BUCIN MAKSIMAL

BUCIN MAKSIMAL
BAB 8


__ADS_3

Hari ini aku kuliah sampe sore, aku sudah membayangkan betapa suntuknya hari ini dan betapa membosankan hari ini aku lewati. Apalagi yang masuk adalah dosen killer ku itu. Huhhh sungguh sangat menyebalkan sekali.


"Selamat pagi semua" sapa pak Ari dengan tegas, sama seperti biasanya.


"Selamat pagi juga pak" sahut mahasiswa.


"Baiklah sekarang kita mulai perkuliahan kita" ucap pak Ari dan kemudian mengeluarkan buku.


Pak Ari menjelaskan beberapa materi mengenai perkuliahan hari itu. Aku hanya diam dan tetap memperhatikan pak Ari menjelaskan. Tetapi pikiran ku tetap pada didi. Aku masih ingat jika ia sedang ngambek padaku kemarin karena aku tak sengaja bertemu dengan kak Rendi di minimarket tetapi dia menyangka bahwa aku memang sudah ada janji pada kak Rendi.


Setelah perkuliahan usai aku pergi ke kantin sendirian. Aku tidak mengajak Riri dan Rere karena memang aku tau mereka tidak akan memberiku waktu untuk berbicara pada didi. Mereka pasti malah mengacaukan hubungan ku dan andy nanti.


Apalagi jika mereka tau bahwa aku dan Did sedang bertengkar sekarang, mereka pasti akan merasa begitu senang.


Sesampainya dikantin aku ingin segera menghampiri Didi. Namun aku kalah cepat dengan wanita lain. Ku lihat wanita itu duduk disamping Didi dan bermanja padanya. Mereka begitu dekat, bahkan tidak ada jarak diantara keduanya.


Hatiku begitu sesak melihat pemandangan yang aku lihat sekarang, namun aku berusaha kuat agar aku tak dipandang lemah.


Kemudian Didi menoleh padaku dan kemudian memalingkan wajahnya dari ku, dan ku lihat ia sengaja bermanja pada wanita itu. Seketika itu pula mataku mulai berkaca-kaca. Aku menahan tangisku yanh sedari sudah meronta ingin segera dikeluarkan.


"Aku tau kau sengaja membuat ku cemburu bukan? lihatlah balasan ku Didi" kataku bicara sambil berbisik pada diri sendiri kemudian aku mencari cara bagaimana bisa membalas perlakuan dirinya pada ku saat ini.


Tidak lama setelah itu, Aku melihat kak Rendi muncul dari belakang ku, Aku mengetahui nya dan aku tidak menundanya lagi, aku langsung mengambil kesempatan yang memang sedang berpihak padaku.


Aku berbalik kebelakang dan sengaja menabrak kan diriku pada kak Rendi dan "Aduh sakit...." kataku memegangi lenganku.


"Hey, kamu ini jalan kok gak liat liat sih, Eh kamu, duh Dira kenapa sih suka banget nabrak aku" Ucap kak Rendy tersenyum.


Kemudian dia membantu ku berdiri dan lama sekali kami saling menatap dan kemudian aku melihatkan wajah ku pada didi dan ku lihat pula wajahnya memerah dan seperti sedang menahan amarahnya.


"Kak Ren maafin Dira ya. Dira tidak sengaja, eh kakak sendirian aja nih, mau gak nemenin aku makan disini kebetulan Rere sama Riri lagi gada nih" ucapku berharap dia menuruti permintaan ku.

__ADS_1


"Boleh, apasih yang engga buat kamu" kata kak rendy kemudian menarik kursi dan segera duduk di sebelah ku.


Kemudian kami melanjutkan makan. Lalu aku kembali melihat Didi dengan wanita itu Masih ber mesra-mesraan, namun kali ini aku terlihat santai dan tidak terlalu sesak seperti tadi.


Lalu aku dan kak Rendi segera makan dengan lahap dan tanpa sengaja aku makan dengan belepotan, kemudian kak Rendi memegang pipiku dan mengacak-acak rambutku dengan gemas.


"Kamu gemesin banget sih Dira" katanya senyum padaku. Dan memang senyum nya begitu manis menurut ku meski itu tak meluluhkan hatiku.


