BUCIN MAKSIMAL

BUCIN MAKSIMAL
BMS2


__ADS_3

Usia Remaja, membuat Radit maupun Tania merasakan arti dari sebuah perasaan.


Meski sudah saling mengenal sejak kecil, namun tak membuat keduanya bosan untuk selalu dekat dimanapun keduanya berada.


Meski Radit tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Tania, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat mengagumi gadis itu


Terkadang, ada pertengkaran kecil yang terjadi diantara keduanya, tetapi Radit senantiasa menjaga dan menyayangi Tania lebih dari nyawanya sendiri.


Begitu juga dengan Tania, ia juga begitu mengagumi Radit, baginya Radit adalah sosok yang begitu peduli terhadap sesama.


Namun yang paling ditunggu oleh Tania adalah saat Radit mengungkapkan perasaannya pada Tania. Tetapi setelah sekalian lama menunggu Radit tak juga mengungkaplam rasa itu.


Keduanya sudah menginjak usia 17 tahun, berarti sudah 14 tahun pula keduanya kenal, tetapi hingga detik ini keduanya tak juga berani mengatakan apa yang mereka rasakan.


Radit sendiri merasa, ia hanya menyayangi Tania sebagai adik, begitu juga sebaliknya.


Padahal di dalam hati, hanya lah keduanya yang tau.


Jika Tania berani memperlihatkan rasa kagumnya pada Radit, lelaki itu malah terkesan pengecut untuk sekedar memperlihatkan rasa itu.


Berulang kali Radit mencoba menahan diri dan gemuruh dihatinya saat ia berdekatan dengan gadis itu.


"Tania memang sangat cantik, wajar saja banyak lelaki disekolah yang mengagumi dirinya, tapi apa aku mampu melihat Tania nantinya berpacaran dengan orang lain" gumam Radit dalam lamunan nya.


Dorrrrr.


Tania mengagetkan Radit yang ia lihat sejak tadi melamun.


"Astaga Tan, kau ini mengangetkan kakak" ucap Radit kesal.


"Abisnya kak Radit sih, Tania liatin bengong aja" ucap Tania sembari duduk di samping Radit.


Radit hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Tania.


"Ngelamunin apaan sih Kak Radit?" tanya Tania ingin tau.


"Ihhh, kepo kamu tuh ya" ucap Radit sambil mengacak-acak rambut Tania, membuat gadis itu merasa bahwa dirinya begitu disayangi oleh Radit.


"Boleh dong kepo, kan Tania udah anggap kak Radit kayak Kakak Tania sendiri" ucap Tania kemudian.


Jleb


Dada Radit seolah ingin segera meledak, mendengar penuturan gadis pujaan hatinya Tersebut.


"Ihhh Kak Radit kok malah diem aja?" tanya Tania kesal.

__ADS_1


"Kalau kakak mau nya lebih dari sekedar teman bagaimana?" tanya Radit membuka suaranya.


"Ah, Eh ma.. maksud kakak?" tanya Tania terbata-bata, gadis itu merasakan hatinya tengah bergemuruh sekarang, ia terdiam dan menatap Radit tanpa henti, membuat Radit terkekeh dan menoyor kening Tania.


"Dasar ya, serius banget nanggapinnya" ucap Radit sambil terkekeh.


Tania yang tadinya sudah begitu bahagia, dan senyumnya yang manis itu terus saja terlihat diwajahnya, seketika luntur oleh ucapan Radit.


"Kak Radit jahat banget sih, emangnya perasaan Tania sebercanda itu apa?" ucap Tania sambil berlari pergi dari sana dan masuk ke kamar tamu yang ada dirumah Radit.


Radit masih bengong melihat Tania menangis, ia bingung mengapa Tania menangis.


"Radit..." Teriak sang Bunda dari dalam rumah.


"Iya Bun" jawab Radit.


"Kamu apain Tania sampe nangis gitu?" tanya Dira pada sang anak.


"Tania? nangis Bun?" tanya Radit kaget.


"Ya nangis" ucap Bunda nya sambil memandang jengah pada sang anak.


