
POV Tania
Aku masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat aku dan Kak Radit kecil. Dia begitu peduli padaku, namun sikap ku hanya acuh tak acuh padanya.
Dia sellau berusaha akrab denganku, sehingga lama kelamaan aku nyaman dengan sikapnya.
Mamah dan Papa Bilang, kalau kak Radit sangat menyayangiku, namun aku pada awalnya mempercayai semua itu.
Bahkan berulang kali kak Radit terus memberikan ku coklat setiap kali kami bertemu, dan senyuman di wajahku terukur dengan begitu indah.
"Kak, Masih ingat gak sama ini?" tanyaku pada Radit sambil memberikan sebuah boneka Berbie dari Kak Radit.
"Wah boneka ini? kau masih menyimpannya ya" tanya Kak Radit.
"Tentu saja kak, aku akan menyimpannya sampai kapanpun" jawabku sambil tersenyum padanya.
Ya, Radit tak pernah lupa memberikanku hadiah-hadiah yang sangat berkesan untuk ku.
__ADS_1
"Eh, Bagaimana jika besok kita pergi ke taman, kakak suntuk nih" ucap Radit seraya mengusap-usap Rambut panjangku.
"Boleh boleh, Pulang sekolah kan?" tanyaku antusias.
"Tentu saja, dmangnya kamu mau bolos?" tanya Kak Radit.
"Ckckck. Ogah ih Bolos." ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
"Gemesin banget sih kamu Tania" ucap Kak Radit seraya mencubit mesra pipiku.
"Aww .. Sakit Kak Radit" ucapku seraya melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang gemas pipiku.
"Tentu saja cantik, Namanya juga perempuan" ucapku sambil meledeknya, karena aku juga tidak ingin menjadi manusia yang kebaperan, aku takut jika kenyataan tak sesuai dengan harapan ku.
Hingga usia kami sampai dititik remaja, aku masih terus menunggu, Ya! aku menunggu. Aku sudah lama sekali menunggu Kak Radit mengutarakan perasaan nya padaku, Bahkan kami bersekolah di SD-SMA yang sama, namun hingga kami akan segera lulus, Kak Radit masih belum mengutarakan perasaan nya, Hingga hal itu membuatku semakin gusar
Aku kembali memikirkan bagaimana sikap Radit yang perhatian, tapi mengapa hingga sekarang Kak Radit tak juga mengungkapkan perasaan nya, apakah ini hanya kepedean ku saja, atau bahkan aku hanya berharap sendirian disini.
__ADS_1
Perasaanku semakin kacau, aku sudah tak bisa lagi bertahan dengan kondisi ini, ingin rasanya aku mengutarakan perasaan ku pada Kak Radit, tetapi sungguh aku tak berani mengambil resiko.
Penolakan Radit nanti takutnya membuat ku semakin Drop, padahal jika dilihat dia mencintai ku, tapi entah atas dasar apa ia tak mengutarakan semuanya.
Namun sekarang aku berusaha mencoba biasa saja pada kak Radit, Karena aku takut harapan ku ini akan menjatuhkan diriku di dalam jurang terdalam.
"Hey. Kamu kenapa sih?" tanya kak Radit yang seketika langsung membuyarkan lamunanku.
"Ah, Eh. Tania gak apa-apa kok kak" jawabku sembari memalingkan wajah dari kak Radit
"Tania?Aku mau ngomong sesuatu" ucap Radit dengan serius menatapku.
"Em, ngomong apa kak?" tanya ku gugup.
"Ini penting banget Tania!" ucap Kak Radit lagi semakin membuatku gemetaran, aku hanya menjawab iya pertanya kak Radit karena aku sedang berusaha menenangkan gemuruh hatiku.
Akan kah penantian ku selama ini, akan segera terwujud kan, akan kah kak Radit sudah peka terhadap kode-kode yang selalu aku berikan selama ini.?
__ADS_1
Apakah kak Radit akan mengutarakan perasaannya padaku, atau ada hal yang lain yang menurutnya begitu penting selain hak itu??