BUCIN MAKSIMAL

BUCIN MAKSIMAL
BAB 7


__ADS_3

"Didi, aku laper" kata Rara merengek manja pada Andy.


"Yaudah aku beliin makanan dulu ya, kalian disini aja bersenang-senang lah dulu" kata Andy tersenyum dan kemudian bergegas pergi dari tempat ku dan kedua sahabatku berdiri.


Ia memang lelaki yang paling peka terhadap keadaan sehingga membuat ku begitu nyaman padanya.


"Ra, Lo kan udah lama tu pacaran sama andi? kapan sih kalian bakal ke pelaminan kok kalian gitu-gitu aja bertahun-tahun gada perubahan" kita Rere mulai sewot lagi terhadapku.


Aku menoleh padanya dan menarik nafas kasar " Aku tidak tau ini sampai kapan, yang aku tau ya kami akan menyelesaikan studi kami terlebih dahulu, setelag itu baru memikirkan pernikahan" ucap ku jujur pada Rere.


"Lo harusnya Desak dia dong, gimana sih Lo. Masa udah pacaran bertahun-tahun tapi gak dikasih kepastian eh Lo diem aja " kata Riri melanjutkan ucapan yang belum sempat Rere lontarkan padaku.


"Gue gak mungkin dong nurunin derajat gue dengan minta dia buat nikahin gue, tugas gue hanya menunggu Ri. Lagi pula kami masih kuliah dan gak memungkinkan juga kalo kami berdua bakalan nikah secepat ini" kata ku mulai kesal meski pun apa yang dikatakan sahabat ku itu semuanya adalah benar.


Aku sudah sangat sering sekali mendengar omongan seperti itu dari teman-teman ku, tetapi aku tidak pernah mengambil pusing omongan mereka, toh aku yang menjalani bukan mereka, mau seperti apapun nanti hubungan ku dan Didi toh aku yang merasakan sakit ataupun bahagianya.


Tak lama kemudian Andi muncul dari kejauhan dan tersenyum padaku, Aku pun membalas senyumannya.


"Sayang, aku tidak lama kan? apa kamu sangat lapar sekali?" tanya Andy padaku.


"Tidak sayang, yang penting sekarang udah ada makanan yang bisa dimakan" kataku dengan mata binar melihat makanan yang sudah ada di depan mataku.


"Wah sepertinya ini enak sekali sayang," kataku pada Andy dan kemudian diangguki oleh Andy.


"Yasudah ayo makan" kata Rere dan Riri malas melihat adegan romantis kami berdua.


Aku mulai mengambil makanan ku karena sudah tidak sabar untuk melahap semua makanan yang ada di hadapan ku saat ini, tetapi tangan ku ditahan oleh Andy. Aku memandangnya dengan heran, tetapi dia justru tersenyum.

__ADS_1


"Hari ini biarkan aku menyuapi mu sayang, aku sangat rindu saat-saat seperti ini denganmu" kata Andy tersenyum dan menyibakkan anak rambut yang mulai menutupi mataku.


"Tapi say...." belum sempat aku melanjutkan ucapan ku tersebut Andy langsung menyela nya.


"Jangan menolaknya sayang" katanya sambil menyuapi ku makan.


Sekilas kulihat kedua sahabatku begitu kesal dan memandang sinis kearah Andi. Tetapi Andi hanya terkekeh saja melihat raut wajah keduanya.


Muka Andy memang cukup tebal, kalau hanya dengan ocehan dan kalian dari sahabatku.


"Kalian bisa ga sih menghargai kita yang jomblo, plis deh jangan anggap dunia ini milik Lo sama Rara Lo, dan gue sama yang lain cuma numpang Disini" kata Rere mendengus kesal.


"Apaan sih Lo, iri aja deh sama kita berdua, makanya jangan jomblo dong, biar gak selalu jadiin kita berdua sebagai kambing hitam atas kejombloan Lo. Lagian nih ya gue heran sama Lo pada, kok hobby banget sih ngejomblo" kata Andy nyerocos dan membuat Rere dan Riri tercengang karena kali ini Andy sudah terlalu banyak bicara.