"Kalian itu ya, dikit dikit berantem abis itu baikan gitu terus tiap hari" ucap Dira mengomel namun tak di dengarkan Radit yang saat ini sudah berlarian menuju kamar dimana Dira berada.


Kemudian Radit masuk ke dalam kamar yang kebetulan pintunya tidak di kunci Tania, namun saat masuk Radit melihat gadis itu sudah lelap dalam tidurnya.


"Maafi kakak ya Tania, kakak gak bisa jujur soal perasaan kakak. Sungguh penolakan kamu nanti akan membuat diri kakak hancur" ucap Radit sambil mengelus wajah Tania yang saat ini damai dalam tidurnya.


Kemudian Radit keluar dari kamar dan duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya.


"Radit, Mana Tania. Udah kamu bujukin belum itu adik kamu?" tanya Bunda Dira.


"Tania nya udah tidur Bun, Radit gak enak bangunin dia kasian" ucap Radit sambil mengambil beberapa makanan.


"Nanti kalau Dira sudah bangun, kamu antar dia pulang kerumahnya ya. Tante Rere sama Om Rendy sudah pulang dari Luar Kota" ucap sang Bunda.


"Kok cepet banget sih Bun, katanya seminggu di luar kota, ini masih 5 hari udah balik aja" ucap Radit di sela-sela makannya.


"Memangnya kenapa, kamu gak mau Tania pulang kerumahnya, atau kamu emang gak mau ya jauh-jauh dari Tania" ucap Dira membuat Radit Malu-malu.


"Kamu ini udah tau ya soal wanita-wanita yang cantik" ucap Andy sambil merangkul sang anak.


"Iyaaa Radit udah tau, tapi semoga dia gak sama kayak ayah nya yang dulu mata keranjang dan suka mainin perempuan" ucap Dira memandang kesal pada sang suami.


"Eh bunda enak aja, Bukannya bunda yang dulu gampang banget pacaran sama orang lain saat baru beberapa hari putus dari ayah?" ucap Andy yang tak terima di tuding istrinya.

__ADS_1


"Ih ayah gimana sih, kan ayah yang bohongin bunda waktu itu, kok malah nyalahin bunda sih" ucap Dira kesal.


"Idih itu kan ada alasannya bunda" ucap Andy.


"Apapun alasannya yang terpenting dalam hubungan itu adalah saling jujur dan percaya. Ayah aja bohongi bunda kan dulu" ucap Dira tak ingin kalah.


Radit memandang keduanya bertengkar dan beradu mulut, sesekali ia tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya yang seolah-olah masih anak ABG yang padahal sudah punya anak yang usianya bahkan sudah 17 tahun.


"Om, Tante" sapa Tania yang baru saja keluar dari kamarnya, seketika membuat adu mulut ala Dira dan Andy terhenti dan menoleh pada gadis mungil itu.


"Kamu udah bangun Tania?" tanya Dira


"Udah nih tante, Tania mau izin pulang ya. Tadi Papa telpon, katanya Mama sama Papa udah dirumah" ucap Tania.


"Cepat banget kamu pulang sayang, Tante kan masih pengen bareng dengan kamu" ucap Dira.


"Tania akan sering main-main kesini Tante" ucap Tania yang langsung berhamburan keperluan Dira.


"Radit, antar Tania pulang" ucap Andy.


"Ah, Eh. Gak usah om, Tania pulang naik taxi aja" ucap Tania.


"Tania sayang, biarkan kak Radit antar kamu pulang yah" ucap Radit sambil tersenyum.


Dalam hati Tania begitu kesal pada Radit, ia tak pernah serius dalam menanggapi suatu hal.


"Kak Radit apa maunya sih, seolah menarik ulur hati ini, benar-benar menyebalkan" ucap Tania dalam hatinya.


Namun ia tak bisa menolak saat Radit memaksa untuk mengantar kan dirinya pulang.


.


.


.


.


.


Akhirnya author jadi juga buat cerita ini lanjut ke season ke 2, tetapi tetap di sini ya season 2 nya.


Jangan lupa untuk Like,dan komentar nya ya guys. Simak terus kelanjutan ceritanya.


Sampai jumpa di episode selanjutnya nya🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2