan yang mungkin tidak sopan.
" Hey, buang sampai itu pada tempat nya dasar loh sampah masyarakat" kataku berbicara seenak jidat ku tanpa memikirkan perasaan orang tersebut.
"Hey, kau ini semakin menggemaskan saja" aku kemudian menoleh dan kaget ternyata wanita yang aku marahi adalah kak Sisi. Kak sisi terkekeh geli melihat ekspresi ku yang terkejut dengan kehadirannya.
Aku terkejut melihat kak sisi sudah berada disamping ku dan merangkul diriku, bak sahabat yang sudah bertahun lamanya kenal.
Tapi kak sisi sama sekali tidak marah, meski aku sudah memakainya dengan ucapan yang cukup kasar.
"Oh tuhan, dia sangat manis sekali" gumam ku dalam hati melihat senyuman tulus kak sisi.
"Kakak sendirian kesini, tadi kebetulan lewat sini jadi mampir deh" kata kak sisi dengan santai dan membuat ku semakin penasaran terhadap kak sisi.
Karena semenjak aku masuk di kampus yang sama dengan kak sisi, aku tidak pernah melihatnya berpacaran, atau pun hanya sekedar berjalan jalan saja.
Hingga saat ini, aku sungguh dilanda rasa penasaran ku pada kak sisi.
Aku tersenyum pada kak sisi, lalu kak sisi kembali meledekku lagi.
"Jangan-jangan kau yang kesini bersama kekasih mu ya, wahhh kalian memang seperti perangko yang tidak bisa terpisahkan ya, dimana mana ada Andi Pasti juga akan ada Dira dan begitu juga sebaliknya" kata sisi membalikkan keadaan dengan menyudutkan Dira dan tertawa puas karena bisa memojokkan dira yang saat ini sudah menunduk dan tersenyum malu.
__ADS_1
"Aku kesini sendiri, lagi pengen sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun" kataku mulai memanyunkan bibirku dan berusaha menyembunyikan rasa kesal ku pada kak sisi.
"Cihhh, kau ini ternyata manja sekali ya walau sikap mu itu begitu galak dan pemarah" kata kak sisi tertawa dengan lantang.
"Kau ini, jangan membuat malu aku disini, suara mu apa tidak bisa kau kondisi kan sedikit hah, lihat Orang-orang jadi melihat kearah kita, Kalian semua benar-benar menyebalkan" kata Dira mendengus kesal karena terus saja berada di situasi ini.
"Hussttt, sudahlah, kakak hanya bercanda, kau ini serius sekali" kata kak sisi santai dan tak menghiraukan orang yang berada disekelilingnya.
Kak sisi memang tipe orang yang santai dan tidak suka tergesa-gesa dalam segala hal. Ia lebih menyukai dunia ini tanpa adanya interaksi karena ia memang bisa dikatakan sedikit pendiam tetapi jangan ragukan otaknya ya heheheheš¤£
"Sudah mau gelap ini, mari kita pulang" kata kak sisi mengajak dira untuk segera pulang.
"Duluan saja kak, aku akan pulang dengan didi ku" kataku menolak ajakan kak sisi dengan lembut.
" Wah adik kakak sudah pandai berbohong ya, katanya sendirian rupanya dia bersama kekasihnya. Dasar kalian ya dimana mana aja selalu ada" ucap kak sisi mentertawai Dira.
Akhirnya aku dan kak sisi pun pulang berdua. Meski sebenarnya aku sangat ingin pulang dengan Didi, tetapi melihat kenyataan
dia yang masih sibuk membuat lelucon tak berharga bersama teman teman nya itu membuat diriku bertekad meninggal akan nya disana.
Aku yakin Didi baru akan sadar jika aku sudah tak berada disini lagi. Tapi biar saja dia khawatir itu sudah menjadi salah dirinya yang mengabaikan diriku.
Aku mendengus kesal di perjalanan, sedangkan kak Sisi hanya terkekeh geli melihat aku yang mengomel sendirian.
__ADS_1
Kak Sisi mengerti bahwa aku dan Didi sedang dalam masalah, sehingga membuat kak Sisi mengurungkan niat nya untuk segera bertanya padaki, mungkin ia tidak ingin aku memberikannya siraman rohani lagi seperti yang ada di taman tadi. Hingga kak Sisi memutuskan untuk diam.