Ah aku sudah tau mereka akan berdebat lagi dan aku jengah dengan pemandangan ini. Ini lah merupakan alasan mengapa aku tak ingin Andy ikut bersama kami. Qualiti time yang aku harapkan jadi di isi oleh perdebatan mereka. Sedangkan Aku? huh... Aku hanya diam dan menahan rasa kesalku karena selalu berada dalam posisi ini.


"Lo ngimpi ketinggian banget sih, emang ada cowo yang mau sama Lo" kata Riri meledek saudara kembaran nya itu.


"Ye elo gimana sih RI, harusnya Lo belain gue ******" kata Rere kesal pada kembaran nya.


"Wkwkwk, lagian muka kalian sama. sama sama ngeselinnnnn, jadi gue rasa gabakal ada cowo yang mau deh sama kalian berdua" kata Andy yang semakin membuat kondisi memanas.


"Udah dong jangan bertengkar terus, gue bosen tau liat kalian debat Mulu, kapan sih akurnya kesel deh gue" kataku menengahi mereka semua.


"Udah sore nih, yuk kita pulang. Gue ga mau kita kemalaman pulang nya, ntar gue dimarahin lagi sama orang tua gue dirumah" ucap Rere.


Akhirnya kami pun pulang kerumah Masing-masing dan tak lupa, Andy terlebih dahulu mengantar kan aku pulang ke apartemen.

__ADS_1


"Yang, teman-teman kamu kenapa sih sewot banget sama aku" kata Andy dengan polosnya bertanya padaku saat kami sedang dalam perjalanan menuju apartemen.


"Mereka palingan cuma pengen kayak kita juga sayang, tetapi kan setiap orang memiliki proses yang berbeda beda. Jadi intinya cukup bersyukur aja" ucapku sambil tersenyum.


"Tumben kamu bijak gini yang, tapi emang sih. Kamu harus bersyukur punya pacar setampan Aku" kata Andy membanggakan ketampanan yang dimilikinya.


Ekpresiku yang awalnya tertawa kembali kepada kekesalan melihat kenarsisan Andy.


" Apaan coba, Kalau seperti muka kamu dibilang tampan, lalu yang jeleknya bagaimana" ucapku sambil tertawa.


" begini-begini, ini kekasih mu loh yang, tega banget deh" Andy memanyunkan bibirnya.


Aku kembali tertawa lepas melihat ekspresi kesalnya.


Kemudian aku dan Andy sampai di depan apartemen ku, andy berpamitan pulang padaku. Sebelum itu, ia memeluk dan mengecup kilas kening ku.


Aku menekan pasword apartemen dan segera masuk,kemudian bergegas ke kamar mandi dan membersikan diri. Rasanya hari ini begitu melelahkan dari biasanya.


Aku memandang wajah kedua sahabatku dan didi di bingkai foto ukuran besar yang dipajang di kamarku.


"Beruntung nya diri ini memiliki sahabat menyebalkan tapi penyayang seperti kalian berdua, Tetap seperti ini ya kembaran ku" ucapku sambil terus menatap foto keduanya.


Kemudian aku beralih pada foto Didi dan kemudian tersenyum memandang wajah Andy yang manyun di dalam foto tersebut.


"Terima Kasih Didi, Sudah setia menemaniku selama 4 tahun terakhir ini, Sudah menjadi penyemangat diriku selama disini. Semoga hubungan kita akan berlangsung ke jenjang yang lebih serius lagi" ucapku sambil memandang foto Andy.


Lamunan ku kemudian melayang dengan begitu tingginya, bahkan aku sampai takut jika lamunanku tersebut tak menjadi kenyataan.

__ADS_1


Cukup lama aku berteman dengan lamunanku, hingga aku kehilangan kesadaran ku dan tertidur dengan pulas di ranjang.


__ADS_2