Kamudian saat aku dan kak Rendi sedang berbincang-bincang membahas masa-masa di SMA dulu, Kak sisi menghampiri aku dan kak Rendi.


"Boleh ikut gabung gak nih?" tanya kak sSsi pada ku dan juga kak Rendi.


"Eh kak sisi, boleh dong yuk silahkan duduk" kataku tersenyum pada kak Sisi


Kami bertiga pun tertawa terpingkal-pingkal, Entah bagaimana caranya, kak Rendi membuat lelucon itu,aku tak mengerti sama sekali. Aku menatap lekat wajah mereka. selalu ada saja hal lucu yang terjadi sehingga kami tak henti hentinya tertawa. Hampir satu jam kami menghabiskan waktu bersama di kantin kampus.


Aku mengajak kak sisi untuk pulang bersama ku hari ini, tetapi kak Rendi malah mengajak kami pulang bersama nya. Aku pun mengangguk dan kemudian bergegas memasuki mobil kak Rendi, Namun saat inhin naik, tangan ku dicekal oleh seseorang.


"uhhhh menyebalkan" Kataku menarik nafas kasar.


" Ayo pulang denganku" katanya dingin dan bahkan rasanya lebih dingin dari es.


"Tapi aku.." terhenti ketika ia memotong pembicaraan ku sebelum aku menyelasaikannya.


"Tidak ada tapi-tapi an lagi" Didi menarik ku ke mobilnya dengan sedikit kasar.


Aku menggerutu dalam hati" Sialan, bisa-bisa nya dia menganggu ku disaat aku juga membalas perlakuan nya dikantin tadi"


Di dalam Mobil, Aku dan Andy sama-sama diam. Suasana saat ini benar-benar mencekam sekali. Ingin rasanya diriku melompat dari mobil dan terjun bebas keluar.


Aku menoleh kearah luar, karena bosan dengan situasi senyap saat ini, Rasanya lebih baik menikmati pemandangan diluar dari pada memandang wajah sangar Andy yang bahkan aku sama sekali tidak takut.

__ADS_1


" Kau sengaja membuat ku cemburu kan" ucap Andy membuka pembicaraan setelah hampir setengah jam.


"Aku? membuat mu cemburu?" kata ku dengan nada ketus dan tak memalingkan pandangan ku dari pemandangan luar.


"Iya kamu, maksud kamu apa coba mesra-mesraan gitu dengan Rendy mahasiswa pindahan itu" ucap Andy kesal.


"Hey, Harusnya aku yang ngomong gitu, bukan kamu" ucap Dira tak kalah sengitnya.


" Ada apa dengan ku" kata andy datar.


" kau yang duluan mulai bukan, kau yang Dekat-dekat dengan wanita itu. Lalu mengapa kau marah ketika aku membalasnya" ucapku dengan enteng.


" Aku tidak ada dekat wanita lain, dia yang mendekati ku" ucap Andy membela diri.


" Sudah lah, tak perlu ngeles lagi. Udah jelas aku lihat dengan mata kepala ku sendiri. Jangan mengkambing hitam kan orang lain" kata ku dengan nada mencemooh nya.


"Sayang, sungguh aku tidak sengaja melakukan itu" kata Andy mulai membujuk ku.


"Aku tidak marah, dan kau tidak salah. Mengerti?" ucapku tersenyum kecut.


" Ya sudah jika memang aku tidak salah, kau jangan diam seperti ini lagi" ucap andy masih membujukku.


Dia benar-benar menyebalkan sudah tau salah masih merasa bahwa dirinya benar. menyebalkan sekali.


Harusnya Andy tau bagaimana jika Dira sudah tidak mood maka dira tidak akan mudah untuk di bujuk. Maka dari itu jangan pernah sesekali membuat dira hilang kesabaran.


Seperti yang terjadi sekarang, maka Andy yang harus menanggung resiko nya karena membuat Dira marah.


Dalam Hati Andy menggerutu kesal pada dirinya sendiri.


" Andy, kau memang bodoh. Sudah tau dira itu susah dibujuk masih saja mencari masalah. Seperti tidak tau dira saja"

__ADS_1


__ADS_2